
BAB 80
Sesuai dengan rencananya dini hari tadi, seorang diri Brian kini melangkah pasti mendatangi Ruang kerja papa mertuanya, tak peduli ia masih mengenakan baju pasien, dan masih harus istirahat beberapa hari, kali ini ia harus benar benar berjuang, memohon maaf untuk kesalahan fatal yang hampir ia lakukan, dan berusaha kembali mendapatkan restu, memang tak akan mudah, tapi laki laki sejati tak akan mudah menyerah, tak peduli apa yang papa Richard pikirkan nantinya.
Dalam ingatan masa kecilnya kini, ia mengingat dengan jelas bagaimana mata indah Riana yang berkabut air mata, seketika mampu memikat nya, hingga membuatnya tak sabar menantikan perjumpaan berikutnya, dengan senyumnya yang menggemaskan, pipi bulat bersemu merah kala menikmati ice cream vanilla, semuanya memikat di mata Brian kala itu, hingga ia berkata pada mama Delia, bahwa suatu saat Riana kecil tersebut akan ia jadikan istri.
Tapi karena ulah seseorang, kedua anak manis itu mengalami trauma hebat, hingga membuat mereka pelan pelan menutupi dan menyembunyikan kenangan buruk tersebut di alam bawah sadar masing masing, kenapa Brian berpikir demikian? karena Riana tak pernah menunjukkan bahwa ia memiliki keterikatan dengannya di masa lalu, Riana hanya beberapa kali mengigau, memanggil nya dengan sebutan ‘kakak’, Brian terkekeh geli, rupanya selama ini ia cemburu dengan dirinya sendiri.
Brian menghentikan langkahnya, mendadak ia ingat betapa kejam pamannya kala itu, air matanya meleleh kembali, apakah Riana sudah mengingatnya, ataukah papa dan mama mertuanya masih menyembunyikannya, mungkin tak mengetahui adalah kalimat yang tepat, karena yang mengingat kejadian buruk itu hanyalah ia dan Riana seorang, sanggupkah Riana bangkit dan mengatasi rasa traumanya?
Tiba tiba dari ujung lorong, pintu utama terbuka, seorang pria berusia awal 50 an menghampiri Brian yang masih diam mematung. “Masuklah tuan, anda ditunggu oleh tuan Richard.”
Brian tertegun mendengar perkataan Leo, asisten papa mertuanya, tapi kemudian ia mengangguk dan melangkah memasuki ruang kerja papa Richard.
Tak seperti ruang kerja seorang Direktur Utama pada umumnya, ruang kerja Richard tersembunyi di sudut rumah sakit, jika hanya pasien umum tak mungkin mengetahui jika lorong tersebut adalah lorong menuju ruangan Direktur Utama.
Ruang kerja Richard didominasi warna pastel yang menenangkan, Sofa mewah serta furniture yang elegan menghiasi ruangan tersebut, beberapa lukisan besar di dinding sebagai ornamen tambahan, tak berlebihan, semua pas sesuai proporsinya.
Kedua pria berbeda generasi itu saling bertatapan, Richard bersandar di kursi kebesarannya, sementara Brian berdiri di depan meja kerja Richard, masih mengenakan baju pasien, dengan beberapa bagian wajah yang masih memar kebiruan.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Richard, setelah mengetahui siapa pelaku kejahatan di masa lalu, serta peran Roger yang menyembunyikan serta menutupi semua jejak kejahatan adiknya, Richard begitu meradang marah pada mending sahabatnya, tapi bagaimanapun bencinya ia pada Roger, dalam hal ini Brian seratus persen tak bersalah, ia pun hanya korban, tapi Richard belum bisa menerima hal itu, mungkin mengakhiri hubungan Riana dengan Brian akan menjadi solusi.
“Aku merasa lebih baik pa, karena dokter di sini merawatku dengan perawatan terbaik.” jawab Brian singkat sementara dadanya bergemuruh hebat, gugup dan takut.
__ADS_1
Richard mengangguk pelan, “Jangan membuang waktumu di sini, Kembalilah ke Singapura,”
“Aku tak akan kembali tanpa istriku pa.”
“Istri yang mana? bukankah kalian hanya menikah secara kontrak?.”
