Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Terprovokasi


__ADS_3

Sementara Bara tengah berjuang menahan gelora yang mulai menggoda dirinya, Banyu di kamarnya sedang merenung. Ia memikirkan apa yang menjadi alasan Pak Kyai menikahkan Bara dan Yasmine. Padahal jelas jelas pagi hari tadi beliau mengacuhkan Bara saat saudaranya itu mengungkapkan perasaannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Setelah pulang dari rumah sakit semuanya berubah begitu cepat. Apa mungkin Yas hamil? Ah itu tidak mungkin. Dia wanita yang bermartabat. Nggak mungkin dia melakukan hal yang dilarang seperti itu. Atau jangan-jangan Yas menderita penyakit serius yang susah disembuhkan sehingga Pak Kyai memutuskan memberinya kebahagiaan di sisa umurnya yang sedikit itu. Ah... kasihan Bara. Ia akan menduda di usia muda." gumam Banyu lirih.


"Besok aku harus memberinya semangat. Dia tidak boleh putus asa. Meski Yas divonis tidak bisa sembuh, tapi mati kan di tangan Allah. Ya... Aku akan meminta bantuan dari papa atau kak Bintang atau mungkin Om Bima untuk mencarikan dokter yang hebat agar Yas tertolong." kembali Banyu bergumam.


Di ruangan yang berbeda di asrama putra, Fahri duduk dikelilingi Bimo dan anak buahnya.


"Kak Fahri sih nggak mau dengerin peringatanku sejak dulu. Aku sudah bilang, jangan memberi angin bagi Bara dan Banyu. Sekarang terbukti kan omonganku!"


Fahri tidak berkomentar. Ia diam menahan kecewa dan rasa sakit yang amat sangat. Sebelum kedua saudara kembar itu masuk pesantren, dirinyalah yang paling dekat dengan Ustadz Huda. Bahkan ia menjadi murid kesayangan Pak Kyai. Namun sejak si kembar masuk dan berhasil mengambil hati Ustadz Huda, ia jadi dilupakan. Namun sikap Pak Pkyai padanya masih sama. Pak Kyai sangat menyayanginya.


"Bagaimana bisa?! Bagaimana Pak Kyai bisa lebih memilih Bara daripada aku?!" geram Fahri.


Ia mengira Pak Kyai sayang dan akan menjodohkannya dengan Yasmine. Karena Pak Kyai sering memujinya sebagai murid yang berbakat.


"Yah.. Pak Kyai jelas mendengarkan perkataan Ustadz Huda, kak. Kalau Ustadz Huda memilih Bara, ya Pak kyai pasti akan nurut." Bimo terus mengompori Fahri.


"Meski begitu kenapa mereka dinikahkan secepat ini? Bahkan Yas juga belum lulus kuliah. Dan Bara, ia juga belum tamat SMA."


Semua diam mendengar keluhan Fahri. Mereka menerka-nerka apa penyebab pernikahan ini.


"Mungkin hubungan mereka berdua terbongkar. Jadi daripada membuat malu, dinikahkan." celutuk Asrul. Salah satu kawan Bimo.


"Hubungan apa?" tanya Fahri.


"Kamu kalau ngomong yang jelas! Jangan asal." semprot Bimo.


"Begini. Adikku yang di asrama putri pernah melihat Yasmine dan Bara berduaan saat hujan deras di ruangan menjahit beberapa bulan yang lalu. Sebelum Yasmine berangkat ke Kairo. Bahkan kata adikku Bara menggendong Yasmine saat itu."


"Apa?!?!" Serempak yang ada di ruangan itu berteriak tak percaya.


"I.. i.. iya. Itu cerita adikku." Asrul tergagap karena kaget.


Bimo menoyor kepala Asrul, "Dasar, kenapa baru cerita sekarang."


Asrul. menggaruk kepalanya yang barusan ditoyor Bimo, "Lupa." jawabnya sambil nyengir.


"Bara berani masuk asrama putri dan bahkan menggendong Yasmine." gumam Fahri panas, "Apalagi yang diceritakan adikmu?"


"Adikku bilang, dia melihat Bara menyingkap gamis Yasmine,"


"Appaa?!!"


Asrul berjingkat saking kagetnya.


Bimo kembali menoyor kepala Asrul. Kali ini lebih keras hingga Asrul terhuyung.


"Dasar bahlul." umpat Bimo saking kesalnya.


Fahri semakin kuat mengepalkan tangannya, "Aku tahu kenapa mereka dinikahkan secepatnya. Pasti mereka sudah melakukan hal memalukan itu." geram Fahri murka.


