Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 47


__ADS_3

BAB 47


Hampir tiga jam Riana pingsan, membuat Brian tak bisa beranjak sedikitpun dari sisi Riana, padahal kini Riana sudah berpindah ke VVIP Room.


Menurut Rodrigo, Riana sedikit tertekan setelah kehilangan salah satu pasiennya di ruang operasi, termasuk lelah fisiknya juga, setelah hampir satu jam berjuang mengembalikan kembali detak jantung pasiennya, namun ternyata masih berakhir gagal.


Para rekan kerjanya heran, karena Riana tak kunjung menjawab panggilan darurat yang ditujukan untuknya, Akhirnya ada yang berinisiatif mendatangi ruang istirahat Riana, disana Riana ditemukan tertidur di sofa, tapi tak menyahut saat dipanggil, Riana segera dipindahkan ke emergency room untuk menerima pertolongan pertama.


Syukurlah janin nya pun baik baik saja.


Lelah dan mengantuk, membuat Brian terlelap begitu saja di sofa.


Brian terbangun ketika merasakan ada seseorang yang membangunkannya, yah tak salah lagi, Riana sudah sadar dari pingsannya, dan kini tengah duduk di pinggiran Sofa dengan tiang infus berada di genggamannya. 


Brian sontak membelalakkan netranya.


“Kamu sudah bangun?”


Riana mengangguk.


“Kapan?”


“Sepuluh menit yang lalu,”


“Kenapa tak membangunkanku?”


“Sudah …”


“Kenapa hanya sekali?”


“Lebih dari sepuluh kali aku memanggilmu.”


Brian tersenyum, kemudian mengusap perut Riana, tempat anaknya berada, “Istirahatlah, aku di sini, jika membutuhkan apa apa.”


“Aku ingin pulang, dan istirahat di rumah.”


“No …”

__ADS_1


“Aku bosan di rumah sakit, aku ingin istirahat tenang di rumah.”


“Besok kita pulang.”


“Dokter kandungan bilang, kamu harus bed rest sementara ini,”


Riana cemberut, lagi lagi Brian hanya memikirkan bayi mereka, tanpa peduli dengan dirinya.


“Kalau begitu minggir, aku mau tidur di sofa.” 


Permintaan aneh itu meluncur begitu saja dari bibinya, dan Brian mulai hafal, jika sedang marah, Riana akan memiliki permintaan aneh. 


Bagaimana tidak aneh, ada bed nyaman untuk pasien VVIP, tapi Riana memilih mengusir Brian kemudian tidur di sofa.


“Ada bed nyaman, kenapa kamu tidur disini?, punggungmu bisa pegal pegal.” bujuk Brian, bukan gaya seorang Brian ketika harus bersusah payah membujuk, Brian adalah, si tukang paksa yang akan marah bahkan mengamuk, jika perkataannya tidak dituruti, tapi kali ini tidak Brian lakukan.


Riana tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, melihat perubahan ini, walau belakangan ini, lebih sering Brian berkata lembut ketimbang arogan dan dingin seperti dulu.


“Kamu sendiri kenapa tidur di sini? sementara di sana ada bed untuk keluarga pasien.”


Brian masih menatap Riana yang duduk di pinggiran sofa, “Sudahlah itu tak penting, intinya aku akan tetap berada di ruangan ini sampai kondisimu membaik dan kamu juga diizinkan pulang dengan benar, bukan pulang paksa.”


Brian bangkit, tapi tak sepenuhnya duduk, ia menyangga tubuhnya dengan siku lengannya, hanya sekedar ingin bicara lebih dekat.


“Atau kamu mau tidur di sofa bersamaku, bagiku tak masalah, belakangan ini, aku pun suka tidur di dekat anakku.” Bisik Brian di telinga Riana.


‘Tentu saja itu termasuk tidur di dekatmu’, lanjut Brian dalam hati, belum mau terang terangan mengakui, rasa nyaman yang ia dapatkan ketika berada di dekat sang istri. 


“Tapi sepertinya jika di sini terlalu sempit, ayo kita pindah ke bed saja.”


Seperti robot, Riana hanya menurut saja ketika Brian menggiringnya kembali ke bed, ‘Rianaaa seharusnya kamu marah, ayo protes, bila perlu unjuk rasa, biar suamimu tidak semena mena’. bisik suara hati Riana dengan keras, nyaris seperti orasi peserta demonstrasi.


“Pergilah … aku akan tidur sendiri,” Usir Riana.


“Tidak … aku akan menemanimu disini sampai kamu tidur lagi.”


