Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 36


__ADS_3

BAB 36


Iring iringan mobil bergerak meninggalkan mansion keluarga Gustav Agusto, akhirnya setelah perdebatan kecil antara Brian dan Riana, mereka pun memutuskan segera berangkat menuju Gustav.Inc, dengan menggunakan tiga buah mobil, itu karen Riana menolak berbagi ruang dengan Grace, dan Brian menolak berbagi ruang dengan Armand.


Bagi Armand tak masalah, karena ia murni mendedikasikan pekerjaannya pada Richard, dengan cara memastikan keselamatan Riana.


Tapi Grace yang biasanya sengaja mencari cari kesempatan agar bisa berdekatan dengan Brian, lagi lagi menerima kecewa, ia dongkol dan luar biasa marah ketika Riana mengatakan tak ingin Grace berada di mobil yang sama dengannya, entah lah sepertinya Riana tengah dikuasai oleh hormon kehamilan, hingga mood nya benar benar mudah berubah, kadang luar biasa marah, tapi di lain waktu diam dan menuruti semua perkataan Brian.


Jadi yang netral dan bisa di terima keduanya hanyalah Fabian, maka lagi lagi Fabian lah yang menjadi sopir pribadi Riana dan Brian.


Rombongan itu tiba di Gustav.Inc beberapa saat kemudian, Brian keluar lebih dahulu, kemudian berjalan ke sisi yang lain, tangannya terulur membantu Riana keluar dari mobil, kilatan lampu kamera menyambut kedatangan keduanya, Riana tampak anggun dan berkelas dalam balutan out fit berwarna biru yang sengaja ia sesuaikan warnanya dengan setelan kerja Brian, tentu saja itu membuat warna matanya semakin bersinar, keduanya terlihat sangat serasi dalam frame.


Sepanjang perjalanan menuju Auditorium, pria itu sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan sang istri, ia sengaja menunjukkan pada awak media, karyawan, serta para pemegang saham, bahwa keduanya adalah pasangan harmonis, tentu saja banyak karyawan wanita yang merasa iri dengan wanita yang kini kembali menjadi istri Brian untuk kedua kalinya.


#padahal mah? 


Riana ikut menemani Brian hingga ke Auditorium, bahkan beberapa kali menerima ucapan selamat, dan permintaan maaf, karena beberapa pemegang saham tidak menghadiri upacara pernikahannya dengan Brian.


Pembawaan kalem dan lembut Riana, serta kepintarannya, membuat Riana tak merasa rendah diri kala berbincang dengan para rekan kerja suaminya, sejak dulu itu adalah salah satu yang bisa ia banggakan, walau Brian hanya menganggapnya sebagai istri pajangan, yang indah kala di lihat oleh orang lain, dan di rumah Riana hanya bisa menangisi nasib pernikahan mereka.


Usai acara serah terima jabatan, kini Brian resmi menjabat sebagai Presiden Direktur sekaligus pemilik resmi dari Gustav.Inc, tepuk tangan menggema di seluruh auditorium Gustav.Inc, dan sesudahnya Riana pamit undur, ia lebih memilih menunggu di ruang kerja Brian dan Brian mengizinkan, ketimbang ikut serta dalam rapat para pemegang saham.


Riana menatap seisi ruangan yang sebentar lagi akan Brian tinggalkan, warna, desain dan ornamen di dalamnya semuanya bertema maskulin, deretan buku buku programing menghiasi rak buku di sudut ruangan, walau sudah dua kali menikah Riana tak begitu mengenal sisi lain seorang Brian, selama ini yang dia lihat hanyalah Brian yang angkuh, dan menyebalkan, entah kenapa beberapa hari ini ia terlihat manis, Riana jadi merasa harus semakin waspada.


Tiba tiba tanpa mengetuk pintu, Grace masuk ke ruangan Brian, ia tahu jika ada Riana di dalam ruangan tersebut, “Maaf nyonya, saya tidak tahu jika ada anda didalam ruangan tuan Brian,” ujarnya untuk formalitas pura pura, karena nada suaranya terdengar di paksakan agar terdengar ramah.

__ADS_1


“Hmmm …” jawab Riana pelan, tapi di telinga Grace itu terdengar seperti jawaban penuh keangkuhan dan kesombongan


‘Cuih sombong sekali, mungkin dia akan pingsan jika tahu aku pernah pernah tidur dengan pria yang kini jadi suaminya’. Grace berbicara dalam hati.


