
BAB 85
Kembali ke masa sekarang.
Amukan Richard menggema di setiap sudut taman rumah sakit, ketika ia menyadari bahwa Riana berhasil kabur dari pengawasan orang orang kepercayaannya, sesaat sebelum mendatangi kamar rawat inap Riana, kevin meminta para pengawal untuk beristirahat serta sarapan pagi, dan waktu singkat itulah yang ia manfaatkan untuk memuluskan rencananya mempertemukan Brian dan Riana.
“Cari mereka sampai dapat, aku tak peduli walau kalian harus menggali lubang persembunyian biawaksekalipun!!!” perintah Richard dengan intonasi tingkat tinggi.
Tanpa suara para pengawal itu bergegas menjalankan perintah Richard.
“Brian … kamu akan merasakan akibat dari perbuatanmu membawa lari putriku.” desis Richard geram.
Richard bergegas meninggalkan ruangan Riana, di Lorong utama ia bertemu dengan Gadisya yang hendak menuju ruang praktek, “apa ini rencanamu?” tuduh Richard tanpa basa basi.
“Maaf paman, aku hanya kasihan pada mereka, semua ini kulakukan karena aku khawatir, kondisi psikis kak Riana akan berpengaruh pada tumbuh kembang janin dalam kandungannya,”
“Alasan !!! jangan merasa sok, hanya karena aku sudah mempercayakan keadaan kandungan Riana padamu,”
“Maaf paman,” hanya kalimat itulah yang mampu Gadisya ucapkan agar amukan Richard tidak semakin menjadi.
“Katakan, siapa yang memberimu izin melakukan nya …”
“maaf …”
“Aku !!!”
.
.
.
“Katakan, siapa yang memberimu izin melakukan nya …”
“Maaf …”
“Aku !!!”
__ADS_1
Suara mama Nisya terdengar jelas, memutus percakapan Papa Richard dan Gadisya.
Wanita paruh baya itu berjalan mendekati suami dan keponakannya, “Mama yang memberi izin pada Gadisya, kenapa? papa ga terima?”
“Maaaa …” papa Richard hendak menjawab pertanyaan istrinya.
“Papa tahu alasannya?” Jawab mama Nisya dengan Berani, jika sudah demikian papa Richard tak akan sanggup menjawab perkataan istrinya, jika di rumah sakit tak ada yang berani membantah perkataan papa Richard, tapi di rumah lain cerita, papa Richard tetap tak berkutik di hadapan istrinya.
“Bagi mama, lebih penting melihat Riana bahagia bersama lelaki yang ia cintai, daripada mama harus melihat Riana jadi mayat hidup dalam sangkar emas papa nya.”
“Aku melakukannya agar Riana bahagia, terbebas dari lelaki yang lagi lagi menyakiti perasaannya,”
“Bahagia seperti apa yang papa maksudkan?” tanya mama Nisya dengan suara lantang, jika saja mereka bukan anak dan menantu dari pemilik rumah sakit, maka para dokter dan perawat mungkin ramai menyaksikan pertengkaran tersebut, tapi kini, para dokter dan perawat memilih langkah aman, demi kelanjutan karier mereka di William Medical Center.
“Yang mama lihat Riana jadi semakin berduka, memang benar jika Brian pernah bersalah pada putri kita, tapi tidakkah papa melihat kedua mata Brian? dia sudah berbeda, dia bukan Brian yang dulu, dia ingin membuktikan dirinya layak menjadi suami dan daddy yang baik, kenapa susah sekali memberinya kesempatan? sejak kecil papa selalu mengatur hidup Riana, menganggap bahwa pilihan papa adalah yang terbaik baginya, apa papa pernah merasakan di posisi Riana? itu sangat menyiksa pa, Riana berhak menentukan pilihan hatinya, jika kebahagiaannya adalah bersama Brian, maka kita harus hargai dan terima hal itu, karena hidup Riana adalah miliknya, Riana yang menjalaninya, jangan sampai rasa sakit hati papa pada Roger, membuat papa lupa bahwa anak dan menantu kita sama sekali tidak bersalah, dan mereka sangat layak untuk bahagia.”
Lega rasanya setelah mama Nisya berhasil mengeluarkan semua isi hatinya, istri Direktur Utama William Medical Center tersebut mengusap air mata yang membanjiri wajahnya, kemudian menghampiri Gadisya yang sejak tadi menjadi penengah antara dirinya dan sang suami.
