Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 66


__ADS_3

BAB 66


“Terima kasih …” 


Riana terperangah tak percaya mendengar kalimat yang terucap dari mulut Brian, ingin rasanya ia menghajar pria yang kini berdiri di sisi nya.  


“Alicia … ini terakhir kali aku mendatangimu, jangan berharap aku berbelas kasih lagi padamu, atau menangisi kepergianmu, aku begitu bersyukur atas datangnya hari ini, hari dimana aku tak lagi terbebani dengan kepergianmu, karena jika kamu belum meninggal, maka ku pastikan kedua tanganku lah yang akan membunuhmu, ini kali terakhir aku mengingatmu, terima kasih karena telah mengkhianati ku, terima kasih karena telah menunjukkan seperti apa warna dirimu, telah menghempaskan perasaan tulus ku hingga ke dasar bumi, kamu pernah membuatku mengkhianati wanita ini, dan kini setelah semua yang kamu lakukan,  membuatku tak lagi ragu untuk mencintai wanita ini, tak akan lagi ku lepaskan tangannya, aku pastikan akan merengkuh bahagia bersamanya, wanita baik yang sesungguhnya, dan beruntungnya aku karena tuhan menghadirkan nya kembali dalam hidupku.” 


Keduanya meninggalkan makam Alicia dalam suasana yang entah, Brian yang sudah mengakhiri perasaannya dan Riana yang mulai sedikit membuka hati nya, walau ragu masih membayang, tapi lega berharap Brian benar benar menepati perkataannya melupakan Alicia.


Riana hendak membuka pintu mobil, tapi Brian menghalanginya, pria itu justru memeluk nya erat, mengusak perlahan, menyusupkan wajahnya ke leher sang istri, menghirup mencium dan membuat jejak kerlap kerlip bintang di sana, jelas saja membuat Riana merasa risih, karena kini mereka berada di pemakaman, orang mesum macam apa yang melakukan kegiatan seperti ini di pemakaman, pasti hanya suaminya seorang.


“BERHENTI … jika kamu memang belum bisa melepaskan Alicia berhentilah, jangan coba coba menjadikan aku objek pelampiasan lagi.” ucap Riana yang mendadak kesal dengan ulah suaminya.


Brian mengangkat wajahnya, mengerti sepenuhnya jika sang istri adalah asli orang indonesia yang masih memegang teguh norma norma kesopanan dan kesantunan, jadi bisa di pastikan ia akan merasa risih dan tak nyaman dengan tindakannya, dan Brian senang akan hal ini, yakin jika anaknya tumbuh sehat di ladang yang tepat.


“Jangan marah, aku hanya sedang menenangkan diri, hanya di dekatmu aku bisa damai seperti ini,”


Brian menatap intens wanitanya yang tengah cemberut


“Ini bukan damai, tapi MESUM … Awas minggir sana, gerah !!! Pake nempel begini segala.” Rengek Riana gemas sedikit dongkol, dengan kenakalan Brian.


Brian mengangkat kedua tangannya, “Oke oke aku salah … maaf sayang.” Brian mengalah, kemudian membukakan pintu mobil untuk Riana.


‘Apa? sayang?’ gumam Riana dalam hati, apa Brian sedang kesurupan hantu di pemakaman sampai sampai memanggilnya dengan sebutan sayang, dan kini Brian bahkan tak melepaskan genggaman tangannya sepanjang mereka menyusuri perjalanan, bahkan pria itu terus menerus tersenyum sesekali mengecup tangan Riana yang berada di genggamannya.


Riana yang merasa aneh dengan tingkah Brian justru tak bisa melepaskan tatapannya dari wajah Brian, "Aku memang tampan sejak lahir, jadi berhentilah memandangi wajahku.” 


Riana memalingkan wajahnya, sedikit merona malu karena aksinya di ketahui, ingin menarik telapak tangannya dari genggaman Brian tapi merasa terlanjur nyaman, jadi ia hanya bisa memalingkan wajahnya.