"Kalau seperti itu, kita tidak bisa tinggal diam, Kak. Kita harus menuntut keadilan. Bara harus dihukum. Kita harus berani menegakkan kebenaran!" kata Bimo berapi-api.


"Kita ke rumah Pak Kyai sekarang. Kita seret Bara untuk diadili!" sambung Bimo memprofokasi teman-temannya.

__ADS_1


"Ya.. benar!!" sambut yang lain.


"Ayo berangkat!! " ajak Bimo. Ia berjalan diikuti oleh kelompoknya.


"Tunggu!! " cegah Fahri.


Bimo dan kawan-kawannya berhenti.


"Kenapa, Kak?" tanya Bimo.


"Jangan sekarang. Besok pagi saja setelah sholat subuh. Kita langsung menghakimi Bara sepulang dari masjid." kata Fahri.


"Kelamaan, Kak. Lebih baik sekarang saja." kata Bimo yang akan kembali bergerak.


"Bimo, jangan gegabah. Kalau kita menghadap Pak Kyai sekarang, kita nggak akan punya kesempatan buat melampiaskan kekesalan kita. Pak Kyai pasti akan membela Bara karena kita nggak punya bukti kuat. Jadi besok pagi, kita bisa menghajarnya sendiri. Nggak perlu bukti." kata Fahri sambil mengulas senyum jahat di bibirnya.


Bimo menganggukkan kepala tanda memahami ide Fahri. Bibirnya juga mengukir senyuman sinis. Hatinya gembira karena niatnya menghancurkan Bara tinggal menunggu waktu.


Kali ini Bara, lain waktu Banyu. Kalian berdua akan menerima balasanku.


"Sekarang bubar! Sudah larut. Jangan sampai ada yang melapor ke para ustad kalau kita begadang." perintah Fahri.


Bimo membubarkan kawan kawannya. Ia tetap tinggal di tempat karena memang ia sekamar dengan Fahri.


Fahri berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya. Bimo melihatnya. Muncul ide jahat dalam otak liciknya.


"Kak, kalau kau ingin membalas mereka dengan balasan yang menyakitkan, aku ada ide." kata Bimo sambil mendekat. Ia menarik kursi plastik yang ada di kamar itu dan menaruhnya di sisi ranjang Fahri lalu ia duduk di kursi itu.


"Apa?" jawab Fahri sekedarnya.


"Maksudmu?" Fahri mulai tertarik.


"Lakukan hal yang sama pada adik Bara. Seperti apa yang Bara telah lakuin terhadap Yasmine. Bedanya jangan pernah mau tanggung jawab." kata Bimo dengan liciknya.


Fahri menatap Bimo. Ia mulai tertarik dengan ide Bimo. Rasa kecewa dan amarah telah menguasai Fahri, membuat akal sehatnya hilang. Ditambah Bimo yang pandai memprovokasi membuat amarah Fahri kian membara.


"Tapi bagaimana caranya?" gumam Fahri.


Bimo tersenyum saat Fahri mulai memakan umpannya.


"Soal itu serahkan padaku." katanya.


Satu persatu, kalian akan kudepak dari pesantren ini. Nggak boleh ada yang melebihi Bimo di sini.


"Baiklah. Kau atur saja. Aku mau tidur. Capek." Fahri memiringkan tubuhnya sehingga memunggungi Bimo. Ia tidak bisa melihat pandangan dan senyum kebencian di wajah bengis Bimo.


Di kamar Yasmine.


Tengah malam, Bara terbangun karena ia merasakan tubuhnya seperti terhimpit hingga ia susah bergerak dan bernafas. Bara kaget saat tahu, tubuh Yasmine tengah berbaring di atas tubuhnya.


Bara berusaha menggerakkan tubuhnya perlahan agar tidak mengganggu tidur Yasmine. Saat Bara bergerak, Yasmine juga ikutan menggerakkan kakinya hingga kaki itu menyentuh benda keramat Bara.


"Yass!" geram Bara dengan suara tertahan takut membangunkan Yasmine.


Tiba-tiba Yasmine mengangkat kepalanya. Bara segera menutup mata pura-pura tidur.

__ADS_1


Mata Yasmine mengerjab sebelum akhirnya terbuka. Yang pertama ia lihat adalah dada bidang Bara yang ia jadikan bantal.


"Aw!" pekik Yasmine kaget. Ia menutup mulutnya. Wajahnya langsung merah. Perlahan ia turun dari tubuh Bara.


