
"Sekali lagi maaf lo, pagi-pagi sudah bertamu. Lha tapi mau bagaimana lagi, lha wong saya bisanya pagi." ucap Hj Asnawi dengan logat jawanya yang kental.
"Tidak apa-apa, Pak Haji. Kebetulan juga saya sedang tidak terburu-buru."
"Silahkan Pak Haji. Dicicipi!" Anggi berkata sambil menyodorkan makanan agar dekat ke tempat duduk Hj. Asnawi.
"Tenang saja nyonya, pasti saya cicipin nanti. Tapi lebih dulu saya akan menyampaikan tujuan saya datang kemari. Jujur saya ingin menanyakan kelanjutan niat putra tuan dan nyonya terhadap putri saya." Haji Asnawi langsung menyampaikan tujuannya.
Langit menarik nafas panjang. "Kami belum bisa memastikan, Pak Haji. Masalahnya putra kami sekarang ini sedang berusaha menerima kondisinya pasca kecelakaan."
"Ah iya..boleh saya menemuinya?"
"Tentu. Mari saya antar!" Langit berdiri. Ia mendekati Haji Asnawi dan membantunya berdiri lalu bersama mereka melangkah ke kamar Banyu.
"Nyonya, saya akan menunggu di luar." pamit Bagas.
"Silahkan."
Bagas mengangguk hormat lalu ia meninggalkan ruangan itu menuju taman.
Di kamarnya, Banyu sedang duduk termenung di dekat jendela.
Aku bisa merasakan segarnya udara dan hangatnya mentari pagi, tapi aku tidak lagi bisa melihat keindahan cahayanya.
Bug
Banyu menghantamkan tangannya ke dinding.
Masa depanku hancur. Apa yang bisa kulakukan dalam keadaan seperti ini.
Banyu terus meratapi kondisinya. Ia baru bergerak saat mendengar pintu kamarnya ada yang membuka.
"Assalamualaikum." Langit dan Haji Asnawi mengucap salam bersamaan.
Banyu berjengkit kaget. Ia hafal suara mereka.
"Pak Haji." gumamnya.
"Assalamualaikum." Haji Asnawi mengulang salamnya karena tidak mendapat balasan dari Banyu.
"Wa..waalaikumsalam." Banyu tergagap. Perlahan ia berusaha mendekat ke sumber suara.
Langit mengeraskan rahangnya dengan tangan terkepal menahan rasa sedih melihat bagaimana Banyu berjalan dengan meraba-raba.
"Tuan, dimana aku bisa duduk?" tanya Haji Asnawi menyadarkan Langit dari keterpakuannya terhadap Banyu.
"Oh, mari!" Langit membimbing Haji Asnawi mendekat ke Banyu.
"Nak, ulurkan tanganmu!"
Banyu mengulurkan tangannya. Langit mengarahkan tangan Banyu agar bisa menjabat tangan Haji Asnawi. Banyu membawa tangan Haji Asnawi ke wajahnya lalu mencium punggung tangan pria itu.
"Barokallah." Haji Asnawi meraba kepala Banyu.
"Mari Pak Haji." Langit membawa Haji Asnawi ke kursi dekat meja kecil yang ada di kamar Banyu. Setelah Haji Asnawi duduk, Langit mendekati Banyu dan membantunya agar bisa duduk di dekat Haji Asnawi.
"Tuan Langit bisa tinggalkan kami sebentar!" pinta Haji Asnawi.
"Tentu. Silahkan. Saya akan menemani nak Bagas di luar." jawab Langit lalu keluar dari kamar Banyu.
Langit menutup pintu kamar Banyu perlahan. Ia tidak langsung beranjak dari depan pintu itu melainkan diam sebentar untuk berdoa.
"Ya Allah, semoga engkau memberi pencerahan kepada putra hamba melalui hambamu yang bernama Haji Asnawi. Aamiin."
