Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 41


__ADS_3

BAB 41


Riana mengangguk, ia memanfaatkan kesempatan ini untuk tidur siang, guna mengumpulkan tenaga sebelum petualangan ngidamnya dimulai.


“Brian lagi ngapain yah?” tiba tiba hatinya tersentuh memikirkan keberadaan suaminya, beberapa minggu ini mereka jarang sekali bertemu, Riana bahkan baru tahu, jika Brian ternyata seorang pekerja keras, terbukti dengan bagaimana disiplinnya pria itu ketika berangkat kerja dipagi buta, dan baru kembali setelah tengah malam datang.


“Baby … apa kamu merindukan daddy?” tanya Riana pada bayi nya, tangannya mulai mengusap perutnya yang sudah nampak sedikit membuncit, sejujurnya ia rindu, tapi terlalu malu mengaku, jadi ia iseng bertanya pada calon bayinya.


.


.


.


Gadis kecil itu berlari lari dengan senyum lebar di bibirnya, sementara di belakangnya ada seorang anak laki laki sedang mengejarnya, tampaknya mereka sedang main ‘catch me if you can’.


Karena asik berlari, tanpa memperhatikan jalan, gadis kecil itu pun jatuh tersungkur di rerumputan, anak lelaki itu menghampirinya dengan raut wajah khawatir, kemudian membantu si gadis berdiri, gadis kecil itu mulai menangis kecil, “Sakit …” ujarnya sambil menggosok lutut nya yang memar kemerahan.


“Tidak papa, ada aku, sini kulihat,” hibur anak lelaki itu seraya memeriksa lutut si gadis, ia bernafas lega karena lutut gadis itu hanya memar kemerahan, tidak sampai berdarah.


“Sakit …” ucap gadis itu sekali lagi, di sela sela tangis kecilnya.


“Gak papa, ini gak berdarah juga kok, ayo aku bantu berdiri.” dengan sabar tanpa marah, anak lelaki itu membantu gadis kecil itu berdiri.


“Bisa jalan?” 


“Bisa, tapi sakit,” rengek gadis kecil itu.


“Ayo aku gendong,” anak lelaki itu pun berjongkok.


“Tidak kak, jangan, aku pasti berat,” gadis itu memang berpipi cabi dan sungguh menggemaskan, jadi dalam pikiran polosnya dirinya pasti gendut, dan hanya papa nya saja yang sanggup menggendongnya.


“Tidak, aku kuat kok.”


“Benarkah …?” tanya gadis kecil itu memastikan, ada senyum bahagia terukir di bibir mungilnya, ketika anak lelaki itu menggendongnya di punggung.


.


.


.


Drrrrrttt


Drrrrrttt


Drrrrrttt


suara getaran ponsel membangunkan Brian dari tidur singkatnya, Brian menatap layar ponselnya, jika bukan Armand yang menghubunginya, Brian mungkin akan mereject panggilan tersebut.


“Iya Mand,”

__ADS_1


“Tuan, Nona …”


“NYONYA !!! harus berapa kali aku mengingatkanmu?”


“Maaf tuan, maksud saya Nyonya,” Armand memperbaiki panggilannya.


“Hmmm lanjutkan,”


“Nyonya ingin ke jakarta.”


“What?”


“Nyonya Bilang, ingin makan Mie ayam.”


“Seperti tidak ada mie ayam saja di Singapura,”


#yeee … belum tahu aja kamu, mie ayam abang abang kaki lima rasanya ajiibb, buatan koki hotel bintang lima pun kalah. Iya gak mak??? 😂🥰🤤


“Yaaa tuan, ya jelas beda lah, mie ayam indonesia itu, nikmat tiada tara, belum lagi taburan bubuk ajaib nya, bikin semua yang makan jadi makin pinter.”


🤣


#Armand, kok kamu jadi ngelawak sih? wkwkwk


“Memang seenak apa sih?” tanya Brian semakin penasaran.


“Nanti tuan akan tahu jika ikut mengantar nona eh nyonya.” 


Tentu yang membuatnya semakin resah adalah, kemungkinan Armand akan menemani istrinya sepanjang perjalanan, karena dirinya sibuk dengan pekerjaan, aaaahhh sungguh Brian tak suka perasaan ini, ia marah hanya karena membayangkan Rina bepergian dengan pengawal nya.


“Jadi bagaimana tuan, jika tuan sibuk, biar saya saja yang mengawal nyonya, nyonya bilang ingin menginap semalam di kediaman tuan Richard sebelum kembali ke Singapura.”


