Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Perseteruan part 1


__ADS_3

"Kumandangkan adzan!" perintah Pak Kyai. Mendengar itu, Fahri segera menuju mic.


"Maksud ana, anta, Bara!" kata Pak Kyai lagi.


Muka Fahri langsung memerah. Ia merasa dipermalukan. Rasa kecewanya semakin dalam begitupun rasa tidak sukanya pada Bara. Ia mundur dan berdiri di barisan paling depan di sebelah Ustadz Huda.


Bara menuju depan mic. Ia berdoa dan mengatur nafas sebelum akhirnya mengumandangkan adzan subuh dengan suara merdunya.


Setelah adzan dilanjut dengan puji pujian sambil menunggu jamaah dari lingkungan sekitar pesantren. Beberapa saat kemudian Pak Kyai memberi tanda kepada Bara untuk membaca iqomah.


Selesai membaca iqomah Bara mundur mencari tempat untuk sholat. Ustadz Huda bergeser ke samping untuk memberi tempat bagi Bara. Bara berdiri di sebelah Ustadz Huda sehingga Fahri tidak lagi dekat dengan Ustad Huda.


Kesal di hati Fahri kian menjadi-jadi. Wajahnya tampak memerah. Bimo tersenyum melihat hal itu. Tujuannya mengadu domba Fahri dan Si kembar sebentar lagi terlaksana.


Perhatian Bimo kepada kedua orang di sampingnya teralihkan saat Pak Kyai mengucap takbir. Ia segera mengikuti takbir dan melaksanakan jamaah sholat Subuh.


Seperti biasa, setiap Subuh pasti ada kultum untuk membooster iman para santri. Pada kultum pagi ini Pak Kyai mengangkat tema hubungan antara pria dan wanita dalam Islam. Meski hal ini sering disinggung tiap pembelajaran, namun Pak Kyai sering mengulang mengingatkan para santri akan pentingnya menjaga kehormatan. Saat Pak Kyai menyampaikan kultum, Fahri mengangkat tangan.


"Iya, Fahri?" tanya Pak Kyai Hasan.


"Apa hukuman bagi pria dan wanita yang kedapatan berduaan dan berbuat yang tidak pantas?" kata Fahri sambil matanya melirik ke arah Bara.


Bara yang tidak merasa melakukan hal seperti yang Fahri tanyakan hanya diam menunggu jawaban Pak Kyai Hasan. Berbeda dengan Bara, Kyai Hasan sempat melihat pandangan mata Fahri saat mengajukan pertanyaan.


Kenapa seolah pertanyaan itu ia tujukan pada Bara? Apa ia mengetahui sesuatu? batin Kyai Hasan.


"Mereka berdua akan mendapat hukuman dengan catatan ada saksi yang benar-benar melihat sendiri apa yang mereka lakukan. Bukan hanya dengar dari orang lain apalagi kalau hanya katanya. Ingat, kita dilarang memberikan kesaksiannya hanya berdasarkan katanya. Dan juga jangan menyampaikan kabar apapun sebelum kita tabayun dulu. Jika hanya katanya lebih baik berhenti di kita saja jangan disampaikan ke orang lain kecuali kabar tersebut jelas kebenarannya." jawab Kyai Hasan tegas.


Fahri merasa tertampar. Ya, dirinya tidak melihat sendiri apa yang Bara dan Yasmine lakukan. Dia hanya mendengar dari Asrul. Sedangkan Asrul mendengar dari adiknya.


"Ada lagi pertanyaan?" kata Kyai Hasan.


"Tidak, Pak Kyai." jawab para santri.


"Baiklah, kultum pagi ini ana akhiri." Kyai Hasan lalu menutup kultum dengan doa majelis. Selesai berdo'a para santri dan penduduk sekitar yang mengikuti jamaah sholat subuh pun bubar.


"Ikut aku sebentar. Aku ada perlu!" bisik Fahri ke telinga Bara. Bara mengangguk tanpa rasa curiga karena selama ini hubungannya dengan Fahri baik baik saja.


"Ustadz Huda, ana duluan." pamit Bara. Ustadz Huda yang sedang berdzikir, mengangguk memberi ijin.

__ADS_1


Bara berdiri mengikuti langkah Fahri. Melihat Bara mengikuti Fahri, Banyu menyusul saudaranya itu.


Langkah Bara dan Fahri sampai di belakang asrama putra yang sepi.


"Kenapa kita kemari?" tanya Bara pada Fahri.


Belum sempat Fahri menjawab, tiba-tiba dari arah belakang Bara, Bimo melayangkan pukulan ke tengkuk Bara.


