Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 69


__ADS_3

BAB 69


“Kamu … memang anak yang tak seharusnya hadir, karena kehadiranmu akan menghalangi langkahku.”


Suara itu pelan, halus, tapi menakutkan dan mengancam, sementara anak kecil itu terdiam, gemetar ketakutan, karena ia tak bisa melawan atau melakukan apapun, bukan salahnya lahir ke dunia, bukan salahnya pula jika ia ditakdirkan menjadi keturunan terakhir keluarga Gustav Agusto. 


“Tanpa kehadiranmu, aku lah yang akan menjadi penerus keluarga ini.”


“Tanpa kehadiranmu, aku akan tetap menjadi anak emas dan anak kesayangan, kedua orang tuaku.”


“Kehadiranmu … membuat kasih sayang dan perhatian mereka beralih padamu,”


“Perhatian kedua orang tuaku, dan perhatian kakak ku.”


“Dalam dunia mereka kini hanya bertumpu, kebahagiaan dan kebanggaan padamu, yang pintar dan sempurna.”


“Di pundakmu semua harapan mereka bertumpu.


“Hadirmu, adalah kebahagian dan anugerah besar bagi mereka,”


“Tapi bagiku, hadirmu adalah musibah, dan kesialan terbesar.”


Suara itu mengerikan, menakutkan serupa terompet kematian yang tengah digaungkan, menerpa dan menembus sisi dinding kepolosan seorang anak, apalah daya ia yang lahir penuh limpahan kasih dan sayang, berjuta harapan diletakkan di pundak kecilnya, harapan mampu menjadi penerus keluarga yang membanggakan,  kini harus terjerembab dalam jurang kedengkian seseorang, hingga menyebabkan pecah dan rusak jiwa nya, dia yang semula manis, ceria dan penurut, berubah menjadi pendiam, pemarah, dan selalu menyendiri dengan dunianya sendiri.


Aaaaaaaaa …. 


Suara teriakan brian menggema, deru nafas dan detak jantungnya tak beraturan, sentuhan lembut di lengannya membuat Brian melirik ke tepada si pemilik sentuhan tersebut, Rupanya Riana tengah menatapnya dengan pendangan khawatir, ia yang tadi tidur lelap damai, kini wajahnya berubah pias karena khawatir.


Jika semalam Brian melihat Riana gelisah dalam tidurnya, kini sebaliknya,  seolah olah tuhan telah memasangkan keduanya untuk saling menjaga dan saling menyembuhkan.


“Maaf, aku ketiduran,” ucap Brian ketika Riana dengan Khawatir menyeka keringatnya dengan tissue.


“Kamu baik baik saja?” tanta Riana dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


Bahkan tangan dokternya dengan gesit memeriksa denyut nadi dan detak jantungnya, inilah kelebihan memiliki seorang dokter pribadi didekatmu.


Brian memijat pelipisnya yang masih berdenyut nyeri, seperti sebuah tabir misteri yang menakutkan, kepalanya kerap berdenyut dan berputar sesaat, ketika tabir itu tersingkap, sedikit demi sedikit. 


“Boleh aku bertanya sesuatu?” Brian menatap Serius wajah Riana.


“Hmm tanyalah, akan aku jawab.”


“Bayangan apa yang semalam kamu lihat di pantry?”


Riana menarik nafas kemudian kembali bersandar di kursi nya, wajahnya memang menghadap ke depan, tapi matanya terpejam, seperti berusaha mengingat sesuatu.


“Aku melihat sepasang anak laki laki dan perempuan,”


“Apa kamu mengenal mereka?” 

__ADS_1


“Tidak, wajah mereka tertutup bayangan hitam.”


“Sama sekali tak terlihat?”


“Iya, sama sekali tak terlihat.”


“Apa yang mereka bicarakan?”


“Aku pun tak mendengar apa yang mereka bicarakan, mereka terlihat saling berpegangan tangan, seperti saling menguatkan.”


“Apa yang kamu rasakan ketika melihat kedua anak itu?”


“Kesedihan dan … Hei tunggu, kenapa kamu jadi seperti seorang psikiater?”


“Bukan psikiater sayang, aku hanya khawatir,” 


“Apa yang membuatmu khawatir? aku baik baik saja.” tanya Riana heran, karena perilaku Brian terlihat aneh, lebih lebih Brian seperti penasaran akan sesuatu, hingga memberikan banyak pertanyaan demi memuaskan rasa ingin tahunya.


“Tidak, kamu tidak baik baik saja.” jawab Brian sendu.


“Maksudmu?” tanya Riana penasaran, karena ia sama sekali tak ingat apapun setelah Brian menggendongnya kekamar.


Briak mengusap pipi Riana, “Tidurmu gelisah, kamu bahkan mengigau, tak ingin di tinggalkan, dan lagi lagi kamu menyebut ‘kakak kakak’ lagi, aku jadi cemburu, siapa sebenarnya orang yang kamu panggil kakak.” gerutu Brian sambil memajukan bibir bawahnya.


Riana menatap haru wajah tampan yang semakin menggemaskan dalam pandangan Riana, desiran halus kembali terasa, tak bisa di pungkiri ia pun mulai mencintai si daddy baby, tapi masih ada keraguan besar yang menghalangi egonya, entahlah, tapi sepertinya benar kata pepatah, sekali seseorang di sakiti dan di khianati, akan sulit bagi orang tersebut untuk kembali memberikan kepercayaan, kiranya itulah yang kini Riana rasakan. “Kamu  cemburu?” tanya Riana ragu.


“Tentu saja, walau kamu belum mengatakan belum mencintaiku, tapi aku tak rela kalau dalam fikiran dan mimpimu aku harus bersaing dengan pria lain.” jawab Brian terus terang, jika sebelum sebelumnya ia menolak mengakui kecemburuannya, kini ia tak lagi ingin menutupi perasaannya. 