"Bukan memandang apalagi mengagumi, tapi aura kamu beda, apa karena habis mendatangi mantan?"


Ciiiittt … 


Brian menginjak rem dengan tiba tiba, tak peduli ia masih di tengah jalan, untungnya jalanan yang mereka lalui cukup lengang, entah Brian hendak membawa Riana kemana.


Tubuh Riana yang duduk di kursi penumpang sontak terseret kedepan, namun tertahan dengan adanya safety belt, "Brian …!!!" Seru Riana marah.


"Aduh … maaf sayang, maaf … ada yang sakit?" Tanya Brian khawatir.


Riana menghela nafas sepenuh dada nya, yang pertama belum terbiasa dengan panggilan 'sayang' dari Brian, yang kedua karena terkejut dengan aksi Brian yang mendadak menghentikan mobilnya, bahkan kini tulang selangkanya sedikit nyeri akibat tertahan oleh belt yang mengikatnya.

__ADS_1


Brian melepas safety belt yang melilit tubuh Riana, kemudian memeriksa beberapa bagian yang mungkin memar ringan akibat ulahnya yang berhenti sembarangan.


"Nggak … aku gak papa, hanya sedikit ngilu di sini," Riana meraba tulang selangka sebelah kanannya, dan benar saja area di atas dada itu kini memerah dan sedikit memar.


"Sepertinya memar …" Bisik Brian dengan nada khawatir, kemudian ia mengambil salep di kotak p3k darurat yang ada di mobil, kemudian mengoles area memar itu perlahan, "duh pasti sakit sekali yah?" Lanjutnya penuh sesal.


Tapi Riana hanya diam tak lagi menjawab, kesal, sungguh, ia benar benar di rundung kesal, entah karena apa, mungkin karena melihat rona bahagia di wajah Brian usai mendatangi makam Alicia, kini Riana hanya bisa menahan sesak di dada. 


Usai memulas salep Brian menepikan mobilnya, agar bisa berbicara dengan nyaman, ia memutar posisi duduknya hingga menghadap Riana yang berada di sebelah kanannya, mengusap perlahan pipi yang datar, karena si empunya sedang cemberut tanpa senyuman, sungguh berbeda ketika mereka menikmati ice cream vanilla satu  jam yang lalu.


"Hei kenapa? Sejak tadi wajahmu cemberut?" Brian bertanya dengan suara lembutnya, "kenapa juga kamu menyebut nyebut mantan? Kamu sedang cemburu?"


"Diiih mana ada? Nggak banget yah kalo aku cemburu sama mayat." Elak Riana tak terima.


Dan selalu tampak menggemaskan di mata Brian, yang kini mulai terpikat dengan wajah istrinya kala sedang marah dan cemberut tak jelas.


Brian tersenyum geli, sungguh Riana tak memungkiri, jika dalam kondisi seperti ini. Suaminya terlihat berlipat-lipat kali lebih tampan, "cemburu juga gak papa, aku senang, karena itu artinya kamu mulai merasa memiliki ku, tak rela jika aku masih memikirkan mantan, apalagi membawamu mendatangi makamnya."


Ingin rasanya Riana menyumpal mulut suaminya, karena sudah berbicara asal, "haduuuhhh … jangan ke ge er an," 


"Gak papa kalau belum cemburu, aku sudah berjanji akan menunggu, jadi aku bisa bersabar, tapi …"


Brian menunggu, seraya mengamati perubahan mimik wajah Riana.


