Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 37


__ADS_3

BAB 37


Riana mencondongkan tubuhnya mendekati meja, dengan kedua tangan  menyangga dagu.


“Jika Brian mencintaimu, dia pasti sudah menikahimu setelah Alicia meninggal, masa begitu saja tidak tahu, kamu sekretaris sungguhan, atau sekretaris abal abal?”


“Tapi kuakui, kamu cukup gigih mempertahankan perasaanmu,” ucap Riana dengan nada sinis, “baiklah hanya itu yang ingin ku ketahui, pergilah.” usir Riana


“Ah iya, satu lagi,” imbuh Riana ketika Grace meraih gagang pintu, “aku tak peduli, ada hubungan apa kamu dengan suamiku, tapi jangan pernah datang ke rumah kami, karena itu … wilayah … teritorial ku …” nada Bicara Riana dingin dan penuh ancaman.


Grace berbalik, ia keluar ruangan sambil menghentakkan kaki nya.


Usai Grace pergi meninggalkan ruangan Brian, mood Riana ambruk seketika, ia sungguh muak manakala mengingat Grace yang setiap hari berada di dekat Brian, dan pastinya wanita itu setiap saat menggoda suaminya, lalu …. Ah sudah lah, Riana tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya.


Riana mengusap perutnya, "sayang … apa kamu yang membuat mommy jadi uring uringan begini? Kamu tidak rela Daddy menjalin hubungan dengan wanita selain mommy, karena itulah kamu membuat mommy merasa seakan akan sedang cemburu?"


Riana berdiri dari kursi kebesaran Brian, "Baiklah. Haruskah kita juga membuat Daddy cemburu?" 


Tiba tiba senyuman terbit menghiasi wajah Riana, membayangkan Brian akan blingsatan seperti maling kehilangan barang jarahannya.


“Armand … bersiaplah, aku akan segera turun.” 


“Baik nona,” jawab Armand.


Riana pergi meninggalkan ruangan Brian, bahkan Grace yang ada di depan ruangan pun tak ia hiraukan.


Orang orang yang melihatnya lewat, berdiri memberi hormat dengan senyum terbaik mereka, namun Riana hanya membalas dengan anggukan kepala.


Armand sudah menunggu di depan lobi utama, dengan sigap, pria muda itu membukakan pintu untuk nona muda nya, tak ada kewajiban baginya untuk patuh pada Brian, karena yang menggajinya adalah Richard, jadi apapun perintah Riana, ia akan menurutinya dengan senang hati.


“Kita ke mall YX …” Riana menyebutkan salah satu mall mewah yang berisikan barang barang branded dari para desainer kelas dunia yang ada di mall tersebut, bahkan perhiasan mewah yang dibuat Jewelry Star menghuni mall tersebut, sungguh Riana ikut berbangga karena perancang perhiasan mewah tersebut adalah Bella, istri dari adik sepupunya sendiri.


Cukup lama Riana menghabiskan waktunya di sana, dan Armand setia mengikuti dan membawakan barang barang belanjaan Riana dari belakang, sebenarnya berbelanja tidak termasuk dalam daftar hobby Riana, karena hobby utamanya adalah bermain main dengan pisau bedah, tapi … tak apalah, toh ia berbelanja menggunakan uang pribadinya, bahkan kartu yang sengaja Brian selipkan di dalam dompet nya sengaja tak di sentuhnya sama sekali.


Riana membeli banyak barang mewah, tapi entahlah, hatinya merasa hampa, karena aktivitas ini sama sekali tak ia sukai, jadi ia memutuskan membeli perhiasan untuk Viona, serta jam tangan mewah untuk Rodrigo dan Armand yang sejak tadi mengikutinya tanpa lelah, dan tiba tiba hormon bahagianya meningkat drastis, karena Riana memang suka berbagi apapun untuk teman temannya. 


“Mand … kita cari makan, aku lapar, kamu temani aku makan yaah?”


“Baik nona, silahkan,” Armand menyahut, kemudian mempersilahkan Riana berjalan terlebih dahulu.


.

__ADS_1


.


.


Brian bergegas meninggalkan ruang pertemuan, total 3 jam ia membahas perusahaan dari berbagai aspek dengan para pemegang saham, keluar dari lift ia cepat cepat menuju ruangannya, senyumnya masih lebar kala melewati meja Grace, namun senyum itu pudar seketika, karena ia tak melihat Riana di dalam sana.


