
"Umik. Apa yang umik rasakan sekarang?" Yasmine membantu umiknya yang sudah sadar dan berusaha untuk duduk.
"Umik nggak papa. Huda? Bagaimana dengan Huda?" Umik kembali panik.
"Yangzi sedang menyusulnya. Umik tenang saja!"
Wiena datang sambil membawa segelas air.
"Minum dulu Nyai!"
"Makasih." Nyai Hasan menerima minuman dari tangan Wiena.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam."
Bara masuk dengan tergesa.
"Bara, bagaimana dengan Huda?" Nyai Hasan langsung berdiri menghampiri Bara.
"Umik tenang ya! Bara pulang untuk mengambil mobil."
"Mobil untuk apa?" Umik kian cemas. Yasmine mengelus bahu umiknya sambil terus berbisik meminta umiknya tenang Wiena diam mematung.
Mengapa dia bisa kecelakaan? Apakah ada hubungannya dengan sikapku?
"Kami harus mengantar Kak Huda ke rumah sakit umik." Bara menjawab dengan hati-hati. Ia takut menambah kecemasan Nyai Hasan.
Bara mengambil kunci mobil dan pamit.
"Umik ikut!"
"Umik jangan. Kita di rumah saja!" Yasmine membujuk Nyai Hasan.
"Yas.. Kakakmu. Umik ingin melihat kakakmu."
"Maaf umik. Bara pergi dulu. Kami harus cepat."
"Iya umik. Nanti kita menyusul mereka."
"Ya sudah pergilah. Tolong kakakmu!"
Setelah mengucap salam, Bara bergegas ke garasi dan mengeluarkan mobil.
Sudah lima jam Yasmine, Wiena dan Nyai Hasan menunggu di rumah. Yasmine terus berbalas pesan dengan Bara menanyakan keadaan kakaknya.
"Apa ada kabat dari Bara?Kenapa mereka lama sekali?" Nyai Hasan gelisah.
"Kak Huda lagi diperiksa umik. Karena tadi mengeluarkan banyak darah jadi sekarang harus transfusi darah. Dan lukanya juga harus dijahit."
"Oh. Umik ke dalam dulu. Nanti kalau mereka datang, panggil Umik!"
"Umik mau apa?" Yasmine berdiri.
"Umik mau mendoakan Huda. Kasihana anakku itu."
Jleb.
Hati Wiena bagai ditusuk mendengar Nyai Hasan mengasihani Ustaz Huda. Pasti maksudnya ada hubungannya dengan pernikahannya.
Nyai Hasan berjalan tertatih dengan dipapah Yasmine.
Wiena bangkit lalu melangkah keluar. Ia berdiri di teras memandang kegelapan malam. Sayup-sayup terdengar para santri mengaji.
"Kak, kenapa di luar?" Yasmine berdiri di samping Wiena.
"Maafkan aku Yas." suara Wiena bergetar.
"Semua ini salahku."
"Kak, ini bukan salah Kak Wiena. Jangan menyalahkan diri sendiri."
__ADS_1
Wiena terisak. " Jika aku tidak.."
"Kak, jangan berandai-andai. Dosa. Kita dilarang berandai-andai karena terkesan menolak takdir."
"Tapi, Yash."
"Kak, yang sudah terjadi biarkan terjadi. Tugas kita hanya memperbaiki diri. Jika Kak Wiena merasa menyesal, saatnya Kak Wiena memperbaiki apa yang menurut kakak salah. Bukan berandai-andai."
Wiena menunduk.
"Masuk yuk, Kak! Dingin di luar. Nanti masuk angin."
Yasmine dan Wiena akan masuk saat ada sorot lampu mobil mengarah ke arah mereka.
"Mereka datang!" Yasmine berbalik. Begitu juga dengan Wiena.
"Mereka sudah pulang." Nyai Hasan keluar saat mendengar suara mobil. Ia langsung keluar menuju mobil dengan tergesa. Yasmine dan Wiena menyusulnya.
"Hati-hati!" Banyu membantu ustaz Huda keluar dari mobil.
"Huda, kamu nggak papa nak!" Umik ingin memeluknya saat Kyai Hasan berseru.
"Hati-hati! Jangan main peluk. Nanti kena lukanya!"
Akhirnya Nyai Hasan meraih kepala Usta Huda dan mencium keningnya.
"Umik. Huda nggak papa." Mata Ustaz Huda menatap sayu wajah cemas di hadapannya.
"Umik, biar Huda masuk dulu!" titah Kyai Hasan sambil merengkuh pundak istrinya dan membawanya menepi memberi jalan pada Ustaz Huda yang dipapah Banyu dan Bara.
Ustaz Huda berjalan perlahan. Baru beberapa langkah ia berhenti karena di depannya berdiri Wiena. Mereka saling memandang.
"Syukurlah, kamu tidak apa apa." lirih Wiena lalu menepi.
Ustaz Huda tersenyum. Ia kembali melangkah.
"Bawa aku ke kamar tamu!"
