Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 46


__ADS_3

BAB 46


“Dok … pasien kehilangan detak jantungnya !!!” pekik dokter Anastesi yang memantau monitor di ruang operasi.


“Lakukan kompresi dada …” perintah Riana segera, dengan suara kencang.


Salah seorang dokter residen asistennya segera melaksanakan perintah Riana, keadaan cukup menegangkan, karena sudah hampir 5 jam Riana berjuang demi menyelamatkan sang pasien, dan kini operasi terpaksa berhenti karena pasien mengalami henti henti jantung, berbagai cara mereka lakukan, termasuk menggunakan defibrillator, namun semuanya tak membuahkan hasil, bahkan Riana bergantian dengan dokter residen, melakukan kompresi dada selama satu jam nonstop, namun tak membuahkan hasil.


Riana ingin menangis rasanya, Nyonya Romana, sudah menjadi Riana sejak 5 tahun terakhir, satu satunya alasan nyonya Romana menolak operasi untuk memperbaiki jantungnya adalah, karena dia masih ingin menunggu puteranya pulang, putra kesayangannya yang tengah menempuh pendidikan di Jerman.


Operasi yang akan ia jalani, sangat beresiko, termasuk diantaranya resiko gagal jantung di ruang operasi ketika tindakan sedang berlangsung, dan kini terbukti benar adanya, mengingat kondisi jantung nyonya Romana sudah berada di ambang batasnya.


Riana hanya mampu menyimpan tangis sedihnya, ketika menatap wajah nyonya Romana yang tersenyum dalam tidur panjangnya, wajah tulus itu seakan akan mengatakan padanya bahwa, “sudah dok, bukan salah anda, anda sudah melakukan yang terbaik, tak mengapa, aku sangat berterima kasih, karena anda bersedia menjadi perantara tangan tuhan, dengan sedikit memperpanjang nyawaku, agar aku bisa ikut merasa berbahagia, melihat putraku berhasil menyelesaikan pendidikannya.”


#Defibrillator adalah perangkat yang memberikan kejutan listrik ke jantung, untuk mengatasi irama jantung abnormal yang berpotensi fatal (aritmia). Alat ini juga umum digunakan pada pengidap henti jantung atau ventrikel agar detak jantung kembali ke ritme normal. Kedua jenis aritmia ini terjadi di ventrikel atau bilik jantung.


Riana masih tergugu, duduk di salah satu sudut ruang operasi, ia jadi semakin sensitif sejak kehamilannya, jika biasanya ia hanya menunduk sedih, kini ia harus berjuang keras menyelesaikan tangisnya, sebelum memberi kabar pada keluarga pasien.


Usai menyampaikan apa yang terjadi di ruang operasi, Riana berjalan menuju ruangannya, bersyukur sekali, karena beberapa hari sebelum operasi, Riana sempat menjelaskan secara rinci kondisi jantung nyonya Romana pada keluarga dan wali pasien, sesungguhnya operasi kali ini hanya membantu menyambung fungsi jantung nyonya Romana bukannya menyembuhkan, jadi resiko kegagalan sangat mungkin terjadi.


.


.


.


Brian melonggarkan dasi yang kini terasa mencekik lehernya, sejak tiba di Gustav.Inc ia sudah disibukkan dengan berbagai macam laporan pekerjaan yang harus ia periksa, Brian sungguh sudah merasa terkurung dalam padatnya aktivitas pekerjaan, hingga ia bahkan tidak sempat lagi memikirkan niatnya untuk menyusun ulang rencana nya membawa bayinya meninggalkan Singapura.

__ADS_1


Riana 


Riana


Riana


Nama itu kini kian terpatri dalam kepala Brian, bagaimana senyumnya, bagaimana ia merajuk ketika keinginannya tidak terkabul, bagaimana marahnya ketika Brian bersikap ketus, aaahhh semuanya membuat Brian merasakan debaran aneh di dadanya, terlebih setelah malam itu ia menghabiskan sisa harinya bersama Riana di Jakarta, Riana benar benar membiarkan Brian memeluknya semalaman, dan Brian senang sekali, walau ia harus mati matian menahan hasrat kelelakiannya, karena hanya dengan berdekatan dengan Riana membuatnya begitu ingin, Brian menjadi semakin heran dengan diri nya sendiri, nama Alicia masih tersemat rapi di hatinya, tapi kini tubuh Riana seolah membuat raganya memohon, seperti narkoba yang terus candu dan ingin dipenuhi.


Selama berada di Jakarta, Brian menghabiskan banyak waktunya di kamar mengurus pekerjaan, karena tak ingin bertatap muka dengan Richard, sementara Riana memilih menghabiskan waktunya dengan berada di dapur dan meminta dibuatkan banyak makanan yang ia inginkan, tentu saja termasuk rendang favoritnya, dan kini juga menjadi favorit Brian sejak kehamilan Riana, jadi mama Nisya membuat dua kali lebih banyak dari biasanya.


