
BAB 96
Sudah satu jam berlalu, sejak Bee keluar dari ruang operasi, tapi Sepasang orang tua itu masih juga enggan beranjak dari sisi bidadari kecil mereka yang masih terlelap di bawah pengaruh obat bius, jika saja mereka bukan orang spesial, tentu tak mungkin mereka mendapatkan izin khusus, menemani putri kecil mereka di ruangan observasi tersebut.
Keadaan semacam ini, membuat mereka merasa de javu, merasa ditarik kembali ke masa silam, masa dikala Briana baru saja terlahir ke dunia, tubuhnya begitu mungil karena hanya memiliki berat seribu Gram, tapi Brian dan Riana tak putus asa, mereka membuktikan bahwa cinta mereka tak main main, kasih sayang mereka pada sang buah hati melebihi apapun, berat memang, pahit memang, tapi itulah sebuah perjuangan, dan sebulan kemudian, mereka merasakan manisnya kesabaran, karena Briana berhasil menaikkan berat badannya, akhirnya dokter anak menyatakan Bee siap keluar dari inkubator, walau masih harus di pantau di rumah sakit.
Brian dan Rian masih saling bergenggaman tangan, saling menguatkan satu sama lain, walau tanpa kata, mereka begitu yakin cinta dan kehadiran Briana, tetap menjadi penyemangat diantara keduanya.
"Jangan menangis lagi, ini bukan salahmu." Brian menghapus air mata Riana.
"Dia bersemangat lari ke arahku, karena hampir dua puluh empat jam aku meninggalkannya," Keluh Riana penuh sesal.
Brian membawa Riana kedalam dekapannya, mengusap dan menenangkannya, selalu berusaha menjadi tempat paling nyaman untuk Riana dan Bee bersandar, "Iya aku tahu, toh kamu juga tidak asal meninggalkannya, ada papa mama dan nanny yang menjaga Bee, ini semua murni sebuah kecelakaan, aku tak mau kamu menyalahkan dirimu sendiri."
"Haruskah aku berhenti dari pekerjaan ku? Aku tak ingin menyia nyiakan waktu berharga Bee, dan hanya bisa mendengar tumbuh kembang Bee dari mama papa dan juga nanny."
"Kita bicarakan nanti saja, aku tak ingin hanya karena kamu merasa bersalah pada Bee, kamu jadi mengambil keputusan terburu buru ingin berhenti dari pekerjaan yang sangat kamu banggakan." Jawab Brian sesimpel itu.
__ADS_1
Brian tahu, bahwa Riana sangat berdedikasi pada pekerjaannya, ia bangga karena berhasil membantu sesama, menyelamatkan orang lain yang bermasalah dengan kesehatan jantungnya, dan Brian pun ikut bangga karena ia mendukung pekerjaan Riana, tak masalah walau intensitas pertemuan mereka jadi berkurang, asalkan hati tetap terjaga, maka tak ada masalah yang tak bisa mereka hadapi berdua.
Riana mengangguk mendengar jawaban Brian, "janji yah, nanti kalau keputusanku sudah bulat mengundurkan diri, kamu harus membantuku berbicara dengan papa."
"Iya aku janji…"
SREEEKK
Terdengar suara pintu bergeser, Kevin kembali mendatangi ruang rawat Bee.
"Kev… kenapa belum pulang?" Tanya Brian khawatir.
"Tak usah mengkhawatirkan aku, kalian pulanglah, biar aku yang menjaga Bee." Kevin berbicara dengan kapasitasnya sebagai dokter yang bertanggung jawab pada pasien nya.
"Tapi bagaimana nanti jika Bee bangun dan mencari kami?"
"Tidak akan, aku sengaja membuatnya tertidur sampai besok pagi, agar Bee tak merasa kesakitan, dan agar ia bisa istirahat selama masa pemulihan." Jelas Kevin.
__ADS_1
"Tidak papa, kami akan menunggu di sini." Kali ini Riana menimpali.
"Sudah lah, jangan membantah perintahku, aku akan mengusir kalian jika kalian tetap bersikukuh tak ingin pulang!!!"
Walau berat, akhirnya Brian membawa Riana meninggalkan Bee dalam pengawasan Kevin.
"Maaf, lagi lagi kami merepotkan mu." Riana
"Kami titip Bee yah," Brian
Ucap mereka bersamaan.
"Iya… percayakan dia padaku, dia juga seperti putriku sendiri, lagi pula anak anak bisa memarahiku, jika aku tak menjaga Bee dengan baik." Kevin tertawa kecil kala mengingat tingkah lucu Si kembar kala bermain bersama Bee, menghebohkan Geraldy kingdom, membuat paman Andy -sang guru menembak- pusing karena mereka bukannya fokus menembak papan sasaran, justru fokus mengejar burung dara yang berterbangan kesana kemari.
#seperti apa keseruan si kembar di Geraldy Kingdom?
❣️❣️❣️
__ADS_1