
"Bara!" Banyu memanggil saudaranya dengan penuh kekhawatiran. Bara menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia tersenyum meski kentara kalau itu senyum terpaksa.
"Aku tidak apa-apa." jawab Bara. Banyu tidak tahan melihat saudaranya itu. Ia memeluk Bara.
"Kalau jodoh tak akan kemana." bisiknya mencoba memberi semangat pada Bara.
"Aku tidak apa-apa. Kamu tenang saja. Aku tahu ini akan terjadi. Mungkin aku terlalu terburu-buru. Tapi niatku baik. Aku hanya ingin menunjukkan kesungguhan ku. Mungkin aku memang tidak....belum pantas buat Yasmine." kata Bara.
"Percayalah. Semua akan indah pada waktunya." kembali Banyu menyemangati Bara.
"Iya. Ayo kita ke kamar."
Dengan berangkulan mereka mulai menuju kamar mereka.
Di rumah Pak Kyai.
Ustadz Huda menyusul abahnya ke dalam.
"Abah!" panggilnya.
Pak Kyai berhenti dan duduk di sofa ruang tengah. Wajahnya sedikit murung. Ia menghela nafas berat.
"Abah?!" kembali ustad Huda bersuara sambil. duduk di depan abahnya.
"Kau pasti ingin bertanya kenapa aku bersikap seperti tadi." kata Pak Kyai sambil. mendesah. Beliau mengusap mukanya dengan telapak tangan.
"Na'am, Bah."
Pak Kyai kembali menarik nafas dalam. dalam. "Aku hanya menyelamatkannya dari perbuatan haram."
"Maksud abah?"
"Melamar wanita yang sudah dilamar saudara seiman nya adalah perbuatan haram."
__ADS_1
Ustadz Huda tercekat, "Maksud abah? Sudah ada yang mengkhitbah Yasmine?"
Pak Kyai mengangguk.
"Oh.. abah." desah Ustadz Huda. Ia merasa bersedih. Ia berharap Baralah kelak yang akan menjadi imam bagi adik kesayangannya itu. Ia tahu Bara pemuda baik. Ia juga tahu kalau Yasmine juga menaruh hati pada Bara.
"Apa Yas tahu, Bah?"
Pak Kyai menggeleng.
"Abah?! Bagaimana abah bisa memutuskannya sendiri?" tanya Ustadz Huda menyesali keputusan abahnya.
"Huda, abah terikat janji." jawab Pak Kyai pendek.
"Apa Huda tahu siapa. pemuda itu, Bah?"
Kembali Pak Kyai menghela nafas, "Kurasa tidak. Bahkan abah juga belum bertemu dengannya. Abah hanya mengetahui tentang dirinya dari teman abah. Katanya pemuda itu juga sedang memperdalam ilmu agama di sebuah pesantren. Kelak jika ia sudah lulus, akan dibawa menghadap abah untuk di pertemukan dengan Yas."
Ustadz Huda menelan ludah dengan susah payah. Ia merasa dadanya sesak. Pikirannya tertuju pada Bara dan juga Yasmine bergantian.
Ustadz Huda kemudian mohon diri. Ia keluar dari rumahnya. Tujuannya ke asrama putra untuk menjumpai Bara.
Di kamarnya, Bara sedang membersihkan dan merapikan ruangan itu. Selama mereka tinggal, ruangan itu banyak debu.
"Akhirnya selesai juga." kata Banyu. Ia kemudian membanting tubuhnya di ranjang karena kelelahan.
Bara ikutan berbaring. Ia melihat ke langit-langit.
Yas...
Hatinya memanggil Yasmine.
Saat mereka terlena dalam pikiran masing-masing, pintu kamar mereka diketuk dari luar.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." Ustadz Huda memberi salam.
"Waalaikumsalam." Banyu segera bangkit dan bergegas membuka pintu. Bara duduk di atas ranjangnya.
"Ustad. Mari silahkan masuk."
Ustad Huda tersenyum lalu masuk. Pertama yang ia lihat adalah Bara. Bara mengangguk hormat.
"Duduk saja!" perintah ustadz Huda saat melihat Bata akan berdiri. Ustad Huda lantas duduk di sebelah Bara.
"Sabar." katanya pada Bara. Bara mengangguk.
"Ustadz tahu sejak lama kalau kamu ada hati sama Yasmine. Dan Ustadz merestuimu."
Bara mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk.
"Syukron ustadz. Tapi Pak Kyai?" kata Bara.
"Abah... beliau terikat janji." jawab Ustadz Huda dengan wajah sedikit murung.
"Janji?" tanya Bara.
"Iya. Dengan temannya. Janji untuk menjodohkan anak anak mereka."
Mata Bara membola.
"Itu tandanya Yasmine dijodohkan?" gumamnya.
"Begitulah. Tapi jangan putus asa. Tikung di sepertiga malammu. Kalau jodoh tak akan kemana. Mintalah pada sang pemilik hati."
Harapan di hati Bara yang semula redup kini bersinar lagi. Senyum cerah menghiasi wajahnya. Restu dan nasehat ustadz Huda bagai oase di padang pasir, menyejukan hati Bara.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Dikit dulu ya... semoga menghibur.