
"Tidak. Aku terlambat." gumam Camelia saat ia melihat wajah kakaknya menunduk sedih. Abahnya tersenyum namun jelas sekali senyuman sang abah sangatlah terpaksa.
Muka abah pucat. Abah pasti malu. Abah...
"Maafkan kelancangan kami. Anakku ini tidak tahu jika Wiena sudah menikah. Ini salah kami. Tidak seharusnya kami meminang dengan tanpa memberitahu terlebih dahulu." Suara Hj Asnawi bergetar.
Canelia benar, pria bijak itu sedang menahan malu. Aib baginya melamar istri orang meskipun itu bukan hal yang disengaja.
Semua diam. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Abah!" Camelia muncuk. Matanya berkaca-kaca.
"Maafkan aku abah. Ini salahku. Jika aku tidak bilang kalau Wiena menyukai kak Bagas, lamaran ini juga tidak akan terjadi" sesal Camelia tanpa sengaja membuka apa yang selama ini Wiena tutupi.
Tangan Ustaz Huda mengepal dengan erat.
Jadi dia menyukai Bagas.
Mata ustaz Huda menelisik Bagas. Mengamati setiap bagian tubuh pria yang datang untuk melamar istrinya.
"Saya permisi sebentar!" Ustaz Huda bangkit. Hatinya merasa tidak karuan.
Dia menyukai Bagas, tapi mengapa semalam dia..arrgh . Apa dia terpaksa melakukannya? Dia takut apa yang pernah Banyu ucapkan akan terjadi padanya dan karena itu semalam dia...
Ustaz Huda melangkah ke dalam, namun langkah kakinya terhenti mendengar suara tangis lirih Wiena yang sedang dihibur oleh Hanna.
"Wiena, sudah. Jangan menangis terus!" Hanna mengelus lembut punggung Wiena yang sedang menangis dalam pelukannya.
"Kenapa semua ini harus terjadi, Ma? Kenapa dia datang sekarang?" tangis pilu Wiena.
"Saat aku memimpikan dan mengharapkannya, dia sama sekali tidak menghiraukanku. Kenapa dia datang justru setelah aku menikah. Permainan nasib apa ini, Ma? Wiena harus bagaimana."
Rahang Ustaz Huda mengeras saat mendengar tangis pilu Wiena. Ia memutar balik tubuhnya dan kembali.ke ruang depan.
Di ruang depan
Haji Asnawi masih terus meminta maaf kepada Wahyu.
"Sungguh, Tuan Wahyu. Maafkan kelancangan kami ini! Kami memang benar-benar tidak tahu diri. Mestinya kami belajar dari pengalaman. Perjodohan anak saya sudah sering batal. Seharusnya hak itu menyadarkan saya akan siapa sebenarnya saya. Kami keluarga biasa tidak pantas bermimpi tinggi " Suara Hj Asnawi penuh dengan kekecewaan. Ia teringat bagaimana perjodohan Bagas dan Yasmine yang batal karena Yasmine menikah dengan Bara.
Kemudian perjodohan Ustaz Huda dan Camelia. Meski ia tahu Camelia tidak menyukai Ustaz Huda, namun saat itu ia berharao mereka bisa bersama. Namun lagi-lagi perjodohan merekapun gagal.
Dan sekarang, ternyata Ustaz Huda menikahi Wiena yang latar belakang keluarganya lebih dari dirinya. Ia bukan orang yang memikirkan dunia semata. Namun ia juga manusia.
"Pak Haji jangan berkata begitu. Semua ini mendadak. Kami benar-benar tidak mengira kalau Pak Haji akan melamar putri kami. Wiena itu gadis yang ceroboh, makanya kami menjodohkannya dengan Nak Huda yang kami anggap mampu membimbingnya." Wahyu mencoba menjelaskan.
"Tuan Wahyu benar. Pilihan Tuan Wahyu sudah pas dan tepat. Huda memang lebih segalanya dibanding Bagas." ucap Hj Asnawi getir.
"Pak Haji.." Wahyu tidak melanjutkan ucapannya saat Langit menyentuh tangannya meminta Wahyu diam.
"Pak Haji, keluarga bapak adalah keluarha yang saya idamkan untuk bisa menjadi besan saya." kata Langit serius.
Banyu langsung memandang papanya penasaran. Camelia yang menunduk memasang telinganya.
__ADS_1
Haji Asnawi terkekeh. "Mana mungkin itu, Tuan Langit. Kami hanya keluarga biasa."
"Tidak, Pak Haji Saya serius. Anak saya, Banyu, sangat menyukai putri Anda. Bahkan dia meminta agar saya mau melamar putri anda tapi saya menolaknya."
"Keputusan Tuan Langit sudah benar. Kami...."
"Tunggu Psak Haji! Ijinkan saya melanjutkan ucapan saya! Saya menolak karena saya tidak punya muka menemui bapak. Anak saya belum bekerja. Dia baru saja lulus SMA. Apa yang bisa saya banggakan dihadapan bapak sebagai modal agar bapak menerima pinangan saya. Itulah alasan saya menolaknya."
Haji Asnawi diam.
