
"Banyu minta, mama dan papa datang ke rumah Camelia buat melamarnya!"
Kalem ucapan Banyu namun bagai petir menusuk telinga yang mendengarnya.
Mata Langit melebar, Anggi speechless, hanya Bara yang santai menanggapi permintaan kembarannya itu.
"Soal itu, papa..." tergagap Langit menjawab.
"Papa nggak harus menjawab sekarang. Banyu kasih waktu, setidaknya sebelum Banyu masuk kuliah kami sudah menikah."
Masih dengan nada dan intonasi yang sama. Kalem. Namun berkemampuan membuat kaget. Banyu menepuk pundak Langit lalu melenggang pergi untuk kembali berbaur dengan sesama santri.
Eh..kok jadi kayak memikirkan jawaban saat di tembak pacar sih..
"Anakmu tuh bi." Anggi menyenggol lengan Langit yang masih terperangah dengan sikap Banyu.
"Kayaknya bukan deh Rohi. Banyu yang aku kenal itu sikapnya dingin, pendiam dan nggak banyak tingkah. Dia beda."
"Itu karena dia sudah lebih dewasa bi. Ayo ah." Anggi mengamit lengan Langit dan mengajaknya keluar dari ruangan wisuda.
Di luar Hanna dan Wahyu sudah menunggunya.
"Kak!"
"Mana si kembar?" tanya Wahyu.
"Iya, kami menunggu untuk.memberi selamat." lanjut Hanna.
"Masih di dalam." jawab Anggi sedangkan Langit diam saja. Ia masih memikirkan permintaan Banyu.
"Kau kenapa? Kusut banget." Wahyu menepuk pundak Langit.
Langit menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kuat.
"Si Banyu." jawabnya pendek lalu mengusap wajahnya.
"Kenapa Banyu?"Wahyu penasaran dengan jawaban pendek Langit.
"Sebaiknya kita cari tempat yang enak buat ngobrol." ajak Langit.
Baru beberapa langkah mereka berjalan, Wiena memanggilnya.
"Pa..Om!"Gadis itu menyusul dengan setengah berlari.
"Wiena!"tegur Hanna, "Jangan berlarian seperti anak-anak!"
Wiena mengatur nafasnya. "Maaf ma."
"Kenapa kamu lari? Apa ada yang mengejarmu?" tanya Anggi karena tanpa Wiena tahu ternyata Ustadz Huda mengikutinya dan Anggi melihat itu.
Wiena yang masih terengah-engah menggerakkan tangannya, "Nggak ada tante."
"Terus itu siapa?" Dengan matanya Anggi menunjuk ke Ustadz Huda yang mulai mendekat.
Wiena reflek menoleh. Mukanya langsung cemberut melihat Ustad Huda menyusulnya.
"Assalamualaikum!" salam Ustadz Huda.
"Waalaikumsalam. Kebetulan ada Ustadz Huda." jawab Langit tersenyum.
"Ada apa ya Tuan?"
__ADS_1
"Ustadz jangan panggil tuan. Panggil om saja." ucap Langit sambil mengerling ke Wiena yang kian cemberut.
"Mari kita cari tempat yang enak buat ngobrol!" kembali Langit mengajak mereka meninggalkan tempat itu.
"Oh, jika kalian berkenan, mari ke rumah ana!"
"Ide bagus. Saya juga ingin berbincang dengan Kyai Hasan." balas Wahyu. "Mari Ustadz."
Mereka beranjak menuju rumah Kyai Hasan. Wiena yang mendengar ucapan papanya menarik tangan Wahyu
"Papa mau ngobrolin apa?" Wiena ketar ketir. Ia takut jika mereka membicarakan tentang pernikahannya.
"Banyak. Apa saja." jawab Wahyu meneruskan langkahnya yang sempat berhenti karena tarikan Wiena.
Wiena cemberut. Ia masih tetap berdiri di tempatnya sambil menatap kepergian keluarganya.
"Kenapa kakak tidak mengikuti mereka?" sebuah suara lembut menegurnya.
Wiena menoleh dan melihat Yasmine berdiri di sampingnya.
Yasmine memindai wajah cantik Wiena yang tampak kesal.
Dia pasti Kak Wiena, tunangan Kak Huda.
"Kenalin, namaku Yasmine." Yasmine mengulurkan tangannya. Wien menyambutnya.
"Wiena." Ia memandangi Yasmine. "Kamu istrinya Bara?"
Yasmine mengangguk.
"Jadi kamu adiknya..." Wiena enggan menyebut nama tunangannya itu.
"Yas!!"
Yasmine dan Wiena menoleh. Bara dan Banyu berjalan ke arah mereka
"Kok nggak nunggu Yangzi?" Bara mengelus kepala Yasmine. Yasmine memegang lalu mencium tangan Bara.
