Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Kejutan di Hari Kelulusan


__ADS_3

Langit dan Anggi langsung meluncur ke pesantren saat mendapat kabar kalau Aurora cidera.


"Kok bisa sih?" tanya Anggi cemas saat ia melihat kaki Aurora di bebat kain.


"Nggak papa ma, cuman terkilir doang." balas Aurora menenangkan Anggi. "Mama nggak bawa adik?"


"Nggak. Cuma ditinggal bentar buat jemput kamu. Adik sama mbak di rumah."


Saat Anggi sedang berbincang dengan Aurora, Langit menemui Kyai Hasan. Ia menyampaikan salam hormat dan ucapan terimakasih atas pernikahan Bara dan Yasmine. Ia juga menyampaikan keinginannya untuk menggelar resepsi saat Bara lulus nanti.


"Tuan Langit, sepertinya itu terlalu tergesa-gesa. Lagipula Yas masih lama belajarnya." kata Kyai Hasan bijak.


"Tapi Kyai, mereka harus segera disahkan secara hukum negara."


"Ya Tuan, ana paham. Tapi anak ana masih belajar. Dan lagi, kakaknya belum menikah jadi bisa ditunda sampai Huda menikah juga kan?"


"Ah iya. Kenapa saya bisa melupakan Ustadz Huda." gumam Langit. "Mmm Pak Kyai, kalau Pak Kyai berkenan, saya ada keponakan. Calon dokter juga. Namanya Wina. Apa bisa jika kita lebih mempererat persaudaraan kita dengan menikahkan Ustadz Huda dan Wina?"


Ustad Huda yang kebetulan lewat menghentikan langkahnya begitu mendengar nama Wina.


"Abah, Tuan." sapanya sopan.


"Mau ke pesantren?" tanya Kyai Hasan.


"Iya Bah. Jadwal mengajar." jawab Ustadz Huda. "Maaf kalau boleh ana bertanya, tadi Tuan Langit menyebut nama Wina?"


"Ah iya. Kebetulan Ustadz ada di sini. Masih ingat kakak sepupu saya yang waktu itu Ustadz jumpai di rumah saya?"


"Iya. Bu Hana." gumam Ustadz Huda.


"Ya benar. Kak Hana sudah menyampaikan keinginannya kepada Ustadz sola Wina. Saat itu Ustadz bilang ustdaz sudah dijodohkan dengan gadis lian, jadi saya langsung menyampaikan hal ini kepada Kyai Hasan. Siapa tahu Kyai Hasan punya pemikiran yang berbeda." harap Langit.


"Gadis yang dijodohkan dengan ana menyukai pemuda lain. Ana nggak bisa merebut kebahagiaan mereka. Jadi, abah. Huda mohon batalkan saja perjodohan Huda dengan putri Haji Asnawi." pinta Ustadz Huda.


Kyai Hasan menarik nafas panjang, "Yas sudah menikah dan Tuan Langit berkeinginan meresmikan pernikahan mereka secara hukum negara. Huda, jika anta belum menikah juga, lalu bagaimana? Adik anta pasti akan merasa bersalah telah melangkahi anta." kata Kyai Hasan dengan suara berat. Sebenarnya ia tidak memusingkan siapa yang menikah duluan hanya saja ini saat yang tepat untuk memaksa Ustadz Huda yang sudah cukup usia itu untuk menikah.


"Abah, ana terima tawaran Tuan Langit. Ana bersedia menikah dengan Wina." jawab Ustadz Huda mantab.


Kyai Hasan kaget sekaligus senang. "Anta yakin!"


Ustadz Huda mengangguk.


Langit dan Kyai Hasan tersenyum senang.


"Baiklah Tuan Langit, sampaikan salam ana kepada sepupu Tuan. Buatkan jadwal untu Ana sekeluarga berkunjung ke rumah mereka untuk melamar."


"Iya Kyai. Saya akan menyampaikan pesan Kyai. Dan untuk Bara serta Yas, nanti kita bahas lagi. Saya mohon pamit."


Langit berdiri kemudian mengulurkan tangannya untuk berpamitan.


***


"Hubby ceria banget?" Anggi menatap wajah ceria Langit. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


"Mau tahu kenapa?" tanya Langit.


Anggi mengangguk.


"Tapi nggak gratis."


"Hubby, perhitungan banget sama istri." omel Anggi.


Langit terkekeh. Anggi semakin penasaran karena suaminya nggak juga membuka mulut.


"By..." rengeknya manja.


"Ih mama masih suka manja sama papa." celutuk Aurora.


Langit makin kencang tertawanya karena berhasil menggoda istrinya.


"By, nanti aku bayar kontan deh." tawar Anggi.


"Emang bayar pakai apa ma?" tanya Aurora bingung.


"Hush. Anak kecil!" hardik Langit. Aurora cemberut.


"Nanti kalau bayarannya sudah hubby terima, baru hubby cerita." Langit menahan senyum.


Anggi semakin sewot. Suaminya selalu bisa memanfaatkan keadaan hingga menguntungkan dirinya.


Di pesantren.


Darel, Bara dan Banyu sedang berdiskusi di kamar membahas siapa yang berusaha mencelakai Aurora.


