
"Apa rencana antum setelah lulus?" tanya Ustadz Huda. Ia tidak. lagi membahas tentang perjodohan Yasmine karena tidak mau membuat Bara terus merasa sedih.
"Ana ingin melanjutkan ke kedokteran, Ustadz." jawab Banyu mantab.
"Bagus itu. Jadi dokter yang memahami ilmu agama sehingga tidak menyalahgunakan profesimu nanti."
"Siap, Ustadz."
"Kalau anta?" tanya ustadz Huda sambil melihat Bara.
Bara diam. Semula ia ingin ke Kairo untuk memperdalam ilmu agama agar ia pantas menjadi imam Yasmine.
"Dia ingin kuliah ke Kairo, ustadz." celutuk Banyu. Banyu tahu semangat Bara sudah menurun. Ia sengaja menjawab untuk mengingatkan cita-cita Bara dan agar Bara mendapat suntikan semangat dari Ustadz Huda.
"Benar begitu?"
Mau tak mau Bara mengangguk.
"Bagus." Ustadz Huda menepuk pundak Bara, "Ana akan membantu anta untuk mempersiapkan diri agar saat tes nanti lulus."
"Syukron Ustadz."
Obrolan mereka berhenti saat seorang santri mengetuk pintu kamar Bara.
"Assalamualaikum, " Santri itu mengucap salam dan langsung membuka pintu, " Ustadz, ukhti Yasmine pingsan saat mengajar." Ia melanjutkan ucapannya sebelum Ustadz Huda, Bara dan Banyu membalas salamnya.
"Wa'alaikumussalam. Astagfirullah." kata Ustadz Huda. Beliau berdiri dan bergegas keluar kamar diikuti oleh Bara, Banyu dan santri yang tadi datang memberi kabar.
Mereka berempat berlari menuju pesantren putri. Saat di pintu gerbang, Bara, Banyu dan santri itu berhenti. Mereka tidak berani masuk karena santri putra di larang masuk ke wilayah pesantren putri.
Ustadz Huda masuk namun ia berhenti dan berbalik.
"Bara, ikut aku!" perintahnya. Bara yang memang merasa khawatir segera berlari menyusul ustadz Huda.
"Banyu, anta pergi ke rumah dan bilang ke Pak Kyai kalau Yas pingsan. Kalau perlu siapkan mobil buat jaga-jaga untuk membawa Yas ke rumah sakit!" perintah Ustadz Huda pada Banyu.
"Na'am ustadz." jawab Banyu. Ia berlari menuju rumah Pak Kyai ditemani santri yang tadi.
Ustadz Huda didampingi Bara dengan. langkah tergesa menuju ruangan tempat Yasmine mengajar.
Saat mereka datang, Yasmine sedang dikerubungi oleh santri putri yang sedang ia ajar.
"Kakak!" panggil Aurora yang ada diantara para santriwati yang mengerubungi Yasmine.
Mendengar Aurora memanggil kakak ke Bara, santriwati yang lain memperhatikan Bara. Mereka kasak kusuk memuji ketampanan Bara.
Ustadz Huda berusaha menyadarkan Yasmine namun Yasmine tak jua sadar. Ia lalu mengangkat tubuh adiknya. Bara membawakan barang Yasmine.
Ustadz Huda menggendong Yasmine menuju rumahnya yang jaraknya cukup jauh. Keringat mulai bercucuran di keningnya.
"Ustadz, apa perlu bantuan saya?" tanya Bara yang melihat ustadz Huda mulai kelelahan.
Ustadz Huda berpikir. Bagaimanapun Yasmine dan Bara bukan mahram. Tidak baik kalau Bara yang menggendong Yasmine. Tapi ini darurat dan tenaganya sudah mulai habis. Jarak pesantren putri dan rumahnya memang masih jauh.
"Baiklah, tolong gantiin aku menggendong nya." kata ustadz Huda membuat keputusan.
__ADS_1
Dengan hati-hati ia memindahkan tubuh Yasmine yang masih terkulai lemas ke dalam gendongan Bara.
Dengan hati-hati juga, Bara menerima tubuh Yasmine. Ia menaruh tangannya di bawah bahu dan lutut Yasmine. Dengan langkah tegap ia menggendong Yasmine.
Saat sudah mendekati rumah Pak Kyai, nampak sebuah mobil bergerak ke arah mereka.
Banyu yang mengendarainya. Begitu mobil dekat, ustadz Huda segera membuka pintu belakang dan masuk.
Bara meletakan tubuh Yasmine di kursi belakang bersama ustadz Huda. Ia lalu masuk ke mobil dan duduk di samping Banyu.