“Papa salah, papa yang menikahkan kami secara resmi, surat itu dibuat sebelum papa memergoki kami hari itu,”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan dengan ini?”
Richard memutar audio dari laptopnya, seketik Brian tercekat tanpa bisa berkata kata, Rupanya papa mertuanya sudah mengetahui rencana jahatnya, “itu dulu pa, sebelum aku merasakan perasaan sedalam ini pada istriku, kini aku benar benar mencintainya, dan ingn membahagiakannya, tolong izinkan kami bersama pa.” Brian berlutut di hadapan Richard. “Aku akui, aku pernah menjadi pria brengsek dan jahat bagi istri ku, bahkan aku berniat mengambil anak kami setelah bayi itu lahir, tapi sekali lagi ku tegaskan, bahwa itu dulu,”
“Apa kamu pikir dengan begitu aku akan mengizinkanmu berada di dekat Riana, terlebih setelah aku mendengar semua ini?”
“Papa boleh bertanya pada Fabian, karena sejak awal hanya dia yang mengetahui rencana ini, sudah sejak lama aku mengubur dalam dalam niatku, karena aku mulai merasakan perasaan berbeda kala berdekatan dengan Riana dan bayi kami,”
“Apa maksud papa? kenapa membawa bawa keluargaku?” tanya Brian.
Papa Richard kembali menyalakan video dari laptopnya, kali ini ia memutar layar laptop nya, agar Brian melihat siapa yang sedang berbicara.
“Apa ini pa ?” tanya Brian dengan suara bergetar, seluruh tubuhnya juga bergetar, ia tak menyangka jika selama ini papa Roger menyembunyikan fakta fakta kejahatan adik kandungnya, pantas saja jika papa Roger masih menyimpan foto mendiang adiknya, benarlah kiranya jika darah lebih kental dari air, anak kandungnya sudah dirusak psikisnya, sementara disisi lain papa Roger tak bisa menampik besarnya kasih sayang yang ia miliki pada adik kandungnya, sungguh ironi yang mengenaskan.
“Inilah hal mendasar yang membuatku sakit hati, pada keluargamu, bertambah parah dengan semua ulahmu, jadi tak ada lagi alasan kalian bersama, lepaskan putriku, dan sebagai gantinya aku akan mengembalikan Gustav.Inc padamu.”
__ADS_1
Hati Brian rasanya seperti kembali di tusuk belati, sakit sekali ketika ia harus berpisah dengan wanita yang sangat ia cintai, kenapa tuhan tega menulis takdir begini kejam padanya, tak bisakah ia merasakan bahagia seperti banyak pasangan diluaran sana?
“TIDAK pah, aku kan berjuang meyakinkan papa dan juga Riana, sampai nafas terakhirku aku tidak akan menyerah.”
“Berhentilah berjuang, aku akan mengembalikan aset keluargamu, kamu tak perlu mengusik keluarga kami.”
“Bagaimana jika ku katakan sebaliknya, aku akan memberikan Gustav.Inc pada papa, sebagai gantinya, papa harus melepaskan Riana untukku.”
BRAK !!!
“Kamu pikir putriku barang yang bisa ditukar seenak perutmu?”
“Maaf pa, aku tak bermaksud demikian, tapi papa yang memulai, dengan membawa bawa Gustav.Inc, asal papa tahu, tanpa Gustav.Inc aku bisa berdiri diatas kakiku sendiri, dan aku yakin bisa membahagiakan istri dan anak kami.”
“Bagaimana jika Riana tak mau kembali padamu?”
“Maka aku akan kembali menunggu nya seperti sebelumnya aku menunggu pernyataan cinta nya, aku tidak merasa bersalah dalam kekacauan ini, karena aku juga korban, dan aku pun tak pernah mengetahui bahwa ternyata papa kandungku tega menyembunyikan semua jejak kejahatan adik kandungnya, satu satunya yang membuatku merasa bersalah adalah ketika Riana harus ikut ikutan terseret dan menjadi korban.”
Brian benar, tapi sebagai orang tua yang sangat menyayangi anaknya, Richard masih merasa sakit hati dengan keluarga Gustav Agusto, yang menjadi penyebab kemalangan yang menimpa keluarga William.
.
.
__ADS_1
.
💙💙