Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Perjodohan Ustadz Huda


__ADS_3

Keluarga Kyai Hasan baru saja selesai makan pagi saat sebuah mobil memasuki halaman rumah mereka.


Seorang pemuda tampan turun dan berdiri di sisi mobil menunggu orang yang di dalam keluar. Seorang pria mengenakan baju koko dan sarung serta berkaca mata hitam turun dari mobil. Pemuda yang berdiri itu memegang tangannya dan menuntunnya menuju rumah Kyai Hasan.


"Assalamu'alaikum!" Pria dan pemuda itu memberi salam.


Pak Kyai yang masih berada di ruang makan berkata kepada yang lain, "Mereka sudah sampai."


Beliau berdiri dan bergegas menuju ruang tamu.


"Wa'alaikumsalam." balas Pak Kyai lalu memeluk kawan lamanya itu.


"Ayo masuk! Antum pasti capek setelah perjalanan jauh."


"Walah biasa ae. (alah, biasa saja?" Ustadz Asnawi membalas dengan logat jawanya yang sangat kental.


"Ini anak laki-laki ku yang pernah aku ceritakan. Dia sudah lulus kuliah dan juga sudah bekerja. Alhamdulillah sekarang ia menjadi dosen di kampus Islam di kota kami." kata Ustadz Asnawi memperkenalkan anak laki-laki nya.


Kyai Hasan tersenyum menerima uluran tangan anak Ustadz Asnawi.


"Bagas!"kata pemuda itu memperkenalkan diri.


Mereka bertiga lalu masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Mereka mengobrol ringan. Tak lama kemudian Ustadz Huda, Bara dan Banyu keluar. Ustad Huda langsung menyalami Ustadz Asnawi. Bara melakukan hal yang sama. Hanya Banyu yang terdiam mematung di tempatnya. Ia tidak menyangka kalau kawan lama Kyai Hasan adalah abah ya Camelia.


"Ini siapa?" tanya Ustadz Asnawi saat bersalaman dengan Bara.


"Dia Bara. Santri di sini." Jawab Kyai Hasan membuat Ustadz Huda, Bara dan Banyu menatap kearahnya. Kyai Hasan bersikap seolah tidak tahu arti pandangan ketiga orang itu.


"Sepertinya masih ada satu orang lagi." kata Ustadz Asnawi.


Banyu segera maju dan menyalami Ustadz Asnawi. Dengan takzim ia mencium punggung tangan pria itu. Ustadz Asnawi mengelus kepala Banyu.

__ADS_1


"Barokallah." doa nya. "Dia pasti santri di sini juga?"


"Iya. Dia saudara dari Bara. Namanya... "


"Langit!" Banyu memotong ucapan Kyai Hasan.


Setalah Kyai Hasan, kini Banyu yang menjadi objek tatapan hera dari Ustadz Huda, Bara dan Kyai Hasan. Bagas memperhatikan ke empat pria itu. Ia merasa ada sesuatu yang janggal.


"Langit.. nama yang bagus. Semoga derajatmu setinggi langit." ucao Ustad Asnawi.


"Aamiin." Banyu mengamini.


"Kalian bertiga, duduk lah. Temani abah menjamu Ustad Asnawi!"perintah Kyai Hasan. Sesungguhnya ia butuh dukungan saat menceritakan keadaan Yasmine dari ketiga orang itu.


"Oh ya, apa Yasmine masih di Kairo?" tanya Ustadz Asnawi. Wajah Kyai Hasan sedikit resah.


"Dia saat ini sedang liburan. Dan ia manfaatkan untuk pulang. Tapi minggu depan masa liburannya habis dan harus kembali lagi ke Kairo." panjang lebarKyai Hasan menjelaskan.


"Abah!" Bagas menegur abahnya. Ia merasa jengah. Ia tahu tujuan abahnya mengajaknya ke pondok ini untuk memenuhi janjinya dengan kawan lamanya.


