Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Cinta Karena Biasa


__ADS_3

"Kenapa kamu ikut masuk?" Wiena kaget saat Ustaz Huda malah ikut masuk ke kamar.


"Kenapa? Ini kamarku kan? Jadi nggak salah kalau aku masuk?" Ustaz Huda menutup pintu.


"Itu kenapa pintunya ditutup?" Wiena melotot.


"Kamu mau kita jadi tontonan?" Ustaz Huda mendekat dan duduk disebelah Wiena.


Tontonan?Apa maksudnya.


Wiena langsung berdiri. "Aku keluar saja kalau begitu."


Ustaz Huda mencekal tangan Wiena yang hendak berlalu meninggalkan kamar.


"Duduklah! Ada yang harus aku sampaikan!" ucapnya tegas dengan sorot mata serius.


Wiena menelan ludah. Hatinya menciut melihat wajah serius Ustaz Huda. Ia duduk dengan patuh.


"Ee... berduaan di dalam kamar kan tidak bagus. Kita ngobrol di luar saja ya!" Wiena merendahkan suaranya. Ia kembali berdiri.


"Duduk!!" Ustaz Huda lebih tegas lagi. Wiena mengelus dada dan menghembuskan nafasnya.


"Ya..ya..aku duduk. Nih duduk." Wiena duduk meski kelihatan dia tidak nyaman.


Melihat Wiena duduk dengan diam, Ustaz Huda menjadi grogi. Ia tidak tahu harus mulai bicara darimana. Akhirnya iapun diam. Mereka sama sama diam dan terkadang saling melempar pandangan.


"Ih katanya mau bicara malah diam. Aku keluar sajalah." Wiena cemberut dan beringsut dari tempat duduknya.


"Tunggu!" Ustaz Huda menahannya dengan cepat. Ia memegang tangan Wiena.


"Lepaskan!! Haram tahu." Wiena berusaha melepaskan tangannya.


"Tidak. Tidak haram. Halal. Kita sudah halal." Akhirnya Ustaz Huda bicara.


"Halal bagaimana? Maksudnya apa coba?"


"Halal. Aku sudah menghalalkanmu. Kita sudah menikah. Papamu sendiri yang menikahkan kita siang tadi." Ustaz Huda bicara dengan hati-hati dan jelas.


"Kau bercanda kan?" Mata Wiena sudah berkaca-kaca. Ia tidak mau mempercayai apa yang dikatakan oleh Ustaz Huda. Wiena menarik tangannya dan beringsut menjauhi Ustaz Huda.


"Kau pasti bercanda. Papa dan mamaku tidak akan melakukan hal itu. Mereka tidak akan menikahkanku tanpa persetujuan dariku. Tidak!" Bibir Wiena bergetar. Berkali-kali bibir itu menyangkal namun jauh di lubuk hatinya, ia ketakutan. Ia tahu kalau Ustaz Huda bukan tipe orang yang suka berbohong bahkan tidak mungkin ia berbohong.


Ia menyetujui dijodohkan demi membahagiakan orang tuanya namun ia berharap dan selalu berdoa kalau perjodohannya akan batal suatu hari nanti. Tapi apa? Mereka malah dinikahkan.


"Wiena!" Ustaz Huda ikut beringsut mendekati Wiena.


"Berhenti di situ!! Jangan mendekat!!" pekik Wiena. Kini air mata mulai berjatuhan. Hati Wiena sangat sedih.


"Wiena! Apakah kau menolak pernikahan ini?" Ustaz Huda menatap nanar wanita yang kini duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Wiena tidak menjawab. Tangisnya makin kuat meski ia menahan agar tidak bersuara. Hanya tubuhnya saja yang bergetar.


Ustaz Huda menelan ludah. Hatinya sangat sakit melihat wanita yang ia cintai menangis sedih.


"Maafkan aku. Seharusnya aku tahu diri." Ustaz Huda keluar dari kamarnya.


Di kamar Yasmine.


"Kira-kira apa yang mereka lakukan ya?" bisik Yasmine sambil mengintip keluar lewat celah pintu kamarnya yang terbuka sedikit.

__ADS_1


"Yangra! Kamu ngapain?!" Bara memeluk Yasmine dari belakang.


"Melihat situasi di luar. Aku khawatir dengan kak Wiena. Eh..!!"


Yasmine kaget saat Bara menutup pintu kamar dengan keras.


Yasmine langsung menoleh dan melihat wajah suaminya sudah sangat dekat.


"Yangzi marah?" Suara Yasmine manja. Ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Bara.


"Yangra, waktu kita sempit. Jadi manfaatkan sebaik baiknya. Bukankah dua hari lagi kamu harus balik ke Kairo? Jadi kumohon, berikan perhatianmu hanya padaku. Bisa nggak?" rajuk Bara sambil membuka niqab Yasmine.


"Aku kangen banget, sayang!" Bara menekan tengkuk Yasmine dengan tangannya dan melabuhkan ciuman di bibir ranum istrinya.


"Lembut dan manis seperti yang aku ingat." Bara mengusap bibir wanita yang merona wajahnya itu dengan ibu jarinya.


"Lagi ya!!" Kembali mereka melepas rindu.


"Yangzi udah ah." Yasmine mendorong dada Bara menjauh.


"Nanggung." Bara menarik lagi tubuh Yasmine.