__ADS_1
Selesai berdoa, Langit perlahan meninggalkan kamar Banyu. Ia kembali ke ruang tamu namun ia tidak melihat Anggi ataupun Bagas di sana.
"Dimana mereka?" gumam Langit. Ia lantas pergi ke kamarnya.
Di kamarnya, ia melihat Anggi sedang menemani Angkasa.
"Rohi, kamu kok disini? Bagas dimana?" Langit duduk di belakang Anggi lalu menyandarkan dagunya di bahu sang istri. Tak lupa tangannya melingkar manja di pinggang Anggi.
"Dia di taman. Ada apa? Manja begini pasti ada sesuatu?" tebak Anggi sambil mengacak rambut Langit perlahan.
"Nggak papa. Tadi aku melihat Banyu berjalan sambil meraba-raba. Sedih. Mungkin karena belum terbiasa." gumam Langit. Ia lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Anggi.
"Sabar By. Ini cobaan buat kita. Hubby sendiri di sini, Haji Asnawi hubby tinggal berdua sama Banyu?"
Langit menganggukkan kepalanya.
"Semoga beliau bisa membangkitkan semangat Banyu lagi." ucap Anggi.
"Aamiin. Aku juga butuh pembangkit semangat sekarang Rohi." rengek Langit.
"Malu tuh sama Angkasa." balas Anggi tertawa.
Langit mengabaikan ucapan Anggi. Ia dengan manjanya malah memeluk erat Anggi.
Di kamar Banyu
Hening. Baik Haji Asnawi maupun Banyu sama sama diam. Tiba-tiba keheningan itu dipecahkan oleh suara kekehan Haji Asnawi.
"Kita ini lucu ya?" ucapnya setelah puas terkekeh.
"Maksud Pak Haji?"
"Ya..kita ada di kamar yang sama, duduk berdua tapi malah sama sama diam. Bukankah itu lucu." haji Asnawi kembali terkekeh.
Mau tidak mau Banyu tersenyum. Ia juga merasa hal itu lucu.
"Jadi bagaimana?" tanyanya.
"Apanya Pak Haji?" Banyu balik bertanya.
"Ya soal anakku lah. Janjimu padaku kan mau menikahinya. Makanya aku menunggu dan tidak mencarikan dia jodoh. Jadi sekarang bagaimana? Apakah kamu masih berniat menikahi Cameliaku?"
Banyu diam tidak menjawab.
Apakah aku pantas. batin Banyu sedih
"Aahh..rupanya kamu tidak serius dengan anakku. Sudahlah aku sudah mendapat jawabannya." Haji Asnawi berusaha berdiri.
"Bukan begitu Pak Haji." Banyu buru buru menyela.
Haji Asnawi kembali duduk.
"Maksudmu bagaimana? Piye karepmu?" Haji Asnawi berkata dengan logat Jawanya.
"Saya sangat serius saat berjanji. Tapi apa saya pantas." jawab Banyu.
"Kenapa nggak.pantas?"
"Pak Haji pasti sudah tahu keadaan saya sekarang. Apa saya pantas buat Camelia? Orang buta macam saya, apa pantas memiliki pendamping? Saya hanya akan menjadi beban buat pasangan saya." suara Banyu terdengar sedih.
"Kowe nyemoni aku?" balas Haji Asnawi dalam bahasa Jawa
"Apa?"
__ADS_1
"Kamu menyindirku? Aku buta. Mendengar ucapanmu tadi bukankah sama artinya kamu bilang kalau aku hanya menjadi beban buat istriku?"
"Apa?!? Buka begitu maksud saya." Banyu merasa bersalah. Ia lupa kalau pria yang sedang bicara dengannya ini juga pria buta.
Haji Asnawi menarik nafas panjang
"Banyu, menungso kuwi mung nglakoni titahing gusti. Menjalankan apa yang ditetapkan Allah. Jadi buat apa mengeluh? Allah memberi cobaan karena Dia tahu kamu mampu melewatinya. Kamu pikir semakin dalam kamu belajar agama, kamu tidak akan menerima ujian? Lagipula bukankah sebelum kenaikan tingkat harus ada ujian dulu?"
