Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Lamaran yang tertunda


__ADS_3

Bara dan Langit berlari menyusuri lorong rumah sakit menuju UGD.


"Jami keluarga pasien yang bernama Banyu." ucap Bara saat tiba di UGD dan dihalangi perawat di pintu masuk.


"Anda tunggu di luar. Pasien sedang ditangani."


"Tapi saya ingin mendampinginya." Bara memaksa


"Tidak bisa. Anda tunggu di luar!" perawat itu menatap tegas Bara. Tatapan tegasnya berubah menjadi tatapan kagum melihat wajah tampan Bara.


"Bara, sudah. Kita tunggu di sini." Langit menarik tangan Bara untuk duduk di kursi yang ada di luar.


"Pa, apa kita perlu mengabari mama?"


"Ah papa sampai lupa. Kau jemput mama! Jangan bilang apa-apa dulu sebelum sampai di rumah!"


Bara mengangguk. Ia bangkit dari duduknya lalu bergegas meninggalkan Langit.


"Ra!"


Bara berhenti dan menoleh.


"Hati-hati!" pesan Langit dengan tatapan khawatir.


Bara mengacungkan jempolnya. Ia memutar tubuh dan setengah berlari keluar dari rumah sakit.


...***...


Camelia sedang duduk memandangi wajahnya di cermin. Bibirnya terus mengulas senyum tanda dirinya sedang bahagia.


tok.tok.tok


"Dik, boleh kakak masuk?" Bagas mengetuk pintu.


"Masuk, Kak!" Camelia segera menyibukan diri dengan berpura-pura merapikan meja belajarnya.


Prank


Sebuah tempat bulpen berbahan kaca jatuh dan pecah.


"Dik, apa yang terjadi? Kok bisa jatuh dan pecah. Kamu ini sudah kau menikah masih saja sembrono." Bagas mengomel sambil membantu Camelia memungut pecahan kaca yang berserakan.


"Astaghfirullah." Camelia menarik tangannya saat serpihan kaca menggores jari telunjuknya hingga berdarah.


"Dik, kenapa nggak hati-hati sih?" Bagas meraih tisu dan membungkus luka Camelia dengan kertas putih tipis itu.


"Sudah, duduk! Biar kakak yang membersihkannya."


Camelia menurut. Ia duduk di kursi dekat meja belajar.


Kenapa jantungku berdetak cepat dan perasaanku jadi tidak enak begini.


Camelia meraba dadanya. Wajahnya khawatir.


"Dik, kamu kenapa?"


Bagas yang sudah selesai membersihkan serpihan kaca, mendekati adiknya. Ia melihat wajah adiknya tegang dan bingung.


"Entahlah kak. Tiba-tiba aku merasakan perasaan nggak enak. Seperti telah terjadi sesuatu yang buruk."


"Astaghfirullah. Istighfar dik. Jangan berpikir yang jelek jelek. Berpikir yang positif saja biar yang positif juga yang terjadi."


"Tapi kak, ini beneran yang aku rasakan."


"Sudah. Berdoa saja minta perlindungan! Oh ya, kakak diminta abah mengantarmu belanja buat persiapan nanti malam. Ayo!"


Camelia mengangguk. "Kakak tunggu di luar. Lia akan bersiap."


Bagas ke luar.


Kenapa aku terus teringat padanya. Apa karena dia akan datang? Tapi anehnya, aku khawatir dan merasa nggak tenang.


***


"Ra, kok kamu yang menjemput? Tadi Banyu yang wa mama." Anggi langsung bertanya saat melihat justru Bara yang muncul.


"Banyu mendadak nggak bisa, Ma. Ayo, ma!" Bara merangkul mamanya dan membimbingnya.

__ADS_1


"Tumben kamu merangkul mama dan bukan istrimu?" Anggi menggoda Bara yang malah membiarkan Yasmine berjalan sendiri.


"Ya..kalau ada mama kan mama yang didahulukan. Bukan begitu, Yangra?"


Yasmine mengangguk. Ia tersenyum. Hatinya bangga melihat suaminya sangat menyayangi mamanya


"Ra, nggak ada yang kamu sembunyikan dari mama kan?" tanya Anggi saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Bara diam. Ia bingung harus menjawab apa.


"Ra!" Anggi menegurnya.


"Ma, kita pulang dulu ya! Nanti Bara cerita saat sampai di rumah."


Anggi semakin merasa Bara menyembunyikan sesuatu. Namun ia menahan diri, takut mengganggu konsentrasi menyetir Bara.


Yasmine juga merasa kalau suaminya menyimpan kecemasan. Namun setali tiga uang dengan Anggi, ia pun menahan diri. Yasmine menyentuh lembut tangan Bara memberi kekuatan. Bara menatapnya dengan senyum.


Mobil yang mereka kendarai sampai di halaman mansion Langit. Bara segera membukakan pintu untuk Anggi.


"Ma, biar Angkasa Bara yang gendong." Bara mengambil adiknya dari pelukan Anggi.


Anggi membiarkan Bara mengambil Angkasa.


"Sekarang kamu sudah bisa cerita kan?" Anggi menagih janji Bara setelah anaknya itu menyerahkan Angkasa pada baby sitternya.


Anggi dan Yasmine sudah menunggu Bara di ruang tengah.


Bara mendekat dan berjongkok di depan Anggi. Ia menangkup kedua tangan Anggi.


"Ma, tadi papa sudah mengambil keputusan untuk melamar Camelia buat Banyu." Bara mulai bercerita dengan hati-hati.


