Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 43


__ADS_3

BAB 43


“Bukan itu masalahnya, ketika terakhir kali kamu kekenyangan dan berakibat memuntahkan semua yang kamu makan?” Brian kembali mengingatkan, ia tak keberatan menemani dan mengabulkan semua yang diinginkan bayinya, tapi ketika semuanya keluar dan terbuang sia sia, tentu akan berakhir dengan sia sia, karena tak ada nutrisi yang masuk.


Berbicara dengan wanita hamil, sama seperti makan buah simalakama, jika tak di ungkapkan itu akan menjadi sia sia, tapi ketika diungkapkan membuat si ibu hamil berprasangka dan akhirnya timbul salah paham, itu pula yang kini dirasakan  Riana yang mendadak salah paham dan jadi semakin muram mendengar perkataan Brian.


“Sejak sebelum naik pesawat, aku sudah mengatakan padamu, Armand akan menemaniku, tapi kamu memaksa ikut, dan sekarang menggerutu,” Riana mulai menaikkan intonasi nada bicaranya.


Brian sungguh terkejut mendengarnya, “Bukan begitu maksudku,” Brian masih mencoba menjelaskan, jika biasanya ia akan langsung tersulut amarah, tapi menghadapi Riana kali ini membuatnya tak berani membalas perkataan Riana.


Tiba tiba Riana menangis, “Aku bahkan tak meminta pertanggung jawabanmu, tapi kamu yang memaksakan pernikahan ini.”


Brian semakin kebingungan, kenapa Riana mulai membawa bawa pernikahan? Brian menggaruk kasar rambutnya, ini bukan pertama kalinya ia menghadapi wanita yang sedang hamil, tapi Riana yang biasanya dewasa, tiba tiba bersikap kekanakan.


“Kenapa kamu jadi membawa bawa pernikahan?”


“Yah, karena semua ini bermula dari sana, jika kamu tak memaksakan pernikahan ini, aku tak akan terjebak kembali dengan pria menyebalkan sepertimu, pria yang bahkan tak bisa menghargai orang wanita yang berada di sampingnya,” 


Riana tak menghiraukan, ia berbalik dan meninggalkan Brian yang masih terkejut.


Brian melangkah cepat mencoba mensejajarkan langkahnya, namun untuk ukuran wanita yang sedang hamil, langkah kaki Riana sangat cepat.


Brian masih setia mengikuti Riana dengan langkah lebarnya, entah kemana Riana akan membawanya, karena Brian sama sekali tak hafal seluk beluk Jakarta.


Mendadak gerimis turun, padahal langit terlihat cerah ketika senja tiba beberapa jam lalu, pada awalnya tetesan hujan turun lembut, lama kelamaan semakin rapat, Riana masih tak menghiraukan cuaca yang sedang mendung, begitu pula suara Brian yang sejak tadi memanggilnya. 


“Riana  …” seru Brian.


Tapi karena suara hujan yang semakin rapat, Riana tak mendengar suara Brian, ia terus melangkah, hendak menyeberang jalan dan menunggu taxi di halte bus yang ada di seberang jalan.


Setelah memastikan jalanan agak lengang, Riana gegas menyeberang jalan, tapi sebuah mobil melaju cepat, bahkan suara klakson melenglengking keras, karena terkejut Riana hanya terdiam di tempatnya, tak mendengar lagi suara teriakan Brian yang mencoba mengingatkannya, tiba tiba tubuhnya didekap erat, kemudian ia merasakan tubuhnya roboh berguling di trotoar. 

__ADS_1


Riana terpejam sesaat, kemudian merasakan tubuhnya masih di peluk erat oleh seseorang dibawah guyuran air hujan.


Riana mendongak, rupanya Brian yang memeluknya, pria itu terpejam, dalam remang cahaya, Riana melihat ada memar ringan di kening Brian, sepertinya dia terbentur bahu jalan ketika menyelamatkannya.


“Brian …” Riana menepuk pipi Brian, ia mulai menyesal karena tadi tak menghiraukan Brian yang terus mengikutinya.


Syukurlah, Brian kembali membuka mata beberapa saat kemudian, kedua matanya tak bisa berbohong, bahwa beberapa saat yang lalu, ia sangat mengkhawatirkan Riana yang hampir tertabrak mobil.