"Camelia bagaikan bintang terang di langit malam. Ia sangat bercahaya. Masih muda namun sudah hampir menyelesaikan kuliah kedokterannya. Dia wanita luar biasa."
"Sementara anak saya?"
Semua terdiam tak terkecuali Banyu.
"Karena sekarang Haji sudah mengetahui maksud hati anak saya, ijinkan saya menyampaikannya langsung. Pak Haji, bukan tidak menghormati bapak dan keluarga bapak, apakah bapak mengijinkan saya untuk berkunjung ke rumah bapak dengan maksud melamar Camelia buat Banyu?"
Deg
Mata Banyu membulat. Ia sangat kaget. Langit tiba-tiba menarik ucapannya yang semalam ia sampaikan.
"Papa." seru Banyu tanpa sadar.
"Putra anda rupanya keberatan." gumam Haji Asnawi.
"Tidak Pak Haji. Saya..." Banyu gugup.
Banyu menarik nafas panjang. "Apa yang papa sampaikan adalah cita-cita saya." balasnya dengan muka memerah.
Camelia semakin menunduk. Tangannya sibuk meremas ujung jilbabnya.
Haji Asnawi tersenyum.
"Kamu tidak apa apa kalau adikmu mendahuluimu?" Haji Asnawi menepuk pundak Bagas.
"Jodoh sudah diatur Allah. Abah tidak usah khawatir. Kalau adik yang bertemu dulu dengan jodohnya, Bagas ridlo."
"Alhamdulillah." ucao semuanya serempak.
Pada saat itu, Ustaz Huda muncul.
"Maaf! Bagas bisa kita bicara berdua?"
"Baiklah."
Mereka berdua pamit lalu meninggalkan ruang depan menuju taman.
"Dia menyukaimu." kata Ustaz Huda begitu mereka duduk di gazebo taman.
"Tapi dia adalah istrimu." balas Bagas.
"Tapi yang dia sukai adalah kamu."
__ADS_1
Bagas menepuk bahu Usta Huda.
"Aku minta maaf. Seharusnya aku memeriksa keadaan Wiena dulu sebelum mengajukan lamaran ini."
"Gas, apa kamu juga menyukainya?" Usta Huda menatap Bagas.
Pria tampan seumurannya yang hampir menjadi adik iparnya itu tersenyum.
"Huda, bukankah kau tahu aturannya. Jika dia sudah menikah maka aku tidak boleh menyukainya."
"Ya, aku tahu itu. Maksudku, sebelum kau tahu kalau dia menikah."
"Huda, apa gunanya kau tahu. Hanya akan menambah bebanmu. Sudahlah. Dia jodohmu. Jalani pernikahan kalian. Soal.pamaranku, kurasa ini kekang harus terjadi sebagai jalan bagi adikku menemukan jodohnya."
"Maksudmu?"
"Muridmu, mantan muridmu, Banyu, papanya melamar Camelia untuknya. Mungkin karena perasaan tidak enak melihat kekecewaan abah. Tapi bagus juga. Jadi jangan terlalu memikirkan hal ini."
"Banyu melamar Camelia?"
"Iya. Saat kamu pergi meninggalkan kami tadi."
Ustaz Huda tersenyun tipis.
"Akhirnya keinginan anak itu kesampaian juga."
"Ya. Ini hikmah dari apa yang terjadi hari ini."
"Gas, kalau dia masih menyukaimu, apa kau mau menerimanya seandainya aku melepasnya?"
Bagas yang semula menikmati indahnya bunga-bunga di taman itu langsung menoleh. Matanya menatap lekat wajah Ustaz Huda. Alisnya berkerut.
"Semudah itu kau memutuskan ikatan penikahan Huda?" tanyanya.
"Aku tidak bermaksud begitu, hanya saja aku juga tidak mau ia terbelenggu pada suatu ikatan yang tidak dia harapkan. Dia punya hak bahagia"
"Kalau begitu buat dia bahagia!"
"Bagaimana aku membuatnya bahagia kalau yang ia harapkan berada di sisinya adalah kamu." suara Ustaz Huda lemah.
"Hahaha kenapa kau jadi selemah ini? Apa cinta sudah merubahmu? Huda yang aku kenal adalah pria tegar dan oercaya diri." Bagas terkekeh.
"Bukan begitu, Gas. Masalahnya aku nggak mau ia terpaksa menjalani ini semua. Terlebih lagi, aku nggak mau dalam hatinya ada bayang bayangmu.Sebagai suami tentu saja aku akan sangat cemburu." dengus Ustaz Huda.
Bagas kembali tertawa. "Kau belum.mengenal istrimu kalau begitu. Wiena bukan wanita seperti itu. Jika kau ragu, kenapa kau tidak tanya saja padanya?"
Itu memang niatku. Aku pasti akan bertanya.
"Ayo kembali! Mereka pasti cemas. Mereka akan mengira kita berantem." Bagas bangun dari duduknya.
"Gas! Aku akan menanyainya. Tapi kalau dia memilihmu, tolong terima dan bahagiakan dia!" seru Ustaz Huda. Bagas menjawab dengan melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1