
BAB 39
“Baik dok, terima kasih,” ucap pasien terakhir Riana hari itu, Riana menyandarkan punggungnya sesaat kemudian menggeliat, ia memutar kursinya dan menatap perawat dan dokter residen yang sejak tadi setia mendampinginya.
“Itu pasien terakhir?”
“Benar Dok, anda cukup sibuk di hari pertama bekerja.”
“Yah … apa jangan jangan pasien pasienku merindukan dokter mereka yang cantik ini?” gurau Riana.
Perawat dan dua orang dokter residen itu hanya tertawa.
“Baiklah … selamat menikmati makan siang kalian, aku juga sudah merasa seperti akan pingsan karena menahan lapar,” Riana tidak berbohong, bayi nya benar benar membuatnya jadi pemakan segala jika sedang lapar.
Riana pun pamit meninggalkan ruang prakteknya, ia berjalan menyusuri lorong, hendak menuju kantin untuk makan siang.
Tapi tiba tiba, seseorang menyodorkan gelas ke arahnya, tanpa diberitahu pun, Riana tahu siapa pelakunya.
“Segelas cappucino dingin untuk dokter Riana …” ujar Rodrigo.
Riana memasukkan kedua tangannya kedalam saku, “aku tidak boleh minum kopi,”
“Ahhh sial aku lupa, maaf …”
Kemudian Rodrigo mengulurkan gelas berikutnya.
“Ini … hot choco saja,”
Riana diam menatap cup berwarna merah tersebut, Riana cukup heran dengan selera Rodrigo, di tengah cuaca panas begini, ia masih saja suka minum hot choco.
“Itu milikmu,”
“Iya, ini memang milikku, dan jangan lupa, aku juga sudah meludahi nya,”
“Yaaaaa …!!! jorok sekali.” sentak Riana.
Meskipun demikian, Riana tetap menerima cup tersebut kemudian menikmatinya, karena ia tahu Rodrigo hanya bergurau.
Keduanya tertawa sepanjang perjalanan menuju kantin rumah sakit.
“Kamu bahagia dengan pernikahanmu?”
“Entahlah.”
“Bagaimana Brian?”
“Untuk seseorang yang angkuh dan arogan, selama satu minggu ini dia berhasil menjadi suami yang baik.” Jawab Riana jujur, karena memang demikian adanya.
“Kamu mulai mencintainya?”
“Tidak juga, hanya dalam beberapa hal aku menyukai perhatian darinya, mungkin efek hormon kehamilan,”
“Wajar, jika ibu hamil menyukai perhatian dari daddy nya si janin.” timpal Rodrigo getir, ia cemburu, tapi bisa apa, kalau Riana memang tak ditakdirkan berjodoh dengannya.
“Aku pasti wanita aneh yah, bibirku mengatakan aku membencinya, tapi keseluruhan diriku menyukai sikap manis serta perhatiannya, walaupun terkadang aku takut, semua itu mengandung maksud, dan takut jika suatu saat Brian akan menyakitiku seperti dulu.” Riana menatap lantai sepanjang perjalanannya.
“Aku yakin Brian tak akan berani menyakitimu, karena apa, ada bayi dalam kandunganmu yang juga harus ia jaga, menyakitimu sama juga menyakiti bayi itu, secara tidak langsung, bayi kalian menjagamu.” hibur Rodrigo.
“Ah ayolah, kamu bilang Brian tak menyakitimu, seharusnya disaat seperti ini kamu tidak bersedih, tertawalah, berbahagialah, maka bayi mu juga akan merasakan bahagia.” Rodrigo berjalan mundur, agar bisa menatap wajah Riana.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Gadis kecil itu menangis sendiri di bawah pohon besar, sementara hujan sedang turun dengan derasnya, entah siapa yang ia panggil, karena suaranya tidak terdengar jelas di sela sela tangisannya,
semakin lama tangisnya semakin memilukan, ia menoleh ke sekeliling, tapi tak ada siapapun yang menolongnya.
.
.
.
Brian membuka matanya, ia menatap sekeliling masih gelap dengan cahaya yang masuk melalui sela sela jendela dan pintu, ‘ah … Riana belum keluar dari ruang operasi’ Brian berbicara sendiri.