"Kamu boleh percaya atau tidak terserah, tapi … sepertinya aku mulai nyaman di dekatmu, melihatmu tertawa aku bahagia, melihatmu cemberut dan ngomel tak jelas justru membuatku semakin senang, bahkan rasanya nya sungguh aneh jika tidur tak memelukmu, melihat wajahmu ketika tidur membuat dadaku berdebar debar tak karuan, aku sangat takut dan khawatir ketika mendengar kabar kamu pingsan, hingga membuatku blingsatan berlari seperti orang gila karena ketakutan, dan aku sangat marah, tak rela jika ada laki laki lain menatapmu …" Brian menggenggam kedua tangan Riana, "sepertinya aku sudah jatuh cinta padamu …"


Deg 


Deg


Deg


Secepat inikah? 


Apakah Riana harus tertawa bahagia?


Tidak


Riana justru tersenyum canggung dan Brian sangat memaklumi hal itu, karena ia sendiri tak menyangka bisa secepat ini merasakan perasaan ini, Brian melabuhkan kecupan di kening Riana, pelan lembut dan hening sesaat ketika ia menghirup dalam dalam aroma rambut Riana, yang kini mulai memikat indera penciumannya.


Riana memejamkan mata sesaat, suka atau tidak hatinya pun mendadak menghangat, tapi ia sendiri masih ragu dengan hatinya yang kacau balau.

__ADS_1


Perjalanan kembali berlanjut, setelah Brian mengakhiri kecupan dan mengacak pelan mahkota sang istri.


"Kita mau ke mana?" Tanya Riana ketika melihat jalan yang mereka lalui bukan jalan menuju kediaman mereka.


"Ke suatu tempat, kita menyepi sesaat, anggap saja honeymoon," jawab Brian santai.


"Kenapa mendadak sekali, aku bahkan tidak bawa baju ganti." 


"Aku sudah meminta pelayan di sana menyiapkan baju ganti untuk kita, tapi mungkin tidak akan berguna." 


"Maksudnya?" 


Brian tak menjawab, tapi memberikan kerlingan nakal penuh maksud, dan dengan polosnya Riana bahkan masih tak mengerti maksud yang disampaikan Brian padanya.


Mobil mendekati sebuah rumah bergaya klasik, bangunan itu sepertinya sudah tua tapi tetap terawat apik, keluarga Gustav Agusto, selalu memelihara aset peninggalan bersejarah bagi mereka, bangunan ini merupakan tempat tinggal kakek buyut Brian, keturunan ke empat Gustav Agusto, alias orang tua dari kakek buyut Albert Gustav Agusto, karena itulah rumah ini masih dijaga dan dirawat dengan baik oleh para pelayan yang ada di sana.


(Jangan tanya berapa duwit yang mereka pake untuk merawat bangunan tua tersebut, walaupun bangunan itu hanya di tempati para pelayan, karena orang orang kaya kadang memiliki kebiasaan di luar nalar 😁 misalnya sebuah pemakaman mewah untuk seekor ikan hias 🤪 atau bahkan memberikan harta warisan untuk seekor kucing peliharaan 😱)


Mendadak Riana mencengkram erat lengan Brian, ketika mobil terparkir sempurna di halaman rumah tersebut.


"Kenapa?"


"Entahlah, tiba tiba aku merasa tak nyaman berada di sini." Jawab Riana, seraya mengedarkan pandangan dari dalam mobil.


"Mungkin hanya perasaanmu saja, ada aku di sini bersamamu, tenang saja yah." Brian berusaha menenangkan Riana yang sikapnya mulai terlihat aneh.


Riana menatap wajah Brian sesaat, kemudian mengangguk pelan.


Brian turun terlebih dahulu, kemudian berjalan ke sisi lain mobilnya guna membukakan pintu untuk Riana.


Riana menyambut uluran tangan Brian, walau berusaha tenang, tapi tangannya mulai keluar keringat dingin.


Brian membawa Riana ke pelukannya, kemudian mereka berjalan bersama menuju pintu utama.


.


.


.


Nah kan ada apa lagi??

__ADS_1


tanda cinta nya jangan lupa gaeeesss


sarangeeeeeeee


__ADS_2