Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 94


__ADS_3

BAB 94


Riana menyandarkan punggungnya di kursi penumpang, ia sudah teramat lelah dan mengantuk usai menyelesaikan operasinya yang berlangsung selama delapan jam, kini ia benar benar menggunakan jasa Armand untuk mengantar jemputnya, ketika Brian tidak ada di sampingnya. 


Sungguh lelah fisik nya, tapi hatinya menghangat kala ingat sang suami akan kembali dari perjalanan bisnisnya, kemudian mereka akan menghabiskan waktu selama dua minggu untuk berlibur sementara dari padatnya aktivitas pekerjaan. 


Riana menatap layar ponselnya, satu satu nya pengobat rindu hanya melalui benda pipih persegi panjang tersebut, berbalas pesan, melakukan panggilan suara maupun video, bahkan foto mereka bertiga menghiasi wallpaper ponselnya begitu pun ponsel suaminya, mungkin nun jauh di sana, Brian pun tengah menantikan pertemuan mereka setelah tiga minggu berpisah karena urusan pekerjaan, menanti kabar dari suaminya seperti saat ini sungguh merupakan siksaan berat bagi Riana, seringkali Riana berandai andai, jika saja ia tidak berprofesi sebagai dokter, jika saja ia hanya ibu rumah tangga biasa, maka dengan senang hati ia akan mengikuti kemanapun suaminya pergi. 


Selama tiga tahun ini Brian rela mengalah demi bisa tetap bersama memeluk keluarga kecilnya, papa Richard memang mengizinkan mereka tetap bersama, tapi Riana harus tinggal dan bekerja di Jakarta, jadi Brian rela PP Jakarta Singapura seminggu sekali, bahkan kadang setiap hari, jika putri kecilnya sedang manja, atau sakit, dan tak ingin jauh dari daddy. 


Riana sungguh bangga dengan suaminya kini, tak ada lagi Brian yang mudah meluapkan emosi, tak ada lagi Brian yang kasar dan arogan, yang ada adalah Brian sang Family man, pria yang sangat menyayangi keluarganya, begitupun sebaliknya, semakin hari Riana merasakan dadanya sesak oleh perasaan cinta untuk suaminya. 


"Kita sudah tiba nyonya." Armand mengingatkan. 


"Terima Kasih Mand," Jawab Riana. 


Hingga saat ini, Brian hanya mempercayakan Riana pada Armand sebagai sopir sekaligus pengawal pribadinya, ia kini tak secemburu dahulu, hadirnya cinta justru membuat Brian semakin mempercayai Riana, bahkan para pria yang ada di sekeliling Riana, Armand dan juga para rekan rekan seprofesi Riana di rumah sakit. 


Riana beranjak keluar dari mobil, hari menjelang petang saat ini, jadi Riana yakin Bee sedang bermain di tepi kolam renang sebelum mandi sore, jadi Riana langsung menuju halaman samping untuk menemui bidadari kecilnya, Brian kecil dalam versi perempuan, Riana menjuluki Briana demikian, karena wajah Briana benar benar menyerupai Brian, hanya warna mata mereka saja yang berbeda, tak hanya itu, walau Briana jarang bertemu sang daddy, tapi kedekatan mereka kadang membuat Riana merasa terasing. 


Benar saja, saat ini Bee sedang bermain air sambil mengunyah mangga potong yang ada di piring kecil miliknya, sementara grandpa dan grandma nya hanya diam sambil menikmati ocehan lucu yang keluar dari bibir mungilnya, Bee sangat cerewet untuk ukuran balita, walau masih cadel, tapi itu sama sekali tak berpengaruh pada intelegensinya. 


"Mommy…" Teriak Bee dari tempat ia duduk, ketika melihat kedatangan Riana. 


Riana tersenyum bahagia, lelahnya sirna ketika melihat senyum ceria di wajah putri kecilnya. 


Bee melompat turun dari kursi kecilnya kemudian berlari kencang ke arah sang mommy, hampir 24 jam Bee tak bertemu dengannya, karena hari sebelumnya Riana bertugas di shift malam kemudian berlanjut di ruang operasi selama 8 jam sejak pagi hari tadi. 


Karena bahagia Bee tak meperhatikan langkahnya. 


Kemudian… 

__ADS_1


SREEK 


Kaki kecilnya terperosok di sela sela drainase kolam renang yang rapuh. 


"Huaaaa … mommy…" Jeritnya histeris. 


Tiga orang dewasa yang ada disekitarnya, seketika berlari dengan wajah khawatir ke arah Bee. 


Bahkan Riana seketika kehilangan rasa kantuknya, tangis kesakitan dari bibir mungil Bee seakan membuat semua inderanya terbangun kembali. 