“Ada perlu apa nona Grace?” tanya Riana lagi, kini ia berpindah ke kursi kebesaran Brian, matanya menyapu apa saja yang ada di atas meja kerja suaminya, Riana tersenyum manakala melihat foto janinnya sudah berbingkai manis, dan kini menghiasi meja kerja Brian, pantas saja ia tak menemukan foto tersebut dimana pun, Rupanya Brian yang menyimpannya.


“Tidak nyonya, saya hanya ingin meletakkan berkas berkas pekerjaan ini.” Grace maju dan menyusun tumpukan kertas kertas tersebut, karena tadi Brian sudah berpesan untuk meninggalkan berkas pekerjaannya di atas meja ruang kerjanya.


Setelah meletakkan tumpukan kertas kertas tersebut, Grace berbalik, bermaksud meninggalkan ruangan.


“Grace … aku tak suka jika kamu seenaknya datang ke rumah kami lagi seperti pagi tadi, dan juga sikapmu yang seenaknya saja ketika masuk ke ruang kerja suamiku.” 


Grace menghentikan langkahnya, ia benar benar tak terima dengan perkataan Riana, sekian lama bertahan dengan cinta sepihak, dulu harus mati matian menahan cemburu karena Brian ternyata sudah menikah dengan Riana, pasca bercerai dari Riana, Brian menikah dengan Alicia, dan kini ia harus kembali menahan cemburu, Brian kembali menikahi Riana tanpa peduli dengan hubungan tanpa ikatan yang Brian jalin dengannya, hanya karena Riana sedang mengandung anak Brian, sementara Grace sejak dulu ingin bisa mengandung anak Brian, namun pria itu tak pernah ingin memiliki anak dari nya.


“Apa anda tahu pria seperti apa yang menikahi anda?” 


“Kamu pikir aku tak tahu?” 


“Jadi anda tahu?” 


“Iya…”


“Kalau begitu aku pun tak ingin menutupi warna asliku pada anda.” Grace semakin berani.


“Silahkan tunjukkan saja warna aslimu, karena aku tak tertarik, apa kau juga menginginkan suamiku?”

__ADS_1


“Yah … sudah lama aku mencintai tuan Brian.”


“Ooooowww sungguh kasihan … ternyata Brian tidak mencintaimu?” kali ini Riana sungguh mengejek Grace.


“Dari mana anda tahu?”


Riana mencondongkan tubuhnya mendekati meja, dengan kedua tangan  menyangga dagu.


“Jika Brian mencintaimu, dia pasti sudah menikahimu setelah Alicia meninggal, masa begitu saja tidak tahu, kamu sekretaris sungguhan, atau sekretaris abal abal?”


“Tapi kuakui, kamu cukup gigih mempertahankan perasaanmu,” ucap Riana dengan nada sinis, “baiklah hanya itu yang ingin ku ketahui, pergilah.” usir Riana


“Ah iya, satu lagi,” imbuh Riana ketika Grace meraih gagang pintu, “aku tak peduli, ada hubungan apa kamu dengan suamiku, tapi jangan pernah datang ke rumah kami, karena itu … wilayah … teritorial ku …” nada Bicara Riana dingin dan penuh ancaman.


Grace berbalik, ia keluar ruangan sambil menghentakkan kaki nya.


Sementara itu, di Jakarta, kediaman keluarga William.


"Sudahkah kamu dapatkan informasi yang ku inginkan?" tanya Richard, pada orang kepercayaan nya, yang sengaja ia susupkan di Gustav.Inc.


"Belum tuan,"


"Cari terus, informasi sekecil apapun, laporkan padaku."


"Baik tuan,"

__ADS_1


Panggilan berakhir, Richard kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menjadi mertua yang over thinking bukanlah keinginan Richard, ia lebih suka jika Brian bisa berubah, syukur syukur bisa mencintai dan menjaga Riana serta keluarga kecil mereka, seperti keinginan Roger dan juga dirinya tentu saja.


Walaupun semua nya terjadi di masa lalu, tapi Richard seolah belum bisa percaya pada Brian seratus persen, karena itulah ia terus melakukan penyelidikan, semoga saja tidak ada hal hal aneh yang terjadi dalam pernikahan Riana dan juga Brian.


__ADS_2