"Banyu sangat gembira dan berniat menjemput mama. Ia ingin menyampaikan dan sekaligus meminta restu dari mama."


"Lalu Banyunya kemana? Kenapa malah kamu yang menjemput mama?" Anggi memotong cerita Bara. Ia semakin merasa tidak enak. Hatinya tidak tenang.


"Ma, Banyu mengalami musibah. Dia sekarang ada di rumah sakit." pelan sekali suara Bara agar mamanya tidak kaget dan panik.


Mata Anggi berkaca-kaca. Ia diam mematung. Pandangannya kosong. Anggi syok hingga tak mampu bereaksi apa-apa.


"Bawa mama ke Banyu, Ra!" gumam Anggi lemah.


"Ya, Ma. Kita akan ke Banyu. Yangra, bisa kamu siapkan kebutuhan Banyu!"


Yasmine mengangguk. Ia masuk ke kamar Banyu untuk mengambil beberapa pakaian Banyu.


"Sudah siap?"


Yasmine mengangguk. Mereka lalu berangkat ke rumah sakit.


"Rohi!" Langit menyambut Anggi. Ia langsung memeluk istrinya yang datang dengan berderai air mata.


"By, bagaimana Banyu? Dia tidak apa apa kan?"


"Dia masih dirawat sayang. Kita berdoa saja." Langit membimbing Anggi agar duduk. Ia terus memeluk bahu istrinya.


Yasmine duduk di sebelah Bara. Ia memegang terus tangan Bara. Ia tahu kalau suaminya sangat cemas.


Hampir satu jam mereka menunggu. Anggi tidak berhenti berdoa. Dia terus membasahi lisannya dengan dzikir.


"Dokter, bagaimana anak saya?!" Langit langsung menyongsong dokter yang keluar dari UGD.


"Tuan Langit, mari ikut saya!" Dokter melangkah meninggalkan ruang UGD.


"Hubby, aku ikut!"


Langit mengangguk. Ia menggandeng tangan Anggi.


Bara bangun. Ia mengintip ke dalam berharap bisa melihat saudara kembarnya.


"Yangzi! Kita ke masjid yuk! Sebentar lagi magrib." Yasmine mendekati suaminya.


Bara mengangguk. Mereka lalu keluar menuju masjid.


***


Camelia selesai melaksanakan sholat magrib. Ia mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan keluarga Banyu.

__ADS_1


"Dik, jam berapa mereka datang?" tanya Bagas dari depan pintu kamar Camelia. Camelia keluar menemui kakaknya.


"Tadi siang bilangnya ba'da Magrib, kak."


Bagas melihat arlojinya.


"Dik, coba kau hubungi lagi!"


"Baik kak."


Camelia mencoba menelepon Banyu namun tidak tersambung.


"Ponselnya tidak bisa dihubungi kak." jawab Camelia.


"Gas, Lia, bagaimana?" Haji Asnawi mendekat. Ia berjalan dengan menggunakan tongkat.


"Bah, abah duduk saja." Bagas membimbing abahnya duduk di ruang tengah diikuti Camelia.


"Tidak ada kabar dari mereka?" tanya Hj Asnawi.


Bagas dan Camelia diam.


"Abah sudah menduga kalau mereka hanya ingin mempermainkan kita." gumam Hj Asnawi kecewa.


"Bah, Bagas harap kita jangan suudzon dulu. Mungkin mereka berhalangan untuk memenuhi janjinya. Bagas akan coba menghubungi Huda. Mungkin Huda tahu penyebabnya."


"Tidak usah, Gas! Biarkan saja." Haji Asnawi benar-benar kecewa. Dia lalu diam sambil menaruh kedua tangannya di atas tongkat.


Mereka bertiga diam sampai suara ponsel Camelia mengagetkan ketiganya.


"Angkat dik!" titah Bagas.


Camelia mengangkat panggilan yang masuk.


"Assalamualaikum!" salam Camelia.


Wajahnya tegang saat mendengar kabar yang disampaikan oleh orang dari seberang.


bug


Ponsel Camelia jatuh.Mata Camelia berkaca-kaca.


"Ada apa dik?"Bagas mendekati Camelia.


"Gas, Camelia kenapa? Mengapa dia menangis?" Haji Asnawi cemas.


"Bah, Kak, Banyu kecelakaan." jawab Camelia lemah disela isakannya.


"Inalillahi." bersamaan Bagas dan Haji Asnawi berucap.


"Bah, Lia ingin ke rumah sakit. Lia.mohon ijinkan Lia ke rumah sakit!" Camelia semakin kencang tangisnya.


"Dik, istighfar. Kalian belum sah juga. Jangan terlalu mengikuti kata hati."


"Gas, temani adikmu!"


"Makasih, Bah." Camelia langsung memeluk abahnya lalu berlari ke kamar untuk ganti baju.


"Gas, sampaikan salam abah pafa mereka. Abah akan ke masjid untuk mendoakan Banyu."


"Baik, Bah."


Camelia berangkat ke rumah sakit dengan diantar Bagas. Sepanjang jalan ia tak kuasa menahan air matanya.


"Dik, bersedih berlebihan itu tidak baik. Istighfar dan berdoa saja."


"Iya, kak." Camelia menyusut air matanya.


Ya Allah, lindungilah Banyu.


...🌹🌹🌹...


Bantu doa buat Banyu ya...


Dengan memberi like dan votenya.


Kasih banyak hadiah buat Banyu ya

__ADS_1


__ADS_2