Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Bertemu Darell


__ADS_3

"Bagaimana?!" tanya Anan saat melihat Bimo duduk di tempat biasa mereka berkumpul.


"Gagal." jawab Bimo lesu.


"Kok bisa?" Anan tak percaya.


"Itulah, aku juga heran. Apa benar kau sudah merusak kurta mereka?" Bimo memandang Anan tajam.


"Sudah. Aku yakin kurta merah itu tak mungkin bisa dipakai lagi." jawab Anan mantap.


"Tapi nyatanya tadi, Bara memakainya dan tampak tak ada kerusakan pada kurta merah itu."


"Ha! Nggak mungkin. Aku sudah menyobeknya dengan gunting sampai tak berbentuk." Anan meyakinkan Bimo.


Mereka terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Lalu?!" tanya Anan.


"Apa?!" balas Bimo


"Apa yang akan kamu lakukan?"


"Sementara aku tidak akan melakukan apa-apa. Mungkin kita harus lebih sering mempengaruhi Fahri. Secara dia senior dan biasanya dialah yang selalu ustadz Huda ajak kemana-mana. Kalau dia sudah terpengaruh, mudah buat mendepak dua orang itu." Bimo menjelaskan.


Anan mengangguk tanda ia mengerti rencana Bimo.

__ADS_1


Sementara itu, Ustadz Huda, Bara dan Banyu sampai di masjid tempat mereka akan melakukan tausiah. Tuan rumah dengan ramah menyambut kedatangan ketiga pria itu.


"Assalamu'alaikum. Kita jumpa lagi." Rizki hadir diantara rombongan tuan rumah yang menyambut kedatangan Ustadz Huda, Bara dan Banyu. Ia mengulurkan tangan pada Ustad Huda namun memandang remeh dan tidak suka pada Bara dan Banyu.


"Hud, kenalin. Ini Darell. Pemuda yang aku ceritakan padamu itu." Rizky mengenalkan seorang pemuda yang usianya dua tahun di atas Bara dan Banyu. Pemuda yang sangat tampan.


"Darell!" Darell menjabat tangan Ustadz Huda sambil menyebutkan namanya. Kemudian ia hendak mengulurkan tangan ke arah Bara dan Banyu namun Rizky mencegahnya dengan mengajak Darell dan Ustadz Huda masuk ke ruangan khusus.


Bara dan Banyu mengikuti dari belakang sambil berbisik.


"Sepertinya orang yang bernama Rizky itu tidak menyukai kita." bisik Bara.


"Iya. Aku juga merasakannya." jawab Banyu.


"Sepertinya karena Yasmin." tebak Bara.


"Silahkan kalian duduk di sebelah sini." seorang panitia mempersilahkan Bara dan Banyu duduk di tempat yang telah di sediakan untuk mereka.


Bara dan Banyu mengangguk sambil mengucapkan terimakasih lalu duduk.


Di depan mereka duduk Darell. Bara menatap tajam Darell. Ia tahu maksud Rizky mengenalkan Darell pada Ustadz Huda. Risky ingin Darell dijodohkan dengan Yasmine.


"Sudah lama kalian di pesantren?" Darell membuka percakapan.


"Baru beberapa bulan." jawab Bara pendek. Matanya masih menatap lekat Darell.

__ADS_1


Aku tidak perlu berkecil hati. Kalau dari tampang, aku tidak kalah. Ia hanya menang usia saja. batin Bara.


"Enak?" tanya Darell yang membuat Bara dan Banyu bingung.


"Maksudmu?" Bara meminta penjelasan.


"Tinggal di pesantren. Enak?" kembali Darell mengulang pertanyaannya.


"Enak." balas Bara singkat.


"Apa ada yang seusia aku di sana?" tanya Darell membuat Bara dan Banyu saling pandang.


"Ada. Seniornya kami. Namanya Fahri. Memang kenapa?"


"Bukan apa-apa." jawab Darell. "Apa semua yang tinggal di sana masih sekolah?" sambung Darell.


"Iya. Memang kenapa?" giliran Banyu yang bertanya.


"Apa kalau sudah lulus sekolah nggak boleh nyantri di sana?"


Bara dan Banyu saling pandang.


"Soal itu kamu bisa tanya pada Ustadz Huda nanti. Kami tidak bisa menjawabnya." balas Bara. Obrolan mereka terhenti saat MC memanggil Bara dan Banyu untuk ke panggung membacakan ayat-ayat Al Quran sebagai pembuka tausiah hari itu.


...💕💕💕...

__ADS_1


Siapa yang bisa menebak, siapa Darell sebenarnya?


__ADS_2