Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 44


__ADS_3

BAB 44


Riana mengucapkan terima kasih pada pedagang tersebut, kemudian menatap wajah Brian yang semakin pucat.


“Aku pesan taxi dulu yah.”


Brian mengangguk, dan kembali memijat pelipisnya yang masih berdenyut, walau tidak separah beberapa saat lalu.


“Pusing?” tanya Riana ketika melihat Brian masih memijat pelipisnya.


Brian mengangguk tanpa suara.


Riana berdiri di depan Brian, kemudian menyingkap kening Brian yang tertutup rambut, ia mengamati memar di kening Brian, mengusapnya perlahan, “Seharusnya ini hanya cedera ringan, yang tidak mengakibatkan efek samping,” Gumam Riana. 


Tiba Brian memeluk tubuh Riana yang tengah berdiri di hadapannya, membenamkan wajahnya di perut sang istri, menikmati aroma yang biasanya meredakan sakit yang mendera kepalanya, “Dingin … tolong jangan beranjak dari sini dulu,” Bisiknya lirih. “Maaf, jika perkataanku membuatmu tersinggung.” sambung Brian.


Riana terdiam.


Ini kedua kalinya, Brian mengucapkan maaf.


Riana merasa seperti berhadapan dengan orang lain, ini tak seperti kepribadian seorang Brian.


Brian mendongak menatap Riana, sorot matanya teduh, nyaris membius Riana. 


“Luka ku tak seberapa, apa kamu juga terluka?” tanya Brian lirih.


Riana menggelang.


.


.


.


Hujan mulai reda ketika taxi biru yang di tumpangi Riana dan Brian berhenti di kediaman keluarga William.


security yang melihat kedatangan Riana bergegas membuka gerbang utama.


“Selamat malam nona.” sapa sang security, matanya tampak berusaha keras mengenali pria yang dahulu pernah menjadi suami dari nona muda nya.


Riana yang menyadari hal tersebut, hanya tersenyum. 


“Selamat malam pak, tidak papa, kami sudah menikah lagi.” 


security tersebut tersenyum, kemudian mempersilahkan Riana dan Brian masuk.


.


.


.


“Selamat malam ma … pa …” sapa Riana ketika tiba di ruang tengah.


Papa Richard dan mama Nisya baru saja hendak meninggalkan ruangan ketika Riana tiba. 


Mama Nisya bergegas menghampiri Riana dan Brian, namun papa Richard hanya diam dan meninggalkan ketiganya. 


Tanpa diberitahu, Brian sudah tahu, bahwa tatapan itu adalah tatapan curiga berbalut rasa tak suka, yang Richard tujukan untuk dirinya, seperti itulah papa RIchard sejak dulu.


Mama Nisya langsung khawatir melihat anak dan menantunya yang pulang dengan kondisi tubuh basah, “Kapan kalian tiba? kenapa tidak menghubungi mama?” 


Bagaimanapun besarnya rasa tak suka mama Nisya pada menantunya, ia tetaplah mama yang baik hati, jadi melihat kondisi anak dan menantunya tak baik baik saja, mama Nisya tetap Khawatir.

__ADS_1


“Maaf ma, kami sengaja tak mengabari mama, dan Armand pun aku larang memberitahu mama.” Jawab Riana sopan.


“Ya sudah yang penting kalian selamat,” mama Nisya mengusap lengan Riana dan juga Brian. “cepatlah mandi, mama kan minta mbok Sa untuk siapkan makan malam kalian.”


“Kami sudah makan mah.” 


“Syukurlah, cepatlah mandi wajah kalian sudah semakin pucat, pasti kalian kedinginan.” 


.


.


.


Riana membuka lemarinya, yakin pasti sang mama sudah menyiapkan baju baju pria, ketika Riana kembali resmi menikah kembali dengan Brian, ternyata dugaannya benar adanya, kini ada banyak baju asing di lemari Riana, sama seperti ketika dulu mereka masih berstatus sebagai suami istri.


Setelah menyiapkan baju santai untuk Brian, Riana meninggalkan kamarnya, tujuannya adalah kamar mandi di kamar tamu, karena menunggu Brian selesai mandi adalah pilihan bodoh, mengingat ia juga sangat butuh menyegarkan diri. 


Air hangat luruh membasahi sekujur tubuhnya, dingin dan penat yang ia rasakan sejak beberapa jam lalu, kini sirna berganti dengan rasa segar dan rileks, jika tak merasa penat, dan ingin cepat beristirahat, Riana akan lebih memilih berendam dengan air hangat.


Tiba tiba Riana teringat dengan sorot mata Brian ketika pria itu menatap dan memastikan keadaannya, ada kekhawatiran di sana, sesaat Riana merasa Brian seperti berganti mode menjadi orang lain, untuk pertama kalinya dalam hidup, sepanjang ia mengenal Brian, Riana tak pernah melihat tatapan itu, biasanya tatapan Brian Dingin, kaku, beringas penuh amarah, tapi tatapan itu hilang sesaat ketika ia menanyakan kondisi Riana, Brian bahkan menangis meminta maaf padanya.


WOW


Itulah yang Riana rasakan.


.


.


.


Brian menyelesaikan aktivitas mandinya, badannya kembali segar, begitupun wajah dan rambutnya, walau masih berantakan, tapi othor mengakui Brian tetaplah tampan. 


Brian mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan, kamar Riana tetap sama seperti dulu, tak banyak perubahan, karena Riana memang menetap dan bekerja di Singapura.  


