Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 48


__ADS_3

BAB 48


Orang itu menghentakkan kaki nya, kala melihat mobil Brian terparkir di area rumah sakit, lagi lagi ia dibuat cemburu, tadi sore Brian berlari seperti orang kes3t4nan, meninggalkan ruangannya, bahkan tak menitipkan pesan apa apa, beberapa jam kemudian ia baru mendapatkan kejelasan informasi dari Fabiana yang kebetulan membereskan ruang kerja Brian, bahwa Riana pingsan di rumah sakit, dan Brian terlihat sangat mencemaskan wanita yang kini sedang mengandung anaknya.


Sepanjang pengetahuannya, Brian belum bisa berpaling dari Alicia, tapi kini … fakta mengatakan sebaliknya, yang pertama berita kehamilan, disusul kemudian pernikahan, beberapa hari lalu menemani acara ngidam Riana, kini menemani Riana di rumah sakit, lalu berikutnya kesakitan apalagi yang harus dia terima sebagai kekasih gelap Brian?, apakah berikutnya adalah fakta bahwa Brian mulai jatuh cinta pada istrinya, dan dia selamanya hanya akan tersembunyi dari kehidupan Brian.


“Tidak, ini tidak bisa dibiarkan, apakah terornya kemarin tak berefek apa apa?”


“Tunggu saja terorku berikutnya.”


.


.


.


Pagi datang, aktivitas di rumah sakit berjalan seperti biasa, jam 3 dini hari, infus di tangan Riana sudah dilepas oleh salah seorang perawat, dan Riana tak menyadarinya, karena ia terlelap nyaman di pelukan suaminya, setelah semalam mereka berdebat, dan berakhir Riana menerima hukuman ringan dari Brian, perlu waktu cukup lama hingga akhirnya Riana bisa kembali terlelap di dekat Brian yang bersikeras ingin tetap berbaring di samping Riana di bed pasien.


Dan Grace hanya bisa mengepalkan genggaman tangannya, melihat sang atasan tidur nyaman memeluk istrinya, sangat nyaman hingga belum membuka mata, padahal waktu sudah menunjukkan jam delapan tiga puluh pagi.


Grace dengan penampilan maksimal, anggun dan menggoda seperti biasa, mendatangi ruangan VVIP tempat Riana di rawat, ia menerima instruksi untuk membawa beberapa File yang nanti akan menjadi materi pertemuan Brian dengan salah satu kliennya, rapat yang seharusnya dilakukan secara langsung, harus Brian lakukan secara online karena ia tak mau beranjak terlalu jauh meninggalkan istrinya yang harus menginap di rumah sakit.


Brak !!!


Grace membanting tumpukan berkas dan file yang ia bawa dari kantor ke atas meja, sengaja, agar Brian dan Riana segera membuka matanya, sungguh ia sudah lelah menunggu dan mengerti Brian, kini ia akan membuat Brian melihat kehadirannya.  


Brian dan Riana kompak membuka mata, dan mencari sumber suara yang baru saja membangunkan mereka.


Brian memicingkan matanya, ketika melihat Grace berada di ruangan yang sama dengannya.


“Grace?”


“Maaf tuan, tiba tiba kertas kertas ini tergelincir dari genggaman tangan saya.”


Tapi Brian tak peduli, ia beralih menatap Riana yang juga sudah membuka mata, tak sengaja netranya menatap pemandangan indah di leher Riana, Brian senang sekali sudah membuat tanda bintang di sana, ini hanya peringatan agar Riana tak lagi memancing emosinya.


Melihat brian memperhatikannya, Riana justru memalingkan wajahnya, “Pergilah, sekretarismu menunggu, aku bisa sendiri, nanti aku akan meminta Viona, Rodrigo dan Armand membantuku bersiap untuk pulang.”


Grace senang sekali mendengar perkataan Riana, hampir saja ia melonjak kegirangan jika Brian tidak bersuara.

__ADS_1


“Aku tidak akan kemana mana, karena rapat siang ini akan dilakukan online, di kamar ini, sambil menunggu keputusan dokter kandungan yang akan memberimu izin untuk pulang.” Brian mendidih membayangkan ada Pria lain membantu sang istri.


Bukan hanya Grace yang mendadak muram, tapi Riana pun tak kalah terkejut mendengar penuturan Brian, tapi ia tak terlalu menampakkan keterkejutannya.


“Terserah, tolong bawakan sarapanku kemari, aku lapar.” pinta Riana, tanpa sadar membuat seseorang semakin jengkel.


Dengan dibantu Brian, Riana duduk kemudian Brian menaikkan sandaran punggung untuknya, dan barulah Riana menyadari jika jarum infus di tangannya sudah hilang.


Riana mencari cari keberadaan karet rambutnya, “kemana karet rambutku?” tanya Riana pada Brian.


Brian membuka laci nakas, tempat ia menyimpan karet rambut Riana, kemudian menyerahkannya pada sang istri, Riana menyambar karet rambut tersebut, tak lupa mengucap terima kasih. 


Fakta bahwa Brian sampai hafal letak karet rambut istrinya, sungguh membuat luka hati Grace semakin parah, dan kini justru tersiram air garam.


Sementara Brian membawakan sarapan Riana, Grace hanya jadi penonton di sana, menjadi seseorang yang tak dianggap keberadaannya.


