
BAB 83.
Dengan segala pertimbangan, Rumah sakit adalah tempat bersembunyi paling aman saat ini, bodo amat dengan ancaman papa Richard, Brian tetap akan berjuang walau Riana menolak, termasuk diantaranya, ia tak akan pernah mendaftarkan gugatan perceraian, bahkan ia akan menyewa pengacara baru, jika seandainya papa Richard mendaftar gugatan perceraian di Jakarta, tapi itu tidak mungkin karena pernikahan mereka terdaftar di Singapura.
“Fabian kembalilah ke Singapura, untuk sementara kamu yang akan urus pekerjaanku, termasuk kelanjutan kerja sama Be.Tech dengan Orland Ice.”
“Lalu, tuan bersama siapa disini?” Tanya Fabian khawatir, “aku akan memanggil beberapa pengawal, agar ada yang mengawal anda di sini.”
“Tidak perlu, sebenarnya papa mertua orang yang baik, ia hanya terluka, karena papaku yang tega menyembunyikan kenyataan masa lalu ku bersama Riana.”
Fabian terdiam, ia tak mengerti apa yang Brian bicarakan, tapi enggan bertanya setelah melalui beberapa kejadian yang cukup membuatnya terkejut, ia hanya berharap, semoga sang tuan bisa berjuang dan bertahan hingga akhir, demi cinta sejatinya.
“Baik tuan, besok saya akan kembali, saya harap anda tidak menyerah, saya sangat berharap anda berbahagia.” ucap Fabian tulus.
Brian menatap asistennya, ia tahu pasti berat sekali bagi Fabian, bertahun tahun mendampinginya, entah berapa kali Fabian menjadi korban kemarahannya, namun fabian tak pernah lelah mengingatkannya, walau berakhir, dia sendiri yang jadi korban kemarahannya.
.
.
.
Hari ini kak Riana ke rumah sakit, pemeriksaan rutin kandungannya -Gadisya-
Jam berapa Sya? -Brian-
Jam 9 pagi -Gadisya-
Baiklah, aku akan melihatnya dari jarak aman -Brian-
__ADS_1
Itu adalah berita terbaik yang Brin dengar pagi ini usai bangun tidur, ia bergegas menuju kamar mandi, kemarin sebelum meninggalkan Brain seorang diri, Fabian sudah membelikannya banyak pakaian ganti, serta beberapa kebutuhan lainnya, termasuk diantaranya mengurus administrasi rumah sakit, yang pastinya akan membuat Richard geram, karena jika sudah demikian ia tak bisa mengusir Brian dari zona nyamannya.
Walau Fabian sudah membelikannya banyak pakaian ganti, tapi Brian tetap menggunakan baju pasien, lebih nyaman menurutnya, dan di hari ke empat ini, Brian tak menyadari dirinya mulai menjadi buah bibir para perawat, desas desus bahwa Brian adalah menantu Direktur Utama, mulai ramai di perbincangkan, karena malam ia datang ke rumah sakit, ada Riana yang jelas jelas mengakui bahwa dia adalah istri pasien, tapi sungguh aneh karena selama dirawat, tak ada satupun keluarga William yang datang berkunjung, membuat keberadaannya kini dianggap gila karena menghabiskan banyak uang hanya untuk menginap di ruangan VVIP.
#karena itulah namanya CRAZY rich.
Tanpa diketahui siapapun, Berkat keahlian yang ia miliki, serta pekerjaan nya dan memang Gustav.Inc bergerak di bidang informasi dan telekomunikasi, semalam Brian berhasil menyadap kamera CCTV rumah sakit, dan kini layaknya seorang petugas keamanan, Brian tengah mengawasi gambar pintu utama serta pintu darurat yang biasanya dipakai keluar masuk pasien khusus sudah ada di hadapannya, ia tinggal menunggu informasi dari Gadisya kapan Riana tiba, dan pintu sebelah mana yang ia lalui.
Tepat seperti dugaannya, beberapa saat kemudian, sebuah mobil berhenti di pintu khusus, yang memang disediakan untuk pasien khusus yang membutuhkannya, yang pertama Brian lihat adalah mama Nisya, dan disusul kemudian wajah yang beberapa hari ini tak ia lihat, bahkan tak lagi bisa dihubungi, karena istrinya sudah memblokir nomornya, wajah cantik itu tampak pucat seperti tak teraliri darah, tatapan matanya kosong, seperti tak ada gairah kehidupan, berjalan bagai robot yang mengikuti kemana arah kaki mama Nisya membawanya, hanya pancaran kehampaan yang tergambar di wajah Riana.