"Sudah sana mandi. Nanti Ashar keburu datang." Yasmine menahan bibir Bara dengan tangannya.


"Jahat kamu!" omel Bara melepaskan dekapannya dan berlalu ke kamar mandi.


Yasmine tertawa lirih. Ia lalu menyiapkan pakaian yang akan Bara pakai.


tok tok tok


"Yash!" Ustaz Huda memanggil.


"Iya Kak?" Yasmine membuka pintu dan keluar.


"Sedang mandi. Kenapa Kak?"


"Oh ya sudah. Kakak tunggu di depan. Yas, bisa kau ke kamar kakak dan temani Wiena?" pinta Ustaz Huda.


"Ada apa kak?" Yasmine menatap wajah kakaknya yang tampak suram.


"Sepertinya dia tidak bisa menerima pernikahan ini. Coba ajaklah bicara! Kakak ke depan dulu." Ustaz Huda melangkah meninggalkan kamar Yasmine.


Yasmine masuk.


"Darimana?" Bara yang baru keluar kamar mandi bertanya karena tadi tidak menemukan Yasmine di kamar.


"Dari depan. Ada Kak Huda tadi. Kak Huda bilang dia menunggu yangzi di depan dan memintaku bicara dengan Kak Wiena." Yasmine menyerahkan baju yang ia siapkan kepada Bara.


"Bicara soal apa?" Bara menerima baju dan melepaskan handuk yang melilit pinggangnya.


"Yangzi! Ganti bajunya di kamar mandi dong!" Cicit Yasmine yang sempat kaget karena Bara tanpa basa basi membuka handuk yang melilit tubuhnya.


"Kenapa?" Bara bertanya tanpa rasa berdosa sambil memakai sarung.


"Nggak papa." Yasmine berpaling karena wajahnya sudah memerah.


Bara mendekat. "Kenapa, pengen pegang ya? Nih pegang mumpung aku belum punya wudhu." Bara meraih tangan Yasmine dan meletakkan tangan itu di dadanya yang masih polos.


"Yangzi!!" Yasmine merasa jengah. Mukanya makin memerah.

__ADS_1


"Sabar sayang. Nanti malam kamu bisa memilikinya!" Bisik Bara lembut di telinga Yasmine. Ia lalu memakai kaos dalamnya


"Apa sih? Yang ada Yangzi yang sudah tidak sabar." Yasmine berbalik dan membuka almari untuk mengambil baju buat Wiena.


"Kok tahu." Bara terkekeh.


"Ya tahulah. Kelihatan banget." goda Yasmine. Ia mendekat dan membantu Bara mengancingkan baju kokonya. Bara tersenyum memandangi wajah cantik di hadapannya itu.


"Makasih sayang." Bara mengecup kening Yasmine.


"Aku ke masjid dulu. Jangan kangen!" Ia mencolek dagu Yasmine lalu keluar.


"Apa sih. Lebay banget ditinggal kemasjid saja kangen." gumam Yasmine tertawa lirih.


Yasmine keluar dari kamarnya untuk melaksanakan amanah Ustaz Huda.


Tok tok tok


"Assalamualaikum Kak Wiena. Ini Yasmine. Boleh masuk?"ucap Yasmine sambil mengetuk pintu kamar kakaknya.


Pintu dibuka dan tampaklah wajah Wiena yang sembab.


"Wa'alaikumsalam. Masuklah Yas!" Wiena melangkah dan kembali duduk di bibir ranjang.


"Kak, aku bawa baju buat kakak." Yasmine menaruh baju yang ia bawa di sebelah Wiena.


"Makasih Yas. Tapi tidak perlu. Kakak ingin pulang." kata Wiena lemah.


Yasmine memandangi Wiena yang tidak seceria siang tadi. Wiena yang ada di hadapannya ini bagai manusia yang sudah kehilangan semangat hidup.


"Kenapa kak? Kakak tidak menerima pernikahan ini?" Yasmine duduk di sisi Wiena.


Wiena menunduk. Ia meremas tangannya. Airmatanya kembali menetes.


"Kak Wiena tidak menyukai kakakku atau kak Wiena sudah punya seseorang di hati kakak?"


Wiena diam. Tubuhnya bergetar.


"Kak Wiena punya pacar?"


"Tidak! Aku tidak punya pacar. Meski ilmu agamaku tidak sebaik dirimu tapi aku tahu kalau pacaran itu dilarang." jawab Wiena.


Yasmine bernafas lega.


"Tapi kakak menyimpan perasaan pada seseorang?"


Wiena mengangguk lemah.


Oh kasihan kau Kak Huda. Istrimu mencintai pria lain.


"Lalu apakah pria itu tahu perasaan kakak? Apa kalian sudah terikat janji?"


Wiena menggeleng.


"Aku tidak tahu apakah ia mengetahui perasaanku. Bahkan aku juga tidak tahu bagaimana perasaannya. Dia pria baik seperti kakakmu. Tidak pacaran. Dia pernah dijodohkan tapi perjodohan mereka dibatalkan karena gadis itu menikah dengan pria lain."


"Kalau Yas boleh tahu, siapa pria beruntung yang mendapatkan hati Kak Wiena?"


"Dia kakak temanku. Aku bertemu dengannya karena sering main ke rumah temanku itu."

__ADS_1


Cinta karena biasa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2