
"Kita mampir dulu cari oleh oleh." kata Ustadz Huda. Saat ini mereka sedang menuju rumah Ustadz Asnawi setelah selesai melaksanakan tausiah.
"Ke toko buah saja." kembali Ustadz Huda memberi perintah.
Bara yang memang sudah hafal daerah kota tempat kelahirannya itu segera melajukan mobilnya menuju toko buah yang biasa ia dan keluarganya kunjungi.
Bertiga mereka turun setelah sampai di toko yang dituju. Bara dan Banyu memilih buah kesukaan mama mereka karena setelah dari Ustadz Asnawi mereka bertiga akan mengunjungi keluarga Langit. Ustadz Huda melihat lihat apa yang pantas ia bawa sebagai oleh oleh untuk Ustadz Asnawi. Ia sangat serius memperhatikan berbagai macam keranjang buah hias.
Bruk. Tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang juga sedang memilih milih buah di situ.
"Afwan, ana... " Ustadz Huda langsung minta maaf, namun ucapannya terhenti saat tanpa sengaja matanya melihat siapa yang ia tabrak. Seorang gadis cantik, sedang menunduk dengan pipi kemerahan. Tangannya sibuk merapikan bawaannya yang nyaris jatuh saat tertabrak ustadz Huda. Gadis itu mengangguk lalu segera meninggalkan tempat itu.
"Astaghfirullah!" gumam Ustadz Huda saat ia menyadari telah menatap dengan kagum mahluk cantik ciptaan Allah itu. Ustadz Huda meraba dadanya yang tiba tiba berdegub lebih cepat dari biasanya.
"Dia cantik, bukan hanya wajahnya. Sikapnya juga... aaargh, kenapa ana malah memikirkannya. Kenal saja nggak." batin Ustadz Huda. Bibirnya menyinggung senyum, "Ya Allah, ana yakin Kau yang mengatur pertemuan ini. Jika kami berjodoh, maka hamba mohon pertemukan kami lagi." doa Ustadz Huda dalam hati.
"Sudah Ustadz!" Bara dan Banyu datang mengagetkan Ustadz Huda.
"Oo.. ehh.. belum. Ana masih bingung mau pilih yang mana." Ustadz Huda tergagap.
"Boleh kalau saya yang pilih buat beliau?" Banyu menawarkan bantuan.
"Tentu. Pilihlah!" jawab Ustadz Huda.
Banyu memilih keranjang berisi buah lokal. Ia tahu kalau Ustadz Asnawi dan keluarganya adalah pribadi sederhana, mereka pasti lebih menyukai buah-buah lokal daripada import.
"Kamu yakin, Nyu?" tanya Bara. Banyu mengangguk.
"Beliau orang sederhana. Pasti. lebih menyukai buah-buahan semacam ini." jawab Banyu.
"Sepertinya anta sangat memahami Ustadz Asnawi." gumam Ustad Huda sambil tersenyum.
Selesai belanja mereka langsung menuju kediaman Ustadz Asnawi. Banyu yang saat itu memegang alih kemudi tanpa menemui kesulitan bisa menemukan alamat Ustadz Asnawi.
"Bagaimana kau tahu rumahnya?" tanya Bara heran.
"Bukankah Ustadz Huda yang memberi tahu alamatnya." jawab Banyu berdalih.
"Iya sih, tapi kan masuk masuk gang dan kau sepertinya tahu betul daerah sini." Bara memandang penuh selidik.
Banyu diam tidak berkomentar. Ia membuka pintu mobil dan turun diikuti oleh Bara dan Ustadz Huda.
Ustadz Huda termangu sejenak saat melihat siapa yang ada di teras rumah dan sedang bercakap-cakap dengan Ustadz Asnawi dan istrinya.
Dia. Kenapa dia ada di sini? Diakah putri Ustadz Asnawi?
