
Menjelang Magrib, Bara sudah mempersiapkan diri. Ia memakai pakaian terbaiknya, baju koko dan sarung juga peci. Wajahnya tampak bersinar dalam balutan pakaian khas muslim Indonesia itu.
"Sudah siap?" tanya Banyu yang tak kalah tampannya. Demi saudara kembarnya, ia juga ikut berpakaian rapi.
"Ya! Kali ini kamulah saksi dari pihakku."kata Bara yang dijawab anggukan oleh Banyu.
Banyu tertawa lirih membuat Bara bertanya dengan penuh keheranan.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Bara.
"Hidup ini terkadang lucu. Tidak bisa di tebak. Tadi siang baru saja kau di tolak sama Pak Kyai, eh sekarang malah mau dinikahkan dengan Yasmine." kata Banyu sambil masih tertawa.
"Itulah hidup. Kita tidak tahu yang akan terjadi kedepannya. Jadi memang hal yang paling baik adalah menerima semuanya dengan ikhlas. Karena rencana Allah pasti ya g terbaik." kata Bara bijak.
"Wow.. wow.. wow.. apakah ini masih Bara saudara kembarku yang bengal dan susah diatur, atau ini calon Kyai pemilik pesantren ini?" goda Banyu.
"Ck.. kau ini." Bara meninju lengan Banyu.
Suara tarkhim terdengar dari masjid pesantren.
"Ayo, kita berangkat!" ajak Bara.
"Aduh yang sudah tidak sabar." kembali Banyu menggoda Bara.
Bara memiting leher Banyu sambil menyeretnya keluar kamar.
"Lepaskan! Bajuku kusut nih." hardik Banyu sambil meronta melepas diri dari pitingan Bara. Bara melepaskan leher Banyu.
Mereka berjalan beriringan menuju masjid.
"By the way, sudah siap untuk nanti malam? first night?" Banyu mengedipkan matanya jahil.
"Otakmu kotor!" kata Bara sambil menoyor kepala Banyu.
Bara merasa kesal pada Banyu namun juga bahagia. Ia tersenyum membayangkan sebentar lagi akan bisa melihat wajah Yasmine tanpa niqab saat mereka berdua nanti.
Aku memang berjanji tidak menyentuhnya, tapi kalau sekedar mencium kan boleh. batin Bara.
Pikirannya itu membuat bibirnya terus tersenyum.
"Tuh kan senyam senyum, pasti membayangkan indah dan nikmatnya nanti malam." kembali mulut usil Banyu berkomentar.
"Diam! Kalau pengen lamar tuh Camelia."
"Kalau soal itu tak perlu kau ajari, aku sudah melamarnya. Dia sudah ada dalam genggamanku." jawab Banyu sambil tangannya membuat gerakan menggenggam.
"Oh ya? Jangan membual." Bara tidak percaya.
"Tidak percaya ya sudah."
Masjid sudah di depan mata. Jantung Bara berdetak cepat saat ia melihat rombongan keluarga Pak Kyai berjalan menuju masjid dari arah yang berlawanan.
Bara, Banyu dan santri lain yang kebetulan datang bersamaan, menanti di depan gapura masuk ke masjid. Mereka memberi jalan agar rombongan keluarga Pak Kyai masuk terlebih dulu. Saat rombongan lewat, mereka memberi salam dan hormat.
Mata Pak Kyai menatap Bara sambil membalas salam mereka. Begitu juga dengan Bu Nyai. Ustadz Huda merangkul Bara dan membawanya masuk.
Mata para santri menatap keakraban Ustadz Hudan dan Bara dengan berbagai pandangan yang berbeda, ada yang kagum, ikut senang tapi ada juga yang iri. Rombongan Bimo termasuk kelompok yang iri terhadap kedekatan Bara dan Ustadz Huda.
"Penjilat!" komentar Bimo kesal.
Mereka masuk masjid. Pak Kyai langsung mengambil posisi sebagai imam. Ustadz Huda, Bara dan Banyu berdiri berjejer.
Setelah sholat jamaah Magrib selesai, seperti biasa dilanjut dzikir dan doa. Kemudian Pak Kyai berdiri di mimbar yang biasanya digunakan khutbah pada hari Jumat.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, para santriwan dan santriwati semua. Ana minta waktunya sebentar. Pada malam ini, putri ana Yasmine akan menikah dan ana berharap para satriwan dan santriwati menjadi saksi hari bahagia ini."
