Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Happy First Night


__ADS_3

Mata Yasmine terbelalak kaget, namun sejurus kemudian dia memejamkan matanya. Tubuhnya kaku. Hanya jantungnya yang berpacu dengan sangat cepat. Suhu tubuhnya perlahan naik. Sentuhan Bara di bibirnya membuat tubuhnya meremang.


Bara menarik bibirnya. Mereka saling menatap dengan wajah malu. Rahang Bara mengeras tanda ia sedang menahan sesuatu dengan sekuat tenaga yang ia miliki.


"Maaf!" ucap Bara. Ia lalu menjauhkan tubuhnya dari tubuh Yasmine. Bara turun dari ranjang, mengambil baju koko dan memakainya.


"Aku keluar dulu. Assalamualaikum." kata Bara lalu segera keluar dari kamar.


Yasmine masih dalam dunianya. Ini pertama kalinya ia disentuh lawan jenisnya. Dan itu adalah suaminya sendiri. Ia tidak menyadari kalau Bara sudah tidak ada di kamar itu. Yasmine meraba bibirnya. Mukanya kembali memanas.


Bibirnya tersenyum malu lalu ia menutup wajahnya dengan selimut.


Setelah keluar dari kamar, Bara menutup pintu dan berdiri di depan pintu itu. Ia meraba dadanya.


"Huff..." Bara menghembuskan nafas kuat kuat. "Kalau aku tidak segera keluar, aku tidak akan bisa menahannya lebih lama. Tapi apa yang akan aku lakukan sekarang."


Bara berjalan mondar-mandir di depan kamar Yasmine.


"Apa yang anta lakukan?" suara lembut seorang wanita menegur Bara. Bara menoleh, ia melihat Bu Nyai memandangnya dengan heran.


"Oh, Bu Nyai. Ana..." Bara bingung harus menjawab apa. "Ana mau pamit untuk kembali ke asrama putra." katanya tanpa pikir panjang.


Kenapa aku malah pamit. batin Bara. Ia memukul kepalanya.


"Kalau malam ini anta tidur di asrama, apa kata para santri nanti. Anta sudah menikahi Yasmine, jadi tinggallah di sini."


"Tapi Bu Nyai.."


"Umi panggil umi!" potong Bu Nyai.


"Umi, ana sudah berjanji pada Pak Kyai...


" Abah, panggil abah!" kembali Bu Nyai memotong perkataan Bara.


"Ana berjanji pada Abah untuk tidak menyentuh Yas, Umi. Kalau Ana tidur di dalam.. ana takut, ana... "


Umi malah tertawa geli melihat kebingungan Bara. Dalam hati ia bahagia mendapat menantu yang bertanggung jawab dan amanah seperti Bara.


"Kalau begitu, tidurlah dengan Huda di kamarnya." saran Umi.


"Kamar Ustadz Huda di sebelah mana, Umi?"


Bu Nyai menunjukkan kamar Ustad Huda. Bara membungkuk meminta ijin sebelum akhirnya ia melangkah ke depan kamar Ustadz Huda.

__ADS_1


Bara mengetuk pintu kamar Ustadz Huda. Pintu kamar terbuka, "Ada apa? Kenapa anta malah kemari."


"Ustadz tolong ana. Ijinkan ana tidur di sini malam ini." pinta Bara memelas.


Ustadz Huda tertawa. Ia merasa lucu melihat kebingungan Bara.


"Pengantin aneh. Ini malam pertama anta. Jadi kembali ke kamar Yas!" perintah Ustadz Huda dan beliau hendak menutup pintu namun Bara menahannya dan tanpa permisi ia langsung menerobos masuk.


"Anta?!" Ustadz Huda kaget.


"Kakak.. ku mohon." Bara memasang wajah melasnya. Ia sengaja merayu dengan memanggil Ustadz Huda kakak.


"Ck." Ustadz Huda berdecak sambil menutup pintunya.


"Lihatlah sekeliling anta. Kamar ana tidak seluas kamar Yas. Bednya pun hanya cukup untuk satu orang."


Bara mengangguk seolah paham apa yang diucapkan Ustadz Huda.


"Jadi ini kenapa Ustadz belum menikah, karena bednya sempit." goda Bara.


"Anta berkata apa?" Ustadz Huda keki digoda Bara.


Bara terkekeh. Ia lantas berbaring dengan nyaman di bed Ustadz Huda.


Bara bangkit dan duduk dipinggir ranjang dengan putus asa.


"Ustadz, hari ini mestinya hari bahagia ana Tapi karena ana sudah berjanji maka ana harus menepatinya. Jika ana tidur di kamar Yas, ana takut tidak bisa menahan diri. Ustadz tahu, godaannya sangat luar biasa." keluh Bara.


