
"Banyu jadi ikutkan?" tanya Ustadz Huda saat melihat Bara pagi-pagi datang ke rumahnya sendirian.
"Jadi ustadz. Dia akan kesini sebelum kita berangkat." jawab Bara sambil melihat ke arah dalam.
"Mau menemui Yas?Masuk saja. Dia sedang bersiap."
"Iya, Ustadz. " Bara langsung masuk. Saat tidak menjumpai siapapun di ruang tengah, Bara mengarahkan langkahnya menuju kamar Yasmine.
"Assalamu'alaikum!" Bara mengucap salam sambil membuka pintu kamar. Ia melihat Yasmine sedang duduk di ranjang dengan wajah menunduk. Di samping ranjang sudah ada koper miliknya.
"Kok nggak dijawab?" Bara bertanya dengan sangat lembut sambil mendekat dan duduk di sebelah Yasmine. Ia melihat bahu Yasmine bergetar. Bara meraih bahu itu dan membawanya kedalam dekapannya.
"Sabar! Tidak akan lama. Aku akan menyusulmu." bisik Bara menghibur Yasmine. Tubuh Yasmine kian bergetar seiring tangisnya yang semakin kuat. Bara mempererat dekapannya. Membenamkan wajah Yasmine ke dadanya. Tangannya mengelus kepala Yasmine yang terbalut kerudung sambil sesekali ia mengecup pucuk kepala istrinya itu.
Setelah puas menumpahkan tangisnya, Yasmine menarik tubuhnya dari dekapan Bara. Ia memandang wajah tampan suaminya itu lekat-lekat seolah ingin mematri wajah itu dalam relung hatinya.
"Jangan sedih. Toh kepergianmu juga buat masa depan kita. Yang penting jaga diri dan jaga hati." Bara berucap sambil. membelai pipi Yasmine. Yasmine mengangguk masih dengan tatapan ke arah wajah Bara.
"Yangzi... " rengek Yasmine lirih manja.
"Yangzi?!" Bara menatap penuh tanya mendengar panggilan Yasmine.
Yasmine mengangguk, "Yayang Zauji."
Bibir Bara melengkung dengan wajah ceria mendengar panggilan sayang Yasmine untukmnya. "Aku suka.. Yangra. Yayang Huamira." balas Bara kembali mendekap Yasmine.
"Ana uhibbuka!" bisik Yasmine. Bara langsung menarik dagu Yasmine, menatap mata indah Yasmine lalu menunduk mengecup bibir Yasmine.
"Yas!! Astagfirullah." lagi-lagi Kyai Hasan nyelonong ke kamar Yasmine dan melihat adegan ciuman sepasang suami istri itu. Ia langsung balik kanan sambil menghela nafas dan mengelus dada.
Bara kaget dan langsung melepaskan bibir Yasmin.
"Yangzi!" seru Yasmine gusar. Bara nyengir.
"Aku lupa menutup pintu." Bara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia masih tersenyum tanpa rasa bersalah. Yasmine yang menatapnya lama-lama ikutan tersenyum geli.
"Ayo!" Bara berdiri dan meraih koper Yasmine, sedangkan Yasmine berusaha memasang niqabnya.
"Tunggu!"
Seketika Yasmine menghentikan aktifitasnya saat mendengar seruan Bara.
Bara mendekat dan mengambil niqab yang ada di tangan Yasmine.
"Biar aku." kata Bara sambil memasangkan niqab itu ke wajah cantik Yasmine. "Eh tunggu." seru Bara lalu kembali melepas niqab yang sudah ia pasang.
"Ada apa?" tanya Yasmine heran.
"Ada yang lupa." jawab Bara sambil mengulum senyum.
"Apa?"
__ADS_1
"Ini!" Bara kembali menjatuhkan bibirnya ke bibir Yasmine. Tangannya menarik tubuh istrinya itu hingga menyatu dengan tubuhnya.
"Yas sudah waktunya berangkat!" Kyai Hasan kembali ke kamar Yasmine. Matanya membelalak karena kembali disuguhi tontonan kemesraan Yasmine dan Bara.
"Ya Allah, Ya Rahman. Kalian benar benar ya!" teriaknya. Bara dengan cepat menjauh dari Yasmine. Ia menunduk.
"Bawa istrimu keluar kalau kalian tidak mau terlambat!" kata Kyai Hasan tegas. Ia lalu berbalik dan pergi sambil. mengelus dada dan terus beristighfar menuju dapur. Kyai Hasan gelisah. Sebentar duduk di kursi yang ada di dapur, sebentar kemudian berdiri. Nyai Hasan yang sedang menyiapkan sarapan heran melihat ulah suaminya itu.
"Abah kenapa?" tanya Nyai Hasan. Kyai Hasan memandang istrinya lalu mendekat.
"Umi sudah selesai memasak?" ia bertanya dengan suara lirih berbisik.
"Sudah. Memang kenapa Bah?" tanya Nyai Hasan semakin heran.
"Anu.. abah... abah kayaknya masuk angin. Pengen dikerokin." Kyai Hasan mengelus perutnya.
"Kok mendadak Bah. Bukankah tadi baik-baik saja." Nyai Hasan berkata tak percaya.
"Ayolah, Mi. Kerokin abah ya. Di kamar." Kyai Hasan menarik tangan istrinya dan membawanya ke kamar. Saat di ruang makan, mereka berpapasan dengan Bara yang menggandeng Yasmine.
