Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 86


__ADS_3

BAB 86


SREET 


Suara safety belt ketika Brian membantu Riana memasang alat pengaman penumpang tersebut, Brian mengusap pipi Riana yang kini sedikit tirus, walau wajahnya sudah kembali tersenyum, tapi membayangkan Riana melamun dan menangis sedih membuat dada Brian sesak, “Kenapa manatapku seperti itu?”


Brian tersenyum malu, kemudian mencium pipi dan kening sang istri, “kamu harus banyak makan supaya pipi ini bulat dan menggemaskan kembali.”


“Kamu tidak keberatan jika tubuhku semakin bulat?” 


“Tentu saja, dengan begitu tak ada pria lain yang akan melirikmu, kecuali aku.” Brian menaik turunkan alisnya jahil.


“Curang … itu namaya mematikan pasaranku, sementara kamu akan banyak dilirik para gadis dan wanita.” Riana mulai dengan mode ngambek ibu hamil yang sedang cemburu.


“Tidak sayang … aku janji.” Brian mengangkat telapak tangannya, “Tapi jika mereka memang senang melihatku tidak masalah kan? mereka melihat dengan mata mereka, dan aku tak bisa melarangnya, masa iya aku harus membawa bawa tulisan, ‘Dilarang lihat, istriku galak dan pencemburu’”


Tanpa Brian sadari, wajah Riana berubah semakin muram, dengan kasar ia mendorong Brian, air matanya bahkan menetes begitu saja, baru saja ia merasakan bahagia karena di bawa lari oleh pria yang ia cintai, api kini tega teganya suaminya membuat dadanya panas terbakar cemburu, “Aku mau kembali ke rumah papa!!! kamu menyebalkan.” pungkas Riana, ia melepas seat belt nya kemudian meraih handel pintu.


“Eh …” Brian cukup terkejut melihat reaksi istrinya, sesungguhnya ia hanya bercanda, tidak serius dengan perkataannya, tak disangka Riana begitu cemburu hingga menangis, bisa runtuh dunianya kalau Riana kembali kerumah orang tuanya, sia sia juga perjuangannya beberapa hari ini, “Aku bercanda sayang …” Brian membawa Riana ke pelukannya.


Riana memberontak, berkali kali ia memukul dada suaminya, “Bercandamu gak lucu, menyebalkan,”   


“Iya iya … aku pria brengsek menyebalkan,” semakin kuat Riana memberontak, semakin erat pelukannya, “Maaf … sungguh aku hanya bercanda.” 


Brian menciumi mahkota sang istri, menghirup dalam dalam aroma rambut yang teramat ia sukai tersebut, bahkan beberapa hari ini ia pun rindu membau rambut kecoklatan Riana, telapak tangannya terus mengusap punggung Riana, mencoba mengalirkan ketenangan ketenangan,  berniat sedikit menggoda justru berakhir petaka, wanita hamil memang tidak bisa di ajak bercanda, amukannya bisa merajalela kemana mana. 


__ADS_1




#brian welkam to the klab, para suami takut istrinya mengamuk, bella mengamuk, minggat ke Singapura, gadisya mengamuk, kevin tidur diluar kamar, riana mengamuk lebih berbahaya, dia pulang ke rumah papa Richard, dan bagi brian itu mimpi paling mengerikan 😂





Brian mendekap tubuh wanitanya yang kini meringkuk manja di pelukannya, usai drama mengamuk berakhir, Brian benar benar tobat dan tidak ingin lagi mencoba membuat membuat sang istri cemburu. 


Dan karena sudah mengantongi kartu emas keluarga Geraldy, maka Brian membawa Riana beristirahat di Twenty Five Hotel, karena itulah yang saat ini diperlukan istrinya, ISTIRAHAT, terlebih setelah apa yang mereka lakukan semalam, walau semalam ia bermain lembut, tapi Brian tahu energi Riana sudah terkuras habis, mengingat kondisinya yang sedang hamil besar, walau demikian, untuk sementara itu cukup membuat wajah Brian secerah mentari pagi ini. 


Brian : thor, tempat persembunyian paling aman adalah di sarang musuh itu sendiri, lagi pula kan bagus sambil menyelam sekaligus bisa bakar ikan. 


