Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 91


__ADS_3

BAB 91


Dua buah koper besar itu, menggelinding mengiringi langkah sang pemilik. 


Wajah keduanya bahagia setelah mengungkapkan semua uneg uneg yang selama ini mengganjal di hati, bahkan keduanya semakin lengket seperti tak terpisahkan. 


Setelah menghabiskan waktu seminggu di Twenty Five Hotel, kini mereka berinisiatif untuk berpindah kota untuk mereka singgahi, Brian yang tidak begitu hafal dengan Indonesia, meminta saran pada Riana, akhirnya mereka memutuskan untuk singgah di Bogor sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandung. 


Hahaha… bulan madu nya murah meriah, bahkan Brian memaksa membayar presidential suite room yang ia dan Riana tempati selama seminggu ini, walau petugas hotel menolak, Brian tetap memaksa melakukan pembayaran, pemilik hotel dan istrinya memang memiliki hubungan dekat, tapi Brian tak ingin memanfaatkan situasi, walau mereka bersaudara, bisnis tetaplah bisnis, terlebih kamar yang mereka tempati bukan kamar sembarangan, melainkan presidential suite room, kamar mewah eksklusif, dengan fasilitas lengkap dan super mewah. 


Bisa diakui dan dirangkul sebagai keluarga saja, sudah merupakan anugerah tak terkira bagi Brian yang kini tinggal seorang diri tanpa orang tua ataupun saudara, terlebih Andre kini mulai mempercayakan padanya salah satu proyek penting, bukan tidak mungkin jika di masa depan mereka akan saling menguatkan dan saling melengkapi jaringan bisnis keluarga mereka, itulah janji Brian, cukuplah kiranya ia menjadi pria brengsek di masa lalu, kini setelah mendapatkan semua yang selama ini tak pernah terpikirkan olehnya, Brian berjanji akan mempersembahkan yang terbaik untuk jalinan keluarga mereka. 


"Sudah?" Tanya Riana ketika Brian berjalan menghampirinya di sofa ruang tunggu. 


Brian mengangguk, "pada awalnya mereka menolak, tapi aku memaksa, jika ia tak mau memasukkan pembayaranku ke rekening hotel, maka aku akan memasukkan pembayaranku ke rekening pribadinya, dengan demikian dia akan dituduh menggelapkan uang pembayaran konsumen…" Jawab Brian santai. 


"Sadis juga kamu…" 


Brian tersenyum, "aku tak mau dianggap mengambil keuntungan pribadi, aku juga bukan orang miskin yang tak mampu membayar biaya kamar yang aku tempati."


Riana beranjak berdiri. 


Cup


Riana berjinjit dan mengecup pipi Brian. 


"Iya… suamiku yang terbaik, tetaplah seperti ini aku akan sangat bahagia mendampingimu."


Brian mengusap bekas kecupan sang istri, "jangan disini sayang, aku tak bisa melakukan yang lain jika kamu menciumku di tengah keramaian." Bisik Brian nakal. 


"Dasar modus, bilang aja kamu ingin yang lain." Jawab Riana seraya menoyor pipi Brian. 

__ADS_1


Brian tertawa melihat tingkah Riana. 


Mereka berjalan hendak meninggalkan lobi hotel, dari kejauhan beberapa Pria berpakaian serba hitam mendekat dan menghadang perjalanan mereka. 


Riana beringsut bersembunyi di belakang punggung Brian, sebagai respon alami seorang wanita yang akan berlindung di belakang punggung sang pria, karena yakin bahwa pria nya akan menjaga dan melindunginya. 


"Maaf tuan, kami diperintahkan membawa nyonya Riana pulang ke kediaman tuan Richard." Seru pemimpin mereka. 


"TIDAK, aku tak akan beranjak dari sisi suamiku." Tolak Riana tegas. 


"Kami tidak dalam posisi bernegosiasi, tapi kami diminta membawa anda dengan paksa."


"Kalau begitu kalian harus membawa kami, karena aku tak akan membiarkan istriku pergi seorang diri." Brian tak kalah tegas menjawab. 


"Kami hanya diperintahkan membawa nyonya, tanpa anda."


"Kalau begitu sejak hari ini, aku tegaskan, aku tak akan beranjak sedikitpun dari sisi istriku, jika kalian hendak membawanya, kalian juga harus membawaku, jika tidak, jangan harap kalian bisa membawa istriku." 