"Cepat ke rumah sakit!" perintah Ustadz Huda gusar. Ia sangat panik. Yasmine tidak pernah pingsan. Sekarang ia pingsan dan tidak sadar-sadar juga.
Banyu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Selama perjalanan Bara selalu menengok ke kursi belakang. Ia secemas ustadz Huda.
Mobil memasuki pelataran rumah sakit. Bara segera meloncat keluar dan berlari ke arah IGD. Ia kemudian kembali bersama dua orang perawat wanita dan sebuah brankar.
Ustadz Huda mengangkat tubuh Yasmine lalu merebahkannya di atas brankar.
"Tolong adik saya, Sust!" kata Ustadz Huda. Mereka mendorong brankar masuk ke IGD.
"Silahkan tunggu di luar. Pasien akan segera di tangani dokter." kata perawat itu.
Bara, Ustadz Huda dan Banyu menunggu di luar. Ustad Huda duduk sambil khusuk berdoa.
Sebuah brankar lewat di depan mereka. Seorang wanita terbaring lemah di atas brankar.
Perhatian ketiganya sementara pindah ke pasien wanita tersebut.
Sama seperti mereka, pihak keluarga juga di minta menunggu di luar.
"Bagaimana adik saya dok?" tanya ustad Huda.
"Bapak ikut saya ke ruangan saya."
Ustadz Huda mengangguk.
"Apa pasien boleh dijenguk?" tanya Bara.
"Silahkan tapi jangan masuk semua. Satu persatu saja." kata dokter.
"Ustadz apa ana boleh melihat Yas?" Bara meminta ijin.
Ustadz Huda mengangguk lalu meninggalkan mereka. Ia pergi mengikuti sang dokter.
Bara masuk. Ia bertanya ke perawat tempat Yasmine berada.
"Assalamualaikum!" Bara memberi salam. Ia berdiri di samping tirai yang menjadi pembatas ruangan antar pasien
"Waalaikumsalam." jawab Yasmine.
"Boleh aku masuk?" tanya Bara.
"Silahkan!" jawab Yasmine.
Bara masuk. Ia melihat Yasmine sedang duduk bersandar.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Bara.
"Alhamdulillah, aku baik."
"Bagaimana bisa pingsan?"
"Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba kepalaku pusing, perutku mual dan aku kehilangan kesadaran." jawab Yasmine tanpa menatap Bara. Ia menunduk.
Mereka berdua saling diam. Hening.
Sampai akhirnya terdengar tawa kecil Bara yang membuat Yasmine melirik ke arahnya. Sesaat pandangan mereka bertemu. Yasmine bisa melihat wajah tampan Bara yang sedang tertawa.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Yasmine.
"Tidak apa-apa. Aku keluar dulu." pamit Bara.
"Tunggu!" teriakan Yasmine menghentikan langkah Bara yang akan meninggalkan ruangan Yasmine.
"Apa?"
"Katakan dulu apanya yang lucu hingga kamu tertawa?"
Sambil tersenyum Bara menyahut, "Kamu berat." ia lalu keluar
"Apa maksudnya?! Aku berat." gumam Yasmine keki.
Bara berpapasan dengan ustadz Huda saat keluar. Ia heran melihat wajah ustadz muda itu seperti menahan kegusaran yang sangat.
"Ustadz?!" tanya Bara.
Ustadz Huda menatap Bara dengan sorot mata yang aneh. Ada rasa marah, gusar dan kasihan.
"Apa yang dikatakan dokter?" tanya Bara.
"Bara, lebih baik kau cari gadis lain untuk kau jadikan istri. Yas... dia tidak akan bisa menjadi pendampingmu." jawab Ustad Huda. Beliau lalu masuk untuk melihat Yasmine setelah mengucapkan kalimat itu.
Bata terpaku.
Apa maksud Ustadz Huda? Apakah penyakit Yas parah.
Rasa penasaran membuat Bara menyusul ustadz Huda ke dalam. Ia berhenti di dekat ruangan Yasmine. Wajahnya pucat dan tegang saat mendengar pembicaraan antara Yasmine dan Ustadz Huda. Hatinya pilu mendengar isak tangis Yasmine.
Yas.... bisik Bara dalam hati.
...🍃🍃🍃...
**Alhamdulillah bisa up lagi.
oh ya ada yang baru lho**
**Kisah seorang wanita yang berjuang menemukan tujuan hidupnya saat tahu dirinya dipoligami oleh suaminya.
Cek di beranda author ya**
__ADS_1