
BAB 55
Riana melambaikan tangan ketika mobil yang membawa papa Richard meninggalkan mansion, Riana senang sekali karena baru saja papa Richard bersedia meenmaninya makan siang, bahkan bertambah senang karena ternyata Brian membelikannya ice cream vanilla favorit nya, dasar ibu hamil, kebahagiaannya tidak jauh jauh dari camilan dan perhatian.
Karena belum merasa lelah, Riana iseng memasuki ruang kerja papa mertuanya, ruangan itu sudah lama kosong, tapi paman Robin selalu membersihkannya sendiri, Ruangan itu sangat privasi, Papa Roger bahkan tak mengizinkan para pelayan memasuki ruangan tersebut, kecuali paman Robin, karena paman Robin adalah orang kepercayaan papa Roger.
Riana berani memasuki ruangan tersebut, karena dulu semasa hidup, Papa Roger pernah mengatakan, bahwa kapanpun Riana ingin masuk keruangan ini, tak masalah, Roger sudah memberinya izin secara langsung.
Riana duduk di kursi kebesaran papa Roger, memejamkan mata sesaat, menikmati aroma tembakau segar yang biasanya menempel di tubuh papa mertuanya, Ruangan ini masih utuh seperti sebelum sebelumnya, tak ada yang berubah, bahkan Brian tak berani mengubah, atau sekedar memasuki ruangan ini.
Rak rak buku berjajar rapi, lukisan besar papa Roger dan mama Delia masih menghiasi ruangan, peralatan musik clasic pun masih terawat rapi berkat tangan dingin paman Robin.
Riana membuka satu persatu laci meja kerja tersebut, tak ada yang menarik, tapi ketika sampai di lagi bagian bawah, Riana melihat album foto usang, yang sepertinya belum pernah ia lihat sebelumnya, Riana mengambil album foto tersebut, manar banar foto lama, tapi masih cukup terawat. tercetak dengan jelas di sana, tanggal dan tahun awal mula album foto tersebut mulai diisi.
Mulai dari foto pernikahan, hingga hari hari bahagia kehamilan mama Delia, sampai hari kelahiran Brian, bayi tampan itu berada di dekapan kedua orang tuanya, sang pewaris tunggal yang di tunggu tunggu kehadirannya selama 10 tahun pernikahan papa Roger dan mama Delia, di halaman terakhir ada foto papa Roger bersama seorang pria, tiba tiba Riana merasakan ada sesuatu yang aneh dalam dirinya ketika menatap wajah pria asing tersebut, wajah itu tersenyum bersama papa Roger, tapi entah kenapa Riana merasa takut melihat senyumannya, tiba tiba Riana merasa sesak nafas, ia merasakan nyeri tak terkira di dadanya, keringat dingin mulai membanjiri pelipis dan sela sela rambut nya, Riana buru buru meninggalkan ruangan papa Roger, masih dengan nafas yang naik turun tak beraturan, bahkan ketika sudah berada di luar ruangan, Riana masih kesulitan mengatur nafasnya, duduk lemas meringkuk di depan pintu.
“Nyonya …” teriak paman Robin ketika pandangan Riana mulai gelap, hingga Riana tak lagi mendengar suara apa apa, selain …
Suara tawa menggelegar.
Begitu mengerikan.
Riana hanya merasakan hawa dingin yang menakutkan.
"Tidak ... hiks ..." rintih Riana, kedua matanya terpejam, ia memegangi kedua telinganya, sementara kepalanya menggeleng, tubuhnya meringkuk perlahan seolah tengah ketakutan. "tolong ... jangan sakiti aku ... jangan ..."
Sementara disisi lain, Riana juga mendengar suara seorang anak yang tengah menangis pilu, memohon, bahkan mencercau, sungguh menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.
.
.
.
#nah loh … suara siapa itu?
#Sementara Brian beberapa kali memimpikan seorang gadis kecil, Riana merasa mendengar suara tawa dan jeritan memohon dari seorang anak kecil.
#Apakah kedua misteri tersebut memiliki keterkaitan?
#Jadi siapa pria misterius yang berada di album foto?
#Masalah uler keket grace belum selesai, masalah baru datang lagi
__ADS_1
#Sabar, ide nya othor lagi meluber, cuma rada sulit menuliskannya, agar kalian juga bisa merasakan emosi yang othor rasakan.
.
.
.
Lagi lagi Brian menerima berita mengejutkan dari rumah, istrinya kembali tidak sadarkan diri selepas keluar dari ruang kerja papa Roger.