Permintaan Ustaz Huda mengagetkan semuanya tak terkecuali Wiena. Ia menunduk.
"Bara! Banyu! Bawa aku ke kamar tamu!"
"Jangan!!" cegah Wiena. "Bawa ke kamar. Dia akan lebih nyaman jika berada di kamarnya."
"Kak Wiena benar. Ayo Nyu." Bara dan Banyu mengangkat tubuh Ustaz Huda.
"Eh apa yang kalian lakukan. Bawa ana ke kamar tamu!" Ustaz Huda berteriak namun tidak dihiraukan oleh Bara dan Banyu.
"Selamat malam Ustaz. Selamat beristirahat." Bara dan Banyu meninggalkan Ustaz Huda yang kini terbaring lemah di kamarnya.
Di luar, Wiena bingung. Ia menyesali keputusannya membiarkan ustaz Huda tidur di kamarnya.
"Sayang, aku ngantuk. Kita istirahat yuk!" Bara menggamit bahu Yasmine.
"Aku ingin melihat keadaan Kak Huda dulu Yangzi."
"Sayang, Kak Huda baik-baik saja. Aku yang saat ini tidak baik."
Bara mendekatkan wajahnya ke telinga Yasmine dan berbisik.
"Beri waktu buat mereka berdua."
Yasmine akhirnya menurut saat Bara membawanya masuk ke kamar.
Kyai Hasan juga melakukan hal yang sama. Ia membuat alasan masuk angin dan butuh dikerokin. Nyai Hasan yang ingin melihat ustaz Huda menjadi urung. Beda dengan Yasmine, ia langsung mengerti maksud suaminya.
"Banyu, terimakasih sudah membantu Huda. Anta istirahat saja di kamar tamu. Tidak usah kembali ke asrama!" titah Kyai Hasan.
"Baik Pak Kyai."
"Wiena, umik harus.merawat suami umik. Tolong kau jaga Huda untuk umik ya!"
__ADS_1
Wiena terpaksa mengangguk.
Setelah semua masuk ke kamar masing-masing, Wiena memutuskan untuk masuk juga ke kamar ustaz Huda.
Saat ia masuk, Usta Huda langsung memandangnya. Wiena menunduk.
"Kalau kamu tidak nyaman, aku akan keluar." Ustaz Huda berusaha bergerak namun ia mendesis kesakitan.
"Kamu tidak apa-apa?" Wiena spontan mendekat.
"Tidak." Ustaz Huda menggeleng.
"Jangan bergerak. Kata Bara lukamu cukup lumayan. Jadi jangan banyak bergerak dulu."
Ustaz Huda kembali ke posisinya. Berkali-kali ia berubah posisi.
"Apa kurang nyaman?" tanya Wiena melihat tingkah ustaz Huda.
"Ini, bantalnya kurang landai. Aku..."
Ustadz Huda menghentikan ucapannya karena Wiena mendekat dan mengambil bantal yang mengganjal punggung Ustaz Huda. Posisi mereka sangat dekat. Ustadz Huda memejamkan mata saat mencium aroma wangi dari tubuh Wiena. Jantungnya berdegup dengan cepat.
"Begini?"
"Eh iya."
Wiena kembali menjauh dan duduk di kursi dekat meja kerja ustaz Huda.
Di mana aku tidur Kamar ini nggak ada sofanya. Apa aku harus tidur di lantai beralas selimut.
"Wiena!"
"Ya!" Wiena kaget mendengar panggilan ustaz Huda.
"Maaf."
"Untuk apa?"
"Untuk membuatmu berada dalam situasi yang tidak nyaman seperti ini." Mata Ustaz Huda mengawasi Wiena.
"Kamu pasti bingung sekarang mau tidur di mana kan? Tidurlah di sebelahku. Jangan khawatir! Aku tidak berbuat macam-macam. Kau lihat kondisiku kan?"
"Bukan apa. Aku hanya tidak terbiasa tidur dengan ditemani pria."
Ustaz Huda terkekeh.
"Apa menurutmu aku biasa? Kita sama sama baru pertama tidur seranjang dengan lawan jenis. Tenanglah, aku akan memegang janjiku."
Sejenak Wiena ragu. Namun kantuk mulai menyerangnya. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur di sebelah ustaz Huda.
Wiena berbaring memunggungi ustaz Huda. Wiena berbalik saat merasakan pergerakan di belakangnya.
"Kau mau apa?"
"Mengambilkanmu selimut."
"Tidak usah. Aku bisa ambil sendiri. Jaga lukamu saja." Wiena bangun.
"Dimana selimutnya?"
"Di dalam lemari."
Wiena membuka lemari dan mengambil selimut.
Ia lalu kembali berbaring. Menyelimuti tubuhnya sampai ke leher.
Ustaz Huda menatap punggung Wiena. Tangannya bergerak hendak menyentuhnya namun berhenti di udara.
Tidak! Aku harus sabar. Bahkan menyentuh saja tidak akan aku lakukan tanpa persetujuannya.
Ustaz Huda lalu berusaha memejamkan matanya.
__ADS_1
...----------------...