Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 78


__ADS_3

BAB 78


Menjelang malam ketika mobil hitam itu tiba di sebuah rumah tua, tapi tetap terawat rapi, karena rumah peristirahatan tersebut, milik keluarga konglomerat.


Krit


Krit


Krit


Bunyi kincir angin terdengar di telinga Brian dan Riana, kedua anak kecil tersebut dibawa masuk ke rumah, kemudian ditempatkan di sebuah kamar, dengan alas karpet seadanya.


Tanpa alasan yang jelas kedua anak itu di kurung di sana, walau mereka masih diberi makan dan minum dengan gizi yang cukup, tapi mental mereka tak bahagia.


Di Tempat itulah neraka masa kecil mereka dimulai, seperti layaknya anak laki laki, Brian tak diam begitu saja ketika ia dan Riana harus di sekap di rumah peristirahatan milik keluarganya, Brian tahu tempat itu, karena beberapa kali ia dibawa kedua orang tuanya untuk menginap di rumah tersebut, Brian terus berpikir keras mencari jalan agar ia dan Riana bisa melarikan diri, tapi malang, karena aksinya ketahuan oleh Ronald, dan setiap kali ketahuan ia akan mendapatkan siksaan, bukan paksaan secara fisik tapi siksaan secara psikis, yah yang menerima siksaan secara fisik adalah Riana, gadis kecil tak bersalah, yang kebetulan menjadi kesayangan di hati Brian, hingga membuat Ronald nekat menyekap kedua anak tersebut, demi memberikan luka yang semakin mendalam pada Brian. 


Malam itu, usai percobaan pelarian entah yang keberapa, bahkan sekujur tubuh kecil Riana sudah memar kebiruan akibat pukulan yang kerap ia dapatkan sebagai pelampiasan rasa marah Ronald akan kehadiran Brian di tengah keluarganya, Brian duduk menangis menatap Riana yang baru saja terlelap, usai menangis karena menahan kesakitan yang mendera tubuhnya.


“Iana … maafkan aku, karena aku kamu mengalami semua ini.” bisiknya pelan, di sela sela tangisnya, rasa nya lebih menyakitkan karena ia pun tak mampu menghentikan aksi keji pamannya sendiri.


Riana terbangun karena mendengar suara tangis Brian, “kak kenapa menangis??” tanya nya dengan suara lemah.


“Aku ingin membawamu pergi.”


“Kemana?”


“Kemana saja, ke tempat yang tak ada orang jahatnya.”


Riana mengangguk lemah, “Tapi dengan apa kita akan ke sana kak?”


“Naik kereta, atau pesawat, atau balon udara.”


Kali ini Riana terkekeh mendengar kalimat ‘Balon Udara’ 


“Apa kakak punya uang?”


“Punya, papaku punya banyak uang, walau demikian, kadang dia pelit dan masih menyuruhku untuk menabung, jadi nanti kita pakai uang tabunganku saja.”


Lagi lagi Riana mengangguk lemah, tubuhnya terlalu lemah walau hanya untuk sekedar menanggapi perkataan Brian.


“Kak … aku tidur lagi yah? berjanjilah kakak tidak akan kemana mana,” perlahan mata Riana terpejam, setetes air mata meluncur dari sana, “Kak … aku takut, jangan tinggalkan aku sendirian di sini yah?”kalimat terakhir itu terucap, kemudian tangan Riana lepas dari genggaman Brian begitu saja, Riana pingsan, tapi Brian tak menyadarinya, ia hanya mengira Riana sedang tidur.


“Iana … Iana …” Brian memanggil manggil dengan perasaan takut, tapi Riana tak lagi menjawab, bahkan suhu tubuhnya sangat panas, Brian beranjak menuju pintu.


Brak 

__ADS_1


Brak 


Brak


Sekuat tenaga ia menggedor pintu, berharap ada seseorang yang mendengarnya,  kemudian memberikan pertolongan,  “Tolong … selamatkan dia, ku mohon … jangan pedulikan aku, selamatkan dia saja…” teriak Brian dalam tangisnya, yah Brian tak berharap yang lain, rasa bersalahnya sangatlah besar, melebihi besarnya kebencian pada sang paman yang membumbung tinggi.


Brak


Brak


Brak


Sekali lagi ia menggedor pintu, “Toloooong … paman … ku mohon tolong temanku saja, dia sedang kesakitan,” berkali kali Brian berteriak, tak peduli pada tubuhnya sendiri yang juga semakin lemah hingga ia pun jatuh pingsan di depan pintu.


Namun lima menit kemudian, bocah berusia tujuh tahun itu kembali membuka mata, tatapannya gelap, kosong, dan dingin tak berperasaan, ia seperti sosok Brian yang baru, tapi dalam Versi dingin dan menakutkan, Brian bangkit kemudian menarik handle pintu, rupanya sang penjaga lupa mengunci pintu.


Brian menatap sekeliling ruangan yang remang remang dalam suasana mencekam, aroma asap rokok bercampur alkohol menusuk indera penciuman, hal wajar karena Ronald dan beberapa teman sesama jenisnya baru saja berpesta, dan kini semuanya tengah dalam kondisi tak sadar, hingga tak ada yang tahu Brian yang tiba tiba menyelinap keluar.


