
"Abah, Umi. Setelah sarapan Huda akan mengantar Wiena." Ustaz Huda mulai membuka pembicaraan dengan kedua orangtuanya.
Kyai Hasan dan Nyai Hasan menganggukkan kepalanya memberi ijin.
Semoga dengan perpisahan bisa menumbuhkan perasaan di hati Wiena agar anakku tidak merana. batin Nyai Hasan.
Yasmine hanya menatap penuh iba pada kakaknya. Kakaknya tidak pernah jatuh cinta. Sekalinya jatuh cinta, wanita yang ia cintai malah melabuhkan hatinya pada pria lain.
"Sampaikan salam kami pada keluargamu nanti." Kyai Hasan menatap Wiena.
Wiena mengangguk. Sesungguhnya ia merasa tidak enak kepada kedua orang tua yang baik itu.
"Abah, Yas juga ikut menemani kak Huda. Sekalian Yas ingin mengunjungi rumah mertua Yas." pamit Yasmine.
"Iya. Pergilah. Sudah waktunya kamu mengunjungi mereka." Kyai Hasan memberikan ijinnya membuat Bara tersenyum lebar.
Bara mengira kalau Kyai Hasan tidak akan mengijinkan Yasmine ikut dan menginap di rumahnya.
"Abah sudah kenyang. Kalian lanjutkan." Kyai Hasan bangkit dari duduknya.
Semua menatap heran. Tidak pernah Kyai Hasan meninggalkan meja makan saat yang lain masih belum selesai makan.
"Kalian lanjutkan saja. Umi akan menemani abah. Mungkin abah merasa tidak enak badan." Nyai Hasan ikut mengakhiri sarapannya.
Bara dan Banyu saling pandang. Ustaz Huda hanya menunduk. Ia tahu jika Abah dan Uminya pasti sedih atas nasib rumah tangganya.
"Kak." Yasmine menyentuh tangan Ustaz Huda. "Bagaimana lukamu?"
"Mendingan. Sebentar lagi juga sembuh." Ustaz Huda membalas senyum Yasmine namun hanya sebentar. Kemudian ia murung lagi.
Di kamar, Kyai Hasan duduk termenung menghadap ke luar jendela.
"Abah, apa yang mengganggu pikiran abah sampai tidak enak makan?" Nyai Hasan datang dan langsung mengelus pundak suaminya.
Kyai Hasan menarik nafas dengan berat. "Umi, apakah keputusanku menikahkan mereka salah?"
Nyai Hasan tersenyum. "Tidak ada kesalahan untuk hal baik, abah. Aku tahu niat abah adalah menjauhkan mereka dari dosa. Huda sudah cukup usia. Abah menikahkannya dengan wanita yang ia cintai. Umi yakin Huda tidak akan menyalahkan abah."
"Tapi Wiena sepertinya tidak menyukai Huda."
"Belum bukan tidak. Umi yakin sebenarnya ada rasa cinta di hati Wiena hanya saja ia belum menyadarinya. Biarkan mereka berjauhan. Biar rasa itu muncul dan menemukan jalannya. Kita hanya tinggal berdoa saja abah."
"Kau benar Umik. Jika kita tidak bisa mendapatkan hati seseorang, yang bisa kita lakukan hanyalah meminta kepada sang pemilik hati. Yang Maha Membolak-balikan hati manusia."Kyai Hasan memegang dan mencium tangan Nyai Hasan.
"Itu abah tahu.Lalu buat apa abah bimbang." Nyai Hasan memeluk leher suaminya dari belakang.
__ADS_1
Kyai Hasan tertawa bahagia dengan sikap istrinya."Hanya umik yang mampu meredam kegelisahan abah."
"Bukan hanya kegelisahan hati abah, kegelisahan abah yang lain juga mampu umik redam." jawab Nyai Hasan nakal.
Kyai Hasan tertawa hingga terdengar sampai ruang makan. Mereka yang mendengar kembali saling memandang.
Kembali ke kamar. Kyai Hasan berdiri dari duduknya. Ia menghadap Nyai Hasan lalu menarik istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Tumben nakal.Umik lagi pengen ya?" goda Kyai Hasan. Ia terbelalak kaget saat merasakan kepala istrinya yang ada di dadanya mengangguk.
"Kalau begitu tunggu apa lagi." Kyai Hasan melepaskan pelukannya. Ia berjalan ke pintu dan menguncinya.
