
"Kak.. " rintih Yasmine.
"Kita bicarakan lagi nanti. Ayo, kita pulang." Ustadz Huda membantu Yasmine turun dari bed. Bara segera keluar. Wajahnya pucat
Banyu memperhatikan saudaranya itu.
"Kenapa kau pucat?Apa yang terjadi dengan Yasmine?" tanya Banyu.
Bara menatap Banyu. Ia ingin bercerita tapi urung. Tidak, ia belum boleh cerita pada siapapun.
"Kenapa kau diam?" tanya Banyu penasaran. Bara masih diam. Banyu kembali akan membuka mulutnya untuk bertanya lagi saat pintu terbuka.
Kedua pemuda itu menoleh ke arah pintu ketika Ustadz Huda keluar sambil memapah Yasmine. Banyu memperhatikan Yasmine. Melihat Yasmine, Banyu berkesimpulan kalau gadis itu baik-baik saja. Lantas apa yang membuat Bara sepucat itu saat keluar dari ruang IGD.
Bara menatap lekat wajah Yasmine yang tertutup niqab. Ia melihat bagian niqab itu basah, pertanda Yasmine habis menangis. Yasmine menunduk. Ia seperti masih menahan isakan.
"Bara, ayo kita pulang!" ajak Ustadz Huda sekaligus menegur Bara karena menatap lekat Yasmine.
Bara tergagap. Ia segera mengalihkan pandangannya.
"Baik Ustadz." jawabnya. Ia lantas melangkah di depan bersama Banyu. Ustadz Huda dan Yasmine mengikuti dari belakang.
Sepanjang perjalanan mereka diam. Ustadz Huda menatap keluar jendela. Wajahnya masih tegang. Yasmine menunduk. Isakan kecil keluar dari bibirnya.
"Kak, Yas bersumpah demi Allah kalau Yas tidak pernah melakukannya, " suara Yasmine memecah kesunyian.
"Sudahlah, Yas. Kita bicara di rumah." sergah Ustadz Huda.
Bara membatu. Dadanya sesak. Tangannya mengepal kuat hingga memutih. Banyu melirik saudaranya itu. Ia tahu sedang terjadi sesuatu.
Keheningan terus berlanjut hingga mobil yang mereka tumpangi sampai di halaman rumah Ustadz Huda yang juga rumah Pak Kyai pemilik pesantren.
"Syukron. Kalian bisa kembali ke asrama. " kata Ustadz Huda yang juga merupakan perintah bagi Bara dan Banyu.
Yasmine lebih dulu masuk ke dalam rumah. Ia disambut pelukan uminya. Tangis Yasmine pecah dalam pelukan uminya.
"Kepada Yas? Kamu sakit apa?" tanya uminya cemas.
Ustad Huda masuk, "Kita bicara di dalam Umi."
Bara menatap mereka dari halaman.
"Ayo kita kembali ke kamar!" ajak Banyu sambil menarik lengan Bara.
"Tunggu Nyu." Bara menghentikan langkah Banyu, "Kamu pergi dulu, aku ada sedikit urusan." lanjut Bara.
"Apa? Ingat pesan mama." kata Banyu mengkhawatirkan Bara yang ia rasa sejak dari rumah sakit bersikap aneh.
Bara tersenyum sambil menepuk bahu Banyu, "Apa kau masih belum melihat kalau aku sudah berubah?Aku hanya ingin menggapai mimpiku. Apapun caranya." jawab Bara.
"Baiklah." Banyu melangkah pergi. Namun baru beberapa langkah, ia balik lagi.
"Ada apa?" tanya Bara melihat Banyu kembali.
"Aku lupa, kunci mobil Pak Kyai belum aku kembalikan." kata Banyu.
"Berikan padaku! Biar aku yang mengembalikannya." Bara mengulurkan tangannya meminta kunci mobil Pak Kyai.
Banyu menyerahkannya, "Ingat pesan mama!"
Kembali Banyu mengingatkan Bara agar tidak melakukan hal-hal yang bisa membuat keluarga malu. Bara menenangkan Banyu dengan mengacungkan ibu jarinya.
Banyu segera meninggalkan Bara. Bara perlahan mendekati rumah Pak Kyai. Ia menarik nafas dalam dalam, mengucap salam dengan pelan sebelum akhirnya melangkah masuk dengan perlahan.
Di dalam rumah, di ruang tengah, Pak Kyai nampak murka mendengar kabar yang dibawa oleh Ustadz Huda.
