Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 75


__ADS_3

BAB 75


Flashback 


“Gak ma … aku ga mau ikut, pokok nya aku mau pulang.” anak kecil itu marah pada sang mama, yang hari ini lagi lagi memintanya ikut mendatangi taman kanak kanak, karena ada rapat yayasan yang sedang berlangsung di sana.


Anak laki laki itu adalah Brian kecil yang saat itu berusia tujuh tahun, berbeda dengan kebanyakan anak anak seusianya yang cendetung ceria dan suka bermin, Brian tidak demikian, ia lebih suka menyendiri, bahkan akan marah dan mengamuk jika kesendiriannya di ganggu.


“Sebentar saja nak, mama janji gak lebih dari dua jam, okey?” bujuk mama Delia, sebenarnya ia juga tak biasanya ikut menghadiri rapat yayasan, tapi kali ini ada kejadian darurat tak terduga, jadi mau tak mau sebagai penyandang dana ia harus ikut serta dalam pertemuan tersebut, walau harus mati matian membujuk putranya yang kini semakin sering menguras stok kesabarannya.


“Tapi nanti aku mau banyak Ice cream.”


“Okay, dua box ice cream vanilla untuk Bian kecil mama yang tampan.” mama Delia melabuhkan sebuah kecupan di pipi sang putra.


Brian, masih cadel dengan huruf ‘R’, jadi ia menyebut dirinya sendiri, dengan sebutan ‘Bian’. 


Dan akhirnya disinilah Brian kecil, menunggu sang mama yang sedang rapat yayasan, sementara ia masih di dalam mobil, menunggu bersama sopir, ia mengeluarkan perangkat game agar masa tunggunya tak membosankan.


Beberapa menit Brian sibuk dengan game nya, lama kelamaan ia bosan, hingga memutuskan keluar menghirup udara segar, seperti perintah sang majikan, sopir yang bertugas mengawal Brian pun ikut keluar dan mengawasi, mengingat kondisi emosinya yang tak stabil, jadi Brian tak pernah ditinggalkan sendiri tanpa pengawasan.


Brian mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman bermain yang membentang di hadapannya, taman bermain itu riuh ramai dengan anak anak kecil yang sedang bermain, tapi ada seorang anak kecil yang menyendiri di bawah pohon, terlihat enggan bergabung dengan teman temanya.


Gadis kecil dengan rambut kecoklatan, pipina bulat, tapi sungguh cantik, tanpa sadar senyum tipis tersungging di bibir Brian, ia merasa gadis kecil itu sedang kesepian sama seperti hari hari yang ia jalani.


Seperti magnet besi yang bertemu medan magnet, Brian melangkah mendekati gadis kecil itu, “mau main denganku?” sapa Brian reflek, padahal ia sangat tak suka bergaul, apalagi bermain dengan teman teman sebayanya.


Gadis kecil itu mendongak, namun diam tak menjawab, Brian ikut duduk di sampingnya, “kamu murid baru?”


Gadis itu mengangguk.


“Kenapa kamu diam disini, bermainlah.”


“Gimana aku bisa main, kalau aku sedang sedih,”


“Sedih kenapa?”


“Adik adikku di bawa mommy nya pergi dari rumah, sekarang aku gak punya teman main.”


#Udah pada tahu kan siapa adik adik nya Riana, yup si kembar Geraldy, saat itu adalah masa masa setelah perceraian Alex dan Stella.


“Ayo, ikut aku.”


Brian membawa Riana kecil ke tempat ayunan, “duduk lah aku akan mengayunnya untukmu.”


Kedua mata Riana berbinar, untuk pertama kalinya Brian terpesona pada sepasang mata biru milik Riana.


Tanpa sadar Riana melupakan kesedihannya, dan Brian melupakan kebosanannya, “Siapa nama mu,” Teriak Brian, karen sedang berayun.


“Riana …” jawab nya


“Iana???”


“Bukan … Rianaaaa …”


“Iya, Iana kan?”