Bahkan tingkah Grace yang masih gencar melancarkan rayuan membuat Brian semakin muak dengan keberadaan wanita tersebut, ingin ia pecat tapi selama ini pekerjaan Grace sempurna tanpa celah dan cacat, hingga detik ini Brian belum menemukan sekretaris sehebat dan sedetail Grace, jadi walau sungguh merasa tak nyaman, Brian terpaksa mempertahankan Grace.


Drrrttt


Drrrttt


Drrrttt


Brian melirik layar ponselnya


‘nomor asing’


“Halo …”


Setengah hati Brian menjawab panggilan tersebut.


Mendengar jawaban dari si penelepon, Brian bergegas meninggalkan ruangannya dengan langkah lebar, bahkan seruan Grace yang hendak bertanya kemana ia akan pergi, sama sekali tak Brian hiraukan.

__ADS_1


Brian hanya berlari kencang menuju mobilnya, rasanya debaran jantungnya menggila, karena merasa cemas dan takut luar biasa, ia bahkan tak memberitahu Fabian perihal kepergiannya.


“Riana pingsan.” itulah jawaban yang ia dengar ketika menjawab panggilan misterius beberapa saat yang lalu.


Walau suara pria yang menghubunginya, Brian tak peduli, rasa marahnya akan hal itu, tak sebanding dengan besarnya kepanikan yang tengah ia rasakan kala mendengar berita Riana pingsan, tak tahu kenapa ia jadi panik seperti ini hanya karena mendengar berita bahwa Riana pingsan beberapa saat setelah keluar dari ruang operasi.


Brian bergegas meninggalkan Gustav.Inc, ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak peduli jika ia mengganggu kenyamanan pengendara yang lain, yang Brian rasakan saat ini adalah ingin segera menjumpai wanita yang tengah mengandung anaknya, wanita yang ia paksa kembali menjadi istri, karena terlanjur mengandung anak dari benihnya. 


Brian berlari kencang menuju Emergency Room usai memarkirkan mobilnya, bulir bulir keringat mulai membasahi wajah dan tengkuk nya, wajahnya terlihat frustasi, cemas membayangkan sesuatu yang berbahaya tengah mengintai keselamatan istri dan janin dalam kandungannya, walau selama ini ia jelas jelas menolak Riana dalam hidupnya, tapi hari ini untuk pertama kalinya ia menyesali apa yang sudah ia ucapkan, bahkan sumpahnya untuk setia pada Alicia pun ia sesali, karena kini ada wanita lain yang juga mengandung anaknya, tak adil rasanya jika wanita ini hanya ia anggap sebagai istri diatas kertas serta mesin pencetak anak, tanpa embel embel cinta dalam bahtera pernikahan mereka yang kedua, karena Riana menolak untuk jatuh cinta padanya, setidaknya itulah yang Riana tekankan ketika mengawali perjanjian pernikahan mereka.


Riana masih berada di emergency room, ketika Brian tiba, nafasnya masih memburu, tapi matanya menatap Riana dengan teduh.


Wajah Riana pucat, ia bahkan masih mengenakan pakaian yang biasa dipakai di ruang operasi.


“Tinggalkan kami !!!” perintah Brian apa Rodrigo dan Viona yang masih berdiri mematung di dekat brankar Riana, sesekali memeriksa monitor serta cairan infus.


Merasa Brian lebih berhak ada di sisi Riana, maka Rodrigo dan Viona pun beranjak pergi, tak lupa mereka menutup tirai pembatas, agar privasi pasien tetap terjaga.


Tangan Brian gemetar ketika menggenggam tangan Riana yang terasa dingin, tak lupa ia menyapa bayinya. “baby sayang, kamu baik baik saja di dalam sana?” tanya Brian lirih ia menyingkap kain yang menutupi perut Riana, kulit putih itu kini membuncit, artinya anak nya tubuh semakin besar, beberapa kali Brian mengecup perut Riana, air matanya menetes ketika tadi ia sempat berpikir buruk, akan kehilangan anaknya legi untuk kedua kalinya, anak yang bahkan belum sempat ia lihat wajahnya. 


Sikapnya yang dingin dan arogan seolah luruh di hadapan anaknya, bayi kecil yang bahkan belum lagi sebesar genggaman tangannya, tapi Brian yang posesif tahu bahwa bayinya adalah murni miliknya, tanpa menunggu seseorang mewariskan padanya, seperti ketika Brian mendapatkan warisan Roger, tanpa ada yang bisa menolak fakta tersebut, karena itulah Brian bahagia, bahkan berniat memiliki bayi tersebut untuknya sendiri, tanpa memikirkan Riana akan ada lagi dalam hidupnya, padahal Riana adalah ibu dari bayinya, ia juga berhak ada di dekat bayi mereka.


Selamanya bayi ini adalah miliknya bersama … 


RIANA


Sungguh egois jika Brian hanya menginginkan bayi tersebut untuknya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2