"Hahahahaha." Ustadz Huda malah tergelak. "Dengar, ana akan mengatakan sesuatu, tapi jangan marah dan ini hanya kita berdua yang tahu. Kalau anta ingin memberitahu Yasmine, terserah. Itu keputusan anta."


Ustadz Huda menjeda ucapannya. Ia menarik nafas dalam dan wajahnya berubah serius.


"Bara, ana menyukai anta. Itulah kenapa saat ana tahu anta menaruh hati pada Yas, ana berusaha membekali anta agar bisa menjadi imam Yas yang baik. Tapi saat tahu abah sudah menerima pinangan pria lain untuk Yas, ana sedih. Semula ana sudah pasrah dan tidak tahu harus berbuat apa untuk membantu anta dan Yas, sampai kesempatan itu tiba."


"Apa maksud Ustadz?"


"Yasmine sebenarnya tidak hamil. Itu ana yang membuat seolah Yasmine hamil. Sebab ana tahu kalau anta pasti akan berusaha menyelamatkan harga diri Yasmine. Dan ternyata dugaanku tidak salah. "


"Bara tidak mengerti ustadz?" Bara mulai tegang. Meski begitu kelegaan menyusup dalam hatinya.


"Sebelum ana melanjutkan cerita ana, boleh ana bertanya sesuatu? Kenapa anta bersedia menikahi Yasmine meski tahu ia sedang hamil?"


"Ana percaya Yas tidak akan melakukannya dengan sengaja. Ya....seperti yang ana katakan di depan Pak Kyai kemungkinan ia diperdaya. Atau salah diagnosa. Itu yang ada dipikiran ana." Bara menjelaskan.

__ADS_1


"Kau benar. Yas memang tidak melakukannya dan tidak ada orang yang memperdayainya. Yas mengalami kelainan endoktrin yang menyebabkannya sering sakit perut dan terlambat menstruasi. Jadi memang dia harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan pengobatan yang tepat. Sekarang jadi tugasmu untuk mengantar Yas berobat mengatasi masalah kesehatannya."


"Lalu.. kertas hasil pemeriksaan itu milik siapa?" tanya Bara.


Ustadz Huda tersenyum. "Menurutmu?"


"Ustadz.. anta benar benar ya." Bara berkata sambil tertawa lega.


"Sudah sana kembali ke kamar pengantin. Ana capek, mau tidur." Ustadz Huda menarik Bara hingga berdiri lalu mendorongnya ke arah pintu.


"Tapi Ustadz." protes Bara.


"Sudah.. nikmati malam pertama kalian."


Ustadz Huda berhasil membuat Bara keluar dari kamarnya. "Assalamu'alaikum. Happy First Night." Ustadz Huda mengedipkan matanya lalu menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam takut Bara menerobos masuk lagi.


Bara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung antara mau kembali ke kamar atau tetap menjauh dari Yasmine yang membuat jantungnya berpacu tiap kali berdekatan dengannya.


Arrghh... ternyata menikah rumit juga. Tapi ustadz Huda benar, aku harus kembali ke kamar Yas.


Bara akhirnya melangkahkan kakinya kembali ke kamar Yasmine.


Ia membuka pintu dan memberi salam. Ia masuk dan melihat Yasmine sudah terlelap. Bara mendekat dan duduk di sisi Yasmine. Dipandanginya wajah cantik yang tengah lelap sambil tersenyum damai.


Bara mengelus pipi Yasmine. Ia lalu menunduk dan mencium kening Yasmine.


"Mimpi indah, istriku." bisik Bara lantas memberi kecupan di bibir Yasmine.


Bara lalu merebahkan tubuhnya disebelah Yasmine dan mencoba untuk memejamkan matanya.


'Ah." Bara kaget saat tiba tiba Yasmine berbalik dan memeluknya. Bara memperhatikan Yasmine. Gadis itu masih lelap. Tangan Yasmine semakin erat mendekap tubuh Bara seperti mendekap guling bahkan ia meremas dada Bara.


Bara mendesis, rahangnya mengeras.


Yas kumohon jangan menggodaku. Aku tidak sekuat itu.


Yasmine semakin menempelkan tubuhnya. Seolah ia merasa nyaman memeluk Bara.


Bara mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia memejamkan mata dan beristighfar. Mulutnya komat kamit. Cukup lama Bara berusaha menguasai dirinya hingga akhirnya ia pun terlelap dengan tubuh dalam dekapan Yasmine.


...🍃🍃🍃...


Yaaasss... bangun... lihat siapa yang kau peluk.. bukan guling lho Yaaasss... ada yang panas dingin... kasihan Yass.

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya.


__ADS_2