“Apa kamu tidak keberatan?” tanya Brian memastikan.


“Tentu saja, aku biasa mengemudi jarak jauh, aku dan Viona biasa berkendara ketempat yang jauh untuk membuang penat dan stress akibat pekerjaan yang tak ada habisnya.” jawab Riana penuh kebangaan.


Riana keluar dari mobil, kemudian berjalan menuju ke kursi kemudi tempat Brian berada, dan Brian pun segera melepas belt kemudian dengan sigap bertukar tempat, Brian masih terdiam di depan pintu mobil berhadapan dengan Riana yang masih menunggu kepastian.


“Kamu yakin?” tanya Brian memastikan.


“Yakin.” jawab Riana mantap.


“Baby?”


“Sudah tak sabar menemani mommy mengemudi,” seringai Riana menggemaskan.


Brian memeluknya sesaat, tak lupa melabuhkan kecupan. 


“Santai saja yah, kecepatan 100 km/jam.”


Riana mendelik tajam, “kita sedang menaiki mobil, bukan menaiki gerobak.”


Brian terkekeh gemas. “Baiklah … baiklah … berhenti di supermarket terdekat yah, ada yang ingin ku beli.”

__ADS_1


“Siap !!!! “ jawab Riana dengan meletakkan telapak tangannya di dahi. 


Perjalanan berlanjut, bahkan terasa lebih ramai, karena Riana terus berceloteh, membuat Brian sesaat melupakan mimpi buruknya, sesekali Brian marah jika Riana menginjak pedal gas lebih dari 150 km/jam, tapi bukan Riana namanya jika tidak membantah, dan mempertahankan pendapatnya.


.


.


.


Ada banyak hal terjadi di rumah sakit selama Riana menjalani keharusan cuti kehamilan, jika diruang operasi, ada dokter Rodrigo dan dokter Mark yang menggantikan Riana, tapi tidak demikian dengan di ruang rawat jalan, ruangan tersebut tetap ramai, dengan antrian pasien, karena tidak adanya Riana.


Jadi dengan banyak pertimbangan Riana memutuskan kembali ke Rumah sakit, mengisi jadwal rawat jalannya yang hanya seminggu tiga kali.


Pagi ini, Riana merapikan sedikit Riasan wajahnya, bersiap rapi dengan pakaian kerja baru, yang tentunya menyesuaikan dengan kondisi kehamilannya yang sudah melewati bulan ke lima, walau demikian Riana tetap terlihat cantik dengan dress ibu hamil berwarna maroon, tak lupa ia mengenakan kacamata minusnya, wajah yang tampak  menggemaskan di mata Brian tersebut, seketika berubah menjadi serius.


Sementara di belakang Riana, Brian pun tengah bersiap dengan pakaian kerjanya, semenjak kejahatan Grace terungkap, Brian tak lagi bisa beralasan untuk memindahkan Gustav.Inc ke mansion, seperti halnya Riana yang bersikeras tetap kembali ke rumah sakit, maka Riana pula yang memaksa Brian untuk pergi bekerja seperti biasa, tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, Riana pun berjanji hanya menerima pasien rawat jalan dalam jumlah terbatas, pun demikian dengan hari dan  jam kerja nya.


Brian mengizinkannya tapi ada syarat mutlak yang tak boleh dilanggar oleh Riana, tak boleh berinteraksi berlebihan dengan RODRIGO, itu mutlak tidak boleh ditolak, jika Riana menolak, maka Brian akan bertindak seperti dinas kesehatan, mencabut izin praktek Riana.


Seperti ada di bawah pengaruh sihir, Riana menuruti semua ultimatum Brian, mengangguk patuh, tak ingin melawan, nyaman dan terlindung, walau aktivitasnya terbatas.


Brian memeluk Riana dan mengusap lembut perut Riana, “Aku akan merindukan kalian,” Bisik Brian.


Riana tertawa kecil, “Nanti malam, kita bertemu lagi, aku bahkan pulang jam 3 sore, lebih cepat dari jam biasa kamu pulang kerja.”


“Tetap saja, hari ini pasti terasa sangat lambat, karena aku tak bersamamu beberapa jam.” Jawab Brian dengan wajah cemberut, tentu saja membuat tawa Riana semakin keras.


“Dasar duda cengeng,” 


“Eh … mantan, enak saja aku di bilang duda.”


“Iya … iya … mantan duda, sudah ah, aku terlambat,” Riana melongok jam tangannya, tiga puluh menit menjelang jam sembilan, jadwal praktek nya di mulai.


Brian pun melonggarkan pelukannya, “Lipstik mu terlalu tebal,” selidik Brian, sambil mengamati Bibir mungil Riana.


Riana menoleh ke cermin, “Nggak ah, aku cuma pakai lip balm Merah mudah, tidak tebal sama sekali,” bantah Riana. 


“Hei kamu pikir aku berbohong?” Brian tak terima dengan protes yang diajukan Riana, “Sini, aku bersihkan biar tidak terlalu menor, berbahaya,” 


“Berbbbh …” Protes Riana terhenti ketika Brian membersihkan Lipstik Riana dengan cara menyatukan bibir mereka, Brian benar benar tukang modus sejati, ia bahkan tak memberi kesempatan pada Riana untuk mengajukan protes, sebaliknya ia begitu menikmati kudapan paginya, lembut mengalun, hangat, dengan diselingi suara kecapan mesra, dan pelukan yang kian erat.


.


.


.


jangan lupa tanda cinta nya, kembang, kopi, like, komen ... dan vote sebanyak banyaknya 🙏🥰🤓💃

__ADS_1


sarangeeeeeeee 😘


__ADS_2