Rupanya itu bukan kecelakaan biasa, kaki kecil Briana mengalami luka sobek cukup parah, dari betis hingga melewati lutut dan berhenti di pertengahan paha nya, darah segar seketika membanjir, sementara Riana mengangkat tubuh Bee, grandpa Richard dan grandma Nisya menyingkirkan besi tua tersebut, agar tak lagi mencelakai orang lain. 


"Huaa…  huaa… sakit mom…" Rintihan itu membuat hati seorang ibu seketika ikut terluka. 


"Iya sayang, mommy tahu, ayo kita ke rumah sakit, paman Kevin akan segera mengobati lukamu…" Hibur Riana, ditengah perjalanannya menuju tempat parkir mobil. 


Sepeninggal Riana, Grandpa Richard segera memanggil tukang kebun di rumah nya, untuk menghubungi seseorang yang biasa dipercaya keluarga William untuk melakukan bermacam renovasi bangunan. 


Kemudian Richard bergegas menyusul para wanita kesayangannya. 


"Kevin, kamu dimana?" Richard berinisiatif langsung menghubungi Kevin. 


"Aku baru sampai di rumah, ada apa paman?" Jawab Kevin yang langsung merasakan perasaan tak enak, karena sayup sayup ia mendengar suara tangis dan jeritan dari seberang. 


"Bisakah kamu kembali ke rumah sakit? Bee mengalami kecelakaan, kulit betis dan pahanya sobek, dan hingga saat ini pendarahan belum juga berhenti." Richard menjelaskan situasinya. "Paman takut dia akan kehabisan darah." 


Rupanya benar firasat Kevin, "Baik paman, aku kembalinke rumah sakit, sementara aku akan meminta asistenku menyiapkan semuanya, serta melakukan pertolongan pertama."


Kevin segera mematikan panggilan teleponnya. 


Sementara Riana yang mendengar kalimat kehabisan darah mendadak merasakan ketegangan ribuan kali, sama seprti Brian, Bee termasuk salah satu orang yang memiliki golongan darah langka, alias rhesus negatif, dan untuk mendapatkan darah tersebut Riana harus menghubungi seseorang yang tergabung dalam komunitas RNI (Rhesus Negatif Indonesia), karena sesorang dengan golongan darah rhesus negatif, tak bisa sembarangan menerima donor darah, sementata yang tergabung dalam komunitas tersebut adalah Brian, hingga saat ini Brian belum juga bisa di hubungi. 

__ADS_1


"Ma… pa… bagaimana kalau Bee kehilangan banyak darah dan membutuhkan donor?" Tanya Riana panik. 


Richard dan Nisya yang baru menyadari hal itu pun ikut terkejut, "mama bahkan belum berpikir sejauh itu." Jawab Mama Nisya khawatir. 


"Bee bilang, daddy nya akan kembali esok?" Tanya Richard memastikan. 


"Iya pah, Bee benar, daddy nya akan kembali esok, tapi hingga saat ini Brian bahkan belum memberiku kabar."


"Coba hubungi Brian sekali lagi!!! Papa juga akan bertanya pada bank darah, apakan mereka memil persedian darah rhesus negatif" Pinta Richard. 


"Iya pah, setelah Bee mendapat pertolongan pertama," Jawab Riana, karena kini mereka sudah memasuki gerbang Willian Medical Center. 


Seperti biasa penyambutan pada pasien VVIP selalu cepat dan sigap, terlebih, sebelumnya mereka telah mendapat instruksi dari Kevin perihal kedatangan pasiennya. 





Lalu… dimana sang hot daddy?? 🤓🥰


Disinilah ia kini, pesawat yang ia tumpangi baru saja landing, 22 jam, bukan perjalanan yang mudah, begitu panjang dan melelahkan, jika saja pria ini tak merindukan pelukan hangat sang istri, serta tawa manja putri kecilnya, tentu ia hanya merasakan lelah yang sia sia, karena ia tak punya tujuan untuk pulang. 


Wajah Brian nampak kusut, bahkan sudah hampir seminggu ia tak mencukur jambang serta kumisnya, terserahlah, toh Brian tetap bisa berbangga, karena dirinya yang selalu terlihat tampan walau penampilannya berantakan, yang penting ia sudah tiba dengan selamat di jakarta, bahkan maju satu hari dari yang ia janjikan pada istri dan juga putrinya, ia hendak mengejutkan kedua wanita kesayangannya tersebut. Satu koper besar berisi pakaian dan perlengkapannya, serta satu koper besar berisi semua hal yang di sukai lebah kecil kesayangannya. 


Namun bahagianya tak berlangsung lama, karena kini bukannya ia yang berhasil mengejutkan istri dan anaknya, namun dialah yang mendapatkan kejutan dari istri dan anaknya. 



__ADS_1


.


💛💛💛


__ADS_2