Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Menunggu Hak dan Janji Meminang


__ADS_3

Selesai makan Wiena merapikan meja, Ustaz Huda membantunya.


"Aduh Nak Huda, biarkan Wiena saja yang melakukannya! Nak Huda temani papa ngobrol saja!"pinta Hanna.


"Mmm nggak papa, Ma.Sudah biasa." jawab Ustaz Huda. Ia lalu mengangkat piring dan membawanya ke tempat Wiena. Wiena yang tidak tahu kalau di belakangnya berdiri ustaz Huda, berbalik dan tangannya langsung menghantam luka di perut Ustaz Huda.


"Aw."pekik Ustaz Huda sambil meringis.


"Kamu nggak papa?" Wiena menatap Ustaz Huda cemas.


"Enggak. Enggak papa." Ustaz Huda masih meringis.


"Nggak papa tapi meringis kesakitan begitu?" ejek Wiena.


"Nak Huda kenapa?" Hanna yang melihat Ustaz Huda menahan sakit ikutan bertanya.


"Nggak papa, Ma. Biasa. Kalau berada di dekatnya selalu saja ada kejadian begini." sindir Ustaz Huda membuat mata Wiena mendelik kesal.


"Dia memang ceroboh anaknya. Nak Huda yang sabar ya!"


Mata Wiena semakin mendelik saat mamanya bahkan tidak membantunya.


"Mama! Aku ini anakmu lo, Ma." rengek Wiena.


Hanna mendekat dan menyentil kening Wiena dengan ujung jarinya, "Anak mama yang ceroboh. Sudah sana obati suamimu! Biar mama yang menyelesaikan pekerjaan di sini."


Wiena mencuci tangannya yang kotor lalu mendekati Ustaz Huda.


"Ayo, aku lihat lukamu! Obatnya di dalam tas kan?"


Ustaz Huda mengangguk lalu mengikuti Wiena ke kamarnya.


"Bukalah!" Wiena berkata sambil sibuk menyiapkan perban dan salep untuk ustaz Huda. Saat ia berbalik, ia tertegun menatap dada polos sang suami yang sangat menggoda. Wiena menunduk karena wajahnya sudah memerah.


"Kamu sakit?" bisik Ustadz Huda.


Wiena menggeleng. Ia tidak mampu bicara karena takut suaranya tidak normal.


Kenapa wajahnya memerah? Apa karena melihatku bertelanjang dada? Apa aku tes saja ya?


Ustadz Huda lantas menyentuh dagu Wiena dengan tangan kirinya dan mengangkat wajah istrinya itu agar ia bisa melihatnya.


"Mukamu merah. Apa kamu demam?" Ustaz Huda menyentuh kening Wiena. Wiena malah memejamkan mata.

__ADS_1


Eh dia memejamkan mata. Kenapa?


Tangan kanan Ustaz Huda yang tadinya berada di kening, kini turun menyusuri alis lalu pipi Wiena. Wiena diam dengan mata masih terpejam. Ustaz Huda semakin memberanikan diri. Ia mengusap bibir Wiena dengan ibu jarinya. Wiena malah membuka sedikit bibirnya.


Ini? Apa mungkin? 


"Kamu?" bisik ustaz Huda membuat Wiena seperti tersadar. Ia langsung membuka mata dan menjauhkan diri dari Ustaz Huda.


"A..a..ku baik-baik saja. Aku akan mengganti perbanmu."


Aduh malu. Kenapa aku malah menikmati sentuhannya dan bahkan berharap lebih.


"Sudah. Sebenarnya lukamu sudah mulai mengering. Maaf, kalau aku sering membuatnya bertambah sakit." lirih Wiena sambil menunduk. Ia lalu berbalik hendak mengembalikan peralatannya yang ia pakai untuk mengobati luka Ustaz Huda namun tangannya dicekal oleh Ustaz Huda.


"Ada apa?" tanya Wiena menoleh.


Ustaz Huda tidak menjawab. Ia hanya menatap Wiena dengan sorot mata penuh cinta dan harap. Ustaz Huda lalu menarik tangan Wiena hingga tubuh wanita itu ikut terbawa dan langsung menempel pada tubuhnya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Wiena gugup.


"Jika aku memintanya malam ini, apa kau bersedia?" Ustadz Huda menatap tajam  mata Wiena yang langsung membulat mendengar pertanyaannya.


Bagaimana ini? Aku gugup. Benar-benar gugup. 


