
BAB 40
Ruangan itu sangat besar, bahkan tiga kali lebih besar dari pada kamar Brian yang ada di lantai dua, tapi atas permintaan Brian semua perabot yang ada di ruangan tersebut diganti dengan yang baru, menyesuaikan dengan seleranya, dan Riana tak peduli, mengingat pernikahan mereka yang hanya akan sampai satu tahun kedepan.
Riana memeriksa setiap sudut ruangan tersebut, dirasa tak ada yang kurang, Riana pun mengganti pakaiannya dengan piyama.
“Tidak adakah yang kamu kamu ubah dari kamar ini?” Tanya Brian ketika melihat Riana merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
“Tidak,” jawab Riana singkat, ia melihat ponselnya sesaat.
Brian cukup terkejut, karena ketika membawa Alicia ke mansion, banyak sekali yang wanita itu inginkan hanya untuk mendekorasi ulang kamar mereka.
“Kenapa?” tanya Brian heran.
“Haruskah aku memintanya?”
“Semua wanita ingin yang spesial untuk menghiasi kamar mereka.”
“Tapi ini bukan kamarku, ini juga bukan rumahku, aku hanya sementara saja menghuni mansion ini,”
Entah kenapa, Brian tak suka ketika mendengar Riana mengatakan, hanya akan tinggal di mansion untuk sementara, padahal sudah seharusnya ia bahagia, karena Riana menepati janjinya, dan memang Brian pun akan segera pergi dari Singapura setelah berhasil membawa pergi bayinya.
Brian hanya mengangguk, kemudian menuju walk in Closet untuk mandi dan berganti pakaian yang nyaman.
Riana sudah terlelap damai ketika Brian selesai mandi, lama Brian menatap wajah lelah sang istri, tiba tiba ia teringat mimpinya ketika tidur di ruangan Riana, 'kenapa gadis kecil itu mengingatkanku pada Riana? Aku bahkan tak tahu wajah Riana kecil seperti apa'.
Brian menggelengkan kepalanya guna mengusir bayang bayang mimpinya, ia merangkak naik ke tempat tidur, biarlah malam ini ia memberikan hak pada tubuhnya untuk menikmati tidur di tempat yang nyaman, beberapa hari ini sekujur badannya pegal pegal, karena tertidur di kursi ruang kerja nya.
Brian menatap wajah Riana, sementara tangan kanannya mengusap perut Riana, tapi hanya sesaat, karena detik berikutnya, jemari Brian mengusap pipi dan menelusuri rahang Riana, menyingkirkan anak anak rambut, yang menutupi wajah Riana, wajah mungil Riana tampak rapuh, tapi bagaimana mungkin wanita rapuh ini sanggup bertahan dengan sikap Brian yang kasar, Brian ingat dahulu ia kerap menyakiti fisik bahkan melukai mental Riana.
Kini melihat Riana tertidur begitu damai, membuat Brian semakin merasakan penyesalan yang teramat dalam, pantaskah seorang lelaki bersikap kasar pada wanita yang memiliki fisik lebih lemah?
Brian bergerak mendekat, mempersempit jaraknya dengan Riana, perlahan ia pindahkan Riana ke pelukannya, "sebentar saja, kumohon jangan terbangun yah," bisik Brian lirih.
Waktu yang Brian katakan hanya sebentar, rupanya bertahan hingga tengah malam, tiba tiba Brian bangun dengan gelisah, karena tubuhnya menginginkan lebih dari pada pelukan dan sentuhan Fisik, ini lah alasan yang membuat Brian tak bisa berlama lama ada di dekat Riana, sejak dulu, tubuh Riana seperti memiliki magnet yang terus memanggilnya pulang, hasratnya menginginkan penyaluran, kemudian ia marah pada dirinya sendiri karena tempat yang ia inginkan adalah Riana, bukannya Alicia yang ia cintai, mungkin itu juga salah satu penyebab kejadian malam panas mereka dua bulan yang lalu.
“Sh it …” Umpat Brian kesal.
__ADS_1
Dengan malas Brian bangkit dari nyamannya pelukan Riana, demi menenangkan senjata nya yang mulai memberontak.
.
.
.
.
.
.
.
Brian : Thor sayang, cantik baik hati dan menyabalkan, plis kasih bonus lebih dari peluk dan cium dong, masa tega membuatku merana, punya istri gak bisa di apa apain 😤😮💨
Othor : Sorry bro man, Othor belum redho dunia akherat kasih kamu bonus, bos Alex si mantan duda aja, baru dapet jatah setelah empat belas tahun, jadi kamu siap siap yah? jangan harap dapet jatah dalam waktu dekat 😂🤪
.