Brian membanting pintu utama ketika langkah kakinya berderap memasuki ruangan, langkah lebarnya bergerak memasuki kamar utama, disana ada paman Roger, dokter Viona, serta dokter Stevi.
Wajahnya pias dan khawatir.
Ia harus kembali pulang, padahal baru tiga puluh menit yang lalu ia tiba.
Brian berjalan ke sisi lain tempat tidur, menatap wajah pucat berkeringat dingin Riana, “apa yang terjadi paman?” tanya Brian.
“Saya melihat nyonya pingsan di depan ruang kerja Tuan Roger, saya juga tidak tahu menahu apa penyebabnya.” jawab paman Robin.
‘Apakah nyonya tanpa sengaja melihat foto pria itu? tapi bukankah nyonya sudah lupa kejadian itu?’ tiba tiba tuan Robin teringat sesuatu.
Hal penting yang dahulu diceritakan oleh Roger padanya, kenapa begitu penting menyembunyikan foto pria itu
Foto foto pria itu memang sudah lama disingkirkan dari seluruh mansion, tapi rupanya Roger tak bisa menampik fakta tentang pria itu, bagaimanapun mereka terlahir dari rahim yang sama dan orang tua yang sama pula.
Tuan Robin buru buru mengeluarkan foto terakhir tersebut, ia menyembunyikannya di saku jas, dan nanti akan ia bakar di tempat pembakaran sampah.
Sementara itu di kamar utama.
“Bagaimana kondisi istriku?”
“Sepertinya dia Shock, ada sesuatu yang memaksa tubuhnya menerima informasi baru, sementara otaknya tak siap mencerna informasi tersebut, hingga ia pingsan,”
“Lalu bayi kami bagaimana?” tanya Brian lagi.
“Bayinya juga baik baik saja.” jawab dokter Stevi.
.
.
.
__ADS_1
Brian menatap wajah pucat Riana, ia duduk di bibir ranjang, menggenggam erat tangan Riana, menciumi tangan mungil tersebut, baru beberapa jam yang lalu istrinya tersenyum bahagia bersama papa Richard, kini tiba tiba harus pingsan, haruskah ia mengabarkan pada papa Richard apa yang terjadi dengan Riana?
‘Tidak, jangan Brian, hei bodoh, ini bagian dari tanggung jawabmu sebagai suami Riana, ini kesempatan baikmu untuk seratus kali lebih perhatian pada istri dan anakmu, bila perlu pindahkan semua pekerjaan kantormu ke rumah’, monolog Brian dalam hati.
Tadi pun, Viona bersikeras menunggui Riana, ia benar benar khawatir jika Riana hanya di temani Brian, tapi Brian justru marah dan mengusirnya, dari situ Viona menyadari, ada yang berbeda dari Brian, tatapan Brian sangat berbeda dengan Brian yang dulu ia kenal, ia melihat tatapan itu penuh kekhawatiran, akhirnya Viona pun pasrah meninggalkan Riana bersama Brian saja, tentu ia juga meminta Armand bersiaga, jangan sampai Brian kembali berperilaku kasar pada Riana seperti dulu.
.
.
.
“Kak cantik sekali bonekanya …” pekik gadis kecil itu.
“Kamu menyukainya?”
Gadis itu mengangguk dengan tatapan mata berbinar indah, dan senyum manis tersungging di bibirnya.
“Kalau warnanya?”
“Aku suka,”
“Kamu hanya suka ice cream vanilla, jadi aku memilih boneka beruang berwarna putih,”
“Bagaimana kalau kita juga menamainya Vanilla?”
Seorang wanita paruh baya tampak tersenyum bahagia, menatap kedua bocah yang kini tertawa bahagia, belum pernah ia melihat anak laki lakinya itu tersenyum selebar itu bersama teman bermainnya, bahkan di sekolah sekalipun, anak laki lakinya selalu tertutup, bahkan cenderung marah dan memusuhi teman temannya, terutama jika ada yang berani mengganggunya.
Pernah suatu kali teman sekolahnya harus dilarikan ke IGD dan menerima jahitan di kepala, karena dia sudah mencoba mendorong bahkan menjahili anak lelakinya, sejak saat itu anaknya menjadi semakin tertutup bahkan enggan berinteraksi dengan orang lain.
Disisi lain kedua bocah itu tertawa bahagia, tanpa menyadari bahwa bahaya sedang mengintai mereka.
.
.
.
#sudah mulai bisa menebak siapa si bocah laki laki dan siapa si bocah perempuan? dan siapa ibu dari si bocah laki laki?
#tanda cinta nya jangan lupa gaeeesss ...
#sarangeeeee💚💚💚
__ADS_1