"Yas! Anti siapkan sarapan!" perintah Kyai Hasan tanpa melihat ke arah Bara. Yasmine memandang uminya yang hanya mengangkat bahu.
Bara tersenyum. Ia tahu apa yang diinginkan Kyai Hasan.
Yasmine melangkah ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Butuh bantuan?" tanya Bara sambil. melingkarkan tangannya di pinggang ramping Yaamine.
Yasmine tersenyum, "Memang bisa?" ia mendongak melihat wajah suaminya.
"Coba!" kata Yasmine.
"Inikan sudah membantu." jawab Bara masih dengan memeluk tubuh Yasmine.
"Bantu apa?"
"Bantu membuatmu senang." bisik Bara sambil menggelitik perut Yasmine.
Yasmine menggeliat geli.
"Kalau yangzi gini terus nggak kelar kelar kerjaanku." kata Yasmine. Bara melepas pelukannya.
"Mana yang bisa kubantu?"
"Ini, yangzi bisa membawanya ke meja makan."
Bara langsung melakukan apa yang diminta istrinya.
Tak berapa lama kemudian, makanan sudah tertata di meja makan.
Bara duduk berdampingan dengan Yasmine.
__ADS_1
"Sudah siap rupanya." Ustadz Huda bergabung dengan Bara dan Yasmine. "Mana abah?"
"Di kamar." jawab Yasmine.
"Tumben. Biasanya jam segini sudah di meja makan." kata Ustadz Huda. Yasmine hanya angkat bahu.
"Assalamu'alaikum!" terdengar seseorang mengucap salam.
"Waalaikumsalam. Itu pasti Banyu. Biar Ana yang menyambutnya." Ustadz Huda berdiri dan pergi ke depan untuk menyambut Banyu.
Sepeninggal Ustadz Huda Bara berdiri dan meraih tangan Yasmine. Ia menarik Yasmine dan mengajak istrinya itu ke kamar.
"Mau apa kita ke kamar?" tanya Yasmine saat mereka sudah sampai di dalam kamar.
Bara mengunci pintu. Ia berbalik dan langsung memeluk Yasmine. "Kita belum mengadakan ritual pagi kan?" kata Bara di telinga Yasmine. Yasmine tersenyum. Ia paham apa yang Bara maksud.
Di teras
Banyu kaget saat Ustadz Huda yang menyambutnya.
"Banyu, masuklah. Ayo sekalian kita sarapan." ajak Ustadz Huda.
"Ana di sini saja, Ustadz." kata Banyu enggan.
"Ayolah. Bukankah sekarang kita keluarga." ajak Ustad Huda dengan keramahannya.
Melihat sikap ramah Ustadz Huda, Banyu menjadi tidak enak untuk menolak lagi. Akhirnya ia mengiyakan ajakan Ustad Huda dan masuk mengikuti beliau ke dalam.
"Pada kemana sih?" kata Ustadz Huda saat melihat ruang makan kosong.
"Bukankah Bara sudah kemari, Ustadz." Banyu ikut heran.
"Itulah. Tadi Bara dan Yasmine duduk di sini. Kalau abah masih di kamar. Ya sudah. Kita tunggu saja mereka. " Ustadz Huda lantas mengambil tempat duduk. Banyu mengikuti apa yang Ustadz Huda lakukan .
Lima menit mereka menunggu namun Bara maupun Kyai Hasan tak kunjung keluar dari kamar. Sepuluh menit waktu telah berlalu, Ustadz Huda sudah nampak tidak sabar. Berkali kali pandangannya ke arah pintu kamar Yasmine maupun abahnya.
Pada menit ke lima belas, pintu kamar Kyai Hasan terbuka. Kyai Hasan keluar dengan wajah segar khas orang habis mandi. Rambutnya yang mulai memutih tampak basah dan tersisir rapi.
"Abah seger banget." goda Ustadz Huda. "Baru mandi, bah? Tumben."
"Udaranya panas, jadi abah mandi lagi. Adikmu?" tanya Kyai Hasan saat ia tidak melihat Yasmine di meja makan.
"Tadi sih mereka ada di sini. Sekarang mungkin di kamar."
Wajah Kyai Hasan memerah. Ia berdiri dan menuju kamar Yasmine. Saat ia hendak mengetuk pintu, ia mendengar suara lirih dari dalam kamar Yasmine. Kyai Hasan menempelkan telinganya ke pintu. Ia bisa mendengar racauan Yasmine dan Bara saat keduanya mencapai puncak.
Kyai Hasan tidak jadi mengetuk pintu. Ia meninggalkan kamar Yasmine sambil. mulutnya komat kamit. Ustadz Huda mengira abahnya akan kembali ke meja makan. Namun Kyai Hasan justru kembali masuk ke kamarnya.
"Banyu, kita makan dulu saja. Kalau menunggu mereka, kita bisa kelaparan." kata Ustadz Huda. Ada rasa jengkel dalam hatinya. Ia merasa Bara dan abahnya tidak menghargai keadaannya yang masih lajang membujang.
Banyu yang juga bisa menebak apa yang terjadi, merutuki saudara kembarnya dalam hati.
__ADS_1
...🍃🍃🍃...
Aduh Pak Kyai... mau nambah rupanya....