Pandangan Brian berhenti pada lemari kaca di sudut ruangan, ada sesuatu yang menarik perhatiannya, ada boneka beruang dengan ukuran tidak terlalu besar disana, seperti ada magnet yang membuat Brian berjalan mendekati boneka tersebut, seharusnya tak ada masalah jika Brian melihat boneka tersebut, karena toh itu hanya boneka biasa, mungkin boneka itu adalah boneka kesayangan Riana, hingga ia masih berada di sana seorang diri karena tak ada mainan atau benda apapun yang menunjukkan bahwa Riana suka jika mainan masa kecilnya masih tersimpan rapi, hanya ada boneka tersebut.


Tapi Brian merasa ada perasaan tak nyaman ketika menatap boneka tersebut, lagi lagi kepalanya berdenyut, sebuah bayangan buram melintas seperti rol film yang hampir rusak, kadang jelas, kadang pecah, kadang terpotong, kadang kusut seperti kertas usang.


“Namanya Vanilla …” tiba tiba suara Riana membuat semua bayangan bayang tersebut sirna tersapu angin.


Brian menoleh, Riana sudah segar dengan piyamanya.


“Sejak kapan kamu memiliki boneka itu.”


“Itu hadiah ulang tahun dari papa ketika usiaku lima tahun.”


Brian mengerutkan keningnya.


Seorang Richard? 


Hanya memberikan boneka kecil untuk putri kesayangannya? 


Brian ingin tertawa rasanya, pasti tidak mungkin, tapi ya sudahlah, itu bukan urusannya.


“Kenapa hanya ini yang tersisa di kamarmu? kemana bonekamu yang lain? tak mungkin bonekamu hanya ada satu kan?” Ejek Brian, yang sudah kembali ke mode jutek.


“Bukan urusanmu.” jawab Riana tak kalah ketus.


Mood Riana sudah membaik, tapi mendengar pertanyaan Brian, Riana tiba tiba merasa mood nya kembali buruk. 


Riana berbalik, ia urung menjelaskan asal usul boneka tersebut, karena sudah terlanjur marah mendengar pernyataan Brian. 

__ADS_1


Riana merangkak naik ke tempat tidurnya.


Brian tersenyum, sungguh lucu jika Riana sedang memanyunkan bibir mungilnya.


Brian menyambar pakaian santai yang sudah Riana siapkan untuknya, kemudian dengan santai ia mengganti pakaiannya di depan Riana seperti layaknya pasangan normal pada umumnya.


“Yaaa … kamu pikir aku suka pemandangan cabul?” pekik Riana ketika Brian mulai memakai pakaian dalamnya.


Mendengar suara Riana, Brian sengaja menghentikan aktivitasnya, kemudian tatapannya beralih ke bening mata sang istri.


“Kenapa? seperti tidak biasa saja, bukankah kamu sudah pernah melihat semuanya? bahkan pernah merasakannya? Pernah me … ” jawab Brian dengan tak tahu malu, tapi menggantung karena Riana buru buru menghentikan kalimatnya. 


“STOP !!!!” jerit Riana malu.


Nafas Riana memburu, kini wajahnya sudah ia tutupi dengan bantal, “selesaikan segera, dan jangan berpikir kita ini seperti pasangan normal,” Riana berteriak dari balik bantal yang menutupi wajahnya.


Brian bergegas menyelesaikan aktivitasnya kemudian ikut berbaring di sisi Riana.


“Menjauhlah …” tegur Riana ketus, ketika Brian berbaring dengan jarak sangat dekat.


“Tidak.” 


Riana melotot tajam.


“Hei … kenapa sekarang kamu jadi sering marah marah?”


“Kenapa? masalah?”


“Tentu saja, wanita hamil tidak boleh marah marah,” Brian berbaring miring menatap wajah Riana yang mulai bersemu merah, sementara tangannya menyangga kepala, membuat Riana semakin salah tingkah, karena ini pertama kalinya Brian menatapnya dengan pandangan lembut, bukan pandangan kasar dan marah. 


“Kalau begitu bersikap baiklah, setidaknya sampai bayi ini lahir.” jawab Riana ketus.


“Seingatku dulu kamu bahkan tak berani menatap mataku?” jari jari Brian ini berpindah ke rambut Riana, dan mulai memainkan surai indah berwarna kecoklatan tersebut.


“Bagus kan? bersyukurlah aku tidak bisa taekwondo seperti papa, karena aku bisa saja membuatmu babak belur.”


“Hahaha …” Brian tertawa keras, hatinya menghangat, berbincang seperti ini saja membuatnya senang, kenapa dulu ia bahkan tidak bisa bersikap lembut pada Riana?


Riana merasa pergerakannya semakin tak nyaman, Karena kini tubuh Brian semakin merapat padanya, pria itu bahkan mulai mengendus rambut dan lehernya yang masih lembab.


“Menjauhlah … aku tidak bisa tidur jika kamu seperti ini?”


“Tidak akan, karena aku baru bisa tidur setelah mencium aroma tubuhmu.”


“Kalau begitu aku yang pindah.”


Brian menahan lengan Riana, hingga membuat Riana yang sudah hampir berdiri, kembali terbaring. “Tetaplah disini, aku ingin tidur sambil memeluk anakku.” akhirnya Brian mengeluarkan kalimat wasiatnya, agar Riana tidak berpindah kemana mana.


‘Yah … Brian hanya ingin berdekatan dengan anaknya,’ gumam Riana dalam hati.


Akhirnya Riana pun hanya bisa pasrah, ia sudah terlalu lelah, bahkan hanya untuk berdebat dengan Brian. pelan pelan netranya pun lelap dengan tangan Brian yang mengusap lembut perut buncitnya.


.


.


.


uwu dikit ga papa yah, buat Brian yang lagi mode bucin, tapi belum menyadarinya 😋


.


.

__ADS_1


.


Hayooo ngaku, kalian mikirin Brian berpose apa, sampe Riana jerit jerit malu ? 😁


__ADS_2