"Kurasa." jawab Darel tidak yakin.


"Sudahlah. Kita calm down duku aja. Jangan melakukan gerakan apapun. Biar mereka lengah. Ingat pesan Pak Kyai." tutur Banyu.


"Ya. Lagipula sebentar lagi kalian ujian. Belajar saja dulu." saran Darel, "Urusan Aurora, serahkan padaku."


Bara dan Banyu menatap Darel intens.


"Kenapa kalian melihatku begitu?"


"Kau menyukai Aurora?" tebak Bara.


Darel tersenyum, "Bolehkan?"


"Dia masih terlalu kecil." ucap Banyu masih dengan menatap Darel.


"Ya aku kan tidak menikahinya sekarang. Nanti kalau dia sudah cukup umur." Darel nyengir.


"Kau ini. Suka sama gadis kecil."


"Habis,dia gemesin banget. Cantik lagi. Mirip tante Anggi."


"Ya kalau itu keputusanmu untuk menunggunya, kami nggak bisa bilang apa-apa. Tapi kami juga nggak bisa bantu apapun kalau misal Aurora tidak menerimamu." tegas Banyu yang dianggukin Bara.

__ADS_1


"Iya. Aku akan berjuang sendiri tanpa melibatkan kalian. Tapi apapun yang terjadi nanti, kuharap kita tetap berteman." Darel menjulurkan tangannya Banyu dan Bara menyambutnya dengan melakukan tos tinju.


"Sahabat!" ucap mereka lalu tertawa.


Hari terus berlalu. Skorsing Aurora tanpa terasa juga sudah usai. Sekarang mereka menjalani ujian akhir. Bara dan Banyu mengikuti ujian dengan semangat. Mereka ingin segera lulus lalu mengejar impian mereka. Memperjuangkan cita dan cinta mereka.


"Yas..tunggu aku. Sebentar lagi aku akan menyusulmu." gumam Bara menyemangati dirinya.


Tak kalah dari Bara, Banyu juga selalu menyebut nama Camelia untuk mendongkrak semangatnya.


Hari yang ditunggu akhirnya datang juga. Kelulusan.


Kyai Hasan menggelar acara wisuda santriwan dan santriwatinya. Acara cukuo meriah. Orang tua para santri juga turut hadir. Diantara mereka hadir pulan Wahyu, Hanna dan Wiena yang ingin ikut melihat wisuda Bara dan Banyu.


"Sendirian Kak?" tanya Banyu sedikit berbisik.


"Emang kamu berharap kakak datang sama siapa?" sambung Wiena.


Banyu menggaruk tengkuknya, "Ya kali aja kakak bawa teman gitu."


"Cih...maksudmu Camelia. Mana boleh ia ikut sama abahnya."


"Iya juga sih."


Di tempat lain, Bara yang sedang sibum berbincang dengan orang tuanya mendapatkan kejutan istimewa saat tiba-tiba suara halus dan lembut menyapanya.


"Selamat ya, Yangzi." Yasmine meraih tangan Bara lalu mencium punggung tangan suaminya itu.


Bara kaget, namun ia segera meraih istrinya itu ke dalam pelukannya, "Kapan datang?Kok nggak bilang? Abah dan Umi juga nggak bilang." cecar Bara.


"Lepasin, malu." Yasmin menarik tubuhnya dari pelukan Bara. Ia lalu memberi hormat pada Langit dengan menyatukan kedua tangannya di dada, setelah itu mengulurkan tangannya mengambil tangan Anggi dan menciumnya. Anggi langsung memeluk menantunya itu. Ia sangat bahagia karena Bara yang semula bengal itu bisa memperoleh istri sesholehah Yasmine.


Bara menatap gemas istrinya yang terkesan menjauh darinya itu.


"Papa dan mama ke tempat dudum orang tua ya." pamit Langit.


"Nanti kita ngobrol lagi Yas." bisik Anggi sambil melepaskan tangan Yasmine yang ia genggam.


Yasmine mengangguk dan terus memandangi mertuanya itu.


"Hem!" Bara berdehem.


Yasmine kaget karena suara Bara sangat dekat di telinganya.


"Astaghfirullah Yangzi, bikin kaget deh."


"Kenapa menjauh?Nggak kangen." omel Bara merajuk.


"Eh, disuruh ngumpul tuh. Yangzi sana gih, nanti telat lo." Yasmine tidak menjawab pertanyaan Bara. Ia malah mendorong tubuh Bara agar segera menuju rombongan wisudawan.


Bara meraih pinggang Yasmine dengan cepat hingga Yasmine memekik kaget.


"Jawab! Atau kucium di sini." ancam Bara dengan wajah kesal karena dicuekin.

__ADS_1


Yasmine menatap penuh cinta wajah tampan yang sedang kesal itu. "Kangen. Sangat kangen. Tapi tidak disini juga kan melampiaskan kangennya?Nanti saja. Sekarang Yangzi kumpul dulu sana!"


Bara tersenyum puas, "Janji, nanti kita saling melepas rindu." ucapnya sebelum berlalu meninggalkan Yasmine yang merona mendengar permintaan Bara.


__ADS_2