"Bara!! Awas!! " teriak Banyu yang tiba tepat waktu


Bara kaget. Ia berkelit akan tetapi pukulan Bimo tetap mengenai dirinya. Puncaknya dihantam Bimo dengan sebatang kayu. Bara terhuyung, ia memegangi pundaknya yang terasa nyeri.


"Kau!!! " geram Bara sambil menatap tajam Bimo.


Banyu berlari ke sisi Bara. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas. Bara menggeleng.


"Kalian ini kenapa?" bentak Banyu. "Apa masalah kalian dengan kami?"


"Jangan sok suci, saudaramu itu sudah mekidai Yasmine." cibir Bimo.


Bara terkekeh. "Dia istriku, sudah menjadi hakku menjamah nya." jawab Bara dengan senyum bangga.


Buk.


"Uhuk." Bara mengeluarkan suara saat perutnya dihantam Fahri. Ia tidak waspada terhadap Fahri karena Bara tidak menyangka Fahri akan menyerangnya. Ia kembali terhuyung. Banyu menahannya. Banyu bergerak hendak membalas Fahri namun dihalangi oleh Bara.


"Kau? Kenapa kau ikutan Bimo?" tanya Bara tak percaya.


"Karena kau sudah merebut semua yang aku impikan!" kata Fahri dengan penuh amarah. "Perhatian Ustadz Huda, kepercayaan Kyai Hasan dan Yasmine." lanjutnya.


Bara terkekeh sambil meringis.


Mereka terus bersitegang tanpa menyadari ada seorang santri yang lewat tempat itu dan melihat saat Fahri memukul Bara. Santri itu segera berlari ke arah masjid.


"Ustad Huda!" panggil nya sambil terengah-engah. Ustadz Huda dan Kyai Hasan yang tengah berdzikir sambil menunggu waktu sholat suruq menoleh.


"Ada apa?" tanya Ustadz Huda. Sementara Kyai Hasan melanjutkan dzikir nya.


"Bara... Bara dihajar Fahri dan Bimo."

__ADS_1


Ustadz Huda terkejut. Pun demikian dengan Kyai Hasan. Tangannya yang sedang memutar biji tasbih langsung berhenti.


"Dimana?" tanya Ustadz Huda.


"Di belakang gedung asrama. Mari ikut saya Ustadz."


Ustadz Huda langsung berdiri. Ia bermaksud pamit kepada abahnya, namun urung saat melihat Kyai Hasan juga berdiri


"Abah?!"


"Abah ikut."


Ustad Huda mengangguk. Mereka bertiga bergegas ke tempat dimana Bimo dan Fahri menghajar Bara.


Saat mereka tiba, mereka melihat Bara dan Banyu berdiri di tengah dan dikepung sedikitnya lima belas santri. Bimo dan Fahri tampan di depan Bara dan Banyu.


"Apa yang mereka lakukan?!" geram Kyai Hasan dengan marah. Ia maju hendak membubarkan aksi Fahri dan Bimo namun dihentikan oleh Ustadz Huda.


"Abah tunggu! Tidakkah abah ingin melihat kualitas menantu abah?" tanya Ustadz Huda. Kyai Hasan terdiam. Ia mengurungkan niatnya. Dari tempat tersembunyi, mereka melihat perseteruan antara Bara, Banyu, Fahri dan Bimo.


Di tempat perseteruan


Bara memegangi perutnya yang terasa nyeri dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya mencengkeram pergelangan Banyu, menahan saudaranya itu agar tidak membalas perbuatan Fahri. Dari sudut bibirnya keluar darah.


"Kalau kau tidak berbuat yang tak senonoh pada Yasmine, tidak mungkin Kyai Hasan akan menikahkan kalian secepat ini. " kata Bimo dengan suara lantang.


"Tutup mulutmu! Saudaraku tidak serendah itu." bela Banyu. Mukanya sudah merah menahan amarah karena sejak tadi ia mendengar hinaan terhadap Bara.


"Kalian, jangan menuduh tanpa bukti." jawab Bara santai. Ia mengusap darah di sudut bibirnya.


"Bukankah kamu pernah menggendong Yasmine saat hujan dan kalian berduaan di gedung kerajinan asrama santriwati ha?" tanya Bimo.


Bara kaget. Bagaimana Bimo bisa tahu.


Ekspresi Bara yang kaget mendengar tuduhan Bimo tidak luput dari perhatian Kyai Hasan dan Ustadz Huda. Mereka berdua semakin penasaran melihat kelanjutan perseteruan antar santri itu.


Namun karena author sudah mengantuk, jadi dilanjutkan besok.


Met istirahat... have a nice dream 🥱🥱🥱🥱

__ADS_1


Tapi ninggalin jejaknya jangan di mimpi ya... disini saja.


__ADS_2