Ketika Riana mulai mengangkat rambut tinggi rambutnya, nampaklah tanda kepemilikan di leher dan tulang selangka nya, walau di lihat dari jarak agak jauh, tapi tanda merah itu tercetak dengan jelas, kini lengkap sudah penderitaan Grace, darahnya semakin mendidih melihat pemandangan leher Riana tersebut, bibir Grace bahkan bergetar, ingin rasanya ia menjambak rambut dan menyayat seluruh tubuh Riana agar Brian jijik melihat tubuh istrinya yang cacat.


Tapi lagi lagi tak ada yang menghiraukan keberadaan Grace, Brian bahkan sibuk membantu Riana menghabiskan sarapannya, padahal ia harus segera bersiap untuk rapat, kegiatan itu berlangsung dengan sedikit perbincangan akrab, mereka seolah lupa dengan perdebatan semalam.


“Selamat pagi tuan dan nyonya …” sapa Fabian yang baru saja tiba, di tangannya ada beberapa paper bag.


“Selamat pagi Fabian, terima kasih dan maaf sudah merepotkanmu.” Riana menjawab sapaan Fabian, karena yakin Fabian membawakan titipan paman Robin untuknya dan juga Brian.


“Lagi pula itu memang tugas Fabian, kamu tak perlu merasa bersalah, sampai ingin mentraktirnya begitu,” Brian tak suka mendengar ungkapan terima kasih Riana untuk pria lain, walau itu pada Fabian sang asisten, "Seperti dia sudah menyelamatkan dunia saja," Gerutu Brian.


.


.


.


Rapat benar benar berlangsung secara online di ruangan Riana, bahkan dokter kandungan yang datang berkunjung harus berbicara bisik bisik agar suaranya tak sampai mengganggu rapat sang suami, seperti yang Brian katakan semalam, Riana sudah diizinkan pulang siang ini, dan wajib istirahat selama seminggu ke depan, karena dokter sangat mengkhawatirkan jiwa kerja keras Riana yang kadang terlalu mengkhawatirkan pasien pasiennya tanpa peduli pada kesehatan nya sendiri. 


Akhirnya, seseorang yang Riana tunggu kehadirannya sejak Tiga hari yang lalu tiba juga.


Armand membawa berkas laporan yang Riana inginkan, ia segera menyerahkan berkas laporan tersebut pada Riana, dan alangkah terkejutnya ketika ia membaca isi laporan panjang tersebut, hingga berakhir pada kesimpulan siapa pelaku sebenarnya, inilah yang Riana suka dari Hans, selalu terperinci dan teliti.


“Kamu sudah membacanya?” Riana bertanya pada Arman dengan suara lirih, agar pembicaraanya tak terdengar hingga ke telinga Brian, karena Brian sama sekali belum mengetahui perihal paket misterius yang ia terima.

__ADS_1


Armand hanya mengangguk mendengar pertanyaan Riana. 


“Jalang itu, sudah berani mengibarkan bendera peran padaku.” desis Riana seraya meremas kertas di tangannya, pada saat yang sama Grace menatap kearahnya dengan tatapan menantang.


Riana tersenyum smirk, kemudian sengaja membetulkan letak kacamatanya menggunakan jari tengah, kemudian senyum di bibir Riana berganti dengan senyum ejekan, mewakili perasaannya, bahwa ia sama sekali tak takut dengan teror yang Grace kirimkan.


Grace marah melihat Riana yang mengacungkan jari tengah ke arahnya, tapi ia tak bisa berbuat apa apa untuk membalasnya.


Kebetulan di hadapan Riana ada buah apel yang belum dikupas, Riana mengambil pisau buah dan mulai melakukan gerakan mengupas buah. 


“Armand … apa kamu tahu bagaimana cara membuka jantung manusia?” tanya Riana dengan suara sedikit lebih keras.


Arman menggeleng.


“Caranya sungguh mudah, pertama sayat kulit dada dengan pisau.” Riana mulai memperagakan gerakan menyayat kulit manusia menggunakan buah Apel sebagai contoh.


“Lapisan pertama, lapisan kedua, hingga beberapa lapisan termasuk ketika harus menggunakan gergaji tulang, agar kita bisa menjangkau letak jantung yang terlindung tulang dada.” 


Grace mulai gemetar, mendengar penjelasan Riana, ‘Mungkinkah Riana tahu siapa yang mengirimkan bangkai kucing tersebut?’ tanya Grace dalam hati, ia mulai tak fokus pada rapat yang sedang berlangsung.


“Didalam jantung ada banyak syaraf dan pembuluh darah yang saling terhubung, jika aku ingin membunuh seseorang, aku tinggal memotong salah satu dari syaraf tersebut, dan BLAAMM … pasien bahkan tak menyadari bahwa ia sudah tewas seketika.”


Riana sungguh puas rasanya melihat wajah Grace yang kian memucat.


“Karena apa Armand? karena memutilasi tubuh manusia, akan sangat melelahkan dan membutuhkan banyak waktu,” 


Jangankan Grace, Armand saja merasa ngilu kala mendengar ancaman Riana, Rupanya sang nyonya muda mengancam musuhnya secara terang terangan, tanpa rasa takut sama sekali, sungguh elegan dan berkelas karena itu sudah menjadi makanan sehari harinya.


.


.


.


Kalo dipikir pikir, Riana leih sadis ternyata yah ? Hahaha 😂


Udah mah terang terangan kasih hadiah jari tengah, kini pake ngomongin mutilasi, dan gergaji di kamar operasi.


Udah lah Grace, fix ini mah, kamu salah pilih lawan

__ADS_1


plis gaes, jangan lupa tinggalkan vote, sajen dan tanda cinta, biar othor tetap semangat untuk semedi cari ide buat menghibur kalian semua


Sarangeeeeee 💙🧡💜


__ADS_2