.
.
.
.
Beberapa minggu berlalu, kandungan Riana semakin terlihat besar, sayangnya baik Brian ataupun Riana semakin sibuk, keduanya memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama beratnya, sama sama berkaitan dengan banyak orang, Brian dengan tanggung jawab nya memimpin Gustav.Inc juga beberapa anak perusahaan yang bernaung dibawahnya, tugas dan tanggung jawab barunya membuat Brian bahkan tak memiliki waktu untuk dirinya sendiri, ia pun hanya bisa pasrah ketika tengah malam tiba di rumah hanya bisa menyapa bayinya, karena untuk membangunkan Riana ia tak tega, karena Riana tetap bertugas di rumah sakit seperti biasa menangani pasien pasiennya, bahkan ada momen ketika ia tak melihat Riana di kamar mereka, karena Riana harus mengisi jadwal jaga malamnya di rumah sakit, jika sudah demikian tak ada lagi yang bisa Brian lakukan karena ada perjanjian yang harus ia tepati, dan Brian harus bertahan lebih lama lagi agar bisa terus menarik simpati dari Riana, atau karena bisa bisa ia kehilangan kesempatan untuk memiliki bayi tersebut seorang diri.
Karena kesibukannya terus bertambah hari ke hari, tugas mengantar jemput serta mengawal Riana terpaksa ia delegasikan pada Armand, Jadi selama dua minggu ini ia hanya menerima laporan dari Armand mengenai kondisi Riana dan apa saja kegiatannya selain bekerja di rumah sakit.
.
.
__ADS_1
.
Sementara Brian sibuk di Gustav.Inc, Riana kini tengah berseri bahagia,berlari lari kecil meninggalkan rumah sakit, sungguh bukan hal biasa karena hari ini ia bisa pulang setengah hari dan besok adalah hari liburnya, untuk sementara ia akan menitipkan pasien pasiennya pada Rodrigo, karena ada hal penting yang kini sedang ia inginkan.
Armand sudah menunggu di depan lobi utama, “Kita akan kemana nona?” tak peduli dengan peringatan dari Brian, Arman masih tetap memanggil Riana dengan sebutan nona.
“Ke Changi.” jawab Riana setelah duduk di kursi belakang yang memasang belt nya, sementara Armand sedang berusaha menyalakan mesin mobil.
Armand cukup terkejut mendengar keinginan nona mudanya, “Mau apa nona?”
“Ke Jakarta, aku sedang rindu mie ayam di depan sekolahku dulu.” Jawab Riana tanpa beban.
“Nona …”
“Iya, aku tahu apa yang kamu pikirkan, Brian tak akan marah, karena kita tak akan lama, aku akan kembali besok, setelah menginap semalam di rumah papa, Kamu bisa menemaniku kan?”
Arman memutar badannya, hingga menghadap Riana yang kini duduk di kursi belakang.
“Tuan pasti mengkhawatirkan anda nona,”
“hahahaha … Mand, perkataanmu membuatku ingin tertawa keras, Brian itu hanya mengkhawatirkan bayi nya, mana mungkin ia mengkhawatirkan wanita yang hanya menjadi Ibu dari anaknya, sudah ayo cepatlah.”
Armand tak lagi menjawab, kemudian ia mengemudikan mobilnya ke tempat yang diinginkan Riana.
Tak sampai tiga puluh menit, mereka tiba di Changi airport.
“Nona, apa anda sudah memesan tiket via aplikasi?”
Riana menggeleng, dengan seringai di bibirnya, “Aku terlalu bahagia, hingga melupakan hal yang paling penting.”
“Anda tunggu saja di mobil, saya akan memesan tiket untuk anda.”
Riana mengangguk, ia memanfaatkan kesempatan ini untuk tidur siang, guna mengumpulkan tenaga sebelum petualangan ngidamnya dimulai.
“Brian lagi ngapain yah?” tiba tiba hatinya tersentuh memikirkan keberadaan suaminya, beberapa minggu ini mereka jarang sekali bertemu, Riana bahkan baru tahu, jika Brian ternyata seorang pekerja keras, terbukti dengan bagaimana disiplinnya pria itu ketika berangkat kerja dipagi buta, dan baru kembali setelah tengah malam datang.
“Baby … apa kamu merindukan daddy?” tanya Riana pada bayi nya, tangannya mulai mengusap perutnya yang sudah nampak sedikit membuncit, sejujurnya ia rindu, tapi terlalu malu mengaku, jadi ia iseng bertanya pada calon bayinya.
__ADS_1