"Oh.. untungnya dia tidur." gumam Yasmine. Ia lalu memandangi wajah Bara.


"Tampan. Kau memang sangat tampan.* bisik Yasmine lirih namun masih bisa di dengar oleh Bara. Yasmine mengelus ujung hidung mancung Bara dengan jari tengahnya, " Ini hidung apa monas." katanya sambil tersenyum. Jari Yasmine lalu berpindah ke alis Bara.


"Lebat laksana hutan hujan tropis." gumam Yasmine. Kini jari itu turun ke bibir Bara. Tangan Yasmine bergetar saat jarinya menyentuh bibir Bara. Tak ada kata yang keluar dari mulut Yasmine. Berkali kali Yasmine menelan ludah sambil menatap bibir Bara. Ia ingat bagaimana rasanya saat bibir itu menekan bibirnya.


Bara yang sejak tadi pura-pura tidur tidak bisa lagi menahan diri. Ia memegang tangan Yasmine yang sedang membelai bibirnya. Matanya terbuka menatap langsung ke manik hitam Yasmine.


"Kau tidak tidur?" tanya Yasmine gugup.


Bara tidak menjawab. Ia langsung bangkit dan mendorong Yasmine hingga gadis itu terlentang di bawahnya. Mata mereka saling menatap penuh makna.


"Boleh?" tanya Bara dengan suara bergetar. Yasmine diam. Hanya matanya yang terus menatap pria mempesona yang saat ini menguasai tubuhnya.


"Boleh?" kembali Bara meminta ijin.


"Tapi aku...."


Bara menaruh telunjuknya di bibir Yasmine. Ia lantas memegang ubun-ubun Yasmine dan mengucap doa. Selesai berdoa, Bara meniup ubun-ubun Yasmine.


Tubuh Yasmine bergetar seolah aliran listrik mulai menyengat saat tiupan nafas Bara ia rasakan di ubun-ubunnya.


Bara mengecup kening Yasmine, lalu kedua kelopak matanya, ujung hidung mbangir Yasmine dan terakhir bibir Bara berlabuh di bibir Yasmine. Yasmine memejamkan mata. Setelah berlabuh lama di bibir Yasmine, Bara kini menyusuri leher jenjang nan putih yang membuat pemiliknya mendesah.


"Anna uhibbuki fillah." bisik Bara di telinga Yasmine. Ia lalu menatap wajah cantik yang ada di bawahnya itu.


"Anna uhibbuka fillah, zauji." balas Yasmine dengan wajah merona.


Mendengar ucapan Yasmine, Bara kian bersemangat. Ia kembali memagut bibir Yasmine. Tangannya mulai ikut aktif bergerilya di bagian yang sensitif yang membuat Yasmine menggelinjang, memekik dan mendesah saat bagian itu terjamah.


Tidak ada lagi kata untuk mengungkap rasa. Yang ada, mereka menyatukan rasa dengan sentuhan, pagutan, dan hisapan. Hingga saat menuju puncak, pekik lirih lolos dari bibir Yasmine. Tangannya mencengkeram kuat lengan Bara.


Bara menghentikan gerakannya. Ia memandang wajah Yasmine yang terpejam sambil menggigit bibir bawahnya menahan sakit. Bara mengelus pipi Yasmine. Yasmine membuka mata.


"Maaf!" bisik Bara. "Sakitkah?" tanyanya.


Yasmine mengangguk pelan. Bara merasa bersalah dan menjadi tidak tega Ia bermaksud menghentikan aktivitas mereka Namun hasratnya yang sudah sampai puncak menuntut pelepasan.


Yasmine bisa melihat keraguan di wajah Bara. Sebagai wanita sholehah yang tahu kewajiban istri, ia segera mengambil inisiatif.


Yasmine mengalungkan lengannya di leher Bara dan menarik kepala Bara mendekat Ia lalu mencium bibir Bara. Bara kaget menerima perlakuan Yasmine.


Yasmine melepaskan ciumannya


"Lakukan suamiku, jangan ragu." bisik Yasmine lembut. Ia lalu mencium Bara lagi. Bermain dengan bibir Bara untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit.


Mendapat lampu hijau, Bara kembali mengatur posisi dan dengan sekali gerakan ia berhasil membuat Yasmine kembali memekik bahkan menitikkan air mata.


Bara merasakan kenikmatan yang luar biasa yang harus ia bayar dengan gigitan Yasmine di bibirnya.


...🍃🍃🍃...

__ADS_1


Dilanjutkan besok... biar Baranya lama berendam dulu....


__ADS_2