“Kerja bagus Sya, kamu sudah melakukan pekerjaan hebat.” ucap mama Nisya seraya mengusap kepala dan punggung Gadisya, kemudian membawa Gadisya pergi dari hadapan Richard, “Bibi bangga padamu, Stella pasti bahagia memiliki putri angkat sekaligus menantu baik hati sepertimu, haruskah bibi mendatangi Stella sekarang, sepertinya ini saat yang tepat pergi berdua dengan mommy kalian, memanjakan diri di spa, belanja, dan makan sepuasnya.”
# Iya lah mah, mending ngehabisin duit Richard aja, hartanya gak akan habis tujuh turunan, sepuluh tanjakan, dan seratus tikungan, apalagi kalian cuma punya satu anak, dan jangan lupa menantu mu yang crazy itu, duwit dan asetnya di mana mana.
.
.
.
Sementara itu, di sebuah butik ternama di pusat kota Jakarta, Riana tengah duduk di ruang tunggu, menikmati pemandangan Pria tampan yang sedang memarahi petugas butik, hanya gara gara butik tak menyedikan baju casual untuk di perjual belikan, agak menggelikan juga sih, sebenarnya Brian yang salah pilih butik, tapi ia justru memarahi hampir semua pegawai butik.
“Sekali lagi kami minta maaf tuan,” pegawai butik itu berusaha tetap waras, agar tak terpancing amukan Brian.
“Permintaan maaf di tolak, saya tuh datang jauh jauh dari Singapura, sampai sini malah gak dapet apa yang saya cari.”
“Kami sarankan anda ke Mall, Di seberang butik ini, ada Mall besar yang baru saja di resmikan tuan,”
“Saya tidak punya banyak waktu, kalau harus berkeliling mall, kalian tidak lihat istriku sedang hamil besar, bagaimana jika dia kelelahan karena harus berjalan mengitari mall, dan apakah dengan baju seperti itu kami harus mendatangi mall, kalian pikir istriku bahan tontonan.” nada suara Brian semakin keras.
__ADS_1
“Ya … kalau itu saya rasa saya tidak ada sangkut pautnya dengan kostum istri anda.”
“Haiiissshhh …” Gerutu Brian kesal, kemudian meninggalkan pegawai butik, dan menghampiri sofa tempat Riana duduk menunggu.
Riana menyembunyikan tawanya di balik telapak tangan, kemudian mengusap lengan suaminya, “Bukan salah pegawai butik itu, kamu yang salah memilih tempat membeli pakaian, butik ini memang khusus menyediakan pakaian kerja, dan pakaian pesta, tidak ada pakaian casual.” bisik Riana.
Brian memajukan bibir nya, “aku yang salah yah?” tanyanya pada sang istri.
Riana mengangguk geli melihat ekspresi lucu suaminya, “Kita ke mall aja gimana?”
“NO … kamu akan cape jalan kaki, dan aku gak ingin kamu jadi bahan tontonan, karena bajumu terlalu tipis.” ujarnya posesif.
“Ini tidak tipis kok, baju ini katun, sangat nyaman dipakai tidur, lagi pula ini menyerupai baju terusan bermotif, atau jangan jangan, kamu malu jalan denganku?” cebik Riana di akhir kalimat.
Brian menggeleng kuat, “tidak … siapa bilang aku malu,” sanggahnya, “justru aku tidak rela, tubuhmu dilihat orang.”
“Lalu?”
“Kita ke Singapura,” pungkas Brian.
Riana menggeleng malas, sejujurnya ia masih enggan jauh dari kedua orang tuanya, tapi berpisah dengan suaminya juga bukan pilihan tepat, jadi Riana ingin menganggap pelarian ini sebagai bulan madu mereka.
“NO … kamu tidak lihat baby semakin besar, aku tidak boleh sering sering terbang dengan pesawat,”
“Oh iya?”
“Iya.” Jawab Riana singkat.
Tanpa Brian sadari sesungguhnya RIana hanya tengah mengalihkan rasa kesalnya karena gagal membelikan pakaian untuk sang istri.
Riana mengangguk pada pegawai butik, sebagai tanda permintaan maaf, karena mereka sudah dibuat kesal akibat ulah suaminya yang sudah mengomel tak jelas, seperti emak emak kehilangan taperwer mereka.
Mereka terus berbincang hingga kembali ke mobil yang mereka kendarai.
.
.
__ADS_1
.
🤎🤎🤎