
BAB 70
“Hei kamu pikir aku berbohong?” Brian tak terima dengan protes yang diajukan Riana, “Sini, aku bersihkan biar tidak terlalu menor, berbahaya,” dengan gerakan cepat, Brian meletakkan telapak tangan kanannya di tengkuk Riana, sementara tangan kirinya tetap memeluk pinggang sang istri agar tubuh mereka tetap menempel erat, tentu tetap memperhatikan keberadaan baby yang ada diantara mereka, dan …
“Berbbbh …” Protes Riana terhenti ketika Brian membersihkan Lipstik Riana dengan cara menyatukan bibir mereka, Brian benar benar tukang modus sejati, ia bahkan tak memberi kesempatan pada Riana untuk mengajukan protes, sebaliknya ia begitu menikmati kudapan paginya, lembut mengalun, hangat, dengan diselingi suara kecapan mesra, dan pelukan yang kian erat.
Kudapan pagi mereka baru berakhir setelah beberapa saat, dan keduanya kehabisan nafas, Brian menyatukan kening mereka, terlihat sekali ia tengah kesulitan mengendalikan pertahanan dirinya, “rasanya aku semakin tak sabar menunggu,”
“Menunggu apa?” pertanyaan polos Riana meluncur begitu saja.
“Kembali bercinta denganmu.” Bisik Brian dengan pandangan berkabut gairah.
Riana tersenyum canggung, ada rasa bersalah, karena hingga detik ini ia masih meminta Brian menunggu, karena Riana benar benar belum berhasil meyakinkan perasaannya, tapi sepertinya Brian benar benar bertekad kuat, menunggu hingga Riana mengatakan “IYA”.
Ketakutan itu masih ada, terpampang jelas, begitu nyata, walau penghalang terbesar sudah tak ada, dan Brian benar benar menunjukkan kesabaran dan perhatian penuh padanya, namun tak serta merta menyingkirkan kenangan menyakitkan yang pernah terjadi.
.
.
.
Brian berdiri di depan sebuah rumah sakit kejiwaan, tujuannya bertemu dengan dokter John, dokter yang dulu menanganinya ketika Brian masih kecil.
Dua minggu berlalu sejak, dirinya dan Riana pulang dari berlibur di rumah peristirahatan keluarga Gustav Agusto.
Selama dua minggu itu pula, Brian kerap bermimpi, bahkan kadang berhalusinasi melihat bayangan sepasang anak kecil sedang bermain, tapi semakin lama mimpi dan halusinasinya terlihat semakin nyata, terutama sejak paman Robin mengatakan bahwa gadis dalam halusinasinya adalah Riana.
Yah … akhirnya … setelah melalui banyak pertimbangan, kali ini Brian benar benar memberanikan diri menyingkap tabir masa lalunya, berdasarkan cerita paman Robin, Brian kembali membuka lembar demi lembar berkas yang berkaitan dengan masa lalunya, serasa tersambar petir ribuan volt, fakta demi fakta terungkap, beberapa hasil rekam medis, serta pengamatan dari sang ahli yang menanganinya, Brian nyaris didiagnosis mengalami Multiple Personality Disorder atau Kepribadian ganda, tapi syukurlah itu tidak terjadi, hanya saja Brian akan cepat lepas kendali ketika ada seseorang yang memancing amarahnya, dan saat itu yang berhasil membuat Brian tenang hanya lah si gadis kecil yang Brian kenal tanpa sengaja, gadis kecil yang menurut paman Robin adalah wanita yang kini menjadi istrinya, itulah satu satunya yang ingin Brian ingat, memori masa kecilnya bersama Riana.
Karena Brian tak ingin lagi hanya melihat dalam mimpi, ia ingin mengingat apa yang pernah paman Robin ceritakan, ingatan itu seperti sedang bersembunyi, entah kapan akan menampakkan wujud aslinya, walau akhirnya kelak dia harus mengalami kesakitan yang teramat sangat, tapi masa lalu menyakitkan itu harus ia ungkap, agar ia pun bisa mengingat seperti apa hubungannya dengan Riana terjalin di masa lalu, sampai ia berkeinginan untuk menikahi Riana ketika mereka beranjak dewasa kelak.
Satu lagi alasannya adalah, kegelisahan Riana ketika mereka berada di rumah peristirahatan, istrinya itu bahkan ikut berhalusinasi melihat sepasang anak kecil yang sedang duduk di sudut ruangan, tapi anehnya, ketika bangun, Riana hanya menganggap halusinasinya tersebut sebagai mimpi yang akan berlalu.
Sungguh Brian tak ingin Riana tertekan andai mengetahui fakta masa lalu mereka, tak masalah jika fakta itu indah dan bahagia, andai ternyata fakta itu menyakitkan? tentu lain perkara, karena dalam mimpi Brian, sepasang anak kecil itu di bawa masuk dengan paksa ke dalam mobil, dan selanjutnya? tak ada yang tahu selain sepasang anak itu sendiri.
Bahkan paman Robin pun tak tahu apa yang dialami sepasang anak kecil tersebut, satu satunya saksi adalah diri mereka sendiri, dan sebelum Riana mengingat hal itu, Brian ingin berada di garda terdepan, memeluk dan pastinya menjadi benteng pelindung, yang harus bersiap kapanpun, memastikan bahwa yang di ingat Riana hanyalah kebahagiaan.
.
.
.
Setelah membuat janji sehari sebelumnya, akhirnya hari ini Brian mendapatkan no antrian spesial, karena Brian dahulu adalah pasien dokter John, jadi tak terlalu sulit mendapatkan nomor antrian.