“Iiiihhh … masak uda gede, gak bisa bilang ‘R’” gerutu Riana kesal, karena beberapa kali Brian salah menyebutkan namanya.

__ADS_1


“Iya … maaf, aku masih cadel, bahkan namu sendiri tak bisa ku sebut dengan sempurna.” ini pertama kali nya Brian tak marah ketika ada seseorang yang mengejeknya, justru ia Brian yang balik meminta maaf.


"Memang, nama kakak siapa?"


"Bian," jawab nya.


"Oohh … jadi karena kakak cadel huruf 'R' berarti nama kakak adalah Brian?"


"Iya."


"Baiklah, mulai hari ini aku akan memanggil kakak, dengan sebutan Bian."


Begitulah perkenalan singkat mereka, singkat, namun membuat Brian senang, karena gadis kecil itu nampak manis jika tersenyum dan semakin menggemaskan jika sedang marah. 


Tak disangka perkenalan singkat itu membuat Brian kembali tertawa, bahkan Brian tak sabar menantikan kunjungan berikutnya bersama mama Delia.


Bahkan sepanjang perjalanan kembali kerumah, Brian kecil berceloteh menceritakan hari nya bersama teman barunya.


.


.


.


Gadis kecil itu menangis sendiri di bawah pohon besar, entah siapa yang ia panggil, karena suaranya tidak terdengar jelas di sela sela tangisannya, semakin lama tangisnya semakin memilukan, ia menoleh ke sekeliling, tapi tak ada siapapun yang menolongnya.


Brian yang baru tiba segera berlari mendatanginya, rupanya gadis itu terjatuh ketika sedang asyik berlari mengejar kupu kupu.


Pelan pelan tangisnya berkurang, ketika Brian mendatanginya. 


“Sakit …” ujarnya sambil menggosok lutut nya yang memar kemerahan.


“Sakit …” ucap gadis itu sekali lagi, di sela sela tangis kecilnya.


“Gak papa, ini gak berdarah juga kok, ayo aku bantu berdiri.” dengan sabar tanpa marah, anak lelaki itu membantu gadis kecil itu berdiri.


“Bisa jalan?” 


“Bisa, tapi sakit,” rengek gadis kecil itu.


“Ayo aku gendong,” anak lelaki itu pun berjongkok.


“Tidak kak, jangan, aku pasti berat,” gadis itu memang berpipi cabi dan sungguh menggemaskan, jadi dalam pikiran polosnya dirinya pasti gendut, dan hanya papa nya saja yang sanggup menggendongnya.


“Tidak, aku kuat kok.”


“Benarkah …?” tanya gadis kecil itu memastikan, ada senyum bahagia terukir di bibir mungilnya, ketika anak lelaki itu menggendongnya di punggung.


Brian menggendong Riana di punggungnya, ia bahkan tersenyum bahagia, walau sebenarnya kepayahan, tapi melihat gadis kecilnya tertawa sambil menikmati ice cream vanila, membuat bocah laki laki melupakan rasa lelahnya.  


Beberapa saat yang lalu, Brian membawa Riana membeli ice cream untuk mengalihkan rasa sakit nya.


“Dari mana kakak tau aku suka ice cream vanila?”


“Karena aku juga suka ice cream vanilla.” jawab Brain seenaknya, sama sekali tak ada maksud apapun, walau demikian keduanya tertawa bahagia, karena menemukan satu hal yang sama sama mereka sukai.


Sepasang mata tengah mengawasi tawa bahagia kedua anak kecil tersebut, dan seperti biasa, Ronald tidak akan membiarkan keponakan kecilnya merasakan bahagia, “Kamu memiliki mainan baru rupanya …” seringai di Wajah Ronald terlihat menakutkan, kedengkiannya sudah menghilangkan rasa kasih sayang yang seharusnya dia miliki sebagai salah satu sifat alami seorang manusia.

__ADS_1


“Berbahagialah dulu sesukamu, karena setelah itu kamu akan kembali menangis … ha ha ha ha ha …” 


Usai tetawa puas, mobil Ronald melaju kencang meninggalkan taman kanak kanak tersebut.