Jantung Ustadz Huda makin kencang berdebar seiring langkahnya yang kian mendekat ke rumah Ustadz Asnawi. Namun belum sampai ia di teras, gadis hang tadi ia temui di toko buah sudah masuk ke dalam rumah Ustadz Asnawi. Gadis itu sempat mengarahkan pandangannya kepada ketiga pria yang datang sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu.
"Assalamu'alaikum!" bertiga mereka memberi salam.
"Waalaikumsalam, selamat datang. Mari duduk!" sapa istri Ustadz Asnawi. Matanya menatap ke arah Banyu. Banyu membungkuk hormat. Ia lalu mengambil tangan Ustadz Asnawi dan menciumnya. Hal yang sama dilakukan oleh Bara dan Ustadz Huda.
__ADS_1
"Kyai Hasan memberitahuku kalau kalian akan mampir. Alhamdulillah akhirnya nyampai juga. Apa tidak kesulitan menemukan rumah ana?" tanya Ustad Asnawi ramah.
"Sama sekali tidak, Ustadz." jawab Ustadz Huda.
Banyu hanya diam. Istri Ustadz Asnawi memandang penuh tanya kepada Banyu dan Bara.
Yang mana yang dulu pernah main ke sini.
"Nak Huda, mereka ini?" tanya Umi Asnawi.
"Oh iya, mereka adalah santri saya di pesantren Umi. " jawab Ustadz Huda.
"Ooo." Umi Hasan tersenyum gembira saat mengetahui bahwa Banyu adalah seorang santri.
"Umi... masak tamunya didiemin begini." tegur Ustadz Asnawi.
"Oh iya. Silahkan kalian mengobrol. Umi buatkan teh dulu." Umi Asnawi lalu meninggalkan mereka.
Hening. Mereka saling diam dengan pikiran masing masing. Ustadz Huda memikirkan gadis tadi yang jelas jelas telah mencuri hatinya. Ia ingin menanyakan pada Ustadz Asnawi tapi malu.
Sedangkan Banyu berharap, Camelia keluar sehingga mereka bisa bertemu. Adapun Bara, masih curiga bagaimana Banyu bisa menemukan rumah Ustadz Asnawi dengan mudah.
"Maaf Ustadz. Apa saya bisa numpang ke kamar kecil?" kata Banyu memecah kesunyian.
"Tentu saja. Masuk saja. Nanti tanya pada umi." jawab Ustadz Asnawi.
"Terima kasih Ustadz. Permisi." Banyu berdiri lalu melangkah memasuki rumah Ustadz Asnawi. Ia tertegun saat memasuki ruang yang sederhana namun apik. Banyu mendekat ke foto besar yang merupakan foto keluarga Ustadz Asnawi. Ada Camelia dalam foto itu. Ia meraba foto Camelia.
"Hem!"
Banyu menarik tangannya dan dengan cepat ia berbalik saat mendengar deheman di belakangnya. Ia melihat Umi Asnawi berdiri di belakangnya sambil tersenyum.
"Maaf, Umi. Saya.." Banyu tergagap.
"Tidak apa. Umi paham. Kenapa ada di sini?Mau bertemu Lia?" tanya Umi Asnawi.
"Bukan Umi. Saya ingin ke kamar kecil."
"Oo.. kirain mau menemui Lia, padahal Lia ada lo di taman belakang. Sedang ngobrol sama temannya. Tapi kalau kamu mau ke kamar kecil, itu, di sebelah sana." Umi Asnawi menunjuk sebuah pintu. Beliau lalu meninggalkan Banyu dan menuju teras untuk mengantarkan minuman bagi tamunya.
Banyu melangkah ke kamar kecil. Setelah selesai menunaikan hajatnya, ia melihat ke arah belakang.
Bagaimana ini, apa aku samperin saja Camelia. Aku harus memberitahunya kalau ia dijodohkan dengan Ustadz Huda.
Setelah lama bergelut dengan pikirannya, akhirnya Banyu memutuskan untuk menemui Camelia di taman belakang. Ia melangkah menuju pintu belakang. Di sana ia melihat sebuah taman, atau lebih mirip kebun karena tanaman yang ada bukanlah bunga namun lebih ke tanaman kebun. Meski ada satu space yang berisi tanaman bunga mawar dan bungan camelia.
