Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 56


__ADS_3

BAB 56


“Kak … cantik sekali bonekanya …” pekik gadis kecil itu ketika menerima sebuah boneka beruang yang masih terikat pita berwarna merah muda.


“Kamu menyukainya?”


Anak laki laki itu tersenyum senang, sungguh bahagia melihat pemberiannya diterima dengan baik oleh gadis kecil itu. 


Gadis itu mengangguk dengan tatapan matanya berbinar indah, dan senyum manis tersungging di bibirnya.


“Kalau warnanya?”


“Aku suka,”


“Kamu hanya suka ice cream vanilla, jadi aku memilih  boneka beruang berwarna putih,”


“Bagaimana kalau kita juga menamainya Vanilla?”


Sebuah mobil hitam misterius mendadak berhenti di dekat taman, dua orang pria bertubuh besar, berpakaian serba hitam mendatangi dua anak yang sedang bermain tersebut, tanpa menunggu lama, kedua bocah itu di bekap, dan digendong menuju mobil, meronta? sudah pasti karena berteriak pun tak bisa, keduanya menangis ketakutan, sesaat setelah mobil kembali tertutup rapat, barulah mulut mereka di buka.


“Mamaaaa … mama … mama …” teriak si anak laki laki, kedua tangannya menggebrak kaca mobil berkali kali, kakinya menendang tak tentu arah, ia meraung, menangis keras memanggil mama nya, tapi terlambat, mobil sudah melaju kencang membelah jalanan.


Sementara si gadis kecil hanya menangis ketakutan memeluk boneka beruangnya.


“Diam !!!” bentak seorang pria yang duduk di depan, seringainya mengerikan, tawanya pun terdengar menakutkan.


Pria itu melompati pembatas, dan kini sudah duduk di kursi tengah, tangannya mengusap rambut dan pipi si gadis kecil, “jika kamu tak berhenti berteriak, kamu tahu akan tahu apa yang akan ku lakukan pada gadis kecil ini?” ancam pria itu.


“Kakak … aku takut …” gadis itu hendak menggapai tangan si anak lelaki, tapi tak mampu, karena kini tubuhnya dipeluk erat oleh pria mengerikan itu.  


“Jangan … ku mohon jangan sakiti dia …” pinta nya memelas, “baiklah, baiklah, aku janji, aku akan berhenti berteriak.” si anak lelaki hanya bisa menangis dengan kedua telapak tangannya menyatu tanda sebuah permohonan, menuruti keinginan pria itu.


.


.


.


“Jangan … jangan …  jangan …!!!”


Teriakan Brian menggema di kamar yang luas tersebut.


Disusul kemudiana, ia terbangun, keringat membanjiri sekujur tubuhnya, nafasnya memburu, naik turun tak beraturan, ada sedikit rasa nyeri di dadanya, lagi lagi Brian melihat sepasang anak kecil itu, keduanya seakan akan tengah meminta pertolongan, tapi bagaimana cara menolong mereka, sementara Brian tak tahu siapa mereka, dan ada di mana mereka.


Brian menatap jam di pergelangan tangannya, rupanya sudah cukup lama ia tertidur, tangannya meraba sisi kananya, dingin dan 


Kosong … 


Brian bertanya tanya, Kemanakah gerangan sang istri? ‘infus nya juga dilepas begitu saja, apa dia tidak tahu kalau sedang sakit, kenapa malah keluyuran’, gerutu Brian ketika tak melihat keberadaan Riana.

__ADS_1


Menepiskan segala rasa tak nyaman yang mendera nya, Brian beranjak bangun dan keluar dari kamar, ia berpapasan dengan paman Robin yang tengah memastikan kamera CCTV menyala dengan baik.


“Paman, dimana istriku?” tanya Brian pada paman Robin yang belum melihat kehadirannya.


“Ada di ruang makan bersama koki tuan.”


Brian mengerutkan keningnya mendengar jawaban Tuan Robin. 


Diruang makan, Riana sedang tertawa bahagia menikmati pasta ravioli dan tomato cream soup, “wanita itu benar benar,” gerutu Brian, ia berjalan mendekati Riana.


“Bagaimana? anda suka nyonya,”


Riana mengangguk, pipinya membulat karena penuh makanan "sejak hamil aku suka makan apapun.” ujarnya penuh rasa bangga.


“Itu juga makanan favorit tuan muda.”


“Oh iya?” tanya Riana dengan wajah terkejut.


“Akan lebih baik, jika kamu menanyakan langsung padaku,” Brian tiba tiba duduk di sisi Riana.


Riana diam mematung menatap wajah Brian yang kusut dan masih menyisakan kecemasan, beberapa saat yang lalu tuan Robin bercerita, bahwa Brian sangat mencemaskannya, Brian bahkan memarahi semua orang yang ada di mansion, termasuk Armand yang katanya akan menjaga nya, tapi tetap saja Riana pingsan tanpa ada seorangpun yang tahu.


