Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 38


__ADS_3

BAB 38


Mobil Riana berhenti di depan pintu utama tepat pukul 21.00


Dan tuan Robin dengan senyum ramah menyambut kedatangan nyonya mudanya, “Selamat malam nyonya, tuan sudah menunggu anda.”


Riana mengerutkan keningnya, “Brian? menungguku?” 


Tuan Robin mengangguk lagi, kali ini dengan senyum di wajahnya. 


“Baiklah … tolong bawakana barang barangku,” 


Riana menaiki tangga menuju lantai 2, mansion Roger sangat luas, bahkan ada lebih dari 15 kamar, belum termasuk kamar yang ditempati para pelayan, dan pekerja yang merawat mansion besar tersebut, ruang baca, ruang kerja, serta fasilitas olahraga dan kolam renang, halaman belakang sengaja di buat luas dihiasi rerumputan, cita cita Roger sejak dahulu adalah melihat cucu cucu nya berlarian di sana, namun hingga pria itu meninggal, Brian belum juga mengabulkan keinginan terakhir sang papa.


Wajah tampan itu kusut ditekuk, baju berantakan, dasi dan sepatu berceceran di mana mana, belum lagi jas yang tadi pagi ia kenakan kini bahkan sudah menggantung tak beraturan di penyangga tirai kamar, nampak sekali bahwa semua nya dilempar asal asalan oleh Brian.


Brian gegas bangkit dan menghampiri Riana, lagi lagi ia mengunci Riana ke dinding, pandangannya dingin dan entah apa Riana tak bisa mengartikannya, karena sepanjang ia mengenal brian, tak pernah melihat ekspresi demikian dari wajah pria itu.


“Darimana kamu?” tanya Brian dingin.


“Bukan urusanmu.” 


“Jawab pertanyaanku, dan jangan coba coba mengelak,”


“Apapun yang ku lakukan itu bukan urusanmu.”


“Sekarang menjadi urusanku, karena kamu istriku.”

__ADS_1


“Hah … istri?” Riana tertawa garing. “Ingat, ada perjanjian diantara kita …”


“Persetan dengan perjanjian sialan itu, aku hanya tak ingin kamu pergi dengan pria lain selain aku.”


“Kenapa kamu membahas hal yang sudah kita sepakati, bukankah aku juga membebaskan mu, jika kamu ingin berkencan bahkan tidur dengan wanita wanitamu, aku … hmmmpff.”


kalimat Riana terhenti, karena Brian lagi lagi mencium bibirnya dengan rakus dan kasar, tentu saja Riana mati matian menolak, tapi Brian seakan tak peduli dengan penolakan tersebut, lidahnya terus memaksa masuk, Brian menumpahkan seluruh rasa yang sejak tadi bergolak di dada nya, Brian baru berhenti ketika merasakan rasa asin yang merembes melalui celah celah Bibir mereka, pandangannya menatap kedua mata Riana yang sudah basah, Brian sungguh merasa bersalah sudah menyakiti pemilik mata tersebut.


“Maaf.” Bisik Brian lirih, kemudian memeluk erat tubuh rapuh yang kini mulai bergetar ketakutan, yah, Riana kembali gemetar ketakutan seperti dulu, ketika Brian memaksa minta dilayani diatas ranjang.


Riana menumpahkan tangisnya, ia berontak sekuat tenaga, namun Brian menahan tubuhnya, semakin kuat Riana berontak, semakin erat pelukan Brian, dan hingga sepuluh menit berlalu, Brian masih membiarkan Riana menumpahkan tangis, “maaf, aku hanya khawatir, karena kamu pergi tanpa memberitahuku.” berkali kali Brian mencium puncak kepala Riana, agar Riana kembali tenang.


Setelah kejadian itu, Brian sungguh sungguh menepati janjinya, ia kembali ke Brian mode semula, acuh dan dingin, tak lagi menyapa Riana dengan ciuman selamat pagi nya, bahkan ketika malam tiba sepulang kerja, Brian lebih memilih berada di ruang kerjanya, berada di dekat Riana hanya membuatnya merasa jadi pribadi berbeda, menolak mencintai Riana, tapi begitu posesif pada wanita tersebut, terlebih lagi Brian tak ingin usahanya membuat Riana jatuh cinta padanya  menjadi sia sia, ia hanya mendatangi kamarnya ketika Riana benar benar sudah terlelap, itu pun hanya untuk menyapa dan mengusap bayi nya, mengatakan pada bayi nya, bahwa daddy sangat menyayangi nya.