Dari jauh ia melihat dia orang gadis sedang duduk sambil menikmati pemandangan kebun itu. Banyu mendekat.
"Assalamu'alaikum." salam Banyu. Kedua gadis itu menoleh. Camelia kaget melihat Banyu sudah berdiri di hadapannya. Wajahnya memerah.
"Apa kabar?" sapa Banyu.
__ADS_1
"Alhamdulillah, baik.* jawab Camelia gugup. Gadis yang satunya mengamati kedua orang yang tampak kaku dan canggung.
" Banyu?Kamu Banyu kan? Putra Tante Anggi?" kata teman Camelia.
Banyu memandang gadis itu. Ia merasa pernah melihat teman Camelia itu.
"Kak Wiena?!" kata Banyu sedikit ragu.
"Iya, aku Wiena. Anak dari Pak Dhe Wahyu. Masak kamu lupa." Wiena menonjok Banyu.
"Maaf, Kak. Lama nggak bertemu soalnya." Banyu beralasan.
"Alaaahhh.. bilang saja kalau dipikiranmu hanya ada dia, jadi kamu nggak lihat kakak tadi." goda Wiena.
Banyu nyengir.
"Ya udah aku pergi dulu biar kalian bisa ngobrol berdua." kata Wiena.
"Eh.. jangan!" Camelia memegang tangan temannya agar ia tidak meninggalkan nya.
'Ada yang ingin aku sampaikan." kata Banyu.
"Aku pergi saja deh. Kalian ngobrol saja sana. Lagian aku nggak mau jadi obat nyamuk." Wiena menarik tangannya dari genggaman Camelia.
"Nggak usah Kak. Bukan rahasia juga." jawab Banyu, "Aku hanya ingin bilang kalau abahmu dan Kyai Hasan sepakat menjodohkanmu dengan putra Kyai Hasan, Ustadz Huda."
Camelia tersentak. Wajahnya memucat. Ia menatap Banyu dengan mata berkaca-kaca. "Benarkah?" bibirnya bergetar saat mengucapkan pertanyaan itu. Banyu mengangguk.
Wiena merangkul Camelia memberi dukungan.
"Lalu kita?" gumam Camelia.
"Itulah. Aku pasrahkan padamu. Jika. kau lebih memilih Ustadz Huda, aku hormati pilihanmu. Namun jika kau masih mau menungguku, aku akan sangat bahagia." jawab Banyu.
"Kau menyerah?" Camelia menatap mata Banyu sebentar.
"Tidak. Tapi aku tidak bisa memaksamu. Jika kau memilih dia, meski sakit, aku akan menerimanya." balas Banyu.
"Kalian ini. Kalian harus memperjuangkan cinta kalian. Bagaimana kalau kabur saja?" usul Wiena yang membuat Banyu mendelik ke arahnya.
"Eh.. jangan melotot. Aku hanya bercanda."
Banyu kembali mengalihkan perhatiannya pada Camelia. "Kami bertiga kali ini datang berkunjung membalas kunjungan abahmu ke. pesantren. Ustadz Huda ada di depan jika kau ingin tahu." Banyu menghela nafas, "Hanya itu yang ingin aku sampaikan, aku permisi." Banyu memutar tubuhnya lalu melangkah.
"Tunggu!" Camelia menghentikannya. Ia mendekati Banyu. "Apa kau mencintaiku?" tanyanya lirih agar Wiena tidak mendengarnya.
Banyu tersenyum, "More than I can say." jawabnya lirih juga. ia ingin sekali menyentuh gadis di hadapannya itu, setidaknya memegang tangannya. Namun ajaran yang ia Terima membuatnya menahan diri.
"Terima kasih. Aku akan tetap. menunggumu." jawab Camelia membuat hati Banyu tenang. Ia melanjutkan langkahnya menuju ke tempat Bara dan Ustad Huda berada.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Jangan lupa like n comentnya