"Riana …" 


Brian membuka pintu kamar pribadinya di ruangan tersebut, tapi nihil.


Brian mengetuk pintu kamar mandi, tapi disana pun tak terdengar sahutan, ataupun gemericik air.


Brian keluar kembali dari ruangannya, "dimana istriku?" Tanya Brian pada Grace.


"Aku lihat dia pergi, setelah menghubungi seseorang bernama … Ar … mand." Ujar Grace penuh maksud.


"Sh it … kenapa kamu tidak mencegahnya, kamu itu bodoh atau apa?" Bentak Brian, pada sekertaris nya, "bukannya aku sudah berpesan padamu, tahan dia, katakan padanya untuk menunggu ku, kalau tidak berhasil juga hubungi aku !!!" Brian mengomel panjang, kemudian kembali masuk ke ruangannya setelah membanting pintu.


Brian masih berusaha menghubungi Riana, ketika Grace tiba tiba masuk, Brian sungguh kesal karena ternyata ponsel Riana tak bisa dihubungi, "mau apa lagi?"


"Kenapa kamu begitu peduli pada istrimu, sementara ia bahkan tidak peduli padamu?" 


"Tentu saja karena dia istriku, dan itu bukan urusanmu."


"Diam !!!" Lagi lagi Brian membentak Grace.


Brian berbalik, dan menatap Grace nyalang, "apa kamu sadar posisimu ada dimana? Siapa kamu? Dan apa kedudukan mu bagiku?"


"Ya … aku tahu, aku hanya sekretaris mu, bahkan aku rela menjadi simpanan mu, pemuas ranjangmu, tapi aku melakukannya karena aku mencintaimu." Grace meradang, air mata nya mulai berurai tak tertahankan, ia tak bisa lagi membendung perasaan yang begitu besar pada Brian.


"Baguslah kalau kamu sadar posisi mu, sekarang keluar lah." Usir Brian sinis.


Grace mendekat, dipeluknya pria yang teramat sangat ia cintai, dan di benamkan wajahnya ke dada Brian, Grace menumpahkan tangisnya di sana, tapi Brian hanya diam membeku, jika dulu ia akan langsung melempar Grace ke atas ranjang, tapi sungguh aneh, setelah kembali menyentuh Riana, tubuhnya seolah tak menginginkan wanita lain, bahkan melirik Grace saja ia tak suka, seakan akan Riana sudah mengunci tubuhnya.


.


.


.


Brian membanting pintu mobilnya, kemudian buru buru berlari menuju pintu utama, tuan Robin sudah membuka pintu ketika melihat kedatangan Brian.

__ADS_1


"Selamat so …"


"Apa istri ku sudah dirumah?" Tanpa basa basi, Brian memotong perkataan tuan Robin.


"Belum tuan," jawab Robin.


"Ah … sh it" umpat Brian, ia begitu kesal hanya karena Riana meninggalkannya, ia bahkan tak merasakan cinta untuk Riana, tapi ia marah ketika wanita miliknya pergi bersama pria lain, terutama lagi wanita itu sedang mengandung anaknya.


Namun rupanya kegelisahan Brian berlangsung lama, karena hingga malam menjelang Riana belum juga tiba kembali di rumah, dan Brian sungguh benci karena Riana maupun Armand tak bisa di hubungi.


“Fabian, katakan pada hacker kita untuk menyadap semua CCTV di pusat perbelanjaan, serta keramaian di negara ini, terutama rumah sakit tempat istriku bekerja.” perintah brian pada Fabian asistennya.


“Haaaiii ssshhh …” Brian membanting ponsel yang ada di genggamannya.


‘Ingat Brian, dia hanya Riana’. 


‘Dia memang hanya RIana, tapi kini dia istrimu’.


‘Walaupun dia istrimu, kamu tak pernah mencintainya kan?’.


‘Kamu memang tidak pernah mencintainya, tapi wanita itu mengandung anakmu’.


‘Alicia juga mengandung anakmu, dan kamu mencintainya, jadi abaikan saja Riana’.


‘Tapi ketika dulu Alicia menjadi istrimu, kamu tak pernah segelisah ini, bahkan ketika Alicia pergi untuk beberapa hari bersama teman temannya, Brian ... aku rasa kamu mulai merasakan sesuatu pada Riana’.


Suara Bisikan bisikan itu terus menggema di telinganya, seperti dua sisi kepribadian yang berbeda.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


nah loh


__ADS_2