"Jadi ini yang kau hasilkan setelah kuliah di Kairo, Yas!" katanya dengan suara dalam dan menekan sambil mengacungkan selembar kertas ke arah Yasmine. "Katakan siapa dia, Yas!" bentak Pak Kyai.
__ADS_1
"Demi Allah abah Yas tidak pernah melakukannya. Yas selalu menjaga kehormatan Yas." jawab Yasmine berusaha meyakinkan kedua orang tuanya. Umi memeluknya. Hatinya teriris melihat kesedihan putrinya dan kemurkaan suaminya.
Kau masih tidak mau mengaku setelah bukti ada di tangan Abah, Yas!!!" bentak Pak Kyai kembali. Ia meremas kertas itu dan melemparkannya ke arah Yasmine.
"Abah, tenang. Tahan emosi abah." Ustadz Huda berusaha menenangkan.
"Astaghfirullah." Pak Kyai beristigfar lalu terduduk lemas di kursi, "Katakan Yas, abah mohon." kali ini suara Pak Kyai terdengar lemah.
Yasmine masih terus menangis, "Apa yang harus Yas katakan Bah. Jika kejujuran Yas tidak abah percaya."
Pak Kyai menarik nafas, kesabarannya sudah mulai hilang. Ia berdiri dan berkata kali ini dengan keras sambil mengangkat tangan hendak memukul Yasmine.
"Masih saja kau menutupinya Yass!!"
Tangan Pak Kyai sudah berada di udara siap menampar Yasmine. Yasmine memejamkan mata. Bu Nyai memekik dan Ustadz Huda berdiri hendak menghalangi pukulan abahnya ke tubuh Yasmin.
Tiba-tiba seseorang menangkap tangan Pak Kyai dari belakang.
"Bara!" seru Ustadz Huda. Yasmine langsung mendongak saat nama Bara di sebut. Ia melihat Bara berdiri di belakang abahnya sambil memegang tangan kanannya.
"Afwan Pak Kyai kalau ana lancang." kata Bara lalu perlahan melepas tangan Pak Kyai. "Ana masuk tanpa ijin. Ana ingin mengembalikan ini." kata Bara menyodorkan kunci mobil Pak Kyai.
Pak Kyai memandang Bara dengan tatapan marah dan curiga. Ia mengambil kunci yang di ulurkan Bara. Matanya lalu melihat ke arah Yasmine.
"Apa dia pelakunya?"tanyanya pada Yasmine membuat Yasmine, Ustadz Hudan dan Bara kaget.
"Bah, tidak mungkin Bara pelakunya." sergah Ustadz Huda.
Pak Kyai diam. Dalam hati ia juga berpikir tidak mungkin Bara pelakunya. Setahu dirinya Bara adalah pemuda baik meski awalnya ia agak susah diatur. Pak Kyai terduduk lemas di kursi. Air mata meleleh membasahi pipinya yang mulai tampak guratan keriput.
"Afwan Pak Kyai. Jika diijinkan, ana bersedia bertanggung jawab." kata Bara tiba-tiba membuat semua kaget.
"Apa maksud anta bertanggung jawab?" tanya Ustadz Huda. "Jangan memperkeruh masalah Bara."
"Maksud Ana baik Ustadz. Ana percaya Yasmine tidak melakukannya secara sadar. Mungkin ada yang memperdayai dirinya. Jadi Yasmine tidak bisa menyebutkan siapa orangnya karena memang ia tidak tahu. Untuk itu, ana akan menikahi Yasmine."
Isakan Yasmine saja yang terdengar.
"Tidak perlu. Anta tidak perlu menanggung apa yang tidak anta lakukan. Biarlah ana menanggungnya sendiri jika memang kejadiannya seperti yang anta katakan." dengan lembutnya Yasmine menolak niat baik Bara.
"Tapi Yas, keluarga anti? Nama baik keluarga anti?" kata Bara.
Yasmine diam. Ya.. dia memang harus memikirkan nama baik keluarganya yang notabene adalah keluarga muslim yang terkenal taat dan alim. Apalagi abahnya adalah pemilik pesantren yang dipercaya oleh ratusan wali santri untuk mendidik anak-anak mereka. Apa jadinya jika mereka tahu, Yasmine hamil diluar nikah.
"Apa anta serius?!" suara berat Pak Kyai terdengar putus asa saat bertanya kepada Bara.
"Na'am, Pak Kyai. Ana serius." kata Bara mantab.
"Anta tidak akan menyesal dan mengungkit masalah ini!" kembali Pak Kyai menanyakan kesungguhan Bara.
"InsyaAllah tidak Pak Kyai."
"Baiklah, bakda magrib di masjid. Aku akan menikahkanmu dengan Yas." kata Pak Kyai.