Tak lama kemudian segerombol pria yang juga berpakaian serba gelap, dengan jumlah tiga kali lipat orang orang papa Richard, berdiri di hadapan Brian, menjadi tameng Brian dan Riana, mereka adalah anak buah Brian yang diam diam dikirimkan oleh Fabian, untuk mengamankan atasannya tersebut, Fabian tidak rela tuannya kembali babak belur karena amukan Richard. 


Suasana tegang sesaat, lobi hotel yang semula kondusif dengan para karyawan yang tengah bersiap memulai hari, menyambut kedatangan para tamu, kini tampak tegang, karena para karyawan wanita mulai beringsut minggir sebelum terjadi keributan tak terelakkan. 


Anak buah papa Richard nampak berdiskusi sesaat, mereka akhirnya menyingkir membelah kerumunan menjadi dua kelompok. 


"Silahkan tuan dan nyonya, kami akan mengawal anda kemanapun."


Brian mengangguk kemudian berjalan sambil memeluk Riana dengan posesif. 


Tapi pergerakan itu terlalu cepat, hingga Riana terlepas dari pelukan Brian, para anak buah papa Richard, menarik Brian dan Riana ke dua arah berlawanan, Brian ditahan erat oleh sebagian anak buah papa Richard, dan Riana segera dibawa dengan langkah cepat menuju mobil yang telah mereka siapkan di depan lobi utama. 


"Riana…" Jerit Brian ketika para pria yang membawa Riana menjauh. 

__ADS_1


Perkelahian pun tak terelakkan, anak buah Brian terkecoh, mereka fokus menyelamatkan Brian, tapi lengah pada keberadaan Riana, Brian mengabaikan perkelahian tersebut, ia berlari keluar dari perkelahian para pengawal, demi mengejar sang istri. 


Dari kejauhan nampak para pengawal panik, karena Riana menjerit kesakitan, Brian semakin panik, "dasar Bre ng sek!!! … kalian apakan istriku?" Brian memaki, dan beberapa kali memukul para pengawal yang mendadak kebingungan dengan apa yang terjadi pada Putri atasannya tersebut, mereka tak melakukan apa apa, tapi Riana menjerit kesakitan sambil memegangi perut besarnya. 


"Aaaa…" Jerit Riana, tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin, ia bersandar di mobil agar tubuhnya tidak ambruk ke tanah. 


Riana mulai merasakan firasat bahwa bayi nya akan segera lahir, padahal seharusnya masih dua bulan ke depan, bahkan Riana merasakan ada cairan yang merembes diantara sela sela kaki nya. 


Sepertinya janinnya merespon apa yang tengah menimpa sang mommy, perutnya mendadak kontraksi dan nyeri hebat, bahkan kini disusul dengan pecahnya air ketuban. 


"Brian…" Seru Riana dengan suara sekeras yang mampu ia keluarkan pada suaminya yang masih sibuk menghajar anak buah papa Richard.


Walau sedang sibuk berkelahi, Brian masih mendengar panggilan dari suara lemah sang istri. "Awas saja jika terjadi sesuatu pada istri dan anakku, aku tak peduli kalian anak buah Tuan Richard yang terhormat, aku pastikan akan menghabisi kalian satu persatu." Ancam Brian dengan suara nafas yang masih tersengal. 


Dari kejauhan sebuah mobil mewah berhenti, si pemilik mobil tersebut tercengang melihat apa yang sedang terjadi, suasana hotel benar kacau pagi itu, Andre yang tampan maksimal seperti biasa, benar benar mendapat kejutan. 


"Ada apa ini?" Teriaknya, sebagai presiden direktur muda, setiap perkataannya tentu laksana sabda sang raja yang harus didengar dan dipatuhi. 


Tapi semua orang diam membisu tak berani menjawab atau berkata apapun, Andre segera menghampiri Riana yang kini berada di pelukan Brian. 


"Tolong antar kami ke rumah sakit." Pinta Brian. 


Tak ada lagi yang bisa Brian minta pertolongan selain adik sepupu istrinya tersebut. 


Andre mengangguk, kemudian berjalan cepat ke mobil, sementara Brian menggendong Riana di belakangnya. 


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, bukan tak ingin cepat, tapi karena kondisi lalu lintas yang padat, mereka tak mungkin melaju lebih kencang dari itu. 



__ADS_1



💛💛💛


__ADS_2