"Hahaha... anakku isin. (anakku malu)" Ustadz Asnawi terkekeh. Wajahnya berbinar. Namun tidak dengan Kyai Hasan. Lelaki paruh baya itu tersenyum masam. Senyuman Kyai Hasan itu tak luput dari perhatian Bagas.


"Pak kyai, maafkan abah saya yang suka bicara tanpa tahu waktu yang tepat atau tidak." kata Bagas. Ia merasa sejak keluarnya tiga pemuda tadi, sikap Pak Kyai jadi sedikit aneh dan canggung.


"Memangnya ada apa?" Ustad Asnawi mengarahkan kepalanya ke Bagas. Basa menepuk tangan abahnya. "Kyai, apa ada masalah?" kini ia juga merasakan keanehan setelah suasananya menjadi hening.


"Maafkan ana, Ustadz! Ana tidak bisa menepati janji ana. Ada peristiwa yang terjadi yang membuat ana harus membatalkan perjodohan anak kita." jawab Kyai Hasan diakhiri dengan helaan nafas berat.


Senyum di wajah Ustadz Asnawi memudar. Wajahnya tampak kecewa namun hanya sebentar. Ia kemudian mengulas senyum tipis."Yo ra popo. Jodoh iku kersaning Gusti Allah (Ya nggak papa. Jodoh itu kehendak Allah)" jawabnya tanpa bertanya lebih lanjut. Baginya tidak perlu meminta penjelasan apapun toh hasilnya akan sama. perjodohan anaknya dan Yasmine batal.


"Anta nggak ingin tahu kenapa ana spai membatalkan perjodohan?" tanya Kyai Hasan gusat melihat sikap Ustadz Asnawi.

__ADS_1


"Itu masalah keluargamu. Orang luar seperti aku tidak berhak untuk tahu."


Kata orang luar menghujam hati Kyai Hasan. Ia khawatir persahabatan nya akan berakhir. Tiba-tiba wajahnya kembali cerah, "Mungkin perjodohan Bagas dan Yasmine gagal, tapi bukankah kau masih punya anak gadis. Dan aku juga punya anak laki-laki." kata Kyai Hasan.


Banyu mendongak. Hatinya berdebar kencang. Ia tahu siapa yang Kyai Hasan maksudkan. Kyai Hasan ingin menjodohkan Ustad Huda dengan Camelia. Banyu menghela nafas berat. Ia cemas. Ia berharap Ustad Asnawi akan menolaknya.


"Oh.. anak gadisku itu masih kuliah." jawabnya.


"Nggak papa. Huda pasti mau menunggu, iyakan Huda?" tanya Kyai Hasan. Ustad Huda tidak menjawab. Ia syok karena dijodohkan dengan tiba-tiba. Diamnya Ustad Huda dianggap sebagai tanda kalau dirinya setuju.


"Huda sudah setuju menunggu. Jadi kita lanjutkan saja menjalin hubungan persaudaraan. " kata Kyai Hasan senang.


Ustad Asnawi tersenyum masam. "Untuk hal ini aku harus tanya anakku dulu." jawabnya.


Kyai Hasan mengangguk tanda setuju.


"Mohon maaf, Kyai. Saya ijin kembali ke asrama." kata Banyu. Hatinya nggak bisa menerima perjodohan Ustad Huda dan Camelia. Memang belum tentu Camelia menerimanya. Tapi Banyu merasa dirinya bukan tandingan Ustad Huda.


"Oh iya." jawab Kyai Hasan.


Banyu keluar. Ia melangkah dengan gontai menuju asrama. Ia masuk gerbang dan terus mengayun langkah ke arah kamarnya. Banyu membuka pintu kamar lalu menutupnya lagi setalah ia berada di dalam. Banyu duduk di tepi ranjang.


"Camelia." gumamnya.


...🍃🍃🍃...


Alhamdulillah bisa up lagi


Mohon maaf ya readers ku yang setia. Banyak kegiatan dan tugas jadi keterangan deh


semoga bisa menghapus rindu pada si oembat

__ADS_1


__ADS_2