Flashback on


Brian terus melangkah semakin cepat ketika melihat Riana menyebrang jalan, tiba tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi, dan jika terlambat sedikit saja Riana akan menjadi korban kecelakaan lalu lintas, melihat Riana yang hampir celaka, tiba tiba mimpinya beberapa hari yang lalu melintas, bayangan sepasang bocah laki laki dan perempuan yang berlari dan tertawa bahagia di taman bermain, entah kenapa hati Brian mendadak hampa merasakan ada yang hilang dari dalam hatinya, ia merasakan sebuah dorongan kuat, bahkan merasa ada sesuatu yang membuatnya berlari semakin kencang agar bisa menyelamatkan istri dan anaknya.


Beberapa saat sebelum mobil melintas Brian  mendekap tubuh Riana, dan membawanya berguling ke trotoar, tak peduli pada keningnya yang membentur bahu jalan.


Brian memejamkan matanya, ketika merasakan kepalanya berdenyut dan berputar sesaat, lagi lagi bayangan sepasang anak kecil kembali melintas, kali ini si bocah laki laki menggendong si gadis kecil, anak laki laki itu tersenyum bahagia, walau sebenarnya ia kepayahan, tapi melihat gadis kecilnya tertawa sambil menikmati ice cream vanila, membuat bocah laki laki melupakan rasa lelahnya.  


Flashback end


Brian membuka matanya di tengah rasa sakit yang masih mendera kepalanya.


Pemandangan pertama yang Brian lihat ketika membuka matanya adalah wajah dan rambut Riana yang basah karena hujan, tak ketinggalan kedua mata biru yang memancarkan rasa khawatir.


“Maaf …” ujar Rian lirih. 


Brian hanya mengangguk pelan.


“Maaf mbak, apa mas nya terluka?” tanya seorang laki laki yang ternyata adalah seorang pedagang yang kebetulan mangkal di dekat halte.


“Iya … sepertinya kening suami saya luka, bisa minta tolong mas,bantu saya bawa suami saya berteduh di halte?”


“Oh iya mbak, mari saya bantu,” pria itu meletakkan payungnya begitu saja, tak peduli air hujan membasahi tubuh dan bajunya, ia membantu memapah Brian menuju halte.

__ADS_1


Riana mengucapkan terima kasih pada pedagang tersebut, kemudian menatap wajah Brian yang semakin pucat.


“Aku pesan taxi dulu yah.”


Brian mengangguk, dan kembali memijat pelipisnya yang masih berdenyut, walau tidak separah beberapa saat lalu.


“Pusing?” tanya Riana ketika melihat Brian masih memijat pelipisnya.


Brian mengangguk tanpa suara.


Riana berdiri di depan Brian, kemudian menyingkap kening Brian yang tertutup rambut, ia mengamati memar di kening Brian, mengusapnya perlahan, “Seharusnya ini hanya cedera ringan, yang tidak mengakibatkan efek samping,” Gumam Riana. 


Tiba Brian memeluk tubuh Riana yang tengah berdiri di hadapannya, “Dingin … tolong jangan beranjak dari sini dulu,” Bisiknya lirih.


Riana membeku di tempatnya, memang udara cukup dingin, karena tubuh keduanya yang masih basah, tapi Riana tidak menyangka, Brian akan memeluknya di depan umum, jika ini terjadi di Singapura, tentu Riana tak mempermasalahkannya, tapi mereka sedang berada di Indonesia, bisa bisa mereka menjadi perbincangan para emak emak +62 … 


#yang jelas Brian akan menuai simpati, seorang suami penyayang, yang sudah berhasil menyelamatkan istri dan anaknya.


“Maaf, jika perkataanku membuatmu tersinggung.” sambung Brian.


deg


deg


deg


Nah loh potongan apa lagi itu?


Pelan pelan kita mulai masuk ke masa lalu Brian dan keluarga Gustav Agusto.


Bagaimana masa kecil Brian dan apa kaitannya dengan Riana.

__ADS_1


Termasuk kenapa, Roger Gustav Agusto hanya menginginkan Riana yang menjadi menantunya.


__ADS_2