Othor : lha emang bisa nyalain api di dalam air. 


Brian : bisa lah kalo othor moon yang nulis pasti bisa. 


Yah itulah yang ada dalam pikiran Brian saat ini, mudah sekaligus aman, papa Richard pasti berpikir tak mungkin Brian menginap di hotel keluarga Geraldy, tapi tidak dengan Kevin dan Andre yang sudah sepakat menyembunyikan mereka, mereka pun akan bungkam tentang keberadaan Brian dan Riana. 


Begitu pesan Kevin ketika menyerahkan kartu emasnya, maka begitulah disinilah ia kini, berbunga bahagia bersama wanita yang dicinta, lari bersama istrinya benar benar tak pernah terpikirkan, apalagi tertulis dalam kamus hidupnya, tapi entah mengapa ia menemukan bahagia karena bersama wanitanya yang berharga. 


Sekali lagi Brian mengamati hasil karyanya dengan bangga, pahatan putih mulus sempurna itu kini bertabur bintang merah berkilau, terutama di beberapa area favoritnya, jika saja ia tak ingat undangan dari adik sepupu istrinya, serta ia yang harus membeli pakaian baru untuk Riana, mungkin ia lebih memilih melanjutkan beberapa ronde pagi ini, tapi ia harus kembali mengumpulkan kesabarannya sampai nanti malam, karena sekarang ia harus bekerja terlebih dahulu. 

__ADS_1


.




Pukul 11 siang Riana menggeliat, merasakan sisi kanannya dingin, itu artinya Brian sudah bangun dan meninggalkan nya, seperti dulu…  mendadak Riana muram, tapi kemana Brian, kenapa tak membangunkannya? 


Riana hendak berusaha bangkit dari nyamannya selimut tebal yang membalut tubuhnya, ia meringis sesaat merasakan tubuhnya yang terasa ngilu dan pegal sana sini, semburat rona merah menghiasi pipi nya kala ia mengingat apa yang terjadi semalam,  Riana menggigit bibirnya, masih malu rasanya padahal semalam bukan pertama kalinya bagi mereka, tapi rasanya sungguh gila, bahkan lebih liar daripada saat kencan buta mereka beberapa bulan lalu, mungkinkah karena cinta yang kini hadir di hati keduanya, membuat aktivitas biasa mereka di kamar, terasa luar biasa, begitu indah, bahkan membayangkannya saja, sanggup membuat tengkuknya meremang, begitu lembut, bahkan Brian begitu sabar, seolah ingin bersama menikmati permainan mereka, mencoba menebus apa yang dulu salah di pernikahan pertama. 


Pandangan Riana beredar mencari cari keberadaan ponselnya, rupanya Brian sudah meletakkan ponselnya di atas nakas, lengkap dengan notes di sana. 


"Sayang, maaf aku meninggalkanmu, tapi adik sepupumu ingin membicarakan urusan pekerjaan denganku, dan maaf jika aku tak membangunkanmu, istirahatlah yang cukup, aku sudah pesan sarapan untukmu, pastikan energimu terisi penuh, agar kita bisa melanjutkan acara 'kita' nanti malam."


Riana tersipu kembali menutup wajahnya dengan selimut, inginnya terus bergelung manja menikmati waktu istirahat, tapi rupanya ia sudah sangat terlambat baginya untuk sarapan, karena bayi kecilnya terus bergerak aktif, pertanda ia sedang ingin asupan nutrisi. 


"Baiklah sayang … ayo kita makan," Riana mengusap perut nya, namun baby belum juga tenang, biasanya jika Brian yang mengusap perut nya baby akan segera tenang, baby benar benar akan jadi Sekutu sang daddy. 


Riana pun bangkit, demi si kesayangan, ia melawan segala perasaan malas yang mendera nya, dalam hati ia membatin, pastilah Andre menawarkan kontrak kerjasama penting hingga ia memilih ikut bersekongkol dengan Kevin menyembunyikan pelariannya bersama Brian, semoga ini menjadi awal baik, dan bukan tidak mungkin mereka akan menjalin dan membuat jaringan bisnis raksasa, keluarga Geraldy, William dan Gustav Agusto. 


.


.


.


💙💙💙

__ADS_1


__ADS_2