“Tuan bahkan memarahi kawan anda, lalu mengusir mereka, karena mereka bersikeras akan menunggu sampai anda sadar.” 


Begitulah penuturan tuan Robin, membuat Riana semakin heran dengan perubahan drastis yang terjadi pada diri Brian, beberapa bulan lalu, Brian masihlah seorang pria dingin, dan angkuh, tapi si tuan pemaksa itu kini bertransformasi menjadi suami yang nyaris siaga menjaga istri dan anaknya.


“Ini juga dari tuan muda,” tuan Robin mengangsurkan sebuket besar mawar merah ke tangan Riana, mawar yang berjumlah lebih dari 30 tangkai itu memancarkan aroma semerbak menenangkan sekaligus membuat dada Riana berdebar, hingga membuat selera makannya meningkat berkali kali lipat.


“Kenapa tidak membangunkanku? aku bisa membawakan makananmu ke kamar.” gerutu Brian, ia tak bisa marah berlebihan, karena ada rasa senang melihat Riana menikmati makan malamnya.


“Aku bisa obesitas mendadak, kalau semuanya disiapkan oleh orang lain, setidaknya aku harus jalan kaki keliling mansion, agar baby sehat, dan mommy nya tidak terlalu manja.” jawab Riana.


“Tapi aku mencemaskanmu, tidak bisakah kamu merasakan itu.” 


Riana tertunduk memainkan jari jemarinya, “iya, aku tahu, maaf.”


Melihat Riana menunduk, membuat Brian merasa tak nyaman karena sudah melarang istrinya keluar kamar.


“Baiklah, permintaan maaf diterima,” Brian berdiri dan mengusap kepala Riana, kemudian mencium puncak kepala wanitanya tersebut. “Lanjutkan makanmu, aku mau mandi dulu.”


“Tunggu !!!” Riana menahan lengan Brian.


Brian menatap kedua tangan mereka yang kini saling menggenggam, kemudian pandangannya menatap wajah Riana.


“Kamu tidak makan?”


“Tidak lapar,”


“Aku suapi yah?” Bujuk Riana.

__ADS_1


“Sudah ku bilang, aku tidak lapar,” Balas Brian.


Riana mengerucutkan bibirnya, wajahnya mendadak sendu, senyum yang tadi tergambar di wajahnya, tiba tiba musnah, dan Brian tak suka itu. 


“Baiklah aku akan disini sampai kamu selesai makan,” 


Wajah Riana kembali tersenyum ceria, ketika Brian kembali duduk di kursinya.


“Tapi ada Syaratnya.”


Riana menoleh dengan ekspresi terkejut. “apa?”


Brian mendekatkan wajahnya ke wajah Riana. “Cium.” ujarnya penuh percaya diri seperti biasa, “Boleh dimana saja.” 


Brian menanti, penantian bodoh yang tak juga membuahkan hasil.


“Ish … dasar modus.” Riana memalingkan wajahnya yang mulai memerah seperti kepiting rebus.


“Hahaha …” Brian tertawa keras, sesaat kemudian ia menggigit bibir bawahnya, se menggemaskan inikah seorang Riana? kenapa baru sekarang Brian menyukai senyum malu malu istrinya.


 


“Kenapa kamu tak menginginkanku pergi,” Tanya Brian dengan suara lirih.


“Baby ingin di temani daddy,” Jawab Riana, yang kini sudah kembali makan.


“Oh yah, Kalau mommy nya?”


Riana diam, wajahnya masih merona malu mendengar pertanyaan Brian, sejujurnya ia pun tak mengerti, kenapa tiba tiba ingin makan di dekat Brian, padahal beberapa saat sebelumnya ia merasa nyaman menikmati makanannya seorang diri. 


“Kenapa kamu diam?” Brian semakin ingin menggoda Riana yang terdiam tak mampu menjawab pertanyaan nya. 


“Kenapa kamu jadi cerewet sekali?” balas Riana yang sudah mulai kehilangan kata kata. “Ini, lebih baik kamu ikut makan, koki bilang ini makanan favoritmu.” Riana menyuapkan sepotong ravioli ke mulut Brian.


Walau tidak merasa lapar, Brian tetap dengan senang hati menerima suapan dari Riana, secercah harapan tiba tiba muncul, semoga tak ada lagi perpisahan di antara ia dan Riana.


.


.


.


repot kalo sudah begini, othor Bisa di protes reader 🤧


maapkeun yah, sepertinya mereka mulai terjangkit virus bucin 😁


ini artinya kita sudah sampai di tengah tengah cerita, anggap saja ini masa tenang sebelum badai kembali datang ✌️🤓


jangan lupa tinggalkan tanda cintanya gaeeeess 💃

__ADS_1


sarangeeeee💙🧡💜


__ADS_2