Brian menggulingkan puluhan botol alkohol yang masih berisi cairan memabukkan tersebut ke sembarang tempat, kemudian mengambil pematik yang berceceran di kolong meja, senyum sadis tersungging di bibirnya, ia menatap penuh kebencian pada tubuh pamannya yang kejam, bahkan kini belum sadar dari pengaruh alkohol. 


“Yang jahat memang seharusnya diberi hukuman.” Ucapnya.


Dan … 


Bluuugh … api menyala, pelan pelan merambat, semakin lama semakin besar, dan dalam sekejap saja api berkobar menyambar apapun yang berada di sekitarnya.


“Kakak … terima kasih sudah menggendongku …” bisik Riana lirih nyaris tak terdengar, sementara matanya tetap terpejam.


“Bertahanlah … aku akan menyelamatkanmu, kita akan lari sejauh mungkin, tak akan ada lagi orang jahat yang menyakiti kita …” Brian terus berjalan cepat menjauhi rumah yang kini berwarna merah menyala, bangunan tua itu di dominasi dinding dan lantai kayu, hingga api dengan cepat berkobar tak terkendali.


Lelah … itulah yang dia rasakan, kaki kecilnya tak sanggup lagi berlari, hingga akhirnya ia berhenti di tepi jalan besar, berharap ada orang asing yang memberinya pertolongan.


Tak lama mobil pemadam kebakaran dan Ambulance melintasi jalan tersebut, sungguh kebetulan melihat dua anak kecil pingsan di pinggir jalan, kedua anak itu pun mendapatkan pertolongan, tapi tidak dengan semua pelaku kejahatan yang tertinggal di rumah, mereka semua hangus terbakar, tuhan menghukum mereka dengan caranya sendiri.


Bahkan Brian tak pernah ingat bahwa dialah yang sudah menyebabkan tewasnya sang paman, dan komplotannya.


Begitupun para penyidik dari kepolisian, yang tak pernah menemukan jejak pelaku yang menyebabkan rumah peristirahatan itu terbakar.


Flashback End


.


jika di eps ini kalian menangis sampek hidung meler, fiks … kita satu server 😭🤧


.

__ADS_1


.


.


Di masa kini


Brian membuka mata, baru saja ia sadar dari pingsannya selama beberapa jam, ruang rawatnya remang remang, tak ada siapapun yang menemaninya.


Sekujur tubuhnya sakit, terutama nyeri ringan di kepalanya, tapi di kepalanya kini hanya ada nama sang istri, air matanya mengalir begitu saja, sungguh pahit kenangan masa kecil mereka, dan sungguh jahat orang yang sudah tega menyakiti Riana nya, dan hatinya semakin teriris pedih ketika ia ingat, bahwa dulu pun ia telah banyak menorehkan luka pada Riana, kini layakkah ia mengharapkan dicintai oleh Riana? bukan tak ingin berjuang, tapi Brian merasa tak layak memperjuangkan Riana.


Wajar rasanya jika Richard begitu marah bahkan menghajarnya sebelum ia menikahi Riana, semua pasti karena Richard sangat menyayangi putrinya, gadis kecil yang dahulu menjadi korban kekerasan, tapi kini Brian merasa sangat buruk, ia belum pernah membahagiakan Riana, dulu pasti Riana sengsara sekali selama menjalani dua tahun menjadi istrinya. 


Dulu papa Roger berusaha keras menjodohkan nya dengan Riana, si gadis kecil yang dulu disukai Brian kecil.


Gadis kecil yang berhasil membuat Brian kecil kembali tersenyum, dan bahagia walau sesaat.


Bahkan gadis kecil yang berterima kasih, bahkan menghadiahkan senyum sehangat mentari, ketika menerima boneka beruang pemberiannya. 


Tapi selama menjadi istri, Brian bahkan tak pernah membuat Riana tersenyum.


Dia orang pertama yang bertahan di sisinya hanya demi memastikan kesehatan papa Roger, bukan seperti Alicia yang bertahan di sisinya demi uang.


Kata kata cinta dari Riana seakan menjadi kata terindah yang pernah Brian dengar selama ia hidup, membahagiakan sekaligus menyakitkan, ketika Brian mengingat betapa keluarganya memiliki andil sangat besar, sangat menyakiti Riana di masa lalu.


Riana Benar benar seperti dewi penyelamat dalam kehidupan Brian, bahkan jika Brian hidup dalam penyesalan sepanjang sisa usia, tak akan pernah pantas jika ia masih berharap memiliki Riana sebagai istri.


Kini Brian tahu jawaban pertanyaan besarnya selama ini, pantas saja jika papa Roger menghadiahkan Gustav.Inc pada Riana, semua karena begitu besarnya rasa bersalah yang sudah ditanggung sang papa sepanjang sisa usianya.


.


.


.


monggo komen … seperti apa harus menyikapi Brian kini dan Richard kini.


Brian kini yang baru saja mendapatkan kembali ingatan masa lalunya


Richard yang tidak menyukai sebuah pengkhianatan, ternyata kawan baiknya sudah menikamnya dari belakang, memberi kebaikan demi menebus kesakitan di masa lalu.


.


.


.

__ADS_1


💙💙💙


__ADS_2