Brian tiba di William Medical Center pukul delapan malam, ia mengemudi dengan cepat karena sejak jam lima petang ponsel Riana tak dapat dihubungi, Brian baru bisa bernafas lega setelah mendapatkan informasi dari perawat, bahwa Riana sedang ada di ruang operasi.
Seperti biasa, dengan mudah Brian membobol pengaman pintu ruangan Riana, karena itu salah satu keahliannya, setelah sekian lama terjun langsung mengelola Be.Tech, perusahaan yang ia rintis dari nol.
Brian termenung dengan apa yang ia lihat didalam mimpinya beberapa saat lalu, siapa gadis itu?
Kenapa ia terlihat sedih dan sangat kesepian?
Mungkinkah karena itu ia menangis sendiri di bawah pohon?
tit
tit
tit
tit
tit
terdengar suara seseorang menekan kombinasi angka, tak salah lagi itu pasti Riana, pintu pun terbuka, tapi …
“Aaaaahhhh …” pekik Riana manakala melihat ada seseorang yang sedang duduk di sofa.
“Ini aku kenapa berteriak?” tanya Brian ketika membawa Riana ke pelukannya. “Kamu bisa membuat security rumah sakit datang kemari.”
PLAK
PLAK
PLAK
Beberapa kali Riana mendaratkan pukulan di punggung Brian, tapi entah kenapa Brian menikmati pukulan tersebut, bahkan tertawa keras.
ha ha ha ha …
Riana sungguh kesal mendengar suara tawa Brian.
“Bisa tidak kalau kamu tidak masuk keruangan ku seenaknya,”
“Tidak.”
Riana menekan tombol saklar lampu.
Dan wajah Riana kini terlihat jelas, kusut dan sangat lelah, ditambah ulah iseng Brian, membuat wajahnya semakin cemberut marah.
“Kenapa datang? padahal aku sudah bilang padamu, aku akan menelepon, jika sudah selesai jam kerjaku.” gerutu Riana usai menghabiskan makan malamnya.
Ia makan nasi kotak dari kantin rumah sakit, karena sudah tak kuat lagi menahan lapar jika harus makan di luar, atau makan di rumah.
“Tadi sore beberapa kali aku menelpon mu, tapi tak ada jawaban, jadi aku datang, karena takut terjadi apa apa yang tidak ku ketahui,”
‘Ah iya, Brian pasti merisaukan anaknya, mana mungkin Brian mengkhawatirkan aku’. monolog Riana.
Riana menuju toilet, mandi dan mengganti pakaiannya sebelum pulang, ingin segera memejamkan mata segera sampai dirumah.
.
__ADS_1
.
.
.
.
“Selamat malam nyonya …” sapa tuan Robin ketika membukakan pintu untuk tuan dan nyonya mudanya.
“Selamat malam paman,” Balas Riana.
Riana berjalan hendak menaiki tangga, namun tuan Robin melarangnya.
“Kamar utama sudah siap nyonya, jadi anda tak perlu lagi naik turun tangga,”
Wajah Riana berbinar, “Benarkah paman?”
“Benar nyonya, mari saya antar,” tuan Robin berjalan terlebih dahulu, menuju ruangan besar di sisi tangga. “Silahkan nyonya, jika ada kekurangan atau barang anda ada yang tertinggal, katakan saja pada saya, atau pelayan yang lain, kami akan mengerjakan nya untuk anda.”
“Baik paman, terima kasih,” ucap Riana.
Tuan Robin pun pamit.
Tak lama Brian mengikutinya masuk ke kamar utama tersebut.
.
.
.
Othor mau tanya nih, enaknya Brian dihajar dengan hukuman apa biar kapok?
.
.
.
Jangan pada minta Riana bakal dapat jodoh pria lain yah, nanti othor yang patah hati mewakili Brian, bagaimana pun Brian kan artis duda bentukannya othor. 😋🤓😁
.
.
Terimakasih tak terhingga, buat reader tersayang yang sudah mendukung, dan setia mengikuti halunya othor hingga saat ini, semoga berkenan dan tidak bosan menerima dan membaca cerita othor yang apa adanya.
.
.
.
.
Dan jangan pada pundung yah, kalau othor minta keikhlasan kalian memberikan vote, dan sajen lainnya, trus lanjut dengan meramaikan kolom komentar.
.
.
.
.
.
Apa?? Othor ngelunjak?? Wkwkwkwk maapkeun. ✌️😂
__ADS_1