
POV Ustaz Huda
Hatiku berdebar-debar, gugup, pasti karena ini akan menjadi pengalaman pertama yang tak akan mudah aku lupakan. Aku membersihkan diri dengan baik agar istriku tidak kecewa. Ya, bukan hanya wanita yang dituntut untuk bisa menyenangkan suami, sebaliknya suami juga harus bisa menyenangkan dan memanjakan istri. Bukankah pernikahan itu adalah saling memberi dan menerima. Ku gosok tubuhku dengan sabun yang biasa Wiena pakai. Nggak papalah aromanya sedikit feminin, nanti tinggal kusemprot dengan parfum andalanku yang pernah kubeli namun belum pernah kucoba.
Bagaimana mau mencobanya, aku belum memiliki kesempatan itu. Konon parfum ini bisa membuat pasangan kita nempel kayak perangko dan menambah gairah. Bahaya kan kalau aku memakainya sembarangan. Bisa-bisa banyak wanita yang lengket.
Aku tersenyum sendiri membayangkan Wiena akan menempel dan ngulet padaku sepanjang waktu.
"Apaan sih, dasar otak mesum." gumamku sambil menepuk jidatku sendiri.
Selesai mandi aku langsung mengambil air wudlu lalu keluar. Aku terhenyak manakala melihat Wiena berdiri gugup dengan tanpa mengenakan hijabnya.Selama menjadi istriku, dia tidak pernah membuka hijabnya saat kami bersama. Meski hanya berdua. Rupanya dia benar-benar bertekad menerimaku sebagai suami dan menyerahkan dirinya malam ini.
"Mandilah! Aku sudah selesai." kataku berusaha bersikap wajar menutupi kegugupan yang juga mulai merayapiku sejak tadi.
"Eh..i..iya."
Dengan cepat, Wiena melesat ke kamar mandi.
Aku tersenyum. Kuambil dua sajadah lalu kuhamparkan di lantai. Aku bersiap dengan memakai sarung dan baju koko yang kupakai tadi saat sholat di masjid.
Ku pandangi penampilanku di cermin. Aku berdoa mengucap syukur kepada Allah yang telah memberiku fisik yang sempurna.
Allahumma kamaa hasanta khalqi fahassanna khuluqi
Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah kejadianku, maka perindah pulalah akhlakku. Amiin.
Kutatap sekali lagi pantulan wajahku di cermin. Hm, ternyata aku tampan juga. Hidungku mancung, mataku tajam bercahaya dengan alis yang tebal. Wajahku oval dengan rahang yang kuat. Sangat maskulin.
Melihat penampilanku, aku menjadi sangat percaya diri jika malam ini aku akan mampu meluluhkan hati istriku.
Setalah lama mematut dan mengagumi diri, aku baru sadar kalau Wiena belum juga keluar dari kamar mandi.
"Kenapa dia lama sekali? Apa dia menyesal dan berubah pikiran?" gumamku. Kuseret langkahku mendekati pintu kamar mandi.
"Wiena, kamu baik-baik saja?" tanyaku sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban. Aku mengetuk lagi baru ku dengar Wiena memutar handle pintu.
Ceklek
Mataku langsung melebar takjub dengan apa yang ada di depanku.
__ADS_1
"Kamu?" ucapku penuh rasa kaget. Aku menelan salivaku kasar karena tenggorokanku mendadak kering. Wiena berdiri di depanku dengan wajah menunduk dan tangannya sibuk menarik gaun tidurnya yang pendek, hanya sebatas paha. Mataku sudah tidak.bisa lagi ku kondisikan. Melahap apa yang istriku suguhkan.
Aku mundur lalu berbalik. Ku tarik nafas beberapa kali untuk mengusir bayangan Wiena. Bukan karena tidak suka. Tapi aku mau sholat. Agar aku bisa sholat dengan khusuk, aku harus menghapus apa yang barusan aku lihat.
"Pakai mukenamu!" perintahku pendek. Sengaja aku berkata pendek agar Wiena tidak menyadari betapa suaraku bergetar.
"E..i..iya." jawabnya lemah.
Aku tidak lagi menoleh. Ku tunggu di tempat sholat.
"Sudah?!" tanyaku lagi sambil.berusaha mengatur agar suaraku terdengar biasa.
"I...iya."
Wiena masih saja tergagap dan selalu membalas dengan suara lemahnya.