Suasana masjid jadi riuh oleh bisik bisik kaget akan kabar pernikahan Yasmine yang mendadak.
Pak Kyai turun dari mimbar dan mengambil tempat duduk di depan. Ustadz Huda segera mengatur posisi. Bara duduk berhadapan dengan Pak Kyai,. Banyu di sebelah kanannya, sedangkan Ustadz Huda duduk di sebelah kiri Bara.
Fahri, Bimo dan yang lain terbelalak tidak percaya melihat pemandangan itu.
"Afwan Pak Kyai, Ustadz Huda. Ini maksudnya apa ya?" tanya Fahri. Hatinya cemas karena sesungguhnya ia juga menaruh hati pada Yasmine. Selama ini i Bini selalu mengingatkan dirinya akan Bara yang berusaha mendekati Ustadz Huda. Tapi Fahri tidak mempercayainya. Sekarang melihat kenyataan ini, ia merasa menyesal karena tidak mempercayai kata-kata Bimo.
"Fahri, Yasmine akan ana nikahkan dengan Bara." jawab Pak Kyai kalem namun bagai petir di telinga Fahri. Mukanya merah. Ia memandang Bara dengan sorot mata penuh kebencian. Sama halnya dengan Fahri, Bimo dan kelompoknya juga merasakan hal yang sama. Sorot mata menyiratkan rasa iri yang amat sangat.
"Tapi kenapa Pak Kyai?"tanya Fahri lagi seolah ingin menyampaikan keberatannya atas pernikahan ini.
"Karena ana ingin Bara menjadi menantu ana. Apa jawaban ini cukup buat anta?" jawab Pak Kyai sedikit kesal.
Fahri diam. Ia tidak berani mendebat Pak Kyai apalagi ia tidak punya hak apapun untuk keberatan.
Pak Kyai menatap Bara, "Anta sudah siap?"
"Siap Pak Kyai." Bara mengangguk.
Pak Kyai mengulurkan tangannya pun Bara melakukan hal yang sama. Proses ijab qobul pun dilakukan. Dengan satu tarikan nafas, Bara sanggup mengucapkan akad nikah.
"Bagaimana saksi, sah?" tanya Pak Kyai.
"Sah." jawab Ustad Huda dan Banyu juga beberapa santri yang ikut bahagia dengan pernikahan tersebut.
Pak Kyai lantas memimpin doa untuk mendoakan kedua mempelai.
Selanjutnya mereka mengadakan pengajian sampai waktu isya datang.
Habis Jamaah Isya, Pak Kyai meminta para santriwan ke aula besar untuk menikmati hidangan sekedarnya yang mampu keluarganya siapkan untuk merayakan pernikahan Yasmine dan Bara.
Ustadz Huda membawa Bara pulang ke kediamannya.
"Masuklah. Yasmine menunggu anta.di dalam sana." kata Ustadz Huda saat mereka sudah tiba di rumah Pak Kyai. Ustad Huda menunjukan kamar Yasmine.
"Tapi ustadz. " Kata Bara ragu.
"Kenapa? Karena janji anta? Sudah halal juga." Ustadz Huda berlalu sambil tersenyum.
Bara berdiri mematung di depan pintu kamar Yasmine. Ia menarik nafas panjang tiga kali lalu mengetuk pintu.
"Assalamu'alaikum!" Bara memberi salam. Tidak ada sahutan. Bara mengulangi mengetuk dan memberi salam. Masih tidak ada jawaban.
"Apa aku masuk saja ya. Bukanlah seperti yang ustadz Huda bilang, kami sudah halal." gumam Bara. Ia kemudian memberanikan diri memegang handle pintu dan memutarnya.
Saat pintu terbuka, ia melihat Yasmine sedang duduk di pinggir ranjang. Bara masuk lalu menutup pintu kembali dan menguncinya. Ia mendekati Yasmine.
"Assalamu'alaikum." Bara memberi salam.
"Waalaikumsalam." jawab Yasmine. Ia mengulurkan tangannya. Bara paham, ia memberikan tangan kanannya dan disambut oleh Yasmine. Yasmine mencium tangan Bara. Bara memegang bahu Yasmine lalu mendaratkan kecupan di kening Yasmine.
