Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Serangan Ganda


__ADS_3

Saat Ustaz Huda sedang menikmati malam indahnya, Banyu justru kelihatan suntuk. Dia berkali kali menarik nafas panjang. Ucapan Anggi, mamanya, terngiang-ngiang di telinganya.


Mama benar. Jika aku memaksa melamar Camelia,apa Haji Asnawi akan memberikan restunya sedangkan aku belum bekerja dan Camelia juga masih kuliah. Tapi melihat Bara dan Ustaz Huda sudah berumah tangga, aku benar-benar merasa sendirian. Dulu kami selalu bersama-sama. Kini mereka sibuk dengan istrinya masing-masing.


"Apa yang kau lakukan?" Langit duduk di sebelah Banyu.


"Papa." Banyu sedikit kaget.


"Kenapa belum tidur?" Langit menatap wajah muram Banyu.


Banyu diam.


"Apa ini soal permintaanmu itu?" kembali Langit bertanya.


Banyu masih diam.


"Maaf mama dan papa, Nyu. Kali ini kami tidak bisa memenuhi permintaanmu. Bukannya papa tidak suka dengan gadis itu. Tidak. Papa bebaskan kalian mencari sendiri pasangan hidup kalian. Hanya saja papa merasa kamu belum waktunya membina rumah tangga. Kasus Bara, itu beda. Dia menikah karena saat itu ingin melindungi Yasmine. Jika tidak ada kejadian itu, papa pasti juga akan melarangnya." Langit berusaha memberi pengertian pada Banyu.


"Banyu mengerti, Pa." jawab Banyu lalu bangkit. "Banyu tidur dulu, Pa."


"Tunggu!" Langit menghentikan langkah Banyu.


"Bara sudah membuat keputusan kalau ia akan kerja di perusahaan papa sambil kuliah, bagaimana denganmu?"


"Banyu belum tahu." Banyu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Dengan gontai ia menuju ke kamarnya.


Langit mendesah berat. Ia tahu jika hati anaknya sedang kecewa.


Keesokan harinya. Keluarga Langit sedang berada di meja makan untuk sarapan. Yasmine membantu Anggi menyiapkan makanan.


"Rohi, siang nanti aku akan ke rumah Kak Wahyu. Apa kau mau ikut?" ucap Langit sambil menunggu Anggi mengambilkan makanannya.


"Maaf Hubby, siang nanti aku mau ke bidan. Jadwal Angkasa imunisasi."


"Bara kau mau menemani.papa?" Langit bertanya pada Bara. Ia masih segan jika harus meminta Banyu karena ia tahu Banyu masih kecewa.


"Bara ada janji sama Yas, Pa." jawab Bara sambil melirik istrinya.


"Nggak papa Yangzi. Temani papa saja. Urusan kita bisa lain hari." jawab Yasmine lembut.


"Oh, tidak. Jangan! Kalian lakukan saja apa yang akan kalian lakukan. Papa bisa pergi sendiri."


"Banyu akan menemani Papa." sambar Banyu.


Langit tersenyum. Ini yang ia harapkan.


"Baik, papa akan pergi dengan Banyu. Jam sembilan ya, Nyu."


Banyu mengangguk. Mereka lalu melanjutkan makan.


Di rumah Wahyu

__ADS_1


"Nak Huda, mana Wiena?" tegur Hanna saat ia hanya melihat Ustaz Huda datang ke meja makan sendirian.


"Wiena, dia tidak enak badan katanya, Ma. Jadi nanti Huda akan bawakan sarapannya ke kamar." jawab Ustaz Huda gugup.


"Kalau begitu, Nak Huda makan saja di kamar. Temani Wiena." ucap Wahyu bijak.


"Baik, Pa."


Hanna mengambil baki dan menata makanan untuk anak dan menantunya.


"Mau dibawa sendiri atau mama minta Bi Ani yang mengantarkan ke kalian?"


"Biar Huda saja, Ma." Ustaz Huda dengan sopan mengambil nampan dari tangan Hanna lalu membawanya ke.kamar.


"Wiena sakit apa ya, Pa?" Hanna duduk di sebelah Wahyu.


"Mana papa tahu, Ma. Kalau mama khawatir, tanya saja sana ke anaknya." Wahyu melanjutkan makan paginya.


"Segan, Pa. Ada Nak Huda." gumam Hanna lalu ikut menyantap makanannya.


"Ya, begini kalau punya menantu ustaz. Serba segan." Wahyu terkekeh.


"Tapi mama suka. Adem gitu lihatnya. Orangnya pendiam nggak banyak bicara. Bicaranyapun sopan. Apa dia juga gitu ya Pa untuk hal lainnya?" bisik Hanna.


"Hal lain apa? Apa yang ada di otak mama? Jangan mikir aneh-aneh!" dengus Wahyu. Wahyu bukannya tidak tahu apa yang Hanna maksud. Ia hanya tidak suka membicarakan hal itu.


