
BAB 88
Dengan senyuman lebar di wajahnya, Brian melangkah keluar dari Lift menuju presidential suite room.
Suasana hatinya benar benar sedang bahagia, tak sabar rasanya menyampaikan berita gembira hasil perbincangan bisnisnya dengan adik sepupu sang istri.
Brian mengeluarkan kartu untuk membuka pintu kamarnya, ruangan terasa sunyi, ia menatap sekeliling kamar mewah tersebut, tak ada suara bahkan tak terlihat istrinya di sana, Brian melangkah semakin dekat ke balkon, rupanya Riana ada di sana, sedang melakukan panggilan video dengan seseorang, dari ramainya suara tersebut bisa di pastikan bahwa Riana sedang berbincang dengan Viona, senangnya hati Brian karena ia melihat troli makanan untuk sang istri sudah kosong, habis tak tersisa, sejak semalam Riana kembali makan dengan porsi besar seperti biasa, semoga ini menjadi pertanda bahwa kondisi Riana semakin membaik.
Brian menggeser koper berisi baju baju baru pemberian Bella untuk sang istri.
Suara tawa terdengar semakin kencang manakala langkah Brian semakin mendekat kearah Riana.
Brian ikut duduk di sofa, membuat Riana tiba tiba merona karena ia tengah memakai kemeja Brian yang tampak kedodoran di tubuhnya, tapi terlihat sexy menggoda di mata Brian, karena ia yakin di balik itu tak ada sehelai benang pun di sana.
"Hai …" Sapa Riana kikuk, ia bingung sekaligus malu dengan penampilannya.
Melihat kegugupan di wajah Riana, membuat Brian semakin gemas, tanpa permisi lagi ia menyatukan bibir mereka, memainkan lidah mereka dengan penuh kelembutan, namun sangat liar dan penuh damba, bahkan tanpa sadar Riana sudah melingkarkan kedua tangannya di leher Brian, cukup lama indra pengecap mereka saling bertaut, tak peduli di ujung sana ada penonton yang ikut merinding disco menyaksikan adegan mesra tersebut.
"Kyaaa !!! Kalian !!!" Pekik Viona yang mulai merasa terabaikan, "ada aku di sini." Protes Viona kesal, jiwa jomblo nya benar benar meronta tak terima.
Sepasang suami istri itu mengakhiri kegiatan mereka beberapa saat kemudian, bahkan dengan nafas masih tak beraturan namun wajah mereka terlihat bahagia, "aku punya berita bahagia untuk mu."
"Oh iya, apa itu?"
Brian memberikan cubitan kecil di dagu Riana, "Nanti aku ceritakan, sekarang aku mau mandi dulu, lanjutkan saja pembicaraan mu dengan Viona, hmm."
Tiba tiba senyum Riana memudar, berganti dengan rasa malu luar biasa, karena Viona pasti melihat adegan mesra nya bersama Brian, "aku lupa kalau ada Viona,"
Brian tersenyum simpul, "kehadiranku memang membuatmu melupakan yang lain,"
Riana memanyunkan bibir nya, kemudian mendorong pelan pipi Brian hingga menjauh dari wajahnya, "ha ha ha..." Namun Brian justru tertawa senang.
"Iya… bagus, lupakan saja aku." Jawab Viona santai, tapi wajahnya mulai ketus, akibat merasa terabaikan.
Brian mengacak rambut Riana, kemudian beranjak menuju kamar mandi, meninggalkan Riana dengan wajah yang masih merona merah menahan malu, walau Viona adalah sahabat baiknya, ia tak pernah menampakkan kemesraan di hadapan Viona, tapi kini rasanya pasti sungguh memalukan.
__ADS_1
"Melihat berapa panasnya adegan kalian tadi, Sekarang aku yakin jika Brian sudah bertekuk lutut di hadapanmu." gerutu Viona sambil mengunyah kudapan nya.
.
.
.
Riana benar benar tak habis pikir, dari sekoper pakaian yang Bella siapkan untuknya, sebagian besar berisi lingerie dengan berbagai model dan warna, plus beberapa pakaian yang biasanya dikenakan di luar rumah, dalam hati ia bertanya tanya, apa maksud Bella memilihkan semua ini untuk nya, apakah ia harus selalu mengenakan lingerie jika berada di kamar, kalau iya, maka bersiap saja karena setiap saat Brian bisa menerkam nya.
Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya meremang, sekali lagi ia menatap bayangan dirinya di cermin walk in closet, perutnya yang membuncit kini nampak di balik lingerie merah transparan yang tengah ia kenakan, melihat penampilannya Riana jadi merasa malu dan risih sendiri, dia merasa tubuhnya yang membulat tak terlihat sexy sama sekali, apalagi memakai baju haram seperti ini, pasti terlihat memalukan, pikir Riana.
Riana kembali menyambar kemeja Brian yang sejak siang tadi beralih fungsi menjadi pakaiannya.
Setelah memastikan beberapa kancing kemeja terpasang rapi, Riana meninggalkan walk in closet, suara Brian yang sedang dengan Fabian melalui ponsel kini terdengar jelas, entah urusan bisnis apa yang Andre tawarkan hingga membuat Brian tak lagi menunda menyampaikan berita bahagia tersebut pada asistennya.
Melihat Riana yang baru keluar dari ruang ganti membuat Brian mengulurkan telapak tangannya, yang kemudian disambut oleh Riana dengan senyum di wajahnya yang kini terlihat segar usai membersihkan diri.
Mendapat sambutan hangat, Brian pun menarik Riana agar duduk di pangkuannya, walau masih melakukan panggilan dengan Fabian, Brian tak segan melancarkan aksinya, karena yang semalam terlalu nikmat dan cukup membuatnya candu hingga ingin rasanya ia mengulang kembali.
"Pastikan kamu menghubungi pengacara Martin, untuk segera menyiapkan permintaanku," Perintah Brian pada Fabian, sementara hidung nya sudah mulai mengendus aroma sabun di ceruk leher Riana, "hmmm wangi," Bisikan nakal itu mulai mampir ke telinga Riana.
"Apa tuan, anda bilang apa? Saya belum mandi tuan, jadi mustahil jika saya berbau wangi." Jawab Fabian dari seberang, ia tak sengaja mendengar bisikan Brian pada Riana.
"Kamu menguping pembicaraan ku dengan istriku?" Bentak Brian tak suka.
Fabian gelagapan, "bagaimana saya tidak mendengarnya tuan, jika anda berbicara dengan suara begitu keras," Fabian tak mengelak tuduhan Brian.
"Kamu berani menjawabku?"
"Kalau begitu jangan bermesraan dengan nyonya, sementara anda sedang berbicara dengan saya."
"Terserah aku, tugasmu hanya pura pura tuli, paham tidak?"
"Paham tuan." Jawab Fabian pasrah.
__ADS_1
"Bagus, jangan lupa segera siapkan permintaanku tadi,"
Brian mematikan panggilannya tanpa menunggu jawaban dari Fabian, kemudian melempar ponselnya begitu saja.
Ia kembali fokus menatap kekasih hatinya, "kamu yang salah, kenapa Fabian yang kamu tegur?" Tanya Riana, yang jari jari tangannya kini tengah menyingkirkan helaian rambut dari kening Brian.
"Oh iya, menurutku bukan aku yang salah."
Riana menatap malas wajah Brian, rupanya mengingat kembali masa lalunya, tak membuat Brian kehilangan sifat arogan nya.
"Iya iya iya… tuan Brian memang selalu benar."
Brian terkekeh sendiri melihat sikap Riana yang terpaksa mengalah menghadapi tingkah nya.
Kemudian tatapan Brian beralih melihat kemeja yang Riana kenakan, "kenapa masih memakai kemejaku? Bukankah Bella sudah menyiapkan banyak pakaian ganti untukmu?"
"Apakah kamu yang meminta Bella menyiapkan pakaian ganti untukku?"
"Tidak, tadi aku memang berniat membeli pakaian ganti untukmu, tapi ketika sampai di lobi utama, dia bilang itu pakaian untukmu, istrinya yang sudah menyiapkan yang spesial untukmu, lalu Andre membawaku ke ruangannya dan kami membicarakan proyek kerjasama Twenty Five Hotel dengan Be.Tech." Brian menjeda kalimatnya, "apa ada yang salah dengan pakaiannya?"
"Iya… kesalahan fatal yang sangat mendasar."
"Oh iya, Apa itu?"
Riana terlihat ragu menyampaikan nya. "Kenapa diam?" Tanya Brian karena Riana masih berpikir sebelum menjawab pertanyaan nya.
"Koper tersebut, sebagian besar berisi lingerie." Jawab Riana singkat, menanti reaksi Brian.
.
.
.
❤❤❤
__ADS_1