
"Jadi ini keputusan kalian?" Langit menatap Bara dan Yasmine yang duduk di hadapannya.
"Iya Pa. Yasmine akan kembali menyelesaikan studinya dan aku, aku akan di sini. Belajar sambil bekerja." Bara menjawab sambil memegang lembut tangan Yasmine. Bibirnya menyungging senyum tipis.
Anggi mengamati wajah Bara. Ia tahu kalau putranya itu menyimpan kegetiran. Dia harus berpisah dari istrinya sedangkan saudara kembarnya dalam keadaan yang menyedihkan.
"Pengorbananmu akan berbuah manis, nak." lirih Anggi. Hatinya tak kalah pilu melihat nasib putra kembarnya.
Langit merangkul Anggi untuk memberi kekuatan. Dia sadar betul bagaimana perasaan istrinya saat ini karena dia juga merasakan hal yang sama.
"Baiklah, papa dan mama mendukung keputusan kalian. Papa ingatkan, hubungan jarak jauh itu berat. Kalian harus kuat. Kalau Yasmine, papa yakin mampu mengatasinya. Namun..."
"Papa meragukanku?" Bara memotong ucapan Langit.
Langit mengangkat bahu dengan mimik wajahnya yang meremehkan Bara.
"Pa." Bara protes. Dia tidak terima dengan sikap yang ditunjukan oleh Langit.
"Jangan salahkan papa karena papa sangat mengenalmu." timpal Langit.
Bara yang tidak terima terus menyangkal ucapan Langit. Langit nggak mau kalah. Mereka saling mempertahankan pendapat masing masing. Suasana yang tadinya sedih berubah menjadi ramai dengan tingkah keduanya.
Yasmine melihat itu dengan bingung. Ia mandang Anggi yang hanya diam saja tanpa berusaha melerai keduanya.
Anggi menggelengkan kepalanya memberi isyarat agar Yasmine tidak melakukan apa-apa. Anggi tahu kalau Langit sengaja melakukan itu untuk mengusir kesedihan anaknya.
__ADS_1
Di kamarnya, Banyu terdiam mendengar keributan antara Bara dan Langit. Tangannya mengepal kuat.
Aku tahu, Papa tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia hanya ingin menghilangkan kesedihan Bara. Sekarang ini, Baralah yang bisa jadi harapan keluarga ini. Bukan aku yang cacat ini.
Keesokan harinya, Bara mengantar Yasmine ke rumah Wiena karena Yasmine akan pulang bersama Ustadz Huda. Anggi dan Langit melepas kepergian keduanya di teras.
Setalah mobil yang membawa Bara dan Yasmine keluar, Langit juga berpamitan hendak berangkat kerja.
"Rohi, aku berangkat dulu. Jangan terlalu banyak berpikir soal Banyu. Tadi Bima memberi kabar kalau dokter mata kenalannya ingin memeriksa kondisi Banyu. Kita tunggu saja kedatangannya!"
Anggi mengangguk.
Langit akan naik ke mobilnya saat ada mobil lain memasuki halaman rumahnya.
Langit menutup kembali pintu mobil yang ia buka. Bersama Anggi, ia menunggu siapa tamu yang mengunjungi rumahnya pagi-pagi begini.
"Mari Bah. Kita sudah sampai."
"Sudah ya. Bantu abah turun!
Pemuda itu membantu abahnya yang tak lain adalah H Asnawi turun dari mobil. Ia lalu memapah abahnya berjalan mendekati Anggi dan Langit yang masih berdiri menunggu kedatangan mereka.
Begitu H.Asnawi dan Bagas mendekat, Langit langsung menyongsongnya. Ia mengambil tangan H Asnawi lalu menciumnya dengan takjim.
"Assalamualaikum Pak Haji." salam Langit sopan.
__ADS_1
"Tuan Langit, apa yang kau lakukan?" Haji Asnawi berusaha menarik tangannya.
"Bukan apa-apa Pak Haji. Ini adalah bentuk rasa hormat saya pada Pak Haji." balas Langit. Ia lalu mengulurkan tangannya pada Bagas.
Bagas melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Langit pada abahnya.
"Nak Bagas." tegur Langit.
"Seperti ucapan Tuan, ini juga bentuk rasa hormat saya sebagai yang lebih muda." Bagas tersenyum.
Langit menepuk pundak Bagas.
"Assalamualaikum Pak Haji." Anggi menangkubkan kedua tangannya di dada. Bagas membalasnya sambil menundukkan kepala.
"Waalaikumsalam Nyonya. Maaf pagi-pagi sudah bertamu."
"Tidak apa-apa, Pak Haji. Mari sioahkan masuk!"
"Mari Pak Haji, Bagas!" ajak Langit
Berempat, mereka masuk. Sesampainya di dalam Anggi langsung menuju dapur untuk menyiapkan suguhan. Tak berapa lama kemudian Langit menyusulnya.
"Rohi, kira-kira untuk apa ya mereka datang? Pagi-pagi lagi. Sepertinya penting sekali?"
"Mana aku tahu, By. " jawab Anggi lalu meninggalkan Langit sambil membawa baki berisi minuman dan camilan untuk tamunya.
__ADS_1
Langit mengekor di belakang Anggi dengan hati penuh tanya akan tujuan kedatangan Haji Asnawi.