"Pamer kemesraan." gerutu Banyu.
Yasmine menunduk malu. Bara melirik istrinya, ia tahu kalau wajah putih yasmin pasti memerah.
"Mama sama papa kemana Kak?" tanya Bara.
"Mereka mengikuti Kak Huda ke rumah abah." Yasmine yang menjawab. "Saat yangzi datang, kami bermaksud menyusul mereka."
"Ayah, kita ke rumah abah!" Bara menggandeng Yasmine berjalan di depan. Banyu mendengus.
"Kamu pengen ya?" bisik Wiena menggoda Banyu.
"Emang Kak Wiena nggak pengen?" balas Banyu, "Kan sekarang sudah ada tuh calonnya."
Wiena kembali cemberut.
"Makasih ya Kak."
"Untuk apa?"
"Karena kakak menerima pinangan ustadz Huda jadi aku nggak begitu merasa bersalah karena batalnya perjodohan Ustadz Huda dan Camelia."
"Menerima dengan terpaksa. Kau pikir kakak punya pilihan apa? Papa dan Mama, terutama mama begitu menyukai ustadzmu itu."
__ADS_1
"Beliau orang baik kak,dan nggak jelek juga kan orangnya. Banyak lo santriwati sini yang pengen diperistri Ustadz Huda." Banyu berusaha memanas-manasi Wiena.
"Kalau banyak penggemarnya kenapa milih kakak?" Wiena cuek.
"Nggak tahu juga ya kenapa. Padahal kakak nggak ada manis-manisnya menurutku."
"Banyu!!!" Wiena berteriak kesal sampai membuat Bara dan Yasmine yang berjalan di depan berhenti dan menoleh.
"Kenapa kak Wiena?" gumam Yasmine.
"Entahlah. Paling juga digodain sama Banyu. Ayo, biarkan saja mereka." Bara menarik tangan Yasmine yang ada dalam genggamannya.
......................
Di rumah abah, Langit dan yang lain sedang dijamu oleh Kyai Hasan dan istrinya. Anggi, Hanna dan Bu Nyai mengobrol di ruang dalam.
"Bagaimana kelanjutan putra putri kita Pak Kyai?" tanya Wahyu.
"Kalau ana terserah Huda saja, tapi seandainya bisa disegerakan lebih baik."
Ustadz Huda menunduk. Dalam hati ia juga menginginkan hal yang sama.
"Nak Huda?" Wahyu mengangetkan Ustadz Huda.
"Ana ikut kata abah saja Om." balas Ustadz Huda sambil
menunduk.
"Hahaha dia malu." gelak Kyai Hasan. "Kalau ana, sekarangpun boleh. Kita sahkan mereka. Biar mereka tidak berbuat dosa lebih banyak lagi. Karena tiap pandangan bahkan pikiran mereka bisa jadi membawa dosa."
"Saya setuju. Ikat dulu. Untuk pernikahan negara, biar saya nanti yang mengurusnya. Sekalian mengurus pernikahan Bara." Langit bersemangat.
"Baiklah. Apa antum siap, Huda?" tanya Kyai Hasan.
"Siap untuk apa abah?"
"Hari ini abah ingin antum mengucapkan ijab. Agar ikatan antara antum dan Wiena jelas."
Ustadz Huda tercekat. Bayangan Wiena dan sikap ketusnya melintas.
"Bagaimana jika Wiena menolak?"
"Putri saya sudah pasrah pada saya. Jadi dia tidak akan menolak." jawab Wahyu tegas.
Dari dalam Anggi dan Hanna juga Bu Nyai mendengarkan pembicaraan para suami mereka.
"Kak Hanna setuju?" tanya Anggi. Hanna mengangguk.
"Lebih cepat Wiena menikah lebih baik. Tapi karena ia masih kuliah, memang pernikahan harus disembunyikan dahulu. Aku benar benar khawatir akan anak itu."
Di depan, Ustadz Huda duduk di hadapan Wahyu. Tangan Wahyu memegang tangannya. Dengan bimbingan Kyai Hasan, Wahyu menikahkan Ustadz Huda dan Wiena.
Setalah ijab qobul dilangsungkan, Wahyu langsung memeluk Ustadz Huda. Hatinya lega karena kini putrinya sudah mendapatkan suami yang sempurna. Pria dengan ahklak dan ilmu agama yang baik yang ia yakini akan mampu membimbing Wiena.
"Assalamualaikum." Bara dan yang lain tiba.
"Waalaikumsalam!"
Ustadz Huda langsung menatap Wiena. Kini tidak ada lagi penghalang baginya untuk memandangi wanita yang beberapa saat lalu sah menjadi istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1