“Enak saja tentu saja aku yang akan mengantarnya,” Brian mulai terpancing dengan kalimat Armand, Brian memang suami brengsek, tapi ia ingin jadi daddy yang baik untuk anak anaknya.


“Jadi anda yang akan mengantar nyonya?”


“Iya, kamu hubungi Fabian, minta padanya untuk menyiapkan pesawat pribadi Gustav.Inc.”


“Baik tuan.” 


Panggilan berakhir, Brian bergegas mematikan komputernya, kemudian menyambar jas dan ponselnya, setelah pamit pada Grace, termasuk membatalkan semua jadwalnya sore hingga keesokan hari nya, karena Brian tak tahu apa yang akan terjadi sementara ia meninggalkan Singapura, jadi ia meminta Grace membatalkan semua jadwalnya.


Tak menunggu waktu lama, Brian melesat menuju Changi.


.


.


.


Riana mengerjapkan kedua matanya ketika merasakan Brian mengusap lembut pipi nya, segera saja ia kembali ke alam sadarnya.

__ADS_1


“Jam Berapa ini?”


“Jam 1 siang, jika kita berangkat sekarang, kita akan tiba jam 3 sore di Soekarno-Hatta.”


Riana belum sepenuhnya sadar jika Brian yang akan menemaninya ke Jakarta.


Riana mengerutkan keningnya, “Kenapa kamu ada di sini? mana Armand?” tanya Riana.


Brian mengarahkan wajahnya tepat ke arah Armand berdiri di luar mobil bersama Fabian.


“Aku mau ke Jakarta bersama Armand,” izin Riana, sebenarnya meminta izin tidak termasuk dalam daftar rencana Riana, tapi Armand pasti melaporkan semua kegiatannya pada Brian, sebagai bentuk pertanggung jawaban.


“Ayo lekas turun, pesawatnya sudah siap.”


Riana mengangguk, kemudian menggeliat sesaat sebelum turun dari mobil.


“Silahkan ikuti kami tuan dan nyonya …” Fabian memberi aba aba.


Sekali lagi Riana masih menyangka, Brian dan Fabian hanya mengantarkan kepergiannya sampai gate penumpang untuk check in.


Brian menggenggam tangan Riana yang masih berjalan dengan gontai, khawatir jika Riana akan tertinggal, karena Fabian dan Armand berjalan dengan langkah lebar.


Beberapa saat kemudian, Riana baru menyadari bahwa mereka tidak melalui gerbang penumpang pada umumnya, melainkan melalui gerbang khusus untuk penumpang dengan fasilitas pribadi. 


Dua orang pramugari menyambut kedatangan mereka, sementara Fabian dan Armand berhenti di ujung anak tangga.


“Selamat menikmati perjalanan, tuan dan nyonya,” ucap Fabian.


Riana terkejut karena baru saja mengetahui dirinya akan terbang berdua bersama Brian, bukannya Armand.


Sampai keduanya duduk di kursi penumpang, Riana masih terdiam, tak tahu apa yang harus ia dan Brian bicarakan, bahkan ia hanya diam ketika Brian memasang safety belt ketika pesawat akan lepas landas dan melepaskan kembali safety belt ketika pesawat sudah mengudara.


“Aku bisa pergi bersama Armand, jika kamu memang sibuk.”


“Jadwal pekerjaanku tidaklah penting.”


“Lalu yang penting apa?”


“Memastikan keselamatan anak kita, itu yang paling utama.”


“Ooohh … hanya itu? yakin tidak ada yang lain?”


“Lanjutkan Istirahatmu,” Jawab Brian dingin.


“Baiklah, bisakah kamu menyingkir, terlalu pengap jika kamu duduk di sini.” Usir Riana tanpa perasaan, beberapa saat lalu ia bahagia karena Brian yang mengantarnya ke Jakarta, tapi mendengar jawaban Brian, mendadak pikiran dan perasaannya dilanda cuaca buruk bahkan badai besar.


Brian pun menjauh, ia mengambil tempat di kursi yang lain, kemudian memejamkan kedua matanya.


Penerbangan tersebut berlangsung damai dengan sepasang penumpang yang nyatanya diam membisu, sibuk dengan perasaan dan pikiran masing masing.


Sesaat sebelum terbang, Riana sudah berpesan pada Armand untuk tidak memberi kabar pada mama Nisya, jadi setibanya mereka di airport, tak ada mobil jemputan yang menanti keduanya, jadi mereka menggunakan taxi biru sebagai sarana akomodasi.

__ADS_1


__ADS_2