Kutarik nafas dalam beberapa kali sebelum aku mengucap niat lalu menjalankan sholat dua rokaat. Sholat kali ini benar-benar aku rasakan sangat berat. Aku berusaha konsentrasi penuh pada apa yang aku lakukan bahwa aku sedang menghadapNya. Kulakukan tiap gerakanku dengan penuh perasaan. Kuperlama sujudku dengan doa agar pernikahanku ini dikarunia berkah sehingga keluargaku menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warhmah.
Setelah salam, kulakukan dzikir dan berdoa. Wiena mengamini setiap permohonan yang kulangitkan.Di ujung doa, kuusap wajahku dengan kedua telapak tangan lalu kuputar tubuhku. Ku tatap Wiena yang masih saja menunduk.
Kuulurkan tangan menyentuh ujung kepalanya. Mataku terpejam.
Allahumma inni as aluka min khoiriha wa khoiri maa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzu bika min syarrihaa wa syarri maa jabaltahaa 'alaih.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, wahai istriku."
Mata Wiena terbuka,
"Waalaikumsalam." balasnya lirih sambil menatap lekat mataku.
Aku bangkit. Kuulurkan tanganku dan dia menerimanya. Kubantu dia berdiri. Kini kami berdiri berhadapan.
"A..aku bereskan sajadahnya dulu."
Kutahan tubuhnya saat ia akan kembali menunduk untuk melipat sajadah.
"Biarkan saja!" jawabku. Tanganku mulai menyusuri wajahnya. Perlahan kutarik mukena yang menutupi tubuhnya dan menjatuhkannya di atas sajadah.
Kini aku bisa menikmati kembali apa yang tadi aku hindari.
"Aku..aku ganti baju dulu." Lirih Wiena.
__ADS_1
"Untuk apa?" kutahan tubuhnya yang akan menghindar itu.
"Hah. Bukankah kau tidak suka?" tanyanya menatapku bingung.
Aku mengernyit. "Siapa yang bilang?"
"Bukankah tadi kamu langsung berbalik saat melihatku keluar dari kamar mandi?Itu karena kamu tidak suka melihatku berpakaian seperti ini kan?"
Oo..jadi dia menganggap aku tidak menyukai penampilannya. Hm makanya ia selalu menjawabku lirih.
Kuelus rambutnya sambil tersenyum.
"Kau salah sayang. Aku berbalik karena kalau aku terus menatapmu aku tidak akan bisa sholat. Kau tahu kenapa?"
Dia menggeleng dengan wajah polos. Sumpah, aku sangat gemes melihatnya.
"Karena aku akan selalu mengingat ini dan ini." Ku sentuh bagian tubuhnya yang saat ini seperti melambai-lambai minta aku belai.
"Eh." Ia berjengkit saat tanganku menyentuh dadanya.
"Kenapa kaget?" Kulingkarkan kedua tanganku di pinggang rampingnya lalu kutarik tubuh itu menempel ke tubuhku.
"Aku..aku mau ganti baju." Ia menghindari tatapan mataku.
"Kenapa? Aku suka kok." Ku elus punggungnya perlahan.
"Ini nggak adil." suaranya bergetar. Kedua tangannya menumpu di dadaku membuat jarak.
"Apanya yang nggak adil?" Kuangkat dagunya agar wajahnya bisa kulihat.
Ya Tuhan, wajahnya cantiknya memerah.
"Aku seperti ini sedangkan kamu masih berpakaian lengkap."
Aku bisa melihat kegugupannya saat mengucapkan kalimat itu.
"Lalu kenapa kau tidak membuatnya menjadi adil?" Ucapku sambil mendekatkan wajahku. Dia kembali memejamkan mata saat bibir kami bersentuhan.
"Buatlah jadi adil." ucapku lalu kembali menyambar bibir ranum itu. Menikmati manisnya yang mulai menjadi candu bagiku.
Rupanya ia paham maksudku. Kurasakan tangannya yang gemetar mulai membuka satu persatu kancing baju kokoku. Saat semua kancing sudah terlepas, tangan halusnya menyelusup dan mengembara meski dengan terbata. Kunikmati sentuhan lembut itu yang mampu membuatku terbang.
__ADS_1
Aku membantunya, meloloskan sisa cita yang ada di kedua lenganku hingga koko putihku bersatu dengan mukenanya.
Deru nafas kami saling bercengkrama saat sentuhan lisan kami terjeda. Sudah cukup. Aku sudah tidak bisa lagi menghalangi keinginan saudara kecilnya untuk beraksi. Ku angkat tubuh ramping itu dan membawanya ke peraduan yang akan menjadi saksi bersatunya kami malam ini.