“Aku bilang aku bisa tidur sendiri, kamu tidak khawatir Alicia mu cemburu?”

__ADS_1


“Kenapa tiba tiba kamu menyebut Alicia?”


“Aku benar kan? kalau kamu sudah bisa melupakan Alicia, pasti sudah sejak lama kamu menikah kembali.” Ejek Riana.


Brian terdiam menatap manik mata Riana, “Jangan jangan dugaanku benar, selama ini kamu menunggu ajakan rujuk dariku atau kamu sedang cemburu pada orang yang sudah tidak ada di dunia?.” 


“RUJUK?? khayalanmu terlalu tinggi … kamu sendiri masih takut mengkhianati orang yang sudah tidak ada di dunia?” balas Riana dengan tatapan tak kalah tajam.


“Kamu menyindirku?”


“Tidak, aku mengatakan fakta sebenarnya.”


“kata katamu tidak masuk akal.”


“Lebih tidak masuk akal siapa, aku yang nyata atau wanita yang jelas jelas sudah lama tiada, tapi masih kamu junjung setianya hatimu untuknya, hingga anak dalam kandunganku pun kamu anggap sebagai pengganti anak nya?”


“Darimana kamu tahu?”


“Aku hanya menebak, oh yah tuhan, rupanya perkataanku benar?” Riana melipat kedua tangannya di dada, wajahnya tampak menampilkan senyum ejekan.


Melihat senyum ejekan di wajah Riana, membuat Brian seketika jengkel, Riana sudah berani mengejek perasaan tulusnya untuk Alicia, padahal ia sudah mencoba berdamai dengan apa yang baru saja menimpa Riana.


“Kenapa? apa sekarang kamu marah?”


“Kamu sedang membangkitkan amarahku Riana.” Suara Brian terdengar dingin, bahkan sorot matanya tiba tiba menakutkan, Riana menelan ludahnya, ia hanya mundur selangkah, karena tubuhnya sudah menabrak bed.


“Aku rasa kamu belum lupa apa yang aku lakukan jika sedang marah.” Bisik Brian, sementara jari jari tangannya mulai menelusuri kancing piyama rumah sakit yang Riana kenakan, Brian mulai kesulitan mengontrol nafasnya, manakala mengingat apa yang berada di balik kancing tersebut.


Dengan cepat Riana mencekal tangan Brian yang berada di kancing piyamanya, “Hentikan Brian, jangan berani macam macam, atau aku akan berteriak.”


“Berteriak lah, karena kamu pasti lupa kita sedang berada di mana, ini ruang VVIP, suara teriakan sekalipun, tak akan terdengar sampai keluar,” Brian terus mengikis jaraknya dengan Riana, “kita bisa melakukan apapun tanpa takut adanya gangguan dari luar, terima kasih pada papa mertuaku,” Brian tertawa smirk kala mengingat sang mertua, ”yang sudah memberikan fasilitas pengaman pintu, hingga pasien dan suaminya bisa melakukan apapun tanpa perlu merasa privasi mereka terganggu,” Dengan satu kali sentakan, Brian membaringkan Riana ke bed, kemudian ia ikut menindih sebagian tubuh Riana karena disaat seperti ini ia tetap harus ingat, ada bayi di perut sang istri.


Tubuh Riana bergetar hebat,  “Brian hentikan, ku mohon,”


“Kamu yang membangkitkan amarahku.”


Brian mulai mencium dan meng#i$ap leher dan tulang selangka Riana, melukis satu bintang yang akan tercetak dengan jelas sesudah nya, merah kebiruan warnanya, ia marah ketika ia merasa sangat mengkhawatirkan Riana, namun Riana justru menyangka ia mengkhawatirkan perasaan Alicia serta janji setianya pada mendiang istrinya.

__ADS_1


Air mata Riana semakin deras, ia menangis tanpa suara, membayangkan bagaimana kasarnya Brian ketika menggaulinya dahulu.


Tapi Brian seakan tidak peduli, ia tetap melanjutkan aksinya, toh ia tak akan melakukan yang lebih dari pada saat ini, sesaat lalu ia hanya menggertak, mana mungkin ia tega melakukan nya, sementara tadi ia mendengar jelas peringatan dokter kandungan agar mereka tidak melakukan hubungan suami istri sementara waktu, rasanya Brian ingin tertawa sekaligus menangis, kala mengingatnya, jangankan berhubungan, Riana bahkan menolak ciumannya jika Brian tidak memaksa.


__ADS_2