Brian bergegas menutup laptopnya, ia berjalan cepat menuju ruang praktek Gadisya, namun apa daya, semangatnya layu seketika manakala melihat betapa banyaknya pengawal yang mengikuti Riana dan mama Nisya, walhasil Brian hanya bisa melihat sang istri dari kajauhan.
Rasanya berdenyut nyeri ketika Riana tak menyadari kehadirannya, padahal biasanya ia berada di dalam ruang periksa, menggenggam tangan Riana mendengarkan denyut jantung baby, serta melihat sudah seberapa besar ia kini, dan sekarang ia hanya mampu menunggu, karena selain larangan papa Richard, Riana pun tak ingin berdekatan dengannya.
Brian meneteskan air matanya, tangannya gemetar mencengkram erat ponsel di tangannya.
“Kak … apa kabar?” sapa Gadisya pada Riana yang terlihat muram seakan tak bersemangat menjalani hidupnya.
Riana hanya tersenyum, ketika menjawab pertanyaan Gadisya, ia mulai kembali ke mode awal seakan akan peristiwa penyekapannya baru terjadi kemarin, enggan berbicara, cenderung diam, dan tak ingin didekati banyak orang, kecuali pengawal yang sengaja di siapkan Richard untuk memastikan keselamatannya, itu pun dia meminta agar jark para pengawal tak terlalu dekat dengannya.
Karena itulah, sepanjang perjalanan ia hanya diam manakala mama Nisya menggenggam tangannya.
“Terima kasih Sya, sudah merawatku dengan baik.” jawab Riana pelan, namun di seberang sana luluh lantah hati Brian kala mendengar suara lirih yang beberapa hari ini ia rindukan, ternyata sesakit inilah menahan sebuah kerinduan, nampak tapi tak dapat diraih, terdengar namun tak terlihat dalam pandangan.
“Kakak sangat hebat, bersabarlah, tak lebih dari dua bulan kita akan menyambut kehadiran baby, apakah ia masih bergerak aktif?”
“Iya … sangat, sepertinya tak sabar ingin menyapa dunia hahaha …” Riana mencoba tertawa canggung, “Ia tak bisa tenang ketika malam, karena biasanya hanya elusan Brian yang mampu menenangkannya,” lanjut Riana dalam hati.
“Belakangan Riana hanya makan sekedarnya Sya, kadang bibi harus membuatkannya juice supaya ada nutrisi tambahan.” keluh mama Nisya.
__ADS_1
“Itu cukup bi, tak papa asal mau makan tiga kali sehari, tak masalah jika porsinya kecil.” Jawab Gadisya mencoba menenangkan keresahan mama Nisya. “Ayo kak, sekarang saatnya melihat si kecil … kita lihat seberapa besar dia tumbuh hingga saat ini.”
Perlahan Gadisya membimbing Riana agar menaiki brankar pasien, untuk melakukan pemeriksaan, Gel dingin itu membantu pergerakan transducer di atas perut Riana, kali ini Gadisya sengaja menggunakan USG 4 dimensi agar wajah baby terlihat jelas.
Riana tak dapat membendung air matanya, wajah mungil itu begitu mirip Brian, hanya menyisakan hidung untuk Riana, entah seperti apa warna rambutnya, apakan kecoklatan, atau hitam legam seperti sang daddy, selebihnya seakan akan dia ingin mengatakan bahwa ‘aku anak daddy’.
‘Yah … Riana inilah kenyataannya, baby memang anak Brian, suka atau tidak kamu harus terima, sebesar apapun Brian membencimu, tak mengurangi fakta bahwa baby adalah benih yang Brian titipkan di rahimmu’. monolog Riana dalam hati.
“Mau tahu jenis kelaminnya?”
Riana menggeleng, “tidak, aku ingin kejutan saja,” jawab Riana yang tentunya membuat Brian tak terima, karena ia begitu penasaran dengan jenis kelamin baby, apakah akan cantik seperti mommy nya, atau tampan seperti daddy nya.
“Baiklah, padahal ini jelas sekali terlihat.” goda Gadisya mencoba menggoyangkan pendirian Riana.
“Aku tak akan tergoda Sya …”
“Hahaha … ketahuan yah kalau aku memancingmu?”
“Ya … jelas sekali.” jawab Riana agak sedikit ketus tapi Rileks.
Disudut ruangan lain di rumah sakit, Brian tersenyum dalam tangisnya, ketika mendengar suara tawa renyah Riana, tak apa lah, jika sang istri menginginkan sebuah kejutan di hari kelahiran baby.
.
.
.
💛💛💛
__ADS_1