__ADS_1
Ruangan serba putih dan seorang pria berusia awal enam puluhan menyambut kedatangan Brian, rambutnya sudah tak sepenuhnya berwarna hitam, tapi senyumnya tetap hangat dan membuat perasaan nyaman, setidaknya itulah yang Brian ingat.
Dokter John berdiri dan menyambut kedatangan Brian dengan senyum ramahnya.
“Lama tak bertemu anda tuan Gustav Agusto.” sapa dokter John.
Brian menyambut uluran tangan tersebut, dengan senyuman pula. “Sejujurnya, aku tak ingat seberapa banyak memori yang sudah saya lalui bersama anda dok.”
“Tentu saya sangat memahaminya, karena saat itu anda masih dalam kondisi shock hebat.”
“Tolong jelaskan dok, kenapa, ada apa, hingga saya tak memiliki memori masa kecil, dan dalam salah satu arsip rekam medis yang saya baca, anda hampir mendiagnosis saya mengalami gangguan kepribadian ganda.”
“Saya tak tahu harus memulai dari mana, tapi … semua ini bermula, karena di masa kecil, ada seseorang yang sengaja menyakiti semua yang anda sayangi …”
“Apakah benar seseorang itu adalah pamanku sendiri?” tanya Brian penasaran.
“Yah anda benar, dan itu sangat efektif, mengubah anda, dari bocah yang manis dan periang, menjadi bocah yang pemurung dan mudah tersulut emosi.”
.
.
.
“Cantik nya si bumil …” sapa Viona dari arah belakang, serta langsung memeluk pundak Riana.
Riana tersenyum menatap wajah Viona yang kini berada sangat dekat dengan wajahnya. “Sejak dulu aku cantik, dan menggemaskan.”
“Apa Brian juga mengatakan kata kata ‘Menggemaskan’ untuk memujimu?”
“Tidak juga sih, tapi sejak dulu aku memang menggemaskan,” gerutu Riana.
“Huuuu … Sepertinya aku mula mencium aroma cinta, apa sekarang kamu mulai mencintai Brian?”
Blush … mendadak wajah Riana memanas, ia sungguh malu ketika Viona tiba tiba membahas masalah cinta.
“Tidak adakah pembahasan yang lain?” sahut Riana menunduk malu.
“Tuuuh kan, apa ku bilang, kamu beneran sudah jatuh cinta …” Pekik Viona keras, tapi dengan cepat Riana membungkam mulut Viona.
Viona tertawa senang melihat kepanikan Riana, “Melihat kepanikanmu, aku rasa yang kukatakan benar adanya,”
“Entah, aku masih bingung mendeskripsikan perasaanku.”
“Apa Brian memperlakukanmu dengan baik?”
__ADS_1
Riana mengangguk.
“Aku juga melihat kekhawatiran dalam sorot matanya, ketika kamu pingsan beberapa minggu yang lalu.”
“Dan karena kejadian itu pula, dia jadi berlipat lipat kali lebih perhatian padaku dan baby, sampai sampai aku takut, jika semua yang Brian lakukan memiliki maksud terselubung,”
Yah itulah kegelisahan yang hingga kini masih menggeliat dalam dada Riana, rasa takut, takut mempercayai Brian, takut membuka hatinya untuk Brian, walaupun ia merasa benar benar nyaman jika berdekatan dengannya.
“Iya aku tahu, perasaanmu pasti bimbang sekali, bagaimanapun hatimu pernah terluka dan disakiti, pasti berat sekali ketika kamu harus kembali berhadapan dengan pria yang sama,”
“Kami bahkan tidur di kamar dan ranjang yang sama.”
Viona terbelalak kaget, karena menurut penuturan Riana, di pernikahan mereka terdahulu, Brian tak pernah tidur di kamar dan ranjang yang sama dengan Riana, ia hanya mendatangi Riana ketika hendak melampiaskan hasratnya, “apa kalian juga berhubungan intim?” tanya Viona terus terang, dia sudah sampai pada tahap kepo luar biasa.
Riana menggeleng. “Kami melakukan semuanya kecuali yang satu itu.”
“Dan Brian tidak marah?”
“Tidak, dia bilang akan menunggu, sampai aku benar benar membuka hati untuknya, dan mengizinkan dia menjadi suamiku seutuhnya, amazing kan?”
“Iya, sangat amazing untuk ukuran seorang Brian, Aku penasaran, bagaimana kalian bisa menahannya.” Viona semakin berani mengungkapkan rasa penasarannya.
“Sudahlah, jangan membicarakan urusan kamarku, ayo bicara yang lain.” pinta Riana yang wajahnya kini sudah merah padam menahan malu.
“Tidak, aku masih penasaran.” rengek Viona, namun Riana mengabaikan nya.
Mereka kini duduk berhadapan di meja kantin rumah sakit, makanan utama dan tak ketinggalan dessert manis yang kini menjadi makanan favorit Riana.
Wajah Riana yang tersenyum bahagia, bahkan mendengar bahwa Brian banyak berubah membuat Viona terharu, hingga ia pun enggan kembali menunjukkan rasa penasarannya.
“Lanjutkanlah Ri, aku senang melihatmu kembali tersenyum seperti dulu, lakukan yang menurutmu benar, karena yang akan menjalani pernikahan ini adalah kalian, walau aku belum sepenuhnya menyukai suamimu, tapi aku berharap Brian benar benar berubah,”
“Thank you …”
.
.
.
kembang kopi vote jangan lupa di tinggalkan ...
.
sarangeeeeeeee 😘
__ADS_1