Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Permintaan Banyu


__ADS_3

Mata Anggi berkaca-kaca menyaksikan kedua putranya melakukan prosesi wisuda santri. Ia ingat bagaimana awal-awal dulu mereka dikirim ke pesantren. Bara yang suka bikin ulah kini sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Anggi sangat bangga pada kedua putranya meski mereka bukanlah lulusan terbaik karena Fahri lah yang dinobatkan sebagai lulusan terbaik. Anggi sudah cukup puas dengan perubahan kedua putranya apalagi Bara telah memberinya seorang menanti idamannya. Setelah prosesi wisuda berakhir, sebagai penutup, Kyai Hasan meminta Bara dan Banyu membacakan ayat suci Al Quran. Bara dan Banyu langsung menunjukan kebolehannya.


"Mereka hebat ya By?" gumam Anggi terharu dan bangga.


"Iya. Hubby bahkan tidak pernah membayangkan mereka akan sehebat itu, Rohi." jawab Langit. Tak beda dengan istrinya, mata Langit juga berkaca-kaca. Ia merasa bangga dengan kedua putranya itu. "Terima kasih sayang!" bisiknya lagi.


"Untuk apa?"


"Untuk memberiku dua putra yang hebat."


Anggi tersenyum lalu menggenggam erat tangan Langit. "Terima kasih juga Hubby, berkat hubby aku bisa melahirkan mereka." balas Anggi.


"Benar juga ya! Berarti aku yang hebat ya." Langit jumawa.


"Ish mulai deh narsisnya." Anggi mencubit lengan Langit.


"Tante Anggi!"


Anggi menoleh mendengar namanya dipanggil.


"Darel. Kau ada di sini?"


Darel mengangguk lalu memberi salam dengan menangkubkan kedua tangannya di dada. Ia lalu menyalami Langit.


"Iya tante, saya juga menuntut ilmu di sini meski bukan santri tetap."


"Bagus. Anak muda memang harus banyak belajar agama." tutur Langit."Jangan sampai salah langkah yang akan membawa penyesalan." lanjutnya.


"Iya Om." jawab Darel.


"Setelah Bara dan Banyu lulus, apa Darel juga masih ingin belajar di pesantren ini?" tanya Anggi.


"Iya tante. Kalau ada kesempatan. Soalnya papa tidak menyukai saya nyantri." terang Darel.


"Dasar Reza!" geram Langit. Anggi langsung mencubit Langit karena ucapannya itu. Ia khawatir akan menyinggung Darel.


"Tapi mamamu tahu kan?"


"Iya, Te. Mama malah mendukung saya. Mama mengijinkan saya nyantri sampai Au...eh sampai saya memutuskan berhenti."


Hampir keceplosan.


"Syukurlah. Kalau mamamu mendukung, urusan papamu sih masalah kecil. Mamamu pasti bisa mengatasinya." Anggi tertawa lirih sambil melirik Langit. Langit melengos. Ia tahu maksud lirikan Anggi yang artinya kalau suami nggak akan menang melawan istri. Sekali melawan pasti tidur di luar dan itu siksaan berat bagi para suami.


"Mmm tante hanya berdua?"


"Enggak. Kami ramai-ramai. Tapi yang lain menunggu di luar."


"Oh..kalau begitu Darel.keluar dulu Te." pamit Darel.


"Iya silahkan."


Darel meninggalkan Langit dan Anggi. Ia keluar dan celingukan mencari sosok mungil yang telah berhasil mencuri hatinya.


Sementara itu di tempat lain, Ustadz Huda juga sedang mencari seseorang. Siapa lagi kalau bukan calon istrinya. Ya Ustadz Huda sudah mengajukan pinangan pada keluarga Wahyu dan dengan senang hati Hana dan Wahyu menerima pinangan ustadz muda itu. Namun pernikahan baru akan dilangsungkan saat Wiena lulus.


Wiena yang tidak terima kalau dijodohkan, merasa sangat benci terhadap ustadz Huda. Itulah mengapa, ia selalu jutek saat bertemu dengan Ustadz muda itu. Namun Ustadz Huda sabar menghadapinya karena hatinya sudah terpikat oleh Wiena. Semakin Wiena cuek dan jutek, ia merasa semakin tertantang menundukkan gadis galak itu.

__ADS_1


"Nak Huda!" seru Wahyu saat melihat Ustad Huda melintas.


"Om." Ustadz Huda mendekat dan mengambil tangan Wahyu untuk diciumnya. Ia mengangguk hormat oada Hanna dan sekilas melirik Wiena. Wiena langsung membuang muka ke arah lain.