Banyu diam menyimak setiap kata yang diucapkan Haji Asnawi.
"Kamu masih punya harapan untuk bisa melihat lagi, beda dengan aku. Jadi untuk apa putus asa dan meratapi nasib. Akrabilah dunia barumu ini. Mungkin Allah sengaja mengambil pengelihatanmu agar kamu bisa melihat dengan mata hatimu. Karena kadang yang tampak oleh mata kita tidak semuanya benar."
Banyu masih diam.
"Bersyukurlah, setidaknya hanya matamu yang ia ambil. Kamu masih ada telinga dan kakimu juga masih bisa berfungsi dengan baik. Di luar sana banyak yang kecelakaan terus jadi buta dan lumpuh."
Haji Asnawi menjeda nasehatnya karena merasa tidak ada respon dari Banyu.
"Kamu masih mendengarkanku kan?" tanyanya memastikan.
"Masih Pak Haji."
"Baguslah. Kupikir kamu kabur. Kok nggak enek suarane." Haji Asnawi terkekeh.
"Saya bisa kabur kemana Pak Haji. Berjalan saja harus meraba-raba." jawab Banyu dengan wajah sedih.
"Meraba ya....tapi bagus kalau masih bisa meraba." Haji Asnawi tertawa.
Banyu bingung tidak paham ke arah mana ucapan pria tua di depannya itu.
"Jadi bagaimana?"
Banyu menelan ludah.
"Apa saya bisa membahagiakan Camelia?'
" O soal itu gampang. Nanti aku ajari bagaimana membuat istrimu bahagia. " Haji Asnawi lagi-lagi tertawa.
Banyu semakin heran. Dimana letak kelucuannya hingga pria itu berkali kali tertawa.
"Terus piye? Sido ora ngrabi anakku. Lek nggak sido yo tak kekne wong liyo."
Banyu sedikit banyak paham arti ucapan Haji Asnawi.
"Jika Pak Haji tidak keberatan memiliki menantu buta seperti saya."
"Lha kenapa harus keberatan. Orang aku sendiri juga buta." Haji Asnawi tertawa lagi.
"Dan Camelia? Apakah dia masih mau menerima saya?"
"Kalau dia tidak mau, aku tidak akan ada di sini sekarang. Aku datang karena aku tidak sanggup melihatnya bersedih. Ya memang aku tidak bisa melihat tapi aku bisa merasakan kalau dia sangat sedih."
"Maaf. Saya yang telah membuatnya bersedih."
"Ya..ya... jadi sekarang saatnya membuatnya bahagia."
"Tapi apa yang bisa saya berikan dengan kondisi saya yang sekarang?"
"Mm kalau soal itu, kamu bisa tanya istriku. Apa yang ia lihat dariku sehingga ia mau menikahi orang buta seperti aku. Orang yang tidak pernah bisa melihat wajah cantiknya. Istriku cantik kan?"
Banyu kaget dengan pertanyaan mendadak itu.
"I..iya. Bu Haji cantik."
__ADS_1
"Hehehe lha iyo to. Lek nggak ayu aku yo ra gelem (Kalau tidak cantik aku tidak mau) Jelek-jelek begini aku masih bisa memilih." Haji Asnawi tertawa lepas.
Banyu tersenyum. Ia ingat bagaimana sikap Haji Asnawi. Biasanya pria ini tegas dan terkesan menakutkan. Tapi kini ia begitu hangat dan lepas. Banyu sadar jika Haji Asnawi melakukan ini demi membangkitkan semangatnya juga demi Camelia putrinya. Seorang bapak yang selama ini menjaga ketat putrinya, kini datang padanya untuk memberikan kebahagiaan pada putrinya. Apakah ia mampu menolaknya? Sedangkan hatinya juga menginginkannya.