"Yas, boleh aku melihat wajahmu." kata Bara. Yasmine mengangguk.
Perlahan tangan Bara terulur ke wajah Yasmine untuk membuka niqabnya. Tangan Bara sedikit bergetar.
"MasyaAllah, tabarokallah." ucap Bara saat niqab terbuka. Ia bisa melihat dari dekat wajah cantik Yasmine. Mereka saling menatap.
Bara kembali mengecup kening Yasmine. Yasmine memejamkan mata.
"Kenapa kamu bersedia menikahiku? Bahkan setelah tahu aku hamil." tanya Yasmine dengan suara lembutnya.
__ADS_1
Bata membelai pipi halus Yasmine dengan punggung tanganya.
"Bukankah kau bilang kau tidak melakukannya. Aku percaya padamu." jawab Bara.
"Tapi hasil tes dokter?"
"Bisa saja hasilnya salah."
"Kalau hasilnya benar?" tanya Yasmine.
"Kalau begitu aku harus membuktikan sendiri, apa hasilnya benar atau salah." jawab Bara sambil menelan salivanya saat melihat bibir indah Yasmine.
Dahi Yasmine mengernyit, "Caranya?" ia bertanya tak mengerti dengan ucapan Bara.
"Sebelum aku beritahu caranya, jawab pertanyaanku ini. Apa kau siap menjadi istriku?"
"Bukankah aku sudah menjadi istrimu?" jawab Yasmine semakin tak mengerti dengan sikap Bara.
"Istri yang sesungguhnya?" bisik Bara membuat mata Yasmine membola. Yasmine menunduk dengan wajah bersemu merah.
Bara tertawa lalu menyentuh hidung mancung Yasmin dengan telunjuknya.
"Tenanglah, aku tak akan melakukannya. Kita masih terlalu muda dan aku tak mau merusak kepercayaan Pak Kyai pun tak mau merusak masa depanmu."
Bara lantas berdiri. Dia membuka baju koko nya dan hanya menyisakan singlet saja
"Apa yang kau lakukan?" pekik Yasmine. Ia menutup mata dengan kedua tangannya.
"Ya.. aku lepas baju. Mau tidur. Aku terbiasa tidur hanya dengan memakai singlet. " jawab Bara santai lalu menuju tempat tidur dan berbaring tanpa mempedulikan rasa jengah Yasmine.
"Apa kamu akan terus menutup mata seperti itu? Kamu harus mulai membiasakan diri melihatku seperti ini, bahkan melihatku tanpa sehelai benang pun kamu harian siap." goda Bara.
"Apa? Ih dasar." omel Yasmine. Ia lalu ikut berbaring dan menutupi tubuhnya hingga leher dengan selimut. Bara melirik nya dengan geli.
Bara bernafas lega karena bahagia. Meski Yasmine belum menjadi miliknya seutuhnya, setidaknya ia tidak akan diambil orang. Soal. kehamilannya, Bara punya keyakinan kalau dokter salah diagnosa atau mungkin keliru data.
"Yas, apa golongan darahmu?" tanya Bara.
"B . Kenapa?"
" Sama dengan aku kalau begitu."
Bara mengingat info yang ada di kertas hasil pemeriksaan Yasmine.
"Nama panjangmu?"
"Kenapa nanya, tadi waktu ijab qobul. apa kami nggak tahu."
"Lupa, maaf." jawab Bara.
Yasmine cemberut. Bagaimana bisa suaminya ini melupakan namanya.
Yasmine memutar tubuhnya menghadap Bara. Matanya menatap kesal.
"Maaf!" pinta Bara. Dari wajah Yasmine ia tahu kalau wanita itu kesal. Mata Bara menatap nanar bibir Yasmine yang cemberut. Bibir itu sangat menggodanya.
"Maafkan saya Pak Kyai." ucap Bara lalu ia mendorong tubuh Yasmine dan mengungkungnya.
"Kau apa yang.... "
Yasmine tidak bisa melanjutkan ucapannya karena sesuatu yang hangat dan kenyal menekan bibirnya.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Happy wedding Day Bara...... semoga samawa.