"Ish Papa. Nggak asik." Hanna cemberut.


Hanna langsung memasukan makanan ke mulutnya dan mengunyahnya dengan kasar sambil melirik sengit ke arah Wahyu.


Ustaz Huda membuka pintu kamar dengan hati-hati sambil menjaga agar nampan berisi makanan yang ada di tangan kirinya tidak tumpah.


Wiena yang sedang menyisir dan mengeringkan rambutnya menoleh. Melihat Ustaz Huda kerepotan membawa nampan, Wiena langsung meletakkan hair dryer lalu mendekati Ustaz Huda.


"Biar aku bantu." ucap Wiena mengulurkan tangannya.


"Nggak papa. Aku bisa. Kamu lanjutkan saja mengeringkan rambutmu biar tidak masuk angin!"


"Itu bisa nanti." balas Wiena. Ia mengambil nampan di tangan Ustaz Huda dan membawanya ke nakas.


Ustaz Huda memandangi Wiena. Ia menelan ludah melihat penampilan istrinya. Wiena memakai atasan dengan model tali mie kecil di bahunya. Panjang atasannya hanya sampai di atas pusar. Bagian bawah memakai hotpant minim berbahan satin.


Selesai menaruh makanan Wiena berbalik. Ia kaget karena Ustaz Huda sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Ah, kau mengagetkanku." gumam Wiena.


"Apa ini?" Ustaz Huda menunjuk pakaian Wiena dengan gerakan matanya.


"Oh aku biasa memakainya saat di kamar. Soalnya enak." jawab Wiena dengan pipi memerah. Ya, itu kebiasaannya memakai pakaian minim saat di kamar. Itu membuatnya leluasa.


"Kau benar. Enak. Enak bagimu dan juga bagiku." Ustaz Huda langsung meraih pinggang Wiena dan menariknya.

__ADS_1


"Kau mau apa?" Suara Wiena bergetar saat tangan Ustaz Huda mulai nakal.


"Menurutmu?!" Ustaz Huda menaikkan alisnya. Bibirnya menyunggingkan senyum genit.


"Lagi?! Bukankah semalam sudah berulang kali."


"Tidak ada batas maksimalnya sayang." Selesai mengucapkan hal itu, Ustaz Huda memulai serangan paginya.


Hanna mondar mandir. Sejak masuk ke kamar untuk mengantarkan sarapan buat Wiena, Ustaz Huda tidak keluar-keluar. Hanna dibuat cemas karenanya.


"Pa, jangan-jangan Wiena sakit parah? Mama kok merasa cemas dan bersalah ya. Jangan - jangan dia depresi karena kita paksa menerima Nak Huda." Hanna menggoyang lengan Wahyu yang sedang membaca surat kabar setelah mereka selesai sarapan.


Wahyu melirik jam dinding. Jarumnya menunjukkan pukul sembilan pagi. Itu artinya sudah dua jam sejak Ustaz Huda masuk kamar dan belum.keluar lagi.


"Mama nggak perlu cemas. Kalaupun Wiena sakit ada Nak Huda yang merawatnya. Bukankah itu bagus. Mereka akan semakin dekat." jawab Wahyu santai


Benarkah Wiena sakit? Tapi kenapa Nak Huda kelihatan tenang dan tidak khawatir tadi pagi. Ataukah mereka sedang..ah. Bikin penasaran saja.


Wahyu melipat surat kabar yang dibacanya dan menaruhnya di meja. Ia lalu bangkit.


"Papa mau kemana?" Hana ikutan berdiri.


Wahyu menatap Hanna lalu memberi kode agat Hanna mengikutinya. Mereka perjalan mengendap-endap mendekati kamar Wiena.


"Kita mau ngapain?" bisik Hanna lirih.


Wahyu menunjuk ke arah pintu lalu menempelkan telinganya di pintu itu. Matanya membola dan ia langsung menarik kepalanya dengan wajah memerah. Wahyu bergegas pergi membuat Hanna heran. Hanna mengejar Wahyu yang berjalan ke kamar mereka.


Wahyu masuk dan langsung duduk di ranjang.


" Papa. Papa mendengar apa? Kenapa kaget?" Hanna duduk di sebelah Wahyu.


Wahyu menoleh, 'Mama ingin tahu?"


Hanna mengangguk.


Begitu Hanna mengangguk, Wahyu langsung menyerangnya membuat Hanna gelagapan.


"Pa, apa maksud papa?" tanya Hanna saat Wahyu melepaskan bibirnya.


"Apa maksud papa, mereka berciuman?"


"Lebih dari itu. Dan kita juga akan melakukannya sekarang."


"Apa?!"


Hanna kaget. Dan dia lebih kaget lagi saat Wahyu dengan semangat empat lima mulai menyusuri semua asetnya.


...----------------...


Part berikutnya soal Banyu ya....jangan lupa kasih dukungannya

__ADS_1


__ADS_2