"Mau kemana?" tanya Wahyu.


Jawab apa ya. Aku kan memang sedang mencari mereka.


"Hanya berkeliling saja Om. Memeriksa keadaan." jawabnya sopan.


Ya Allah ampuni hamba. Hamba memang sedang berkeliling memeriksa keadaan dan mencari tunangan hamba.


"Bagaimana?Amankan?"


"Alhamdulillah Om aman. Kenapa tidak masuk, Om?"


"Nggak papa. Kami menunggu disini saja. Kalau masuk kan nggak bisa bertemu denganmu." Wahyu menepuk pundak Ustadz Huda. Ia sangat senang dan sayang dengan calon menantunya itu.


"Pa,antar mama sebentar gih. Mama mau cari hadiah buat si kembar." pinta Hana sambil memberi kode dengan gerakan matanya kepada Wahyu.


"Oh ya. Nak, temani Wiena dulu ya.Om antar tante belanja dulu." Wahyu bangkit dari duduknya.


"Eh mama sama papa mau kemana?Wiena ikut." seru Wiena yang juga sudah bangkit dari duduknya.


"Hush. Kamu disini saja sama Nak Huda. Dia kan calon suamimu. Ngobrol saja biar saling kenal." sergah Hanna yang langsung mengamit tangan Wahyu dan membawanya pergi meninggalkan Wiena yang manyun saking kesalnya.


Ustadz Huda tertawa geli melihat mimik muka Wiena yang cemberut.


"Eh, kamu ngetawain aku?" hardik Wiena kesal


"Nggak tuh."


"Apa ya...ada deh mau tau aja." balas Ustadz Huda yang makin membuat Wiena sewot.


"Nggak lucu."


"Emang enggak."


"Terus ngapain tertawa kalau nggak lucu?" semprot Wiena.


"Suka-suka. Bibir bibir ana. Bebas donk mau dipakai apa."


Mata Wiena membola menatap kesal ke arah Ustadz Huda yang malah memasang wajah inocentnya.


Sayang belum halal Awas saja nanti kalau sudah ada surat nikah. Berani melotot didepanku...tau rasa.


"Jangan melotot. Gini-gini ana calon suamimu. Belajar hormat. Biar nggak dosa kelak."


"Ih males banget."


"Jangan begitu. Nanti nyesel lho." goda Ustadz Huda yang entah mengapa sangat suka melihat Wiena kesal.


Wiena melengos.


"Eh bener lho kalau istri nggak menghormati suami itu dosa." Ustadz Huda masih menggoda Wiena.


"Kan kalaj nggak hormat ke suami."

__ADS_1


"Kan aku calon suami. Beberapa bulan lagi kamu lulus, itu artinya beberapa bulan lagi kita nikah, artinya lagi beberapa bulan kedepan aku akan menjadi suamimu.".


"Iya kalau lulus." jutek Wiena.


"Lha situ mau nggak lulus? Jadi mahasiswa abadi?"


"Ya nggak mau lah. Amit amit deh."


"Berati mau donk segera lulus?"


"Ya mau lah."


"Wah itu tandanya mau segera nikah juga donk."


"Ih nyebelin banget sih." Wiena menghentakkan kakinya kesal. Ia lalu berdiri dan meninggalkan ustadz Huda.


"Gemesin banget sih calon istri ana, masyaAllah."


"Ustadz!"


Ustadz Huda menoleh dan melihat Darel mendekat.


"Hai Rel."


"Ustadz kenapa di sini?Nggak di dalam?"


"Mm itu, barusan menemui calon keluarga ustadz."


"Oo..kemana mereka?"


"Kabur karena kesal."


"Hah?!?"


Ustad Huda tertawa melihat wajah Darel yang terkaget.


Sementara di dalam ruangan wisuda, Bara dan Banyu sudah berkumpul dengan Anggi dan Langit.


"Ma, menantu mama dimana?" tanya Bara saat tidak menjumpai sosok Yaamine.


"Mama nggak melihatnya dari tadi." jaqab Anggi.


"Ma, bawa hadiah apa nih buat kami?" tanya Banyu.


"Kamu minta apa?" tanya Langit.


"Apa kalau Banyu minta pasti dikasih?"


"Tentu. Kalian sudah membuat papa dan mama bangga. Sebutkan saja minta apa? Nanti papa kasih."


"Janji?!"


"Iya, papa janji."


"Banyu minta mama dan papa datang ke rumah Camelia buat melamarnya!"


...***...

__ADS_1


Sepertinya Banyu nggak mau kalah sama Bara nih...mau segera maried ajah. Semangat Banyu.


__ADS_2