Hingga cuti seminggu pun berlalu, kini tiba saatnya Riana kembali mengisi jadwal nya di William Medical Center.  


Riana terdiam tak menanggapi sikap manis Brian, "tunggu aku di meja makan, aku akan mengantarmu ke rumah sakit." Titah Brian, yang langsung di angguki oleh Riana, karena Riana sungguh malas untuk berdebat, yang nantinya hanya akan membuat moodnya memburuk, karena ia ingin sampai di rumah sakit dengan pikiran dan perasaan yang tenang.


Riana keluar dari kamar ketika Brian masuk ke kamar mandi, ia menuju meja makan, di sana sarapan  sudah menanti, koki rumah Brian memang layak diacungi banyak jempol, pantas saja Roger mempertahankan nya tersebut, karena masakannya sungguh menggugah selera.


Riana mengunyah sepiring buah potong ketika menanti kedatangan Brian, hari ini ia dan Brian kembali sarapan bersama, setelah beberapa hari Brian kembali mengacuhkannya, rupanya hal itu membuat Riana sedikit kesepian, tapi ya sudah lah, toh hari ini ia akan kembali sibuk, jadi tak masalah jika ia jarang bertemu Brian.


Mobil yang di kemudian Brian berhenti di depan lobi utama. 


Riana melepas safety belt, dan meraih tas yang ia letakkan di kursi belakang, ketika hendak membuka pintu, Brian menahan lengannya, pria itu mendekatkan wajahnya, kemudian melabuhkan kecupan singkat di bibir sang istri.


Tak ada senyuman, apa lagi obrolan, mereka benar benar benar kembali ke mode awal setelah perceraian, yakni bersikap, seolah olah tidak saling mengenal.

__ADS_1


Bria mengusap bibir mungil tersebut, "pukul berapa, pekerjaanmu berakhir?"


"Tergantung, kalau semua sesuai jadwal, aku bisa pulang jam 5 sore, tapi jika aku terjebak di ruang operasi, mungkin akan pulang lebih malam."


"Baiklah, kapanpun jam kerjamu berakhir, Hubungi aku, aku akan menjemputmu."


"Tidak perlu, aku bisa meminta Armand menjemputku, fokus saja pada Gustav.Inc, ingat kamu mengemban tugas baru, jangan sampai membuat para karyawan kesulitan."


"Aku tahu itu, aku bisa melanjutkan pekerjaan ku di rumah, aku hanya ingin memastikan bayiku tidak kekurangan perhatian Daddy nya."


"Kamu benar benar mencintai bayi ini?"


"Tentu, aku tak sabar ingin segera melihat wajah mungilnya yang lucu." Jawab Brian dengan mata berbinar.


"Kalau mommy nya?" 


Brian terdiam, menatap kedua mata Riana.


"Lupakan pertanyaan ku, aku hanya bercanda, aku tahu aku tak akan bisa menggantikan posisi Alicia di hatimu," ucap Riana getir seraya memalingkan wajahnya, kemudian Riana keluar dari mobil, dan meninggalkan Brian yang masih termenung seorang diri, tak tahu bahwa perkataan Riana barusan benar benar mencubit hati Brian, ia mendengar kerapuhan disana, rasa ingin diperhatikan dan dicintai, tapi tak tahu harus meminta pada siapa, karena suaminya sendiri tak pernah merasakan cinta untuknya.


Brian menatap punggung Riana, dari kejauhan ia melihat Riana sudah disambut oleh beberapa juniornya, yang ingin melaporkan kondisi pasien, Riana tampak terus berjalan dan mendengarkan semua perkataan para asistennya. 


‘Baik baik yah mommy baby, kita bertemu lagi nanti sore, atau malam’.


Tanpa Brian sadari, kalimat itu meluncur begitu saja.


Brian pun kembali melanjutkan perjalanannya ke Gustav.Inc.

__ADS_1


__ADS_2