Sepasang mata yang lain pula sedang memperhatikan Brian dan Riana yang tengah bahagia, diala mama Delia, beliau bahkan mengabadikan beberapa momen manis tersebut, dalam hati ia berjanji akan menemui orang tua gadis kecil itu, gadis menggemaskan yang kini menjadi kawan baru Brian, pastilah gadis itu memiliki orang tua yang baik, hingga gadis itu tumbuh menjadi anak yang manis.


.


.


.


“Mama … besok ada pertemuan lagi?” tanya Brian ketika mereka dalam perjalanan pulang, dihari yang lain.


“Tidak ada.” jawab mama Delia singkat, seraya mengusap kepala Brian.


“Yaaa …” Brian mendesah kecewa, karena besok ia tak bisa menemui teman barunya.


“Kenapa? kamu ingin bertemu lagi dengan gadis itu?”


Brian menoleh terkejut menatap senyum di wajah mama Delia, “mama tau?” tanya Brian malu malu.


Mama Delia mencubit gemas pipi Brian, “Tentu saja mama tahu, semua tentang anak tampan ini, mama tahu.” 


Brian kembali tersipu malu, “ma … suatu saat nanti aku akan menikahi gadis itu,”


“Oooohh … wow …” jawab mama Delia dengan ekspresi yang dibuat seakan akan ia terkejut mendengar pengakuan Brian, “Boleh sayang, asalkan kamu bahagia, mama ikut senang, tapi … berjanjilah kamu akan mencintai dan manjaganya seumur hidupmu.”


“Tentu saja mah, suatu hari nanti aku akan menjadi Pria dewasa yang bertanggung jawab,”


Ibu dan anak itu tertawa bahagia.


Flashback end.


.


.


.


“Tuan …!!” jerit Fabian histeris, ketika melihat darah segar mengalir melewati peliis dan sela sela rambut Brian, aneh nya Brian seperti pasrah menerima semua kesakitan tersebut, 


Brian berdiri sempoyongan, kilasan memori masa kecilnya itu melintas begitu saja, bahkan rasa rasanya begitu segar seperti baru terjadi di hari kemarin, bagaimana ketika pertama kali ia bertemu dan akhirnya berteman dengan Riana.


“Aaaaaaa …” Brian kembali berteriak keras, memegangi kepala nya yang berdenyut hebat, tiba tiba kaki nya lemas dan tubuhnya terjatuh bertumpu pada kedua lututnya, semakin lama memori itu menjelma menjadi kenangan menyakitkan, kesakitan, jerit tangis, dan tawa bahagia dari si pelaku kejahatan.


Sungguh tak berperikemanusiaan, menjadikan dua anak kecil sebagai korban dari kemarahannya, karena gagal menjadi penerus keluarga, membuatnya menyiksa hingga menyakiti fisik seorang anak yang sama sekali tak ada kaitannya dengan kemarahannya, sementara anak yang satunya harus menderita psikisnya, akibat melihat semua yang ia sayangi di renggut paksa, bahkan disakiti, sementara dia hanya diam karena tak bisa menolong, tak bisa melawan, memohon sekalipun tak mampu menghentikan kesadisan tersebut, siksaan itu terlalu berat, terlalu menyakitkan, dan hati nya yang masih murni dipaksa menyaksikan semua kesadisan tersebut. 


“Ianaaaa …” Pekik Brian ssekeras yang ia mampu, ketika akhirnya Brian kembali mengingat siapa istrinya, dan bagaimana semua kesakitan ini bermula, dan beberapa saat kemudian Brian jatuh pingsan.


“Briaaaaan …” Jerit Riana sesaat setelah pintu mobil terbuka, ia berlari menghampiri Brian yang sudah terkapar tak berdaya, bahkan melupakan kondisinya yang tengah hamil besar.


.


.


.

__ADS_1


💛💛💛


__ADS_2