"Abah itu tidak mungkin." sela Ustadz Huda, "Tidak boleh menikahkan wanita yang sedang hamil abah." sambungnya.
Sementara Yasmine semakin tergugu dalam pelukan Bu Nyai yang juga tampak sedih.
Pak Kyai mengusap wajahnya. Beliau tampak putus asa.
"Bara, ana akan menikahkan anta dengan Yas. Tapi berjanjilah jangan sentuh Yas sampai ia melahirkan. Kelak, kalian akan aku nikahkan lagi saat masa nifas Yas habis." ucap Pak Kyai.
Ustadz Huda diam. Ia tahu abahnya mengambil keputusan yang sulit. Ia melakukan ini demi generasi berikutnya. Ia tidak mau masalah ini akan dijadikan contoh bagi santriwati yang lain.
"Baik Pak Kyai, ana berjanji."
"Kembalilah ke asrama." kaya Pak Kyai kemudian beliau meninggalkan ruang tengah diikuti Yasmine dan Bu Nyai.
__ADS_1
Bara hendak keluar saat matanya melihat kertas yang di remas Pak Kyai. Ia memungut kertas itu dan memasukkan ya ke dalam saku kemudian melangkah kekuar dari ruang tengah.
"Bara tunggu!" Ustadz Huda menghentikan langkah Bara.
"Iya ustadz?"
Ustadz Huda memandang Bara lalu memeluknya. "Syukron." bisiknya.
Bara membalas pelukan ustadz Huda.
"Apa anta tidak memberitahu orang tua anta?" tanya Ustadz Huda.
"Tidak sekarang Ustadz. Nanti jika waktunya tepat. Saat ana siap." jawab Bara.
"Aku percaya keputusan anta." kata Ustad Huda menepuk pundak Bara. "Sekali lagi terima kasih." Ustadz Huda lalu berbalik dan kembali masuk ke dalam.
Bara berjalan ke asrama. Saat ia tiba di depan pintu kamarnya, ia menarik nafas baru membuka handle dan mengucap salam.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam." jawab Banyu yang duduk di ranjang seolah sedang menunggunya.
"Ada yang mau aku sampaikan." kata Bara, "Tapi dengarkan sampai aku selesai bicara dan jangan menyela."
"Apaan sih?Jangan bikin aku penasaran." Banyu berkata dengan tidak sabar.
"Aku akan menikahi Yasmine nanti setelah sholat magrib di masjid." jawab Bara.
"Apa?!!" Banyu kaget. Ia melompat dari ranjang tempatnya duduk lalu mendekati Bara, "Kau sudah gila. Papa dan mama mengirim kita ke sini untuk belajar bukan untuk menikah."
"Masalahnya sekarang beda. Yasmine butuh pertolonganku. Terlebih lagi pesantren ini harus diselamatkan." jawab Bara.
"Apa maksudmu?Aku tidak mengerti." Banyu bingung dengan jawaban Bara.
"Nanti saat semuanya jelas aku akan cerita. Tapi sekarang aku minta tolong kau jaga rahasia ini. Tolong jangan beritahu mama dan papa dulu soal. pernikahan mendadak ini."
Banyu diam berpikir. Ia menatap Bara dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Jangan bilang kalau kau... "
"Hapus pikiran kotormu itu. Tiap hari aku bersamamu. Masih juga berpikir yang aneh aneh."
"Lalu apa?!"
"Sudah kubilang saat semuanya jelas aku akan cerita karena aku mencurigai sesuatu. "
"Baiklah. Baiklah. Aku janji. Tapi kau juga janji akan segera cerita."
"Iya."
Bara lalu berbaring. Ia mengambil kertas yang tadi di remas oleh Pak Kyai. Ia membuka dan membacanya.
Ternyata golongan darah kita sama Yas.
'Apa itu?" Banyu mendekat.
Bara segera memasukkan kertas itu ke dalam saku bajunya.
"Bukan apa-apa." ia lalu memutar tubuhnya memunggungi Banyu.
"Ck." Banyu berdecak kesal karena Bara merahasiakan sesuatu dari dirinya. Selama ini tidak ada rahasia antara mereka berdua. Apapun akan saling sharing dan saling dukung. Tapi kali ini Bara menutup mulut dan tidak mau berbagi dengan Banyu. Hal ini membuat Banyu sangat penasaran.
Baiklah aku akan sabar menunggumu bercerita.
Banyu lantas mengikuti apa yang Bara lakukan. Tidur.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Akhirnya kesampaian menikahi Yasmine.