Ceklek
Mereka yang di ruang makan mendengar suara pintu di kunci. Wajah Bara, Yasmine, dan Ustaz Huda langsung memerah. Mereka bisa mengira apa yang sedang terjadi di dalam sana.
Meski belum pernah merasakannya, Ustaz Huda sudah dewasa. Ia melirik Wiena yang malah asik melanjutkan sarapannya.
"Aku sudah kenyang. Aku akan bersiap." Bara bangun.Ia menarik tangan Yasmine.
"Sayang bantu aku!"
Yasmine mengangguk. Ia mengambil tisu dan mengelap mulutnya yang berada dibalik niqab. Bara membawa Yasmine ke kamarnya.Ia juga mengunci pintu kamar.
Banyu sangat sebal dengan perilaku Bara. Keinginannya untuk melamar Camelia semakin besar.
"Kak Wiena, aku tunggu di luar.' Ia meninggalkan Wiena dan Ustaz Huda berdua.
Wiena mengangguk.
“Aku juga akan masuk. Maaf, tidak membantumu membereskan meja. Kalau kamu capek, tinggalkan saja. Nanti juga akan ada yang membereskannya.”
Ustaz Huda bangkit dari kursinya lalu melangkah ke kamarnya.
Wiena merapikan meja itu sendirian. Ia mencuci semua peralatan yang mereka pakai untuk makan. Selesai berbenah, Wiena Kembali ke ruang makan.
Kenapa masih sepi.
Wiena lalu keluar menuju teras.
“Banyu,kamu sendirian saja? Mana Bara?” Wiena duduk di depan Banyu.
“Ya masih di kamarnya lah. Kakak pikir mereka bisa dengan cepat melakukan itu?”
“Melakukan itu apa?” Alis Wiena bertaut.
__ADS_1
“Pikir sendiri!” Banyu malas menjawab pertanyaan bodoh Wiena.
Wiena tampak memikirkan ucapan Banyu.
“Apa mereka melakukan hal yang sama dengan yang kyai dan nyai lakukan?” Wiena menggeser kursinya agar duduk lebih dekat dengan Banyu.
Banyu hanya menaikkan alisnya.
“Eh, mereka melakukan itu juga?” Wajah Wiena mengernyit.
“Kenapa? Mereka suami istri, normal dan wajar kalau melakukannya. Yang tidak wajar itu kakak. Punya suami dianggurin. Ingat kak! Menolak suami itu dosa. Kakak bisa dikutuk tujuh puluh malaikat.” Banyu menatap tajam mata Wiena.
“Kata siapa?Jangan menakutiku!” Wiena bergidik ngeri membayangkan dikutuk malaikat. Satu malaikat saja ia tidak akan sanggup,ini tujuh puluh malaikat.
Banyu terkekeh mendengar pertanyaan konyol Wiena.
“Makanya kak, punya agama jangan hanya dipeluk tapi dipelajari.”
“Itu ajaran agama kita?”
“Ya iyalah. Masa kakak tidak tahu?”
Wiena menggeleng.
Banyu menepuk jidatnya, “Sekarang aku sadar kenapa Allah menjodohkan kakak dengan ustaz Huda. Agar ada yang mengajari kakak.” Kata Banyu tegas.
“Nyu, kalau wanitanya tidak memiliki perasaan pada suaminya, apakah masih dikutuk?”
Banyu melirik wajah pucat Wiena. Dalam hati Banyu tersenyum.
“Kak, jika wanita sudah menikah, maka semua yang ada pada diri wanita itu menjadi hak suaminya. Termasuk hatinya. Ada ataupun tidak ada perasaan. Dan seorang istri, haram menyimpan pria lain dalam hatinya selain suaminya. Kakak tahu hukumnya haram kan?”
Wiena menelan ludah dengan susah payah. Ia mengangguk. Wajahnya kian pucat
Mungkin aku memang tidak tahu banyak ilmu agama, tapi aku tahu ap aitu haram dan aku takut dosa.
“Nyu, mm a.aku masuk dulu.” Wiena bergegas meninggalkan Banyu yang menahan tawa melihat wajah pucat Wiena.
Akan bertambah satu pasangan lagi yang membuat gempa. Ustaz Huda, kau harus berterima kasih padaku.
Banyu lantas menyelonjorkan badannya. Ia mencari posisi nyaman buat tidur karena ia tahu masih lama kedua orang yang akan bepergian dengannya itu keluar.
...----------------...
Sabar ya Banyu, nanti akan tiba juga giliranmu....
__ADS_1