Ustaz Huda mendekatkan wajahnya. Wiena kembali memejamkan matanya saat nafas Ustaz Huda menyapu wajahnya. Ia semakin rapat menutup mata ketika merasakan bibir tipis, kenyal dan dingin Ustaz Huda mulai menyentuh bibirnya. Ciuman kali ini berbeda dengan saat mereka berada dalam kamar mandi di pondok. Jika saat itu Ustaz Huda hanya menempelkan saja, kini ia mulai menyesap dan mengu lum bibir Wiena.


Ustaz Huda tersenyum, ia semakin memainkan bibirnya sampai Wiena mendorongnya karena kehabisan nafas. Ustaz Huda melepaskan bibirnya namun menyatukan kening mereka.


"Apa ini artinya kamu bersedia?" bisiknya.


Wiena menggigit bibir bawahnya. Perlahan sekali ia mengangguk.


Ustaz Huda kembali tersenyum. Ia menarik kepalanya menjauh. Tangannya lalu menyentil ujung hidup Wiena.


"Terima kasih. Tapi aku tidak akan melakukannya malam ini. Aku tahu kamu masih terpaksa melakukannya. Takut kena kutuk kan? Aku akan melakukannya  jika kamu sendiri yang datang menyerahkan hakku dengan ikhlas." Ustaz Huda lalu mengecup kening Wiena.


"Aku akan menemani papa mengobrol sebentar. Tapi ngomong-ngomong makasih ya, bibirmu manis." Ustaz Huda mengedipkan mata lalu menyambar kaosnya. Ia memakainya dengan cepat dan melesat keluar dari kamar meninggalkan Wiena yang tertegun dengan sikap suaminya itu.


Di Rumah Langit.


Bara sedang berbunga bunga sambil memegang dua buku nikah miliknya dan milik Yasmine. Ia mengacung-acungkan buku itu di hadapan Banyu yang menatapnya dengan kesal.


"Ayo, kapan kamu nyusul?" ledek Bara.

__ADS_1


"Bara!" tegur Anggi.


Yasmine hanya tersenyum melihat tingkah suaminya itu. Berada di rumah orang tuanya, Bara menunjukkan sisi lain dari dirinya.Usil


"Yas, begitu itu suamimu. Kalau di rumah, tingkahnya beda kan dengan di pondok?" ucap Anggi yang duduk di sebelah Yasmine.


"Dia lebih open, Ma. Lepas dan jadi dirinya. Justru Yas suka." jawab Yasmine sambil memandang Bara dengan penuh cinta.


"Ahh kebaikan apa yang telah dia lakukan hingga mendapat istri sebaik kamu, Yash?" Anggi tertawa lirih.


Yasmine malah menunduk mendapat pujian dari mama mertuanya itu.


"Ma? Apa papa pernah membicarakan tentang permintaanku?" tanya Banyu.


"Nyu, kasusmu dan Bara beda. Papa sedikit sulit memenuhi permintaanmu. Bagaimana papa mau melamar anak gadis orang jika anaknya sendiri saja belum punya pekerjaan." Anggi mencoba memberi pengertian.


Banyu melengos. Ia lalu teringat pertemuannya dengan Camelia sepulang dari rumah Wahyu tadi siang.


Flashback on


"Masuklah! Aku akan menunggumu di kantin. Ayo, Yash!" Bara menggandeng tangan Yasmine menuju kantin rumah sakit. Sementara Banyu langsung menuju tempat Camelia berada.


Banyu melihat ke sekeliling tempat di mana ia biasa menemukan Camelia. Ia tersenyum manakala melihat sosok yang sudah lama ia nantikan.


Camelia mendekat sambil menunduk.


"Akhirnya kamu datang." kata Banyu ceria.


"Ada apa?" tanya Camelia pelan.


"Aku ingin bertanya, jika keluargaku datang meminangmu dan meminta kita secepatnya menikah, apa jawabanmu?"


Camelia kaget. Ia mendongak menatap wajah tampan di hadapnya sekilas lalu kembali mengalihkan pandangan.


"Aku tidak bisa menjawabnya. Aku harus bertanya pada abah." balas Camelia.


"Baiklah.Bicarakan dengan abah lalu beritahu aku.Jika abahmu menyetujuinya, maka aku akan membawa orang tuaku menemui beliau."


Camelia diam dengan hati berdebar-debar. Menikah dengan Banyu merupakan harapannya, namun ia adalah seorang wanita. Keputusan orang tuanya masih sangat berpengaruh di rumahnya.


Setelah menyampaikan maksudnya, Banyu lalu pamit. Camelia baru berani memandang saat Banyu sudah menjauh.


"Aku menunggumu datang bersama orang tuamu." bisik Camelia lirih sambil tersenyum.

__ADS_1


...----------------...


Akhirnya bisa up. Dukungannya aku tunggu ya buat penyemangat biar tambah lancar ngehalunya


__ADS_2